PEMIJAT

By Jakongsu
Setelah pensiun di usia 55 tahun tidak ada kegiatan dan kesibukan. Pada awalnya memang terasa bebas karena tidak ada keharusan bangun pagi, berangkat ke kantor. Setelah hampir setahun terasa jenuh juga. Hidup dengan penghasilan yang kurang memadai membuat kehidupanku jadi agak menurun . Kedua anak ku sudah dewasa dan sudah bekerja semua, untuk biaya rutin memang aku tidak pusing. Entah dari mana idenya, tiba-tiba aku mencoba terjun jadi pemijat. Tetapi bukan pemijat biasa, aku ingin mengkhususkan diri memijat wanita. Aku jadi berminat mempelajari cara-cara memijat, baik membaca buku-buku sampai menelusuri berbagai website di internet. Agak sulit memang, tetapi sedikit-demi sedikit aku mulai hafal titik-titik syaraf, terutama di tubuh wanita.
Kenapa aku berminat menjadi pemijat yang khusus wanita. Aku ingin mempunyai pengalaman di bidang itu. Uang tidak terlalu menjadi tujuanku, tetapi pengalaman itu yang aku cari.
Aku memulai dengan memasang iklan di koran. Setiap hari selama satu bulan aku pasang iklanku. Setelah 10 hari iklan ditayangkan aku baru mendapat telepon. Peneleponnya seorang wanita. Dia bertanya sangat mendetail. Aku menjawab seadanya, tidak ada yang kulebih-lebihkan.
Dia kemudian memutuskan untuk minta aku pijat. Wanita ini tinggal di hotel, karena dia memang bukan orang Jakarta. Jantungku agak berdebar juga, menghadapi order yang pertama ini.
Sesampai di lobby aku menghubunginya melalui house phone. Dia mempersilakan aku langsung ke kamarnya. Ketika pintu dibuka aku melihat seorang wanita yang tidak muda lagi. Usianya kutaksir sekitar 45 tahun, badannya agak gemuk, tapi guratan wajahnya masih tersisa kecantikannya ketika muda dulu. Setelah ucapan selamat malam, aku dipersilakan duduk dan dia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab seadanya seperti di telepon tadi.
Ibu ini khawatir bahwa aku bukan tukang pijat sungguh-sungguh. Dia tidak suka dipijat oleh gigolo dan semacamnya. Tapi dia juga kurang suka dipijat oleh perempuan, karena tenaganya kurang kuat. Aku hanya berbohong bahwa profesiku sudah kujalani sekitar 10 tahun. Padahal ini adalah yang pertama.
“Pak, aku pakai apa, pakai kimono ini bisa,” tanyanya.
“Terserah ibu, enaknya pakai apa.” Jawabku.
“Pakai body lotion saya saja ya pak, “ katanya memberi body lotion lalu dia tidur telungkup.
Aku memulainya dengan memijat telapak kaki kanan. Aku mencoba dia sekuat apa mampu menahan tekanan jari-jariku. Pertama aku hanya menekan telapak kakinya biar agak lemas, setelah itu titik-titik syarafnya aku tekan satu persatu. Pada penekanan titik-titik syaraf itu baru dia menggelinjang-gelinjang kesakitan. Aku jelaskan mengenai organ-organ tertentu yang kurang sehat. Dia mulai mengagumiku, karena aku mengerti pusat-pusat syaraf. Aku tekan beberapa pust syaraf di telapak kaki sampai dia tidak terlalu merasa sakit lagi. Aku mulai merambah ke betisnya. Betisnya cukup besar dan lemaknya tebal. Aku lumuri body lotin di sekujur betisnya. Aku menekan bagian betisnya agar terasa lebih nyaman. Otot-otot betisnya terasa agak kaku. Mulanya dia merasa agak sakit, tetapi lama-kelamaan berkurang karena ototnya mulai melemas. Dibagian betis aku juga menekan simpul-simpul syaraf. Pijatanku kubatasi sampai belakang lutut, lalu aku pindah ke kaki sebelah lagi.
Dari berbagai simpul syaraf, yang paling kuhafal adalah simpul syaraf rangsangan. Dia kedua kakinya aku mainkan simpul syaraf rangsangan. Syaraf itu jika bereaksi maka pemiliknya merasa gerah, atau panas. Benar saja si ibu mulai mengeluhkan jika ACnya kurang dingin, padahal dari tadi ACnya sudah cukup dingin.
Aku perlu menekan syaraf rangsangan itu hanya untuk mencairkan suasana agar si ibu tidak kaku dan rasa malunya agak berkurang. Jika dia sama sekali tidak terangsang, bisa-bisa aku tidak bisa langsung memijat paha dan badannya langsung, tetapi dari balik kimono.
Aku merasa yakni bahwa si ibu sudah mulai terangsang, pertama karena dia mulai merasa gerah, dan kedua ketika aku minta ijin memijat pahanya, dia mengangguk saja. Aku memang tidak menyibak kimononya, tetapi tanganku menelusuri pahanya dari bawah kimono. Meski aku tidak melihat, tetapi tanganku merasakan betapa tebalnya paha si Ibu.
Bagian paha dipenuhi lebih banyak syaraf rangsangan, terutama paha bagian dalam. Aku memainkan tekanan pijatan di bagian itu. Gerakan pijatanku lama-lama mengakibatkan kimononya tersingkap makin tinggi. Kedua pahanya sekarang sudah terpapar jelas bahkan calana dalamnyanya juga sudah kelihatan. Aku sangat berhati-hati untuk tidak menyenggol bagian vaginanya. Namun bongkahan pantatnya yang gemuk menjadi sasaran pijatanku. Dia menggeliat-geliat dan kadang-kadang melakukan gerakan seperti orang bergidik. Aku tau bahwa dia sudah makin terangsang.
Dalam keadaan seperti itu, aku mengatakan akan memijat punggungnya, dan minta persetujuan apakah dipijat dengan tetap tertutup kimono, atau kimononya dibuka, sehingga bisa dipijat dengan body lotion. Si ibu memperbolehkan aku memijatnya langsung. Kimono dibukanya dalam keadaan dia masih telungkup. Aku membantu melepas kimononya dan aku gantungkan di pintu kamar mandi. Si ibu kini hanya mengenakan celana dalam dan bh saja tidur telungkup.
Aku mulai beroperasi di pungungnya. Gerakan pijat di punggun memberikan rasa nikmat melonggarkan rasa cape, juga rasa nikmat rangsangan. Aku melakukan gerakan kombinasi keduanya.
“Pak kalau merepotkan BHnya dilepas saja,” kata si ibu.
Dengan gerakan hati-hati aku mencopot kaitan bhnya. Mungkin karena si ibu sudah terangsang sehingga dia malah ingin pula merangsangku dengan pancingan melepas bh. Aku masih mengontrol diri. Gerakan pijatanku berkali-kali masuk ke bawah celana dalamnya untuk menekan bagian pantatnya. Aku katakan bahwa efek pijatan itu mengendorkan otot-otot yang kaku di bagian pantat, karena terlalu banyak duduk. Kelihatannya dia percaya, sehingga dia menawarkan aku untuk membuka celana dalamnya.
Si ibu karena terangsang dan mungkin juga sudah percaya penuh ke padaku sehingga dia bersedia tanpa celana dalam di depanku. Aku menarik celana dalamnya kebawah Dia membantu dengan mengangkat bagian tubuhnya. Kini bagian belakangnya polos. Aku makin leluasa memijat dan juga melakukan rangsangan melalui pijatan.
Badannya makin gelisah dengan gerakan-gerakan rangsangan yang ditahan. Dari gerakan nafasnya dia terlihat makin cepat bernafas. Aku yakin sekali bahwa si Ibu sudah terangsang berat.
Setelah selesai bagian belakang aku minta dia berbalik ke posisi telentang. Aku sudah menyiapkan handuk untuk menutupi kemaluannya begitu dia berbalik.
Aku kembali mengurut dari arah kaki, ke paha sampai dekat sekali ke kemaluannya. “ Aduh pak, rasanya bingung gak karuan,” katanya tiba-tiba.
“Apa pijatan saya kurang enak, bu,” tanyaku merendah.
“Bukan pak, pijatannya sih enak tapi, badan saya jadi merinding semua,” katanya.
“ Mungkin acnya terlalu dingin bu, apa perlu saya matikan biar tidak terlalu dingin,” tanyaku .
“Bukan masalah ac pak, tapi gak tau ini badan saya kok jadi gak karuan rasanya,” katanya.
Aku pindah memijat tangannya, lalu dadanya bagian atas. Di bagian dekat dengan payudaranya aku minta izin untuk melakukan pijatan di sekitarnya.
“ Udah pak silahkan aja, buka aja kalau perlu BHnya gak usah ditutup-tutup lagi lah,” katanya.
Aku memijat di sisi-sisi payudaranya. Teteknya cukup besar dengan puting yang besar juga.
“Maaf bu, apa ibu sudah pernah periksa kanker payudara,” tanyaku.
“Belum pak, emang kenapa, apa ada gejala kanker ya,” katanya terkejut.
“Ah tidak saya cuma tanya. Kalau diizinkan saya akan coba merabanya, untuk mengetahui kalau-kalau ada kelainan,” kataku.
“Emang bapak bisa tau kalau ada kelainan,” katanya.
“Tau persis sih tidak, tapi kalau ada benjolan yang tidak wajar bisa terasa, tapi kalau ibu tidak ingin diperiksa ya terserah ibu,” kataku.
“ Boleh deh pak, coba diperiksa, mudah-mudahan gak ada ah,” katanya agak khawatir.
Aku mulai menekan-nekan payudaranya mencari benjolan, tetapi tetek ibu ini terlihat normal dan tidak terasa ada benjolan aneh. Aku lalu minta izin menstimulus syaraf di sekitar payudaranya dengan memainkan putingnya. Dia hanya mengangguk saja tanda menyetujui. Mulanya jariku ku oser-oserkan di putingnya, lalu aku pelintir halus. Kelihatannya si ibu kelemahannya di putting payudara ini, sehingga dia mendesis-desis menahan rangsangannya.
Aku lalu menyudahi pijat payudara. Aku menanyakan apakah ibu sering tidak bisa menahan kencing. “Iya pak, kenapa itu ya,” tanyanya.
Kujelaskan bahwa kandung kemihnya tertekan, aku tawarkan kalau dia setuju posisi perutnya akan di perbaiki. Dia setuju-setuju saja.
Aku lalu berpindah memijat bagian bawah perutnya. Gerakan hati-hati kulakukan di bagian ini, karena perut wanita sangat peka. Berkali-kali gerakanku disertai dengan gerakan tarikan nafas seperti yang aku minta. Pijatan bagian bawah perut mengakibatkan kebelet pipis.
Si ibu memang kemudian minta izin berhenti sebentar, karena dia memang kebelet pipis. Dia bangun dan melenggang begitu saja tanpa ditutup apapun berjalan ke kamar mandi. Aku mendengar desiran nyaring air seninya di gas sepenuhnya.
Sekembali dari kamar mandi si ibu langsung tidur telentang lagi tanpa ditutupi apa pun. Aku mencoba bersikap profesional dan melanjutkan pijatanku.
Terakhir aku menawarkan pijatan untuk mengencangkan otot vaginanya. Ini sebenarnya hanya akal-akalanku saja. Sebab mana mungkin otot vagina bisa dikencangkan melalui pijatan.
Tapi dia menanggapiku serius, dan bertanya apakah aku bisa melakukan pijatan seperti itu. Aku bilang bisa dicoba. Si ibu lalu mempersilakan aku melakukan pijatan khusus itu. Aku dengan sopan minta izin untuk melakukan pijatan di sekitar kemaluannya. Dia menangguk tanda tidak keberatan.
Aku memijat di pinggir seputar dubur, Oleh karena itu maka kakinya harus dikangkangkan selebar mungkin. Jembut si ibu lumayan lebat dan bibir vaginanya berwarna agak gelap dan sedikit menggelambir. Pijatan di sekitar pantat dan seputaran dubur membuat rangsangan makin meningkat. Selain itu aku menekan selangkangan di pinggir gundukan kemaluannya. Berikutnya adalah gundukan kemaluannya bagian atas dan mengurut otot clitoris ke kiri dan kanan.
Efeknya mungkin sama jika laki-laki dipijat di seputar alat vitalnya, akan menimbulkan rangsangan yang hebat. Aku melihat celah kemaluan si ibu sudah mulai basah bahkan ada yang menetes ke kasur.
Itu adalah sesi pijatanku yang terakhir. Aku katakan bahwa semua pijatannya sudah selesai dan aku menyarankan agar dia berendam di air hangat sekitar 15 menit, untuk mengendurkan otot-otot.
Dia memujiku habis-habisan karena katanya pijatanku nikmat sekali dan pengetahuanku jauh lebih bagus dari tukang pijat biasa. Sekitar 90 menit sesi pijatan itu aku tuntaskan.
“Pak badan saya jadi rada lengket karena body lotion, bisa bapak tolong saya menggosok bagian belakang sambil saya berendam,” pintanya.
Aku tau ini permintaan kelihatannya wajar, tapi mengada-ada. Untuk service aku menyatakan kesediaan.
Aku masuk ke kamar mandi mencuci tangan sambil membersihkan bak mandi dan mengisinya dengan air hangat.
Kujemput si Ibu masuk ke kamar mandi. Si ibu sudah tidak ada rasa malu lagi, jalan melenggang sambil telanjang. Pelan-pelan dia menceburkan diri ke dalam bak mandi. Aku nyatanya tidak hanya diminta menyabuni bagian belakangnya, tetapi seluruh tubuhnya dia minta aku menggosok dengan spons mandi. Aku menuruti saja apa kemauannya. Dia kuperlakukan seperti anak kecil menyabuni sekujur tubuhnya dan menyiramnya dengan shower lalu mengeringkannya dengan handuk lalu kubimbing kembali ke kamar. Badannya lalu kutaburi bedak talk.
“Pak masih ada yang kurang, kalau bapak tidak keberatan untuk menuntaskannya aku minta satu lagi service bapak,” katanya agak malu malu.
Ternyata untuk menuntaskan rasa rangsangannya dia minta aku mengoralnya. Dia dengan mengiba mengatakan akan menambah tips untukku. Dia minta aku mengoralnya.
Dengan senang hati permintannya aku penuhi. Vaginyanya yang harum sabun aku jilati terutama di skitar clitorisnya. Si ibu kelojotan gak karuan dan kurang dari 5 menit dia sudah mencapai orgasme. Aku menawarkan untuk menuntaskan orgasmenya dengan terapi khusus di vaginanya untuk dia mencapai orgasme vaginal. Si ibu menurut saja dan aku segera merogoh bagian dalam vaginanya dan mengocoknya dengan teknik tertentu. Dalam waktu tidak terlalu lama dia sudah mencapai orgasem dengan berteriak.
“Pak saya puas banget, saya akan panggil bapak kalau saya ke Jakarta, teman-teman saya akan saya beritahu,” katanya.
Dia mengeluarkan uang 500 ribu. Jumlah ini terlalu besar untuk bayaranku yang hanya 100 ribu. Aku kembalikan 400 ribu dan kukatakan bahw aku cukup dibayar 100 ribu saja. Dia terheran-heran akan sikapku dan menolak menerima uang 400 ribu yang kukembalikan. Aku melakukan taktik itu untuk menarik simpati lebih besar dari clientku. Dengan terpaksa akhirnya diterimanya kembali uang yang kukembalikan, lalu aku permisi sambil ngloyor keluar.
Sejak saat itu aku mulai banyak menerima order, Sehari aku bisa sampai menerima order 5 orang. Bukan hanya teman si ibu client pertama ku, tetapi banyak juga orang lain yang mengorderku melalui telepon.
Aku sebulan bisa memperoleh penghasilan sampai 10 juta.
Konsumenku banyak yang ingin menuntaskan pijatan dengan minta disebadani. Hal ini sulit aku tolak, tetapi kepada mereka aku katakan bahwa aku bukan orang yang hebat dalam bersebadan, tetapi aku tau cara mereka mendapatkan orgasme yang luar biasa. Umumnya mereka puas dan tidak pernah komplain.
Beberapa konsumenku malah memaksa agar mereka ditemani tidur di kamar hotelnya. Ini menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan melelahkan. Penghasilanku jadi makin besar, bahkan jauh lebih besar dari ketika aku masih bekerja dahulu. Namun keluargaku tidak ada yang tau profesiku sebagai pemijat. Mereka hanya tahu kalau aku ngobyek menggarap proyek, sehingga kadang-kadang tidak bisa pulang kerumah.

Komentar

  • Anonymous  On 10 November 2012 at 1:46 PM

    mas, profesi aku juga pemijat tanpa sepengetahuan keluarga. Aku domisili di-bandung. umurku 55 tahun, chinesee, putih. membaca kisah mas, boleh aku gabung? atau bagi2 order buat aku ? Kalo mas tidak keberatan, hubungi aku di= email : k.kawalah@gmail,com

  • Anonymous  On 17 Desember 2012 at 7:38 PM

    hubungi juga zoomart_bg@yahoo.com

  • fahmi  On 29 Desember 2012 at 7:50 AM

    mas, saya keturunan india umur 40 tahun. kalo ada yang minta lebih lanjut boleh hub saya. thank’s

  • Anonymous  On 4 Maret 2013 at 2:25 AM

    hub brandban@ymail.com umur 25 jakarta

  • arya senno  On 18 Februari 2014 at 2:36 PM

    AKU JUGA JADI TUKANG PIJAT TAPI GAK MAU LAGI….TAKUT KETERUSAN….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: