Mengawal tante-tante girang tour ke eropa 7

By Jakongsu

Malam terakhir di Barcelona kami mulai dilanda kejenuhan. Setelah hampir 2 minggu berkeliling 3 negara ada terbersit rasa rindu tanah air. Jika aku saja merasakan begitu, apalagi 5 ibu-ibu anggota rombonganku. Mereka selalu tanya berapa hari lagi kita pulang.
Untuk menghilangkan kejenuhan aku harus mencari akal memberi hiburan. Hiburan malam sudah kami telusuri, belanja sudah puas, jalan-jalan sudah bosan, padahal perjalanan masih ada 3 hari lagi. Negara yang terakhir adalah kembali ke Belanda.
Kamar kami terhubung dengan connecting door, jadi aku bisa mondar-mandir ke dua kamar, yang memang pintu penghubungnya dibuka. Semua ibu-ibu kelihatannya kelelahan dan ngantuk, padahal baru jam 5 sore. Aku sebenarnya juga ngantuk, tetapi karena terbeban sebagai tour leader, aku harus mengontrol semua anggotaku.
Mereka semua sudah terlelap, termasuk Stella, rupanya ikut kecapean. Gadis manis pemandu kami mahasiswi program studi bahasa Indonesia ini, juga lelap di bedku. Aku mengambil kesempatan untuk berendam sejenak melemaskan otot-ototku. Setelah itu aku berbaring satu selimut dengan Stella. Dia tidur hanya mengenakan celana dalam. Bajunya digantung di lemari pakaian, mungkin dia takut kusut , karena tidak membawa ganti.
Rasa ngantukku sudah mengalahkan keinginan lainnya. Sebelum tidur aku menenggak air putih sekitar 3 gelas. Setelah perutku penuh aku terlelap di samping Stella.
Tidak terasa 2 jam aku tertidur, dan sebenarnya belum ingin bangun, tetapi karena tersesak pipis terpaksa aku bangkit ke kamar mandi. Sebelum tidur aku memang minum agak banyak. Ini kusengaja agar aku tidak tidur terlalu lama. Maklumlah, sebagai penanggung jawab perjalanan, aku harus siap lebih dahulu dari anggota rombonganku.
Setelah berganti baju , dengan penampilan rapi, aku turun ke lobby. Aku memeriksa fasilitas hotel, terutama restorannya. Hotel itu mempunyai coffe shop dan restoran besar untuk acara dinner. Malam ini ada hiburan live music, lagu-lagu latin dan country. Rasanya malam ini cukup dihabiskan dengan dinner bersama sambil menikmati hiburan di restoran.
Ketika aku kembali ke kamar, ibu-ibu sudah mulai bangun. Mereka menanyakan acara malam ini. Aku menawarkan makan malam di hotel saja sambil menikmati hiburan live music. Mereka semua setuju karena sudah bosan untuk jalan-jalan malam lagi. Supir aku call untuk pulang saja dan kembali besok jam 9.
Menginap di hotel berbintang 5 memang enak, karena fasilitasnya serba wah. Tapi satu hal yang tidak aku suka. Untuk makan malam saja mereka mensyaratkan para tamu harus mengenakan jas untuk laki-laki dan perempuan harus mengenakan gaun. Bahkan sepatuku kets yang nyaman tidak diperbolehkan masuk restoran itu, aku harus mengenakan sepatu kulit yang mengkilat. Untungnya aku tadi siang sempat membeli sepasang sepatu kulit. Maksudku berniat membeli, tetapi ketika mau bayar, ibu-ibu anggota rombonganku berebut membayarnya. Namun jas aku tidak punya, yang ada hanya jaket hitam bahan kain. Kalau jaket itu dipadukan dengan baju putih dan dasi masih tampak seperti jas. Di Paris jaket itu kukenakan untuk dinner tidak masalah, mestinya di Barcelona juga ok-ok saja.
Sekitar jam 8 lebih sedikit, semua ibu-ibu sudah siap dengan gaun malamnya. Mereka tampak anggun sekali. Stella kulihat juga mengenakan gaun malam dengan punggung terbuka. Perempuan memang selalu siap dengan berbagai busana, pantas saja kopernya besar-besar.
Tidak ada yang istimewa selama kami dinner. Aku sebetulnya suka dengan lagu-lagu latin dan country, tetapi ibu-ibu sudah merasa bosan dan mereka mengajak segera kembali ke kamar. Setelah berada di kamar mereka bertanya mengenai kemungkinan tour ini dipercepat agar bisa segera kembali ke Jakarta.
Aku lalu menenangkan ibu-ibu itu. Mereka kuminta santai dan kembali mengenakan pakaian tidur. Aku akan memberi therapi agar tidak gelisah, dan kembali bersemangat. Tante Henny menanyakan apakah rasa kangen pulang bisa ditherapi. Aku jawab bisa saja dan aku akan melakukan therapi kepada kelima ibu sekaligus.
Mereka aku minta duduk di sofa. Aku sudah mengatur sofa di kamar agar dapat ditempati ke lima ibu itu. Meja kusingkirkan dan di sini aku jelaskan bahwa teraphy ini untuk menghilangkan kegelisahan, mengembalikan rasa gembira dan yang lebih penting semua rombongan semuanya sehat. Sebab rasa gelisah yang berlarut-larut bisa mengurangi daya tahan tubuh. Dalam perjalanan jauh diperlukan stamina yang prima. Stamina itu terbangun berkat adanya semangat dan kegigihan.
Aku beri pengertian kepada ibu-ibu bahwa sebentar lagi aku akan memasukkan sugesti untuk penenangan. Aku memberikan sugesti kepada ibu-ibu, jika aku tepuk pundak mereka, maka akan terasa ngantuk dan tertidur. Mereka paham dan mulailah aku tepuk pundak mereka satu persatu. Satu persatu para ibu itu langsung tidur lelap. Stella yang dari tadi menyaksikan aksiku terbingung-bingung. Dia bertanya apakah aku menghipnotis mereka. Aku membenarkan.
Setiap ibu ku sugesti bahwa akan merasakan senang, gembira menjalani tour keliling eropa. Sebab tour ini memang diinginkan sejak lama. Rasa itu aku masukkan ke alam bawah sadar mereka. Kepada mereka semua aku tanya apakah mereka merasa senang jalan-jalan keliling eropa. Satu persatu mengangguk. Mereka masih terlelap tidur karena pengaruh hipnotis.
Aku lalu tanya kepada Stella, kita apakan ibu-ibu ini. Mereka akan menuruti semua kata-kataku. Stella setengah tidak percaya. Aku lalu mensugesti Tante Vence, ke dalam alam bawah sadarnya aku tanamkan bahwa Tante Vence adalah seorang penari erotis. Jika terdengar musik maka akan segera bangkit menari dan melepas baju satu persatu. Tante Vence mengangguk ketika kutanya apakah paham dengan yang kukatakan.
Aku lalu menghidupkan musik dari saluran hotel. Tidak perduli musik apa, Tante Vence lalu bangkit meliuk-liukkan badannya dan satu persatu bajunya dilepas. Ia tidak terlihat seperti orang terpengaruh hipnotis, padahal dia masuk dibawah pengaruh hipnotis.
Stella mengagumi kehebatan hipnotis, sehingga Tante Vence yang cenderung pendiam, sekarang bisa meliuk-liukkan badannya sambil telanjang.
“Apakah kamu bisa membuat mereka terangsang sampai ingin berhubungan,” kata Stella.
“ Itu pekerjaan yang mudah, menghilangkan rasa sakit untuk cabut gigi saja bisa apalagi soal terangsang,” kataku.
Stella meminta aku mencobanya. Aku menggandeng Tante Vence dan kepadanya kutanamkan keinginan yang amat sangat untuk disentuh laki-laki terutama disentuh oleh aku. Ia akan merasa betapa besarnya rangsangan yang menggelagak di dalam tubuhnya. Sesaat setelah kutepuk pundaknya. Tante Vence langsung memelukku-menciumku dan membukai bajuku satu persatu. Aku minta tolong kepada Stella untuk menggelar bed cover dan mengambil handuk di kamar mandi.
Diatas bed cover itu aku berbaring dan Tante Vence menyerangku habis-habisan. Barangku dihisapnya dengan penuh nafsu. Dijilatinya seluruh tubuhku dan dia segera memasukkan penisku ke vaginanya. Sugesti kutambahkan bahwa Tante Vence sudah merasakan akan segera orgasme dan orgasme itu sangat nikmat sekali. Tante Vence menangkap sugestiku dan dia mulai bergerak dengan ganas. Tidak sampai 3 menit dia sudah menjerit menandakan orgasmenya yang ternikmat dicapai. Aku merasa kontraksi di dalam vaginanya. Tante Vence rubuh menindih badanku. Kuberi waktu sekitar 1 menit lalu kubisikkan lagi ke Tante Vence bahwa dia merasakan keinginan untuk bersetubuh lagi denganku. Tante Vence bangkit dan mulai lagi menggerak-gerakkan badannya naik turun dan maju mundur diatasku. Aku kali ini tidak ingin dia segera mendapat orgasme karena aku juga sudah merasakan nikmat. Dia kusugesti bahwa akan merasa nikmat manakala aku berejakulasi di dalam vaginanya. Pada saat itu Tante Vence juga akan mencapai orgasme yang sangat nikmat. Aku lalu berkonsentrasi dan dalam hitungan sekitar 10 menit aku segera meletupkan ejakulasiku. Merasa penisku berkontraksi dan menyemprotkan cairan hangat Tante Vence segera menjerit keras sekali dan rubuh kembali diatas tubuhku.
Stella bertepuk tangan, dia mengatakan luar biasa hipnotis yang kukuasai. Dia baru kali ini melihat betapa seorang wanita begitu bernafsu dalam berhubungan badan. Aku lalu memerintahkan Tante Vence membersihkan diri di kamar mandi dan kembali berpakaian. Semua dilaksanakan dan ia kuminta duduk kembali ke tempatnya semula.
Aku setelah membersihkan diri lalu mengisap rokok sambil menyegarkan diri dengan membuka satu kaleng bir. Stella kuberi sekaleng dan kami menikmati bir dingin bersama. Bedanya aku tetap telanjang, sementara Stella masih menggunakan baju tidur.
Pikiran ibu-ibu sudah jenuh dengan rangkaian perjalanan yang sangat terikat waktu. Oleh karena itu mereka memang harus dibuat rileks. Agar tubuh lebih rileks, seorang perempuan biasanya setelah merasakan orgasme yang terbaik maka seluruh beban di kepalanya akan hilang. Perasaan plong itu baru dimiliki oleh Ibu Vence, sedang 4 ibu lainnya masih merasa ada beban. Jika aku sadarkan dan kami “main” secara normal. Aku bisa kewalahan melawan 4 orang. Sebab kecepatan mereka mendapat orgasme adalah berdasarkan rasa hati mereka dan permainan serta kemampuanku memposisikan persetubuhan pada perangsangan yang maksimal yang dirasakan lawan mainku. Dalam keadaan mereka gelisah dan ingin pulang ke tanah air, bisa-bisa mereka sukar mencapai orgasme. Meskipun aku pernah melakukannya terhadap kelima mereka, tetapi dalam kondisi lelah seperti sekarang, agak berat.
Kepada Stella kusampaikan aku akan melawan ke 4 ibu secara berganitan dalam 1 ronde. Mereka akan aku atur mendapatkan puncak orgasme minimal 2 kali. Puncak orgasme yang aku maksud adalah orgasme yang dibangkitkan dari rangsangan G spot. Orgasme gspot jauh lebih nikmat dibandingkan orgasme clitoris. Perasaan ini sukar digambarkan untuk pria, karena pria hanya memiliki 1 kualitas orgasme, yaitu orgasme yang bersamaan dengan ejakulasi. Meskipun dalam teori pria multi orgasme, seorang pria bisa mendapatkan orgasme berkali-kali tanpa ejakulasi, tetapi aku yang pernah mencobanya, orgasme seperti itu kurang memuaskan.
Stella tidak percaya, aku bakal mampu melawan 4 ibu yang sekarang sedang tertidur karena pengaruh hipnotis. Aku memulai dengan Tante Shinta. Seperti sugesti yang kuberikan kepada Tante Vence, aku memacu nafsu Tante Shinta sehingga dia begitu bernafsu menyerangku. Aku sendiri belum siap tempur, karena penisku masih terkulai. Tante Shinta menyergap penisku dan menjilat, melumat menghisap, sampai kemudian mulai bangun.
Rangsangan melalui sentuhan dan oral Tante Shinta menyatu dengan pemandangan yang begitu bergairahnya Tante shinta, sehingga mempercepat aku kembali terangsang. Setelah penisku mulai berdiri sempurna aku di dorong Tante Shinta hingga telentang di bed cover yang sudah terhampar. Tante Shinta mulai memacuku dan sugesti yang kutanamkan dalam alam bawah sadar Tante Shinta adalah dia merasakan kenikmatan luar biasa dari penisku, sehingga dia cepat sekali mencapai orgasme. Memang begitulah situasinya mungkin baru sekitar 50 kali Tante Shinta menggenjot dia sudah kelojotan dan melenguh panjang lalu ambruk di dadaku. Aku beri dia waktu sekitar 2 menit untuk menikmati orgasmenya. Kemaluannya terasa banjir. Namun vagina yang baru mengalami orgasme, entah mengapa meski banjir tetapi rasanya lebih menggigit. Ia ku sugesti lagi agar timbul keinginan untuk mendapat orgasme dan merasakan betapa nikmatnya penisku mengganjal di dalam vaginanya. Tante Shinta bangkit dan mulai menggerakkan pinggulnya dengan irama yang cepat sekali seperti orang yang tidak sabar. Sambil merintih-rintih kurang dari 5 menit dia sudah ambruk lagi. Sementara aku berkonsentrasi menahan birahi yang membakar diriku dengan olah nafas. Aku berhasil mengatasi rangsangan kenikmatan bersetubuh dengan tetap mempertahankan kekerasan penisku. Tante Shinta seperti juga Tante Vence aku minta dia membersihkan diri lalu kembali berpakaian. Setelah dia kembali ke tempatnya semula aku lalu menggamit Tante Venny terhadap Tante Venny aku memperlakukan hal yang sama sampai dia memperoleh 2 kali orgasme yang sempurna. Giliran berikutnya adalah Tante Henny dan yang terakhir adalah Tante Dina.
Tante Dina adalah kepala rombongan, semua ibu-ibu menuruti perkataan beliau. Dia memang wanita paling berpengaruh dan kebetulan paling kaya dari semua ibu-ibu yang juga kaya raya. Aku memberinya 3 kali orgasme.
Stella tidak cukup dengan sekaleng bir, botol kecil minuman keras yang tersusun di mini bar di rambahnya dan dia membuat sendiri ginger ale dengan campuran minuman keras botol-botol kecil itu. Dia rupanya syur melihat adegan ku bersama 5 ibu. Tanpa ku hipnotis dia sudah tersugesti sendiri.
Seteleah semua kelima ibu kembali ke tempatnya aku mulai menanamkan kembali sugesti bahwa mereka merasa berbahagia dan perjalanan keliling Eropa ini dirasakan sebagai sesuatu yang tidak semua orang bisa merasakan. Mereka kubentuk menjadi merasa orng-orang istimewa yang merasakan sangat beruntung. Bukan itu saja kutanamkan dalam alam bawah sadarnya, keinginan untuk melakukan perjalanan lagi bersama-sama ke tempat yang lain. Setelah mereka memahami sugestiku maka satu per satu kubangunkan dan kuminta untuk bangun dengan rasa yang bahagia dan tidak merasa mengalami kejadian apapun.
Satu persatu bangun dan wajahnya semua sudah berseri-seri. Mereka binggung sesaat melihat ada hamparan bed cover di depan sofa dan mejanya telah dipinggirkan. Tante Dina tanya untuk apa menggelar bed cover di sini. Aku jawab bahwa akan ada pertunjukan istimewa malam ini. Aku akan mempertunjukkan permainan hipnotis dengan Stella. Stella yang sudah setengah on, dengan serta merta maju mendekatiku minta dia dihipnotis. Dia rupanya penasaranan ingin merasakan bagaimana rasanya dibawah pengaruh hipnotis. Aku segera menidurkan Stella. Dia tertidur telentang di bed cover.
Sebelumnya agar pembaca tidak bingung aku telah berpakaian seperti sedia kala, agar penampilanku tidak membingungkan bagi ibu-ibu yang sudah sadar. Terhadap Stella aku ingin bermain lelucon sedikit. Dia kukerjai seolah olah menerima telepon dari sandal ibu-ibu. Ketika ringtone HP kubunyikan dia segera merebut salah satu sandal ibu-ibu dan menganggapnya itu sebagai handphone. Dia lalu berhalo halo dengan sandal itu sebagai handphone. Semua tertawa terpingkal-pingkal melihat polah Stella. Aku bermain beberapa lelucon sampai perut ibu-ibu terasa sakit karena terus tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah itu aku mengumumkan kepada ibu-ibu bahwa Stella akan menjadi wanita hipersex yang sangat bernafsu. Aku melakukan sugesti seperti yang kusugestikan kepada ibu-ibu. Stella menjadi ganas dan menyerangku dengan ciuman dan ketidak sabarannya membukai semua bajuku sampai aku telanjang bulat. Dia lalu menjilati seluruh tubuhku terutama di bagian alat vitalku. Ibu-ibu makin tertawa, tetapi Stella tentu saja tidak mendengar tawa para penonton. Dia terus bernafsu menyerangku dan menggagahiku. Dia ambruk berkali-kali sampai badannya lelah. Aku lalu berkonsentrasi dan membalik posisi Stella yang dari tadi berada di atas menjadi dia telentang . Aku menindihnya dan aku mulai berkonsentrasi untuk mencapai ejakulasiku. Berkat kosentrasi itu aku dalam waktu tidak lama sudah berhasil mencapainya.
Stella kubangunkan dari pengaruh hipnotis namun masih dalam posisi telanjang dan terlentang. Dia siuman dan mengatakan perasaannya sangat lega dan badannya lelah sekali. Ibu-ibu senyum-senyum. “Berapa kali tadi aku orgasme,” tanya Stella.
Kujawab dia mencapai orgasme berkali-kali. Aku tidak lagi ingat menghitungnya. Meskipun dia mengetahui baru saja berhubungan dibawah pengaruh hipnotis, tetapi dia tidak protes. Dia memelukku dan berkali kali mengucapkan gracias dan terima kasih.
Setelah semua siuman dan segar aku bertanya kepada ibu-ibu mengenai kesannya selama tour ke Eropa ini. Mereka hampir serentak menyatakan menyenangkan dan berjanji tahun depan untuk mengulangi tour semacam ini ke tempat lainnya. Ada yang mengusulkan ke Eropa Timur, ada yang ingin ke Eropa Utara, ada juga yang ingin ke benua Amerika.
Rasa gelisah karena “home sick” sudah hilang. Ibu-ibu dengan wajah beseri-seri masing-masing kembali ke peraduannya. Stella lebih menginginkan tidur bersamaku. Dia meminta aku tidur tanpa busana karena dia pun akan demikain. Kami tidur berpelukan dalam keadaan tanpa busana dalam satu selimut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: