Menyingkap Kehidupan Poligami 1

By Jakongsu

Aku ingin berbagi cerita mengenai kehidupanku. Orang semacam aku selama ini tidak ada yang mau terbuka mengenai kehidupannya, padahal banyak orang penasaran ingin tahu bagaimana seorang pria yang memiliki istri lebih dari satu. Aku memiliki 9 istri, semuanya cantik menurutku dan hidup damai saling tolong menolong seperti satu keluarga.

Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri, namaku Argo. Ketika aku tulis cerita ini usiaku sudah melewati 60 tahun, ya lebih sedikit. Saya orang yang biasa-biasa saja, tidak punya kelebihan apa-apa.

Sejujurnya waktu muda dulu sama sekali tidak pernah saya berkeinginan punya istri lebih dari satu, apalagi sampai 9 orang. Jika para motivator selalu menanamkan hidup harus mempunyai “goal” atau “dream”, Saya tidak pernah punya goal atau dream memperistri 9 orang.

Nama saya sudah bisa mencerminkan bahwa saya berasal dari suku Jawa. Mereka adalah keluarga monogamy. Ayah saya yang saya panggil Bapak, adalah orang Jawa banget. Dia selalu menanamkan berbagai kearifan Jawa kepada saya dan tentunya kepada semua adik-adik saya.

Banyak sekali falsafah Jawa yang ditanamkan kepada kami anak-anaknya, sehingga itu menjadi semacam pedoman atau tuntunan hidup. Salah satu yang paling memberi kesan mendalam adalah falsafah Hasta Brata. Aku tidak uraikan soal falsafah itu, karena pembaca bica cari sendiri di internet.

Dalam cerita ini aku mohon maaf karena akan bicara agak vulgar dan terbuka. Bukan aku ingin membuka aib sendiri (apakah hubungan suami istri itu aib?), tetapi keinginan tahu orang terhadap kehidupan poligamy terutama adalah masalah sex. Cara berceritaku juga mungkin agak kacau, karena bukan hanya aku yang mengungkapkan cerita mengenai diriku tetapi istri-istriku juga angkat bicara bercerita. Cerita mereka aku angkat, karena berisi pengakuan yang tentu saja itu aku anggap menarik.

Saya menikah pada umur 25 tahun dengan istri yang masih 17 tahun. Istri pertama bukan pacar semasa muda, tetapi seperti dijodohkan oleh keluarga. Awalnya saya kurang senang dijodohkan karena kan saya tidak kenal dan tidak tahu apakah dia selera saya atau bukan. Ketika kami diperkenalkan, pendirian saya jadi goyah, bahkan malah berbalik arah 180 derajat. Cewek yang diperkenalkan bernama Chandrawina, cantik, putih agak tinggi, rambutnya se bahu. Aku harus mengakui bahwa selama aku dapat pacar, sudah 3 kali, belum ada yang secantik ini.

Menurut Chandra yang bercerita setelah kami menikah, dia pun semula tidak suka dijodohkan. Alasannya ya sama dengan saya. Kenapa akhirnya mau, katanya setelah ketemu saya dadanya berdebar-debar.

Setelah pertemuan pertama itu kedua keluarga kami memberi kesempatan kami untuk saling mengenal, sehingga kami sering jalan berdua nonton bioskop. Sekitar 6 bulan setelah kami merasa akur, akhirnya menyatakan setuju saja ketika kedua orang tua kami akan menikahkan segera.

Sampai menikah, aku hanya pegang tangan saja, mencium tidak berani, apalagi lebih dari itu, sehingga ketika kami menjalani malam pertama, kami berdua malu-malu memulai. Saya masih ingat betul kejadian malam pertama itu, karena memang sangat berkesan seumur hidup.

Ruang pengantin yang dihias mewah dengan keharuman dan warna-warna lembut, sebetulnya membuat saya malu. Mengapa malu, karena semua orang, saudara dan tamu mengetahui bahwa kamar itu akan menjadi arena kami berdua melakukan hubungan sex.

Selesai acara malam resepsi, yang waktu itu baru selesai jam 11 malam. Kami berdua lalu melepas semua baju kebesaran. Saya mengenakan celana jeans dan kau oblong, istri juga pakai celana jeans dan kaus oblong juga. Rambutnya masih belum normal karena bekas sasakan masih sulit diurai. Kami berdua lalu ngobrol dengan teman-teman akrab yang masih belum pulang. Kami memang melaksanakan pesta resepsi di rumah, sehingga teman-teman akrab banyak yang begadang.

Menjelang setengah 12, teman-teman kami sambil meledek menyuruh kami masuk kamar pengantin. Aku dan istriku jadi malu dikerjai begitu. Akhirnya aku tidak bisa berkutik ketika ibu si Chandra menyuruh kami masuk kamar.

Rasanya malu banget ketika kami berdua berjalan memasuki kamar. Tapi apa boleh buat. Kami masuk kamar dan pintu langsung dikunci, karena ibu Chandra yang menginstruksikan begitu. Kami berdua duduk di pinggir. Jujur saja sampai seumur itu, saya belum pernah ciuman apalagi melakukan hubungan badan.

Duduk berdampingan dengan istri yang beda umur 8 tahun dari saya rasanya berdebar-debar sekali. Mungkin naluri yang mendorong saya pada waktu itu, Chandra saya peluk dan saya cium. Mulanya pipinya. Dia menurut saja wajahnya dijatuhkan ke dada saya sehingga saya hanya bisa mencium keningnya dan membaui rambutnya yang harum. Badannya saya peluk.

Entah bagaimana, kami berdua jadi berbaring sambil kaki masih menjuntai di tepi tempat tidur. Itulah kesempatan saya mencium pipinya lagi lalu dahinya lalu bibirnya. Chandra bibirnya kaku ketika aku cium. Aku kurang tahu cara berciuman, hanya sering lihat di film-film. Lama-lama bibirnya dibuka lalu aku pagut bibir bawahnya.

Tanganku meremas payudaranya yang lumayan besar. Nafas istriku mendengus-dengus, membuat aku makin bernafsu. Saking polosnya waktu itu, aku bertanya dulu waktu mau membuka kausnya. Chandra mengangguk saja dan minta aku mematikan lampunya. Yah begitulah sampai akhirnya kami berdua bugil. Ketika itu karena aku terlalu nafsu, belum sempat melakukan hubungan aku sudah muncrat duluan. Si Chandra bingung waktu itu dan jijik karena tangannya terkena spermaku. Kamar mandi ada di dalam jadi kami sama-sama membersihkan.

Karena masih muda tidak lama kemudian penisku sudah berdiri lagi. Aku sudah gak sabar ingin merasakan hubungan sex. Penisku aku arahkan ke kemaluan Chandra. Waktu itu aku tidak tahu dimana letak lubang untuk melakukan hubungan. Aku kira berada di depan, sehingga ketika aku tekan-tekan di belahan kemaluannya tetapi tidak bisa masuk, karena memang tidak ada lubangnya. Chandra lah yang membantu dengan mengarahkan penis saya ke arah vaginanya.

Begitu menemukan vagina, penis saya tekan tapi masih meleset-meleset sehingga terpaksa agak dipaksa baru bisa masuk. Chandra kesakitan, tapi karena nafsuku sudah di ubun-ubun jadi ya maksa terus, berhenti sebentar lalu tekan lagi sampai akhirnya penisku masuk semua. Rasanya waktu itu luar biasa enaknya, sehingga aku tidak mampu menahan ejakulasi, sehingga tumpahlah di dalam.

Aku ingat pada waktu itu, ketika aku merasakan nikmatnya bersetubuh, Chandra menangis, karena vaginanya sakit, pedih sekali katanya. Dia aku peluk dan akhirnya tertidur. Sebetulnya pagi harinya aku masih ingin lagi, tapi Chandra gak mau karena vaginanya masih perih.

Pengalaman konyol di malam pertama mendorong aku mencari tahu melalui buku-buku mengenai sex. Setelah sebulan kami menikah baru aku bisa merasakan nikmatnya bercinta. Setiap malam rasanya selalu ingin “bertempur”. Itupun bukan sekali tetapi minimal 2 kali dan pagi harinya sekali. Rasanya enak sekali dan bikin ketagihan.

Dari buku-buku baru aku tahu soal orgasme dan mengerti beda lubang kencing dengan lubang vagina, tahu soal pelumasan, soal foreplay dan sebagainya. Belum setahun kami sudah bermain dengan berbagai gaya mempraktekkan kamasutra bahkan istriku sudah bisa melakukan oral, aku pun juga bisa dan mengerti bagaimana mengoral yang berkualitas. Pada waktu itu tidak ada pengetahuan soal G-spot.

Aku mengikuti jejak ayahku berdagang tekstil dan garment di pasar Tanah Abang. Padahal aku menamatkan S-1 Ekonomi pada saat itu. Namun sulit mencari kerja, kalaupun kerja di kantor hasilnya tidak seberapa dibandingkan penghasilan kios tekstilku.

Sebelum menikah aku sudah menjalankan kiosku sendiri, yang aku peroleh secara kredit dari ayah. Aku mulai memiliki kios sejak aku lulus SMA. Setelah 2 tahun menamatkan kuliah ketika aku menikah aku sudah memiliki 2 kios. Setahun setelah berumah tangga aku sudah mampu membeli sebuah rumah tua di daerah Kebon Kacang yang dekat dengan pasar Tanah Abang. Di tahun itu juga aku bersama teman-teman pedagang tekstil patungan membangun industri garmen.

Setelah hampir 10 tahun berumah tangga dan memiliki 2 anak, usahaku makin berkembang sehingga aku bisa membeli sebidang tanah dibelakang rumahku. Lumayan luas juga mungkin sekitar 500 m. Tanah tersebut tidak memiliki akses jalan, sehingga aku bisa mendapatkannya dengan harga jauh di bawah harga pasar.

Setelah 10 tahun membina rumah tangga, aku tertarik dengan wanita yang menjalankan usaha ayahnya berjualan tekstil juga. Kiosnya tidak jauh dari tempat usahaku. Hampir setiap hari bertemu sehingga makin kenal dan akrab. Dia belum berumah tangga, sedangkan aku sudah mempunyai dua anak. Mungkin karena akrab dan kami punya hobby makan selera yang sama, maka sering kami makan di warung soto kaki yang terkenal di pasar Tanah abang bersama.

Dia bernama Sarinah dan kelihatannya tidak membatasi diri bergaul denganku yang sudah beristri. Suatu hari ketika selesai makan, aku tanyakan kepadanya, “Mau kah aku lamar kamu jadi istriku, sebab sering jalan berdua, walaupun hanya makan siang, takutnya menimbulkan fitnah,” kataku rada nekat.

Aku tertarik pada Sarinah, karena yang pasti orangnya cantik, suaranya membangkitkan gairah lelaki dan yang penting dia alim.

“Abangkan sudah beristri, kok nglamar saya, ntar gimana dong istrinya,” kata dia.

Aku kira pertanyaanku tadi membuat dia terkejut, atau malah takut kepadaku, tetapi malah dia memberi respon begitu dengan sikap yang santai.

“Ya kalau adik bersedia, menjadi istri abang yang kedua,” kataku tanpa memilih kata yang lebih halus.

“Abang serius, apa godain aja sih,” tanyanya dengan pandangan mata yang tajam.

“Aduh masak masalah ini gak serius, ya serius sekali lah,” jawabku agak berbunga-bunga karena menangkap dari perkataannya seperti tidak ada penolakan.

“Tanya dulu ama istri abang boleh gak, mau gak punya madu,” jawabnya santai.

“Kalau sudah tanya dan boleh, gimana,” tanyaku mulai bersemangat.

“Ya nantilah kita bicara lagi, saya juga belum bisa menjawab bang,” katanya.

Sarinah memang biasa memanggilku bang, mungkin karena dia dari Minang, jadi terbiasa begitu.

Pekerjaan besar berikutnya adalah minta izin dari istri. Berhari-hari aku memikirkan strategi dan kata-kata apa yang akan kuucapkan. Tapi aku tidak mendapatkan ide. Akhirnya nekat aja aku ngomong tanpa tedeng aling-aling ketika kami baru selesai bertempur.

“Ma, Bapak mau kawin lagi, boleh ya ma” kataku.

Dari posisi sedang aku peluk dan kami berdua masih telanjang, dia langsung duduk bersila.

“Kawin, kawin sama siapa, memang bapak gak puas punya satu istri,” katanya langsung sengit.

“Bukan gak puas ma, tapi aku cuma tanya boleh kan aku punya istri satu lagi,” kataku nekat.

Dia diam sebentar lalu matanya berlinang-linang. Entah apa yang dipikirkan sehingga dia menangis.

“Sama siapa sih papa ingin kawin,” tanyanya.

“Belum ada, tapi aku kalau sudah dapat izin baru aku cari calonnya,” kataku setengah berbohong.

Aku tidak berani mengatakan akan kawin dengan Sarinah, karena dia belum menyatakan kesediaan. Lha kalau aku katakan dengan Sarinah, lalu dia gak mau aku kawini, kacau kan.

Mama belum bisa jawab sekarang Pak.

Berhari-hari istriku murung dan dia kurang berkomunikasi denganku. Aku tahu ada rasa tidak senang terhadap diriku, tetapi sejauh ini aku merasa tidak melanggar apa pun, tidak berbuat salah apapun.

Suatu hari muncul ide. Aku menemui Kyai yang akrab denganku karena sering memberi pengajian di rumah dan istriku salah satu jamaahnya. Pak kyai ini sangat dikagumi istriku karena dia sering mengukakan dalil-dalil yang bijak dan pandai sekali memotivasi. Aku juga kagum padanya karena meskipun usianya sudah tua, tetapi pandangannya sangat modern dan bisa menyelami kehidupan kaum yang jauh lebih muda darinya.

Aku bersilaturahmi ke kediamannya. Aku langsung utarakan maksudku untuk memiliki 2 istri, aku mohon beliau memberiku arahan. Beliau memang bijak, sama sekali tidak menentang keinginanku dan malah memberi banyak nasihat. “Satu hal yang paling penting, kamu harus bertindak adil, artinya apa yang biasa diterima oleh istrimu itu tidak berubah, meskipun sudah memiliki dua istri.”

Otakku langsung melayang berfikir soal finansial. Rasanya kalau soal duit, istriku sudah kuberi usaha yang kini sudah cukup besar. Dia memegang industri garment. Penghasilannya sering kali lebih besar dari pendapatanku. Kalau soal di tempat tidur, kami normal melakukan seminggu sekali, itu pun setelah ada kesepakatan kalau sama-sama sedang berkehendak karena badannya tidak lelah. Kalau soal kasih sayang, kayaknya bisa gak berubah.

Aku jawab ke pak Kyai “baik pak.”

Di hari pengajian di rumahku, usai pengajian pak Kyai aku tarik ke ruang tamu khusus dan kuajak istriku berbicara bertiga dengan pak Kyai. Di situ aku utarakan lagi niatku kepada Kyai. Seperti disampaikan kepadaku, dia mengulang lagi tausyiahnya. Istriku diam saja tertunduk. Dia sama sekali tidak menyoal.

“Kalau niat bapak sudah kuat, mama kasih izin pa, sebagai istri saya akan mengabdi sepenuhnya kepada suami.” katanya sambil air matanya meleleh. Kupeluk dia lalu ku kecup keningnya.

Izin sudah kupegang, lalu kusampaikan kepada Sarinah. Dia rupanya sudah meminta nasihat dari orang-orang bijak dan pemuka agama. “Secara pribadi saya mau terima lamaran abang, tetapi saya belum bertanya ke keluarga saya,” katanya sambil menutupkan kerudungnya ke mulutnya.

“Baiklah kalau begitu, kita berdua yang akan menjalani sudah bersepakat, tolong bicaralah baik-baik ke keluarga,” kataku.

Aku sudah menyangka jika Sarinah tertarik pada diriku. Selisih usia kami cukup jauh, aku 35 tahun dia masih 20 tahun. Dia tidak memiliki ayah, sejak kecil dididik oleh ibunya. Mungkin dia menemukan sosok pengayom dari diriku. Sebetulnya memang begitu, itu pengakuannya kemudian.

Sarinah bercerita, keluarga besarnya mulanya menentang, tetapi penentangannya itu tidak berdasar. Jika ibunya, tidak menentang, karena sejak awal sudah menyerahkan keputusan kepada Sarinah karena yang akan menjalani adalah Sarinah sendiri. Meskipun tidak dicapai kesepakatan bulat, tetapi keluarga yang punya peran penting umumnya sudah bisa menerima.

Pesta pernikahan dilaksanakan secara sederhana. Hanya keluarga besar kami saja yang merayakan. Aku sudah menyiapkan kamar khusus pengantin. Chandra sudah ikhlas menerima kenyataan. Dia lah yang paling sibuk ikut mengatur agar semuanya berjalan lancar, karena memang dialah ketua panitianya. Bahkan kamar pengantin pun dia yang ikut merancang.

Malam pertama dengan istri kedua tentu berbeda dengan istri pertama. Aku sudah memberi pengertian kepada Sarinah bahwa malam pertama tidak menginap di kamar pengantin, tetapi menginap di hotel. Dia rupanya setuju, karena dia pun merasa malu mengunci diri di kamar sementara di seputar rumah masih banyak sanak keluarga.

Kamar pengantin hanya digunakan sebagai pelengkap saja dan untuk latar belakang foto. Selanjut aku memboyong Sarinah menginap hotel berbintang 5.

Sarinah terlihat canggung sekali ketika kami sudah berada dikamar hotel. “Bang maaf ya, aku belum pernah pacaran jadi belum ngerti harus bagaimana kalau sudah berdua begini,” katanya sambil menunduk.

Aku peluk dirinya lalu kucium rambutnya . Dagunya aku angkat ke atas lalu kutempelkan bibirku ke bibirnya. Dia tidak bereaksi, tetapi terasa badannya seperti gemetar. Kuremas telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat. Kutarik kedua tangannya agar memelukku. Badannya lemas lalu kupagut mulutnya. Nafasnya mulai mendengus-dengus melalui hidung.

Perlahan-lahan aku rebahkan ke tempat tidur dan kucium sambil menindih tubuhnya. Dari bibir pindah ke telinga lalu ke lehernya. Sari, demikian aku panggil dia, pasrah saja ketika bajunya aku lepas. Bhnya kubiarkan masih terpasang. Aku ciumi dadanya yang putih menggairahkan. Setelah bajunya giliran berikutnya adalah celana jeansnya aku pelorot dan kucampakkan.

Sari tinggal mengenakan CD dan BH lalu aku pun melepaskan seluruh pakaianku tinggal celana dalam saja. Kami bergelut dan aku menciumi seluruh tubuhnya. Setelah Sari demikian terangsang barulah aku buka BH nya dan buah dada yang lumayan montok yang selama ini tidak pernah terlihat karena pakaiannya selalu longgar, sungguh menggugah birahi. Kuciumi bergantian kedua pentilnya yang berwarna coklat muda dengan pentil yang masih kecil.

Nafsu birahi Sari makin tinggi dan tanpa disadarinya dia mulai mendesis ketika buah dadanya aku hisap dan aku gigit pelan. Setelah begitu tinggi birahinya barulah aku melepas celana dalamnya. Sari pasrah dan diam saja. Dia tidak protes, walaupun lampu kamar dalam keadaan menyala sehingga cahayanya terang benderang. Aku rabai kemaluannya terasa sudah mulai mengeluarkan pelumas.

Aku mainkan sebentar clitorisnya sampai dia benar-benar bernafsu dan vaginanya siap menerima penetrasi penis. Sari mengerang ketika clitorisnya aku gosok-gosok. Aku lihat dia sudah benar-benar siap, maka aku naik ke tubuhnnya dan membuka kedua kakinya.

Bulu kemaluannya lumayan lebat juga untuk gadis seusia 20 tahun. Aku arahkan ujung penisku ke gerbang kemaluannya lalu aku tekan perlahan-lahan. Agak sulit memang lalu aku tarik sedikit, tekan lagi hasilnya lebih banyak bisa masuk, aku lakukan demikian berkali-kali sampai akhirnya berhenti di penghalang segel keperawanan.

Sari mulanya merasa sakit, tetapi gerakan penisku yang sudah licin lama-lama tidak menimbulkan rasa sakit. Ketika aku sedikit paksa menekan selaput daranya, dia merasa sakit. Aku pentokin berkali-kali sampai Sari terbiasa, lalu tanpa dia duga aku tekan lebih keras, sehingga pecahlah penghalang itu dan penisku langsung terbenam. Setelah itu aku diam tidak bergerak sementara batang penisku memenuhi liang vaginanya.

Terasa Sari agak tegang setelah merasakan sakit ketika selaputnya tadi aku pecahkan. Aku memintanya dia rileks agar tidak menjadi lebih perih. Saranku diturutinya baru aku berani bergerak perlahan-lahan maju mundur. Sekitar 10 kali gerakan maju mundur, terasa mulai lancar dan licin. Namun rasa perih masih dirasakan.

Aku melanjutkan melakukan penetrasi sampai sekitar 10 menit aku tidak mampu lagi lebih lama sehingga lepaslah tembakan spermaku di dalam mulut rahimnya. Kelihatannya Sari tidak dapat mencapai ogasme, karena liang vaginanya masih sakit.

Aku cium lagi dia dengan perasaan kasih sayang. Sari menangis dengan melelehnya air mata di kedua ujung matanya. “Kenapa menangis,” tanyaku.

“Aku bahagia bang,” katanya.

Kami istrahat malam itu, dan aku tidak melakukan serangan tengah malam. Keesokan pagi setelah kami mandi badan segar dan turun sarapan pagi di coffe shop, kami kembali ke kamar dan terlibat percumbuan sampai kedua kami bugil.

Sari mulai tegang ketika aku mulai menempelkan kepala penisku ke lubang kemaluannya. Aku minta dia rileks. “ Takut bang, takut sakit,” katanya.

“Kalau tegang malah lebih sakit, coba nikmati saja, ini kan memang kodrat wanita, pada awal berhubungan selalu sakit, justru itu adalah kehormatan tertinggi sebagai wanita yang suci,” kataku.

Termakan juga bujukanku sehingga dia bisa bersikap lebih rileks. Aku relatif lebih mudah menjejalkan penisku memasuki gerbang kewanitaannya. Perlahan-lahan masuk sampai akhirnya terbenam seluruhnya. “ Gimana masih terasa sakit,” tanyaku.

“Sedikit masih ada bang,” katanya.

Setelah 5 menit aku maju mundurkan, dia mengaku tidak lagi terasa sakit. Sari malah mulai merintih merasakan kenikmatannya. Aku makin bersemangat memompa sambil terus menciumi dan meremas-remas buah dadanya yang sangat menggemaskan. Sekitar 15 menit Sari mendapatkan puncak kepuasannya. Inilah orgasme pertamanya melalui hubungan kelamin. Dia merintih panjang tanpa disadari ketika kenikmatan itu menyundut-nyundut.

Aku masih merasa segar dan rasanya untuk bermain lagi masih bisa berlaga cukup lama. Setelah dia tuntas, aku memainkan lagi gerakan maju mundur. Vaginanya terasa sangat ketat menjepit, apalagi setelah dia mendapat orgasme, rasanya vaginanya makin nikmat, Aku terus genjot sekitar 5 menit kemudian dia melenguh panjang dan ini membangkitkan birahiku lebih tinggi sehingga aku pun kemudian menyusul mencapai orgasme dan ejakulasi.

Kepuasan yang didapat seorang wanita menjadikan dia makin sayang sehingga Sari memelukku erat dan kami tidur berpelukan sampai terasa perut menuntut untuk diisi makan siang. Selepas makan siang di hotel, kami kembali lagi kamar.

Istri pertama ku sudah lama mengenal Sarinah, sehingga pergaulan mereka tidak ada rasa canggung. Bedanya sekarang mereka terikat dalam satu keluarga yang mempunyai suami sama. Aku salut melihat istri pertamaku, karena dia bisa ikhlas menerima madunya dalam kehidupan berumah tangga. Hal ini membuatku penasaran, bagaimana dia bisa menekan rasa cemburunya. Menurut Mama Chandra, seorang istri harus mengabdi sepenuh jiwanya kepada suami, rasa iri, dengki dan cemburu tidak ada gunanya, karena selain terlalu banyak menghabiskan energi, juga tidak akan menghasilkan apa-apa. “Bapak masih imam yang baik bagi keluarga kita,” katanya singkat

Sarinah juga cepat sekali menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga kami. Aku selalu kagum jika melihat mereka jalan berdua, baik itu pergi belanja atau mengurus sesuatu. Sejak Sarinah menjadi istriku, aku melakukan patungan usaha dengannya dengan membuka toko tekstil di luar pasar Tanah Abang. Dalam waktu tidak lebih dari 3 tahun Sarinah sudah memiliki 2 toko tekstil yang cukup besar.

                                                                                                            *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 2

By Jakongsu

Memiliki 2 istri yang rukun sehingga mereka seperti kakak-beradik menambah rasa bahagia bagiku. Jika orang melihat bahwa seorang pria yang memiliki 2 istri, hanya mengejar kepuasan sex. Kenyataannya yang aku rasakan tidak demikian. Aku berhubungan badan dengan istri-istriku tidak ada istilah giliran. Jika aku sedang menginginkan Chandra, maka dia akan paham, Begitu juga jika aku menginginkan Sari dia siap dan Chandra pun toleran. Sebaliknya aku bisa menangkap jika Chandra atau Sari sedang menginginkanku.

Perempuan adalah makhluk yang sangat unik mereka secara naluri memahami isyarat sekecil apa pun baik dari suami maupun dari istri yang lain. Perasaannya sangat tajam. Aku harus akui kadang-kadang aku tidak menangkap sinyal bahwa salah satu istriku sedang menginginkanku. Istriku yang lainlah yang malah mengingatkanku atas adanya “undangan”.

Sejujurnya aku tidak memikirkan untuk menambah istri lagi. Namun takdir berkata lain. Ketika aku dan keluarga besarku menikmati makan siang tradisonal khas Sunda di Serpong. Ada desiran di dadaku ketika melihat seorang wanita yang kelihatan sibuk di restoran itu. Mataku terus mengikuti gerak-geriknya, tentunya secara curi-curi. Nggak enaklah kalau sampai istri-istri tahu kenakalan mataku.

Aku sering melihat wanita cantik, karena banyak yang belanja di toko ku di Tanah Abang. Jadi wanita cantik bukan hal yang aneh bagiku. Namun wanita yang repot ini kok membuat dadaku berdesir. Kenapa bisa begitu.

Setelah itu aku sering jalan sendiri ke Serpong hanya untuk makan, yang sebetulnya utamanya ingin bertemu dengan wanita yang membuatku berdesir itu. Setelah 3 kali akhirnya aku mendapat kesempatan berkenalan dengannya. Dia memperkenalkan namanya, Sabrina. Ternyata dialah pemilik restoran yang cukup maju ini.

Aku akui bahwa restoran ini terkelola dengan baik, makanannya enak, sajiannya cepat dan harganya tidak mencekik. Setelah 10 kali mungkin aku makan direstoran itu, membuat Sabrina makin mengenalku. Dia sering menemaniku makan dan kami ngobrol, dari mulai yang ringan-ringan sampai soal bisnis. Dia akhirnya tahu bahwa aku memiliki bisnis yang lumayan besar di bidang tekstil, lalu dia pun juga tahu juga bahwa aku memiliki 2 istri.

Wajahnya terlihat sinis ketika bertanya-tanya soal poligami ku. Aku tidak tersinggung dan bisa memaklumi jika dia bersikap seperti itu. Aku bukannya kapok disinisi. Hampir setiap minggu aku malah bersama dua istriku makan direstoran itu.

Saking seringnya ke situ, Sari mulai curiga, Dia langsung mengatakan bahwa aku naksir, pemilik restoran itu. Aku sebetulnya tidak sadar kalau aku naksir. Sesungguhnya aku merasa damai sekali jika melihat wajah Sabrina. Hanya itu saja yang aku kejar. Memikirkan melamar Sabrina untuk istri ketiga, sama sekali tidak. Aku tidak percaya dirilah, wanita secantik dan se pintar Sabrina mau dilamar menjadi istri ketiga, aku gak ketemu rumusnya, alias gak masuk akal.

Setelah itu diam-diam Sarinah dan Chandra malah sering datang ke restoran Sabrina, tanpa sepengetahuanku. Saat lain setelah itu ketika aku bertiga makan di restoran Sabrina, kedua istriku malah kelihatan akrab sekali dengan Sabrina. Mereka rupanya punya bisnis. Chandra mendisain baju seragam pelayan di situ yang katanya ada sekitar 25 orang. Selain itu berbagai kelengkapan restoran yang ada unsur tekstilnya di kerjakan oleh Chandra.

Suatu hari ketika kami santai ngopi sore di rumah, Chandra dan Sari buka pembicaraan. Intinya mereka menanyakan apakah aku mau mempersunting Sabrina. Bagai petir menyambar kepalaku rasanya, karena terkejutnya. Aku sempat terdiam, karena tidak tahu harus ngomong apa.

“Saya dan mbak Chandra melihat, Sarbrina sangat cocok dengan Bapak,” kata Sarinah.

“Kalau saya mau, apa dia mau,” tanya saya dengan rasa ragu.

“ Kalau Bapak memang naksir, kami akan urus selanjutnya,” kata Chandra..

“Kalau menurut kalian baik, saya ikut,” kataku pasrah. Namun tidak bisa dipungkiri, hatiku senang sekali seandainya Sabrina mau menjadi istriku.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua istriku “mengolah” Sabrina sehingga suatu waktu aku bisa bertemu di rumahku. Kami ngobrol sebentar. Dalam pertemuan itu aku tidak melakukan aksi tebar pesona. Aku bertindak wajar-wajar saja.

Setelah itu aku sering melihat Sabrina berada di rumahku, entah apa urusan nya dengan istri-istriku. Dari sering muncul di rumahku, kemudian diikuti dengan dia menginap beberapa kali. Aku sama sekali tidak mengubah ritme hidupku meskipun ada tamu “agung” di rumahku.

Seingatku lebih dari setengah tahun setelah istri-istriku akrab dengan Sabrina aku diundang untuk pertemuan khusus oleh Mama Chandra. Dalam pertemuan khusus yang dilakukan di rumahku selain hadir kedua istriku, juga tampak Sabrina.

Mama Chandra buka bicara, bahwa pertemuan itu adalah membahas rencana melamar Sabrina. Aku tidak menyangka pertemuan ini membicarakan masalah perkawinan ku dengan Sabrina yang akan menjadi istri ketiga. Dalam hati aku mengagumi hasil kerja kedua istriku untuk menundukkan Sabrina.

Aku tahu bahwa Sabrina bukan perempuan sembarangan yang mudah ditundukkan. Dia cantik, punya penghasilan besar, sangat mandiri, berpendidikan S-2 di Singapura bidang management restaurant. Ibarat kata, jika dia mau memikat lelaki-lelaki muda atau perofesional muda, tidak lebih sulit dari membalikkan telapak tangan.

Dalam kesempatan itu aku tegaskan, apakah benar Sabrina siap aku lamar untuk menjadi istriku yang ketiga. Apakah sudah dipertimbangkan berbagai hal, karena ini adalah pilihan seumur hidup.

Sabrina mengatakan pada awalnya memang tidak mudah memikirkan dan menerima menjadi sosok wanita istri ketiga. Namun katanya, hakekat wanita berumah tangga adalah, Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Melihat dua istriku yang menjadi teman akrabnya, kata Sabrina mereka sudah mampu mencapai Sakinah, Mawadah, Warohmah. Saya tahu bahwa di luar sana banyak lelaki lajang yang ganteng, kaya, tetapi mereka tidak memiliki garansi ketiga sifat itu. Sementara saya melihat dengan sendiri bukti terwujudnya ketiga tujuan perkawinan dalam diri Mama Chandra dan Mama Sari.

Saya tidak menyangka bahwa Sabrina menelaah kehidupan istri-istri saya sampai sejauh itu.

“Kalau boleh saya berterus terang, ketika pikiran saya ruwet, stress dan cemas, maka ketika berada di sini saya merasakan kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Nyaman sekali pergaulan di rumah ini..

Di usiaku ke 37 aku melamar Sabrina menjadi istriku yang ketiga. Perayaan kebahagiaan dilaksanakan secara sederhana di rumahku dan hanya mengundang keluarga besar saja. Sabrina kelihat cantik sekali saat bersanding denganku. Dia memang wanita yang cantik. Di usia 27 tahun sikap Sabrina sudah terlihat benar-benar dewasa. Lingkungan dia mengelola restoran itulah yang membentuk dia menjadi wanita yang tegas mandiri dan ramah.

Sabrina memilih malam pertama escape dari Jakarta. Dia memilih Bali sebagai tempat berlibur menikmati malam pertama. Kami berdua saja terbang ke Bali untuk liburan 3 hari 2 malam. Sabrina sudah memilih hotel di Nusa Dua.

Kami tiba di Bali sekitar pukul 7 malam, dalam perjalanan ke hotel, Sabrina minta supir taxi menunjukkan restoran sea food yang terkenal di Jimbaran. Kami berdua makan di tepi pantai sambil menikmati pemandangan Bandara Ngurah Rai dari seberang teluk. Sabrina berkeliling restoran sambil ngobrol dengan para waiter lalu bertemu managernya.

Sampai pesanan sudah terhidang, Sabrina belum kelihatan kata waiter dia sedang ngobrol sama manager restaurant. Dia muncul bersama waiter. Rupanya dia sedang melakukan study banding. Sabrina bercerita bahwa dia diajak keliling melihat fasilitas restaurant sampai ke kitchen.

Sebelumnya aku ingin bercerita bahwa setelah memiliki 2 istri, aku berusaha memperdalam pengetahuan mengenai sex. Tidak hanya membaca, tetapi sampai mengikuti seminar yang dibawakan oleh para ahlinya.

Aku berpendapat,sex bukan hanya pelampiasan nafsu dan mengikuti naluri. Jika hanya itu, manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Sex juga mengandung seni karena banyak keindahan akan didapat, memerlukan ketrampilan karena ada trik-trik khusus dan ada masalah kejiwaan yang perlu diketahui.

Sabrina kelihatannya sudah sangat siap menghadapi malam pertama. Dia langsung membersihkan diri dikamar mandi lalu keluar dengan kimono putih yang disediakan hotel. Aku juga membersihkan diri dan keluar memakai kimono putih.

Aku dipeluknya dan ditarik berbaring di tempat tidur king size. Sabrina menindih tubuhku dan mencium bibirku dengan ganas. Aku melepas tali yang mengikat kimono. Di balik kimono dia tidak mengenakan apa-apa lagi. Sabrina pun melepas kimonoku dan aku pun memang tidak mengenakan apa-apa di dalam.

Kami berdua akhirnya bugil dan malam itu kami mereguk kenikmatan berdua. Sabrina meski sudah cukup dewasa tetapi masih mampu menjaga kesuciannya. Malam itu aku memperlakukan Sabrina sebagai ratu yang dimanja dan disayang. Cumbuan aku mulai dengan penuh kelembutan dengan mulai mencium bibirnya. Kami berpelukan dalam keadaan bugil dibawah selimut.

Tubuhnya mulus, kulit putih bersih khas gadis Sunda. Tingginya hampir 170. Bagi wanita dengan tinggi segitu kelihatan jangkung. Aku menyukai potongan tubuhnya dengan pinggul dan bokong yang besar, karena itu menjadikan pinggangnya kelihatan ramping. Buah dadanya proporsional dengan tubuhnya yang jangkung. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi saat tanganku meremas, rasanya lebih besar dari tapak tangan.

Aku melumat kedua putingnya kiri dan kanan. Sabrina mendesis nikmat, sementara itu tanganku memainkan gundukan kemaluannya. Tanganku merasa bulu kemaluannya masih jarang. Aku jadi penasaran ingin melihat bentuk kemaluan dewasa tetapi memiliki bulu yang masih sedikit.

Aku telusuri ke bawah, ke perut lalu turun terus menjilati sekitar pusar. Sabrina menggeliat-geliat karena geli katanya. Aku telusuri terus kebawah. Ketika mulutku mencapai gundukan kemaluannya, Sabrina terkejut dan berusaha menarik kepalaku ke atas. Dia mengatakan malu kemaluannya dilihat. Namun aku tetap bertahan bahkan lidahku sudah mencapai belahan. Mungkin sensasi yang ditimbulkan memberi rangsangan sehingga meskipun tangannya berusaha menarik kepalaku, dan tidak sepenuh tenaga, tetapi dia mengerang.

Sambil tetap menjilati belahan kemaluannya aku berpindah posisi menempatkan tubuhku diantara kedua kakinya. Sabrinya masih berusaha merapatkan kedua pahanya. Aku berusaha melebarkan kedua pahanya. Terasa masih agak ditahan, meskipun makin lama makin mengangkang.

Setelah tempatnya agak leluasa aku mulai membuka lebar belahan kemaluannya dengan kedua tanganku, terlihat berwarna merah dan ada gelambir kecil di kedua sisinya. Diatas ujung lipatan terlihat tonjolan kecil. Aku langsung mengarahkan lidahku ke tonjolan itu, akibatnya Sabrina mengerang sambil menggeliat .Kedua tangannya masih memegang kepalaku, tetapi sekarang menjambak rambutku dan menekan agar kepalaku lebih menekan ke arah kemaluannya.

Aku fokuskan lidahku ke clitorisnya. Sabrina terus menggeliat-geliat sambil mengerang. Makin cepat gerakan lidahku maka dia pun makin cepat menggerakkan pinggulnya sampai akhirnya dia berteriak panjang dan sekujur permukaan kemaluannya berdenyut-denyut. Aku menekan mulutku ke permukaan kemaluannya dan lidahku menekan tonjolan clitorisnya. Sekitar 6 denyutan yang makin lama makin melemah akhirnya tuntaslah orgasme clitorisnya.

Akibat orgasme itu kemaluannya makin banyak cairan, campuran antara cairan pelumas vagina dengan cairan yang keluar sebagai akibat orgasme. Pada moment itulah aku rasa paling tepat untuk menjebol selaput kegadisannya.

Aku mengambil posisi berlutut diatas tubuhnya dan mengarahkan kepala penisku ke pintu masuk vaginanya. Aku harus tetap memegang penisku sambil mendorong masuk, karena khawatir akan meleset. Setelah kepala penis masuk, Sabrina mengeluh rasa perih.

Untuk membuyarkan kosentrasi Sabrina ke kemaluannya aku mencium bibirnya dengan melumat dan memainkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya. Ciumanku itu ditanggapi dengan juga memainkan lidahnya. Pada kesempatan itu aku menekan penisku agar masuk lebih dalam. Agak susah mengira-kira sudah sedalam apa penisku masuk. Aku meraba batang penisku dan terasa belum ada separuh yang berhasil aku benamkan.

Sampai ke halangan selaput daranya, rasa sakit mungkin dirasakan meningkat sehingga didalam kuluman mulutku dia menggerang menahan sakit. Aku berhenti sebentar lalu dengan gerakan agak kuat aku tekan penisku sehingga jebollah pertahanan segel di dalam kemaluannya. Sabrina menjerit lirih dan melepaskan mulutnya dari sergapan mulutku.

Rasa perih karena luka yang ditimbulkan dari robeknya selaput dara itu mengakibatkan matanya berkaca-kaca. Aku bertahan pada posisi penisku yang kutaksir panjangnya sekitar 16 cm berada di dalam liang kemaluannya. Setelah situasi stabil dan tidak ada keluhan sakit lagi, pelan-pelan kutarik sampai hanya tinggal kepala saja yang masih terbenam. Gerakan lambat itu diikuti oleh kernyitan dahi Sabrina menahan rasa sakitnya. Ketika aku dorong lagi dia mengernyit kembali.

Setelah sekitar 5 kali gerakan maju mundur, kelihatannya dia tidak merasa sakit. Aku pun merasakan liang vaginanya sudah semakin licin, walaupun jepitannya masih sangat kuat. Sabrina sudah melupakan rasa perih bekas luka di liang vaginanya, dia sudah merintih-rintih nikmat. Aku melakukan gerakan bersetubuh dengan sangat hati-hati sambil mencari posisi yang memberi kenikmatan maksimal bagi Sabrina. Sementara itu aku tetap melakukan olah nafas untuk menahan diriku tidak terlalu cepat ejakulasi. Sejauh ini aku masih bisa menahannya.

Aku melakukan persetubuhan dengan istriku yang ketiga dengan mentransfer sugesti yang menyebabkan dia merasa nyaman, nikmat dan merasakan limpahan kasih sayang. Aku bisa merasakan sugesti itu diterimanya karena kedua tangan Sabrina merangkul leherku erat sekali sambil mukaku dia ciumi. Sekitar 10 menit aku melakukan gerakan di dalam liang vaginanya, Sabrina mendapat orgasme yang kelihatannya luar biasa. Dia mengerang hebat dan tubuhnya kaku. Aku bisa merasakan semburan cairan hangat ke batang penisku. Untuk lebih bisa dinikmati aku menghentikan gerakan dan membenamkan penisku sedalam-dalamnya. Rasanya penisku seperti dipijat oleh liang vaginanya dengan denyutan orgasme.

Setelah dia mencapai orgasme dan mengakihirinya aku cium dengan mesra. Secara psikologis ciuman setelah perempuan mencapai orgasme memberikan rasa bahwa pasangannya sangat menyayanginya. Itulah kemudian yang dia ucapkan setelah mulutnya lepas dari berciuman. “Aku sayang bapak,” katanya.

Malam itu kami hanya melakukan persetubuhan hanya sekali, karena bekas luka di dalam vaginanya masih terasa agak perih. Dia mengeluh rasa perih ketika cebok dan kencing. Pada malam kedua aku baru berani kembali memacu birahinya dan malam itu kami melakukan permainan 3 ronde dengan masing-masing ronde pertama dan kedua pada malam hari dan yang kedua setelah waktu subuh. Aku berusaha hanya ejakulasi sekali saja, agar tubuhku tetap fit.

Wanita diusia antara 25 – 30 tahun adalah puncak kematangan seksualnya. Pada masa itu perempuan melakukan permainan sex yang terbaik dan mereka juga mampu menikmati permainan hubungan sex.

Sekembali kerumah, Sabrina disambut oleh kedua istriku yang lain, Chandra dan Sarinah. Mereka menyebut Sabrina suda resmi menjadi anggota keluarga besar Argo. Dari gerak-gerik aku bisa menangkap bahwa Chandra malam ini ingin berhubungan intim. Memang itu tidak diucapkan, tetapi bahasa tubuhnya aku sudah bisa menangkapnya. Aku memenuhi keinginan istri pertamaku dengan permainan yang tidak kalah panasnya dengan permainanku dengan Sabrina. Namun malam itu aku tetap bertahan tidak ejakulasi. Oleh karena itu dalam semalam aku mampu melayani permainannya 3 ronde yang ku duga Chandra mendapat4 kali orgasme.

Keesokan harinya Chandra kelihatan segar. Dia telah melakukan mandi junub sebelum waktu subuh, sehingga setelah fajar, tidak terlihat rambutnya basah. Namun sinar di wajahnya menunjukkan keceriaan. Jika wanita dipuaskan hasrat sexnya, mereka bagaikan HP sehabis di cas. Energinya maksimal dan kecerdasannya menonjol, serta bersikap lebih sabar. Wah kalau sebaliknya mereka tidak mendapat kepuasan di tempat tidur, keesokan harinya akan uring-uringan, bawel, dan sering muncul sikap dengkinya.

Malam berikutnya aku tidak menangkap sinyal dari Sarinah. Ternyata dia sedang mendapat tamu bulanan. Aku malam itu istirahat. Meskipun begitu aku tidak pernah tidur sendiri. Sarinah malam itu mendampingi aku istirahat.

                                                                                                 *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 3

By Jakongsu

Setahun aku sudah menikmati punya 3 istri. Tidak ada rasa yang memberatkan, semuanya aku jalankan seperti biasa. Bedanya hanya aku memiliki 3 wanita yang melayaniku. Kehidupan semakin baik, karena rezeki juga semakin berlimpah. Industri garmen yang dipegang Chandra sudah berkembang menjadi 2 pabrik. Penjualan tekstil yang dikomandoi Sarinah sudah berkembang dengan banyak toko di mall-mall. Usaha rumah makan juga sudah tidak hanya masakan Sunda, tetapi sudah ada restoran lain yang khusus seafood dan satu unit lagi khusus melayani catering. Itu pun terbagi catering untuk pesta-pesta dan catering untuk makan siang kantor-kantor.

Aku tidak lagi sibuk duduk sepanjang hari di dalam toko seperti waktu aku masih muda dulu. Semuanya sudah dijalankan oleh tenaga profesional hasil pengkaderanku. Mereka adalah pegawai-pegawai yang punya dedikasi tinggi.

Istri-istriku juga tidak setiap hari mengunjungi tempat usahanya. Semua kegiatannya bisa dimonitoring real time. Itulah berkahnya internet. Aku dan istri-istriku lebih fokus pada pengembangan usaha, sehingga tidak terlibat pada masalah-masalah rutin.

Suatu hari aku mendapat telepon dari salah satu costumerku yang sudah puluhan tahun berlangganan mengambil dagangan dari toko-tokoku. Pak Ahmadi, pedagang besar tekstil di Gorontalo mengundangku berkunjung ke kotanya. Dia memang sering ke Jakarta dan akhir-akhir ini dia selalu memilih menginap di rumahku. Menurut dia situasi di rumahku bikin orang kerasan. Aku tidak tahu, apakah karena suasana keakraban yang terbangun di rumah ini atau karena sajian makanan yang enak-enak. Kata Pak Ahmadi semuanya enak.

Dia memang berkali-kali mengajakku berkunjung ke kotanya. Undangan kali ini tidak bisa kutolak karena dia mengundang dalam rangka pernikahan anak perempuannya yang paling besar. Aku pikir tidak baik juga kalau ditolak terus.

Sesungguhnya aku mengajak semua istriku, namun yang bisa berangkat hanya Chandra dan Sarinah. Jadinya kami bertigalah yang berangkat ke Gorontalo. Sesampai di airport aku sudah dijemput langsung oleh Pak Ahmadi, dia minta maaf tidak bisa memberi penginapan di rumahnya karena semua ruangan dipakai untuk persiapan perkawinan. Dia sudah menyiapkan kamar hotel terbaik di kota itu. Kami langsung menuju hotel.

Sebuah kamar suite, mungkin juga itu adalah kamar terbaik dihotel itu, tetapi yang disiapkan hanya 1 kamar. Dia minta maaf karena semua kamar habis terpakai, berhubung kedatanganku bersamaan dengan ada acara Presiden di kota itu, sehingga semua hotel penuh. Aku tidak mempermasalahkan, karena tidur dengan dua wanita toh semua adalah istriku.

Entah mengapa, malam pertama di Gorontalo itu libidoku sangat kuat. Apakah akibat aku terlalu banyak makan berbagai ikan bakar yang dijamu Pak Ahmadi tadi siang. Atau karena dia memberiku ramuan Sanrego, yang katanya tumbuh-tumbuhan khas Sulawesi yang ampuh meningkatkan daya tahan tubuh dan anti masuk angin.

Malam itu aku tidak bisa menahan gejolak nafsuku. Aku tidur di tengah, di kiriku Sarinah dan di kananku Chandra. Kedua-duanya kebetulan sedang ok, tidak sedang kedatangan tamu bulanan. Aku agak bingung juga, mau menggarap siapa dulu. Akalau aku garap yang A bagaimana dengan yang B.

Kedua istriku malam itu hanya mengenakan daster saja tanpa bh di dalamnya, kalau CD, kayaknya sih dipakai. Aku melihat kedua istriku juga gelisah. Penginderaanku mereka juga sedang birahi. Tadi sore mereka ikut mencicipi ramuan Sanrego dan juga makan ikan bakar cukup banyak.

Ketika waktu tidur dan lampu sudah digelapkan sama sekali, sehingga aku tidak bisa membedakan antara membuka mata dan menutup mata tidak ada bedanya. Kutarik kedua kepala istriku ke dadaku, Mereka menuruti tanpa aku memaksa. Aku cium kening mereka bergantian. Merasa aku mulai mencumbu Chandra mencari bibirku lalu dia menciumiku cukup lama juga. Setelah lepas dari Chandra aku tidak enak terhadap Sarinah sehingga aku menarik Sarinah untuk aku cium bibirnya.

Saat aku mencium Sarinah, Chandra meremas-remas senjataku yang berada di balik celana dalam dan masih terbungkus sarung pula. Dia nafsunya mungkin makin tinggi sehingga perlahan-lahan dia turun dan melepas semua sarung dan celana dalamku. Penisku langsung dioralnya. Aku mendengar dengusan nafasnya yang sudah terbakar birahi.

Sementara penisku sedang digarap Chandra, aku membuka daster dan celana dalamnya. Dalam posisi telentang kutarik Sarinah agar mendekatkan buah dadanya ke mulutku. Aku menghisap putingnya bergantian kiri dan kanan. Nafsu Sarinah juga sudah naik tinggi. Puas dengan kedua buah dadanya yang montok, aku ingin mengoralnya. Dia kubimbing agar melangkahi bagian atasku dan mengarahkan kemaluannya ke mulutku. Sarinah tanggap apa yang kuinginkan. Bantalku ditambah sehingga posisi kepalaku agak tinggi. Dia bersimpuh mengangkangiku membelakangi Chandra.

Di bawah sana aku merasa Chandra sudah menenggelamkan penisku ke dalam kemaluannya. Dia sudah syur sendiri bergerak naik turun, kadang kadang pinggulnya diputar-putar, sambil mendesis-desis. Sedangkan Sarinah juga tidak sadar mendesis saat clitorisnya aku oral dengan lidahku. Desisan dari dua wanita yang sedang memacu kenikmatan. Tidak lama kemudian terdengar teriakan lirih pertanda orgasme dari Chandra yang tidak lama kemudian jeritan panjang dari Sarinah yang menyemburkan cairan sehingga membasahi mukaku.

Kedua istriku mendapat orgasme hampir bersamaan dengan cara yang berbeda. Mereka kembali ke posisi semula berbaring di sampingku dalam keadaan masih bugil. Aku merasa permainan tadi kurang tuntas, maka aku memilih menindih Sarinah untuk aku setubuhi. Sarinah cepat memahami kehendakku dia langsung memberi tempat diantara kedua kakinya. Aku menancapkan penisku ke dalam kemaluannya dan langsung bergerak naik turun. Aku merasa kekerasan penisku berbeda dengan sebelumnya. Sarinah rupanya juga merasakan perbedaan itu. Dia menarik kepalaku sambil berbisik dengan mengatakan bahwa penisku terasa keras sekali dan rasanya lubang kewanitaannya sesak.

Itulah yang membuat dia cepat mendaki tingkat mencapai kepuasan, karena aku bermain tidak terlalu lama dia sudah buru-buru menguncupku lalu berteriak di dalam mulutku. Aku merasa di bawah sana, denyutan orgasme di kemaluannya. “Pak udahan ya aku lemas,” bisiknya.

Padahal aku masih jauh dari garis finish. Aku berpindah ke tubuh Chandra yang juga terbujur bugil dan tenyata belum tidur juga. Merasa aku menindihnya dia langsung merenggangkan kakinya dan menangkap penisku diarahkan memasuki lubang kenikmatannya. Tak susah penisku langsung terbenam dan aku langsung full speed. Chandra pun tidak mampu bertahan lama, karena dia sudah merintih lalu berteriak lirih bersamaan dengan puncak kepuasannya.

Aku merasa aneh karena aku sama sekali tidak berusaha mengendalikan ejakulasiku, tetapi sejauh ini aku masih belum berejakulasi. Setelah Chandra tuntas merasakan orgasmenya aku genjot kembali dan aku rasa gelombang orgasmeku sudah mulai bangkit. Namun baru saja ingin kosentrasi untuk kepuasanku Chandra sudah menarik pinggulku kuat-kuat lalu dia merintih panjang dengan pencapaian orgasmenya.

Usai mencapai orgasme dia membisikkan bahwa dia minta aku menyudahi karena badannya terasa sangat lelah. Aku turuti kemauannya dan bangkit meninggalkan tubuhnya aku kembali ke tubuh Sarinah yang dalam keadaan telentang dan kelihatannya dia sudah tertidur. Berhubung kepalaku sudah seperti keluar tanduk, aku tidak peduli sehingga kembali dia aku gauli. Ketika penisku masuk ke vaginanya Sarinah terbangun. Aku genjot terus, tak lama Sarinah mendesis lagi nikmat. Aku makin meningkat rasa nikmatku sehingga aku berkosentrasi untuk mendapatkan ejakulasi. Rintihan Sarinah membuat nafsuku tambah tinggi dan memacu ku akhirnya ejakulasi di dalam kemaluannya, Bersamaan dengan itu Sarinah mencapai kesempurnaan hubungan sex dan penisku serasa dipijat-pijatnya.

Kami bertiga akhirnya jatuh terlelap sampai menjelang subuh. Aku heran juga jam 3 pagi aku terbangun, penisku ikut bangun juga. Tidak biasanya begini, jika malamnya habis diservice, paginya malas bangun, tapi kali ini beda.

Aku cari sarung lalu kukenakan dan masuk kekamar mandi untuk buang air kecil sekaligus membersihkan sisa pertempuran tadi malam. Tidak lama kemudian masuk Chandra mengenakan kimono hotel yang berwarna putih. Dia buka semuanya lalu pipis dan membersihkan sisa-sisa cairan tubuhnya hasil pertempuran. Ketika aku masih gosok gigi dan Chandra berdiri di bak untuk berendam membersihkan kemaluannya, muncul pula si Sarinah yang tergopoh-gopoh sambil berkemban handuk. Dia langsung lepas handuknya dan duduk di closet melepas air kencing yang tertahan. Terdengar pancaran air seninya cukup lama.

Kami bertiga bugil di kamar mandi yang terang benderang. Ini adalah peristiwa pertama dua istriku bugil di depanku. Mulanya mereka merasa rikuh, Aku berusaha mencairkan suasana lalu kutarik tubuh Sarinah ikut masuk ke bak bersama Chandra yang sedang menyirami tubuhnya. Mereka aku rangkul berdua lalu keduanya aku ciumi bergantian. Akhirnya mereka bermanja-manja denganku dan buntut-buntutnya gairah kami bangkit lagi. Dari sekedar berciuman, berlanjut saling meremas dan memainkan bagian-bagianvital.

Permainan kami lanjutkan di kamar yang ternyata sudah terang. Tanpa perlu meredupkan, kami bergulat. Sarinah dan Chandra masing-masing berbagi kapling sampai akhirnya aku menyetubuhi mereka berdua bergantian dengan giliran istri tua dulu baru istri kedua. Keduanya berhasil merengkuh kepuasan, tetapi aku tidak bisa. Aku pikir ini ada baiknya, karena siang harinya kami akan menghadiri acara resepsi perkawinan anak Pak Ahmad.

Kami bertiga mandi junub sebelum masuk waktu subuh. Setelah itu sempat istirahat sebentar lalu kami turun untuk sarapan pagi. Masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kami dijemput untuk menghadiri acara perkawinan putri Pak Ahmadi.

Pesta perkawinan cukup meriah, ornamen pesta juga warna warni berbeda dengan yang kami lihat di pesta perkawinan di Jakarta.

Malam kedua kami dijamu lagi dengan berbagai ikan bakar dan masakan khas Gorontalo. Pak Ahmadi yang duduk disampingku berbisik bertanya kepadaku. “Gimana pak reaksi Sanrego.” Aku hanya senyum, baru aku sadar, ternyata libidoku naik itu akibat ramuan Sanrego. Aku tanyakan ke Pak Ahmadi, apakah ramuan itu manjur juga untuk perempuan. Pak Ahmadi hanya mengangkat jempo. Oh pantas istri-istriku tadi malam juga sangat bergairah.

Di jamuan malam ini ada lagi ramuan sanrego itu. Aku tenggak langsung habis. Istri-istriku juga menyukai ramuan itu karena diberitahu untuk meningkatkan kesegaran tubuh. Malam itu, kami bemain threesome tanpa harus menggelap-gelapkan lampu kamar. Kami bergulat sekitar 3 jam sampai istri-istriku kewalahan menghadapi nafsuku yang seperti kuda. Namun aku bisa menghemat energi karena mampu menahan ejakulasi.

Hari ketiga kami belum pulang karena masih ingin menikmati wisata di sekitar Gorontalo. Kunjungan pertama dan yang paling penting adalah meninjau tempat usaha pak Ahmadi. Di tokonya penuh dengan tekstil produksi kami di Jakarta. Tokonya termasuk paling besar dan paling ramai di deretan toko-toko lainnya.

Pak Ahmadi memanggil salah seorang pegawai perempuan. Dia memperkenalkan kepada ku dan istri-istriku. Anaknya mengenakan hijab, dari wajahnya dia masih remaja, ayu. Walaupun baju yang dipakainya longgar, tetapi tidak bisa menyembunyikan tonjolan buah dadanya. Aku menduga buah dadanya agak diatas rata-rata anak seusianya.

Setelah bersalaman anak itu berlalu. Pak Ahmadi lalu bercerita mengenai anak itu. Menurut Pak Ahmadi, Atika, nama anak itu nasibnya sungguh memprihatinkan. Dia adalah anak sulung dari 3 bersaudara dari keluarga yang miskin. Namun prestasi belajar Atika luar biasa, Dia juara pertama di tingkat propinsi Gorontalo, namun karena orang tuanya tidak mampu akhirnya tidak bisa meneruskan ke perguruan tinggi.

Hatiku berdesir ketika berkenalan dengan Atika tadi, tetapi aku sembunyikan dari semua orang. Pak Ahmadi menanyakan kepadaku jika aku punya keleluasaan untuk membantu menyekolahkan anak itu. Menurut Pak Ahmadi, Atika tidak cocok kuliah di Gorontalo, yang cocok adalah Jakarta, mengingat otaknya sangat cerdas. Aku dan kedua istriku liat-liatan.

“Aku setuju Pak dia kita bantu,” kata Chandra.

“Kalau aku pikir bukan hanya dibantu, kalau memungkinkan biarlah Atika menjadi istri Bapak,” kata Sarinah.

Aku tak menduga seterus terang itu Sarinah berucap. Pah Ahmadi sampai terkejut, karena yang menyarankan aku mengawini Atika justru istriku sendiri.

“Saya pikir itu yang terbaik, Pak . Itu untuk menghindarkan fitnah juga,” kata Pak Ahmadi yang malah mendukung gagasan Sarinah.

Ternyata Chandra juga mendukung karena dia mengatakan bahwa masalah ini perlu dibicarakan lebih serius sebelum kembali ke Jakarta. Dia menyarankan Pak Ahmadi mengantar kedua istriku mengunjungi kediaman orang tua Atika.

Atika kemudian dipanggil lagi oleh pak Ahmadi, kami lalu diajak ke sebuah restoran di dekat situ. Pak Ahmadi menanyakan apakah Atika mau meneruskan ke Perguruan Tinggi di Jakarta. Mendengar itu terpancar wajah senang dari Atika yang lalu menyambutnya dengan anggukan tanpa ragu.

Pak Ahmadi menggiring Atika dengan menyebutkan bahwa selama di Jakarta akan tinggal di rumahku bersama istri-istriku. Pak Ahmadi terus terang mengungkapkan bahwa aku memiliki 3 istri. Atika menyatakan tidak keberatan, malah senang sekali.

Pak Ahmadi lalu mengingatkan bahwa dirumahku belum ada anak yang seusia Atika, anak-anakku katanya masih kecil-kecil. Untuk menghindarkan fitnah, Pak Ahmadi lalu berterus terang menanyakan kesediaan Atika dipersunting oleh ku menjadi istri ke empat.

“Semua ini bukan hanya baik untuk Atika sendiri, tetapi juga untuk keluarga Atika, karena sebagai istri Pak Ahmadi Atika bisa memberi bantuan maksimal kepada orang tua di kampung, adik kamu tahun depan lulus SMA juga kan,” kata pak Ahmadi.

Atika sempat terkesiap dan wajahnya jadi merah. Aku tidak tahu dia terkejut, malu atau benci dengan ucapan pak Ahmadi. “Saya tidak bisa putuskan, saya serahkan putusan kepada abah dan umi,” kata Atika yang berlinangan air mata.

Akhirnya Atika diberitahu bahwa Bu Chandra dan Bu Sarinah akan diantar berkunjung ke rumah Atika untuk bersilaturahmi langsung dengan kedua orang tua Atika. Sore itu sekitar pukul 4 kedua istriku diantar Pak Ahmadi berkunjung ke rumah Atika.

Menurut cerita istri-istriku, keadaan rumahnya sangat memprihatinkan, tetapi keluarga itu berusaha menyambut tamu dari Jakarta dengan sebaik-baiknya. Atika yang sudah pulang terlebih dahulu sudah menceritakan bahwa akan ada kunjungan yang intinya melamar dirinya untuk menjadi istri keempat.

Kunjungan kedua istriku dan Pak Ahmadi yang rupanya disegani oleh kedua orang tua Atika, sehingga disambut positif. Apalagi yang muncul melamar adalah dua istriku. Itu kata ayah Atika menandakan keikhlasan dari istri-istri terdahulu. “Atika sebetulnya sudah bercerita dan dia menyerahkan keputusan kepada kami orang tuanya, karena katanya dia bingung. Namun yang akan menjalani kehidupan sebenarnya adalah Atika, sehingga itu terserah kepada Atika sendiri. Pada prinsipnya kami orang tuanya tidak keberatan, karena perbuatan ini tidak melanggar aturan agama,”katanya.

Atika yang selama pembicaraan ini bersembunyi di dalam, kemudian dipanggil keluar. Ayahnya menceritakan apa yang dibicarakan barusan dan menegaskan bahwa pada prinsipnya keputusan diserahkan kepada Atika sendiri. Kedua orang tuanya menyatakan tidak keberatan.

Di desak oleh pertanyaan itu, akhirnya Atika sambil menunduk dan berlinangan air mata mengatakan, “Kalau Abah dan Umi tidak keberatan, saya mengabdi kepada orang tua ikut saja apa keputusan orang tua,”katanya.

Semua merasa lega karena keinginan yang sesungguhnya muncul mendadak ini bisa diterima dengan baik oleh semua pihak.

Ketika istri-istriku kembali bersama Pak Ahmadi menemuiku yang menunggu di Hotel mereka melaporkan hasil kunjungannya. Aku merasa perlu juga berkenalan dengan orang tua Atika, sehingga aku mengundang keluarga besar itu untuk makan malam. Pak Ahmadi setuju dan dia langsung menelepon Atika menjelaskan soal undanganku. Tidak lama kemudian dibalas melalui sms bahwa mereka menerima undanganku.

Malam itu aku memesan meja panjang di restoran hotel untuk menampung sekitar 20 orang. Sekitar jam 8 malam keluarga Atika muncul. Mereka berombongan dijemput mobil pak Ahmadi ada 6 orang. Satu orang lagi adalah abang tertua ibu Atika.

Kami berkenalan dan berakhir dengan keakraban, dan godaan-godaan yang ditujukan ke Atika dilontarkan oleh Pak Ahmadi juga kedua orang tuanya.

Sepulang dari Gorontalo Sabrina segera dikabari bahwa akan melamar seorang istri lagi oleh Chandra dan Sarinah. Sabrina bisa mengerti dan bisa menerima. Meskipun dia baru menikah denganku setahun yang lalu.

Sebulan kemudian kami mendapat kabar bahwa keluarga besar Atika sudah siap berangkat ke Jakarta untuk silaturahmi. Aku memang menawarkan kesempatan kepada keluarga Atika jika ingin berkunjung ke Jakarta akan aku biayai.

Mereka berombongan 6 orang, selain Atika dan kedua orang tuanya juga 2 adiknya dan Pak Ahmadi. Karena rumahku memiliki banyak kamar dan bisa menampung mereka semua maka mereka menginap di rumahku. Mereka berada di Jakarta selama 3 hari. Aku mengajak keluarga Atika berkeliling Jakarta menikmati beberapa tempat. Kunjungan ke Jakarta adalah yang pertama kali bagi mereka.

Selama di Jakarta kami merembugkan rencana pernikahan yang kelak akan diselenggarakan di Gorontalo. Usulanku untuk acara yang sederhana saja mereka setujui dan aku berjanji membiayai semua keperluan untuk upacara itu, jadi dari pihak orang tua Atika tidak perlu memikirkan harus cari biaya.

Pada hari yang telah kami sepakati, aku dan semua istriku berangkat ke Gorontalo. Hotel sudah dibook 2 kamar, yang peruntukannya satu kamar untuk istriku bertiga dan satu kamar lagi disiapkan sebagai kamar pengantin. Aku sudah berencana tidak akan melakukan malam pertama di hotel itu, aku merencanakannya dari Gorontalo akan berlibur ke Bali bersama semua istriku.

Acara berlangsung sederhana dan diadakan di rumah keluarga Atika. Tidak ada pelaminan, kami semua dan tamu-tamu duduk di bawah. Meski pun sederhana, tamu yang datang tidak kurang dari 200 orang.

Setelah acara pernikahan yang sekaligus digabung dengan resepsi, usai sebelum magrib. Setelah itu pengantin dan rombonganku hijrah ke hotel. Di dalam kamar Atika malu-malu berdua denganku. Dia mengira aku akan melakukan ritual malam pertama di hotel itu, Aku tanyakan kapan dia mendapat mensturasi, jawabannya masih lama, karena dia baru saja mendapatkannya. Aku beri pengertian bahwa malam itu aku tidak melakukan ritual malam pertama, karena malam pertama akan dilakukan di tempat wisata di Bali.

Atika senang mendengar aku akan mengajak liburan ke Bali. Dia memelukku. Tak ayal juga dalam kamar berdua akhirnya aku mencumbuinya sampai kami berdua bugil juga. Namun aku tetap menepati janjiku tidak menjebol segel keperawannya pada malam itu.

Setelah semua bajunya aku lepas, terlihat tubuh putih bersih. Dugaanku semula bahwa susunya agak oversize ternyata memang benar. Payudaranya besarnya di atas rata-rata anak seusia dia 17 tahun. Aku tanya dia mengenakan BH cup C ukuran 34.

Atika tidak terlalu tinggi, dia mengaku tingginya 165 cm dengan berat 48 kg. Untuk tinggi segitu, payudaranya masih bisa sesuailah. Dia bisa sembunyikan dengan balutan hijabnya yang selalu dia kenakan longgar.

Dari Gorontalo kami terbang ke Makasar lalu meneruskan ke Ngurah Rai, Bali. Aku sudah memilih hotel di daerah Kuta yang selalu hiruk pikuk. Namun hotelku cukup terjaga privacy nya, sehingga hiruk pikuk di luar tidak berpengaruh ke dalam.

Dalam usiaku 38 tahun aku menikahi perempuan usia 17 tahun selisih 21 tahun. Jika aku berkaca berdua memang kelihatan sekali tidak seimbangnya tampilan kami berdua.

Aku memberi kesempatan Atika berjalan-jalan bersama 3 istriku. Dia kuberi sangu yang memadai untuk shooping. Dia sempat berkomentar, banyak sekali sangunya.

Setelah makan malam dan badan lelah, kami masuk ke kamar. Atika sebenarnya masih terlalu hijau. Di era internet ini dia masih belum mahir memanfaatkannya sehingga akses informasi agak terbatas. Dia mengaku malah belum pernah sama sekali menonton BF.

Aku malam itu memulai mencumbunya kembali, cumbuan dengan memulai mencium bibirnya lalu meremas buah dadanya sambil melepas pakaiannya satu persatu sampai akhirnya dia tinggal celana dalam. Ketika di hotel Gorotalo aku juga sudah mencumbu sampai tahap ini. Tubuh gadis muda ini sangat menggairahkan karena buah dadanya masihsangat kenyal dengan pentil susu yang masih kecil dan cenderung terbenam. Aku harus cukup lama mencium dan meremas buah dadanya sampai dia terangsang. Jika belum terangsang Atika tidak bisa menahan geli ketika susunya aku cium dan pentilnya aku jilati. Jika dia sudah terangsang, rasa gelinya hilang berubah menjadi rangsangan.

Atika mendesis-desis ketika kedua pentil susunya aku jilati dan aku gigit dengan bibir secara lembut. Dia mendekap kepalaku kearah dadanya karena nikmat yang dirasa di sekitar susunya. Sambil memainkan susunya tanganku meraba kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam. Aku sengaja tidak langsung memasukkan tangan ke celana dalam atau membukanya, menghindarkan dia merasa malu. Jika dia sudah cukup terangsang baru di kesempatan itu aku memasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya.

Gundukan kemaluannya masih ditumbuhi bulu halus yang juga masih jarang. Aku mengelus-elus bulu itu dengan gundukan yang cukup cembung. Setelah itu jariku mengusap-usap garis belahan kemaluannya. Aku usap-usap sebentar lalu jariku agak dibenamkan merasa ada kehangatan dan cairan di dalamnya.

Perlahan-lahan aku buka celananya lalu aku turunkan sampai akhirnya dia telanjang bulat. Namun kami bercumbu masih di dalam selimut, sehingga meskipun kami bugil berdua tetapi kami sendiri tidak bisa melihat. Aku memainkan jariku di wilayah clitorisnya. Atika berjungkat-jungkat pinggulnya setiap jariku menyentuh clitorisnya sampai akhirnya dia seperti merintih nangis. Namun wajahnya tidak memperlihatkan dia menangis. Kepalanya digeleng-gelengkan kekiri dan ke kanan.

Aku terus menstimulasi clitorisnya dan itu berlangsung agak lama, mungkin sekitar 15 menit baru akhirnya dia mencapai orgasme. Daging cembung di kemaluannya bagian bawah terasa berdenyut. Atika tanpa dia sadari mengerang panjang ketika mencapai titik kepuasannnya.

Aku membuka selimut dan Atika tidak mempedulikan lagi atas tubuhnya yang bugil. Aku mengambil jelly pelicin kusapukan ke seluruh batang penisku lalu ke pintu masuk vaginanya. Perlahan-lahan aku arahkan ujung kemaluanku ke lubang kemaluannya. Setelah terasa tepat, aku menekan masuk. Kepala penisku berjaya menguak masuk sampai seluruh kepala terbenam. Atika mengeluh karena sakit.

Aku katakan pada saat pertama seperti ini wajar ada rasa sakit, tetapi masih bisa ditahan. Aku mencium bibirnya yang dia sambut dengan hangat. Sambil mencium aku dorong lagi kepala penisku untuk masuk lebih dalam sampai akhirnya tertahan. Atika melepas ciumanku dan merintih karena perih. Aku minta dia bersabar sedikit, karena rasa sakit itu tidak akan lama.

Selaput dara wanita yang baru berusia 17 tahun masih sangat kuat, sehingga aku harus sedikit bertenaga memecahnya. Itulah yang kulakukan, aku memaksa memajukan sedikit sampai terasa ada yang pecah di dalam. Berbarengan jebolnya selaput kehormatannya dia menjerit pelan dan air matanya meleleh dari kedua ujung matanya. Dia menangis tanpa suara, karena katanya sakit sekali. Kemaluanku terasa tercekat di dalam. Aku tidak mau ambil risiko menarik keluar, karena nanti susah memasukkannya lagi, sehingga meski sakit aku terus dorong masuk perlahan-lahan, sampai akhirnya tercapai juga titik finish-nya.

Aku berdiam sejenak sampai reda tangisnya. Aku menciuminya dengan penuh kasih sayang untuk membuainya dan menenangkan hatinya. Setelah aku rasa dia reda merasakan perih di vaginanya aku perlahan-lahan menariknya sampai hampir lepas, lalu aku dorong lagi. Lubang kemaluannya sangat sempit membuat batang penisku juga terasa agak sakit.

Setelah maju mundur beberapa kali dan liangnya terasa makin licin. Atika tidak lagi mengeluh sakit. Aku memutuskan tidak bermain terlalu lama. Setelah 10 menit aku memaju mundurkan penisku. Aku berhenti. Atika sulit mendapatkan orgasme, karena kemaluannya masih terasa sakit. Aku pun demikian. Meskipun terasa amat menjepit, tetapi karena terasa agak sakit sehingga sebenarnya kurang nikmat.

Aku berhenti dalam keadaan kemaluanku masih sangat tegang. Kami istirahat dan kupeluk dia untuk kuajak tidur. Kami berdua masih telanjang bulat di bawah selimut. Atika terasa menangis saat kepalanya bersandar di dadaku. Aku tidak bisa menebak, apakah dia menangis bahagia, atau teringat dengan keluarganya yang kini jauh.

Aku dapat memaklumi jika dia ingat dengan keluarganya, karena ini adalah pengalaman pertama berada jauh dari lingkungan keluarganya. Apalagi statusnya dia sudah menjadi istri yang pengabdiannya dicurahkan kepada suaminya. Jiwa anak-anaknya masih belum luntur benar, meskipun dia tahu statusnya sudah memiliki suami.

Aku tidak mengulangi lagi pada pagi harinya. Menjelang subuh kuajak dia mandi junub bersama-sama. Mulanya dia mengatakan malu, tetapi kuingatkan bahwa aku adalah suaminya sehingga tidak pantas malu terhadap suami. Akhirnya Atika pasrah mandi air hangat di pagi buta berdua denganku dengan sama-sama telanjang bulat. Tidak puas-puasnya aku memandangi keindahan tubuhnya dengan payudara yang montok, bokong yang berisi dan perut kempes berpinggang.

Pagi hari kami berdua turun sarapan, ternyata di ruang coffee shop sudah ada ketiga istriku. Kami duduk satu meja dan istri-istriku melayaniku mengambilkan sarapan di meja prasmanan. Ketiga istriku bergantian menasihati Atika. Mereka juga mengatakan bahwa Atika sudah seperti adik. Atika diminta tidak perlu sungkan-sungkan meminta tolong kepada istri-istriku, karena statusnya sekarang adalah sama yaitu istri Pak Argo, meskipun Atika masih sangat muda.

Seharian kami berkeliling Bali menikmati berbagai tempat wisata. Rasa canggung Atika akhirnya mencair, dia bisa menyatu dengan istri-istriku lainnya. Aku bahagia menyaksikan ke empat istriku sangat akur dan saling tolong menolong. Kami banyak membuat foto-foto dengan latar belakang keindahan tempat-tempat wisata di Bali.

Malam kedua di Bali, ketika aku mulai mencumbui Atika, dia terlihat seperti trauma. Aku agak lama menentramkan hatinya sampai akhirnya dia luluh dan pasrah terhadap semua cumbuanku. Pada malam kedua ini aku memperkenalkan cumbuan cunnilingus. Mulanya dia malu ketika aku mulai menciumi kemaluannya. Namun karena aku terus bertahan akhirnya dia pasrah dan mengikuti irama kenikmatan dari sentuhan lidahku ke clitorisnya. Atika merintih terus dan bergelinjang karena merasakan geli dan nikmatnya di oral.

Mungkin batinnya belum dapat sepenuhnya menerima perlakuanku mengoral kemaluannya, sehingga batinnya berperang antara kenikmatan dan rasa malu. Akibatnya aku cukup lama mengoralnya sampai dia mencapai orgasme. Saat orgasme dia merintih lirih dan panjang.

Aku memeluknya dan menanyakan apakah nikmat rasanya. Dengan malu-malu dia mengangguk. Setelah agak kurang rasa malunya dia kuajarkan posisi WOT. Atika masih terasa kaku ketika berada diatas tubuhku. Agak ragu dia menurunkan tubuhnya ketika penisku berada di pintu masuk vaginanya. Aku sudah melumasi jelly pelicin untuk mengurangi rasa sakit.

Perlahan-lahan dia coba memasukkan penisku ke vaginanya sambil dia nyengir-nyengir khawatir sakit. Namun nyatakanya penisku terus terbenam sampai akhirnya mentok. Aku ajarkan dia melakukan gerakan naik turun. Karena ini adalah pengalaman pertamanya maka penisku sering terlepas dari liang vaginanya. Aku terpaksa membantu dia mengontrol gerakannya sehingga tidak sampai lepas. Rupanya makin lama tidak ada lagi kekhawatiran rasa sakit, malah rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Atika mulai bergerak mengikuti rasa nikmat didirinya sehingga ritmenya makin cepat dan bukan hanya gerakan naik turun tetapi juga menggeser maju mundur.

Aku tidak menyangka, dia bisa mendapatkan orgasmenya pada posisi seperti ini sampai akhirnya dia memekik menandai kenikmatan puncak sudah melanda dirinya. Tubuhnya dijatuhkana menindihku. Aku menciuminya sementara dibawah terasa berkedut-kedut.

Aku membalikkan tubuhnya dan giliran aku yang memompanya dengan gerakan tetap hati-hati. Atika mulai dapat merasakan nikmatnya berhubungan suami istri sehingga tanpa malu dia merintih nikmat sampai akhirnya dia mendapat orgasme lagi. Aku masih menahan diri untuk tidak ejakulasi. Paginya kami masih bermain lagi sampai Atika mendapat lagi orgasmenya.

Selama 4 malam aku makin melancarkan lubang vagina Atika sehingga dia sudah melupakan rasa sakitnya. Nafsunya cepat bangkit dan tidak ada lagi rasa malu meski ruang terang benderang dia santai saja telanjang di hadapanku.

                                                                                                             *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 4

By Jakongsu

Hidup serumah dengan empat istri dari suku yang berbeda sesungguhnya tidak terlalu masalah. Perbedaan dari asal suku bahkan memberi hikmah terhadap jenis-jenis masakan khas daerah. Aku berembug dengan ke empat istriku untuk mencoba menggali masakan khas daerah masing-masing. Akhirnya kami sepakati, setiap hari sajian makanan dibuat berbeda-beda. Hari Senin masakan di rumah semua lauk versi Jawa Timur, lalu Selasa masakan Padang, Rabu masakan Sunda dan Kamis masakan Sulawesi khususnya Gorontalo. Akibat aturan menu baru itu, masing-masing istri jadi berusaha menggali resep masakan keluarga masing-masing. Hari selebihnya disajikan menu campuran.

Kehidupan dengan 4 istri jadi lebih nikmat dan lebih rukun dengan ikatan masakan. Sesuatu hal yang kelihatannya sepele , malah menjadi pengikat kerukunan. Aku bersyukur sejauh ini bisa hidup rukun dengan ke empat istri.

Istriku yang paling muda, Atika kemudian meneruskan studynya ke Universitas Indonesia. Dia memilih sendiri jurusan Matematika dan Ilmu Pasti Alam. Aku menyarankan agar Atika menunda dulu memiliki anak, sampai selesai kuliah. Lagi pula menjadi ibu pada usia belasan tahun, secara fisik belum benar-benar siap. Jika tamat kuliah diharapkan usia 22 tahun, rasanya sudah cukup matang untuk menjadi ibu.

Atika setuju, dia juga tidak ingin kuliahnya terganggu karena direpotkan kehadiran anak. Dia mengikuti program KB. Aku tidak tahu dia memakai sistem apa, istri-istriku yang senior membantu mengurus masalah wanita itu.

Industri garment dan perdagangan tekstil terus berkembang dan aku terlibat mencari industri tekstil sebagai pemasoknya. Kesibukan itulah akhirnya aku akrab dengan Liani, wanita keturunan China. Industri tekstil yang lumayan besar dan maju dikomandoi oleh Liani yang menurut pandanganku masih terlalu muda untuk tanggung jawab sebesar itu. Namun nyatanya industri yang dia pegang makin berkembang. Memang sebaiknya jangan under estimate terhadap tampilan.

Aku sering ngobrol di kantornya di pabrik. Dari berbicara masalah bisnis, sampai akhirnya dia membahas topik yang mengejutkan. Dia bertanya mengenai agama Islam. Dari mulai yang sepele sampai akhirnya kami sering berdebat.

Liani berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan Konghuchu. Topik itu rupanya memikat hatinya sampai-sampai aku sering diminta datang ke kantornya untuk bertanya soal agama Islam. Jika aku tidak bisa, dia tidak ragu-ragu datang ke rumah atau ke tempat usahaku. Semua istriku sudah mengenalnya, terutama Chandra karena dialah yang paling sering berhubungan.

Aku bertanya mengapa dia tertarik mengetahui mengenai Islam. Menurut Liani, dia kurang puas dengan hal-hal yang menjadi kepercayaan yang dipegang selama ini. Menurut dia banyak yang tidak logis dan bisa diterima akal, meski pun ajaran Konghuchu menganjurkan kebaikan.

Aku tidak terlalu pakar seperti ustad sehingga aku menawarkan kepada Liani untuk aku perkenalkan kepada uztad yang lebih menguasai dibanding aku. “Ah Bapak kelihatannya sangat menguasai, saya lagi pula senang dengan cara bapak menjelaskan,” katanya.

Aku memang punya latar belakang pendidikan pesantren 12 tahun di pesantren yang cukup punya nama di kota Babat Jawa Timur. Mungkin latar belakang pendidikan itu sehingga semua pertanyaan Liani bisa aku jelaskan berikut dalil-dalilnya.

Tidak terasa sudah sekitar setahun Liani seperti berguru denganku. Aku menilai dari pertanyaan-pertanyaannya dia tertarik pada Islam. Benar saja dugaanku, Liani mengatakan dia sudah berketetapan ingin memeluk Islam dan langsung berhijab. Aku merinding mendengarnya dan terharu.

Liani adalah sosok yang cukup tinggi pendidikannya, dia menuntut perguruan tinggi di Prancis, Toulouse University sampai mendapat S-2.

Wanita keturunan China ini sangat memegang teguh pendiriannya dan orangnya sangat perfect. Oleh karena itu dia sering terkesan kaku dan cerewet terhadap pegawai-pegawainya. Mungkin karena itu sampai usia yang seharusnya sudah berumah tangga dia belum punya pacar. Padahal sosoknya tinggi, sekitar 170, mukanya cukup cantik dan tubuhnya cukup proporsional lah. Aku sangat terkesan ketika melihat dia mengenakan jilbab. Wajahnya kelihatan imut dan makin cantik.

Liani bercerita bahwa tentangan dari keluarga besarnya luar biasa. Sampai-sampai siapapun yang menentangnya di tantang berdebat. “ Syukur yang mereka persoalkan saya sudah kuasai,” katanya tersenyum-senyum.

Liani akrab dengan Sabrina, meskipun dengan yang lainnya dia cukup bersahabat. Otak mereka berdua memang cocok, apalagi kalau bicara soal bisnis. Aku dengar-dengar mereka berdua sedang membangun bisnis. Aku kurang mengikuti kegiatannya. Yang sering aku lihat mereka sering jalan berdua, sebab Liani sering menjemput Sabrina.

Yang membuat aku lebih trenyuh, dia menyesuaikan dengan kebiasaan istri-istri kalau pamit mau pergi mencium tanganku. Liani pun melakukan itu kepadaku.

“Suatu malam ketika aku tidur berdua dengan Sabrina dia mengatakan, “ Pak Liani itu mengagumi sosok Bapak dan dia tidak habis pikir kita-kita istri Bapak kok akur gak sirik-sirikan, pak lamar aja dia saya udah rembukan ama ibu-ibu mereka semua setuju, mau pak ya.”

Aku langsung bangkit duduk karena terperanjat. Jujur selama ini meski aku akrab dengan Liani, tetapi tidak sedikitpun terbersit ingin menyuntingnya. “Aku ini kan sudah punya 4 istri, masak sih masih nambah lagi, emangnya kalian gak takut perhatianku jadi makin banyak terbagi.” kataku serius.

“Ah enggak kok, kalau saya pribadi, rasanya perhatian Bapak kepada saya penuh, kayak saya adalah satu-satunya istri bapak. Eh tapi kalau saya tanya yang lainnya juga sama kok. Malah rasanya kami seperti kakak beradik, sakit sama dirasa, senang sama dinikmati,” kata Sabrina.

“Ok lah seandainya aku terima saran kamu, apakah Liani mau, jadi istri ke 5 lho, bukan ringan predikat itu, apalagi Liani bukan orang kampung yang ingin meningkatkan derajat,” kataku.

“Saya sih belum terus terang tanyakan, tapi perasaan saya dia mengagumi bapak banget lho, sering banget dia tanya-tanya tentang bapak,” kata Sabrina.

“Pak perasaan wanita itu sensitif, orang belum ngomong aja kita udah tau apa yang dirasakan,” kata Sabrina.

“Ok lah kalau begitu, besok kita kumpul semua, aku ingin mendengar pendapat kalian, aku tidak mau ada ganjalan dalam rumah kita, jadi semua keputusan harus kita mufakatin,” kataku.

Pada pertemuan itu malah tidak seorang pun istri-istriku yang menentang, sebaliknya malah mendukung. Yang makin aku tambah heran istriku yang paling muda malah memberi alasan positif terhadap ku jika menyunting cewek mualaf itu. Sulit rasaku melawan 4 suara yang bulat, sehingga aku pasrah, tetapi aku tidak mau ikut campur soal membujuk Liani.

Aku membatin dalam hati, suka juga sih punya istri cantik seperti Liani. Tapi aku jadi agak kurang percaya diri karena Liani adalah pengusaha yang cukup berhasil. Industri tekstil yang dikomandaninya itu sudah menjadi milik pribadinya, saham semua keluarga nya sudah dibelinya. Kalau pun dia mau cari suami, tidak sukar, karena Liani orangnya smart, cantik, tinggi, bahkan kulitnya mulus seperti artis cantik Korea.

Entah hari apa aku lupa, Sabrina yang baru pulang langsung berlari menemuiku. Setelah mencium tanganku sambil terengah-engah dia cerita. “Pak Liani mau dilamar Bapak, dia malah tanya kapan mau dilamar, eh tapi dia mau ketemu bapak dulu secara pribadi.”

Aku mengatur waktu bertemu dengan Liani di restoran Jepang yang memiliki ruang makan bersekat-sekat. Hari itu Liani datang sendiri aku jemput dia lalu kami masuk kekompartemen. Setelah itu kami duduk tenang dan mengambil nafas.

Aku menawarkan makan terlebih dahulu baru ngobrol. Liani terlihat tidak tenang makan cuma sedikit. Setelah makanan di clear up. Aku membuka pembicaraan dan akhirnya Liani menyampaikan sesuatu yang katanya perlu aku pertimbangkan sebelum melamar dirinya. Ternyata dia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi. Pacarnya ketika masih study di luar negeri yang merengutnya. Setelah itu dia mengaku masih berpacaran lagi dengan seorang Jerman.

Liani menceritakan keadaan dirinya sambil berlinangan air mata. “Masa laluku tidak bersih Pak, saya ikhlas menerima apa pun putusan bapak. Saya sudah bertobat dan minta ampun kepada Tuhan setelah saya masuk Islam,” kata Liani.

Aku sempat terkejut juga mendengar pengakuan Liani. Aku pikir wajar saja seorang wanita yang jauh dari pengawasan orang tua, apalagi hidup di lingkungan yang membiarkan terjadi sex bebas.

“Bagi saya itu tidak ada masalah, karena saya bisa mengerti dan itu tidak menghalangi niat saya melamar Liani. Bagi saya yang paling penting adalah taubat itu, karena kita manusia bisa melakukan kesalahan tanpa disadari, atau pengaruh lingkungan sehingga kita berbuat kesalahan,” kataku tenang.

“Namun semua yang diungkapkan ini tolong tetap dijaga kerahasiaannya, sehingga hanya kita berdua saja yang tau, saya tidak akan ungkapkan kepada istri-istri saya. Ini adalah masalah martabat,” kataku.

Ditariknya tanganku lalu dia cium sambil terisak-isak. Saya menduga dia menangis karena bahagia perasaannya sudah plong. “Hati bapak yang begini inilah yang membuat saya akhirnya mau menjadi istri, meski pun itu istri kelima, saya terus terang iri melihat ketentraman semua istri-istri Bapak, saya tahu Bapak tidak memanjakan mereka secara materi, karena mereka semua sudah mempunyai usaha yang besar. Bapak memang benar-benar bisa mengayomi istri-istrinya,” kata Liani.

Pada pertemuan itu sekaligus kami bicarakan soal bagaimana aku melamarnya dan bersilaturahmi dengan keluarga besarnya. Mereka memiliki tata cara sendiri untuk menerima lamaran. Keluarga Liani bukan menerima lamaran di kediaman mereka tetapi pertemuan di suatu restoran. Aku agak janggal juga melamar dan bersilaturahmi di restoran di mana banyak orang lain di sekitar kita yang tidak ada kaitannya dengan urusan kami.

Pada lamaran itu baru kukenal kedua orang tuanya, saudara sekandungnya dan keluarga besarnya. Meskipun mereka bertemu dengan keluarga besarku, tetapi aku menangkap pandangan sinis dari keluarga mereka, mungkin soal aku punya istri banyak. Diputuskan acara akad nikah dan resepsinya tergantung kesepakatan antara aku dan Liani.

Aku dan semua istriku melakukan rembukan bersama juga Liani. Kami membicarakan tempat pernikahan. Liani sudah menyatakan keluarga mereka tidak mau acara itu diselenggarakan di kediamannya. Jika diselenggarakan di rumah ku juga janggal rasanya. Istriku yang paling muda, Atika mengusulkan dirayakan di panti asuhan sekaligus memberi makan anak yatim. Ini suatu ide yang luar biasa dan sama sekali tidak terpikirkan oleh kami semua.

Semua setuju, masalahnya harus dicari panti asuhan yang kelihatannya kurang mendapat santunan. Aku setuju dan menugaskan anak buahku mencari panti asuhan kampung yang kondisinya memprihatinkan karena jauh dari kota besar.

Beberapa panti diusulkan dan akhirnya kami memilih panti yang berada di satu kampung di Banten sana. Keadaannya memang memprihatinkan, mungkin karena letaknya di pelosok. Untuk memantapkan rencana, aku berkunjung dahulu ke panti tersebut bertemu dengan pengurusnya. Pengurusnya terperanjat ketika kami utarakan maksud kami menyelenggarakan acara pernikahan sekaligus resepsi. Pak Drajat pengurus panti itu mengatakan, tempatnya tidak memiliki aula, listriknya juga kapasitas kecil.

Aku jelaskan masalah itu bukan halangan, yang penting kami mendapat izin. Dengan senang hati Pak Drajat mendukung. Aku lihat disamping panti itu ada tanah kosong cukup luas, yang mungkin bisa untuk mendirikan tenda.

Aku dan Liani sepakat mengeluarkan biaya cukup besar untuk acara itu, kami mensetarakan biaya itu dengan jika kami adakan di Balai Kartini Jakarta dengan undangan 2.000 orang. Kami bukan mau acara di panti asuhan itu sangat mewah, tetapi biaya pernikahan kami sebagian besar kami sedekahkan untuk beberapa panti di sekitar itu.

Semua didatangkan dari Jakarta, mulai tenda ukuran besar, genset, AC, dekorasi. Soal catering Sabrina yang mengambil peran. Dia sudah merancang 5 kelompok makanan sesuai dengan asal suku istri-istriku. Dengan demikian ada menu makanan khas Jawa Timur, Padang, Sunda, Sulawesi dan Chinese Muslim. Menu makanan itu dikelompokkan di pondok dengan masing-masing 7 macam menu.

Selain masalah catering yang unik, aku didudukkan dipelaminan, tetapi yang mendampingi di kiri dan kanan adalah istri-istriku. Di sisi kiri duduk Chandra dan Sarinah di sisi kanan duduk Sabrina dan Atika. Undangan dari Jakarta tidak terlalu banyak hanya sekitar 6 bus besar. Sebagian besar tamu adalah penduduk di sekitar, anak-anak panti dan panti-panti dalam radius 20 km.

Pesta perkawinanku dengan Liani lebih banyak dibanjiri oleh tamu anak-anak yatim piatu. Mereka mondar mandir mencicipi berbagai makanan. Sampai acara selesai, makanan yang tersisa masih cukup banyak. Sabrina terlalu berlebihan menyiapkan makanan. Panitia sudah menyiapkan packing untuk wadah makanan itu yang kelak akan dibawa ke panti-panti asuhan.

Yang kami habisnya biaya untuk pesta semeriah itu, tidak sampai separuh dari dana yang dialokasikan. Kelebihan dana itu kami bagikan untuk perbaikan sarana beberapa panti yang terpilih sehingga kelihatan lebih layak.

Keluarga besar Liani hanya terheran-heran saja melihat set pesta kami. Mereka menyalamiku dan Liani dan mengatakan gagasan yang luar biasa dan sangat terpuji. Aku memang banyak mendapat pujian seperti itu, Semua keluarga mertuaku aku undang termasuk yang dari Gorontalo. Salah satu tamu yang datang adalah teman akrabku ketika masih kuliah dulu. Dia memang paling konyol. Ternyata kekonyolannya masih belum hilang. Ketika menyalamiku, dia setengah berbisik, “Go kamu mesti punya istri 34 orang, sesuai dengan jumlah provinsi, kalau ada pengembangan provinsi kamu tambah lagi, “ katanya bercanda konyol.

Malam pertama dengan Liani kami sepakati tidak di Jakarta, atau di Bali. Liani menyarankan liburan selama seminggu ke Maladewa. Mendengar Maladewa, istri-istri yang lain tidak mau ditinggal. Mereka mau ikut juga, karena semuanya belum pernah ke sana dan mengetahui penginapan di atas lautnya indah sekali.

Kami mendapat bungalow diatas laut dan kebetulan satu kelompok 3 bungalow. Aku menempati bungalow bersama Liani di tengah sedang di kiri tinggal Sabrina dan Sarinah di kanan Chandra dengan Atika. Bungalownya cukup besar karena didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan pantry. Kami merencanakan tinggal di situ untuk 3 malam.

Tidak ada kegiatan lain selain tinggal menikmati keindahan pemandangan laut. Alam Maladewa di sisi lain kurang menarik, karena negara ini miskin sehingga banyak daerah kumuh.

Malam pertama aku habiskan dengan mereguk kenikmatan dengan Liani. Dia melakukan cumbuan dan service habis-habisan. Aku dimintanya diam tidur telentang, Liani mulai mengolah mulai mencium bibirku, lalu menjilati kedua puting dadaku dan akhirnya mengoral kemaluanku. Setelah itu dia naik keatas tubuhku lalu melakukan permainan WOT, sampai dia mencapai kepuasan. Liani heran kenapa aku bisa tidak ejakulasi, padahal permainan itu tadi berlangsung cukup lama. Dia kayaknya menyalahkan dirinya, “Pak vaginaku sudah longgar ya maka Bapak tidak merasa nikmat,” katanya merendah.

Aku katakan bahwa vaginanya masih kencang dan terasa menjepit, tetapi aku memang menahan diri untuk tidak terlalu banyak ejakulasi. Aku sudah mendapatkan orgasme tanpa ejakulasi, kataku. Dia agak kurang mengerti, tetapi pada situasi seperti itu tentu tidak tepat memberi kuliah. Posisi dibalik menjadi MOT dan aku berusaha memacu Liani sampai Liani terengah-engah dan mencapai orgasme yang katanya nikmatnya luar biasa.

“Pak saya ingin jujur, saya belum pernah mendapat orgasme seperti barusan dengan Bapak. Tadinya sayang menyangka permainan Bapak biasa-biasa saja. Saya heran ketika Bapak mengambil kendali, kenapa bisa saya cepat orgasme, bahkan lebih cepat dari ketika saya yang kendali,” kata Liani.

Aku jelaskan kepada dia bahwa hubungan suami istri itu tidak perlu terlalu lama, yang penting berkualitas dan sebisa mungkin waktunya sesingkat-singkatnya. Kulit kelamin wanita dan pria adalah sangat tipis dan sensitif, jika terlalu lama digesek-gesekkan bisa menimbulkan luka dan menimbulkanlecet serta rasa sakit.

“Jika sebentar tapi hasilnya berkualitas, buat apa berlama-lama,” kataku.

“Aku merasa pengetahuan sexku diatas Bapak, tetapi ini membuktikan bahwa Bapak lebih luas pengetahuannya,” kata Liani.

Aku masih memacu satu kali lagi sampai Liani mendapatkan 3 kali orgasme dan akhirnya dia menyerah karena badannya lelah dan mengantuk. Sementara itu aku masih tetap fit karena menahan ejakulasi sperma.

Liani tidur telentang dalam keadaan bugil. Tubuhnya putih, kemaluannya ditumbuhi rambut yang cukup lebat berwarna hitam sehingga kontras dengan kulit putihnya, Payudaranya tidak terlalu besar, sehingga tegak menantang dengan ujung nya dihiasi puting berwarna merah muda. Malam itu sampai pagi kami istirahat, pagi-pagi sekali Liani sudah membangunkanku dengan oralnya sampai akhirnya dia mendapat dua kali orgasme lagi. Setelah itu dia tidak habis-habisnya mengagumiku yang masih mampu bertahan dengan penis yang keras sempurna tetapi tidak ejakulasi.

Di hari kedua kami hanya bermain-main di laut sambil memancing. Setelah makan siang, kami istirahat. Aku ditarik Sarinah ke bungalownya. Dari sorot matanya aku tau bahwa siang ini dia menginginkanku. Melihat aku ditarik masuk ke kamar, Sabrina buru-buru mau keluar. Sarinah menahannya malah dia minta pintunya ditutup.

Sarinah ingin bermain 3 some lagi kali ini bersama Sabrina. Mulanya Sabrina malu dan agak kikuk, namun setelah diajak Sarinah akhirnya kami bugil bertiga dan keduanya mendapat jatah yang sama masing-masing 2 kali orgasem, sementara aku masih terus bertahan tidak muncrat. Mereka berdua tepar kelelahan. Aku membersihkan diri ke kamar mandi lalu menutup kedua tubuh bugil itu dengan selimut dan aku keluar. Di bungalowku kosong , Aku lalu menuju bungalow tempat Sabrina, ternyata Liani ada disana mereka sedang menggosip di tempat tidur bertiga.

Dari sorot mata Chandra aku menangkap ada keinginan untuk dipuaskan. Dia melihatku lalu aku mengangguk. Chandra sudah kenal betul dengan kemampuanku bertempur. Chandra menutup pintu sehingga di dalam kamar kami berempat, aku dan ketiga istriku. Chandra lalu buka suara dia mengatakan bahwa aku adalah milik mereka bertiga sebagai istrinya. Semua punya hak yang sama, oleh karena itu Chandra mengajak Liani dan Atika bersama-sama melayaniku. Atika bertanya agak ragu, apakah bertiga istri Bapak sama sama melayani, lantas apa Bapak mampu.

Aku biarkan mereka berdiskusi dan aku minta diri dulu keluar merokok sambil duduk di teras menghadap laut. Aku sebenarnya tidak merekok, tetapi melakukan meditasi dan melakukan olah nafas, karena akan mendapat lawan berat dan langsung 3 orang. Sekitar 15 menit, aku merasa badanku lebih fit. Aku lalu masuk ke kamar mereka.

Ketiga mereka sudah tidur satu tempat tidur sambil berselimut hanya tinggal leher ke atas yang terlihat. Aku menduga di balik selimut itu ketiga istri tidak mengenakan apa-apa lagi. Aku memulai mencium istriku yang paling muda dalam hal usia, yaitu Atika Aku mengenakan sarung dan hanya berkaus oblong hitam. Setelah Atika agak naik birahinya aku pindah ke sebelahnya yang kebetulan berbaring adalah Chandra. Aku naik ke tubuhnya dan masih di luar selimut. Chandra membalas ciumanku dengan ganas. Setelah Chandra giliran berikutnya adalah Liani. Dia sudah siap menerima cumbuanku sehingga ketika aku cium tangannya langsung memeluk tubuhku dan berusaha melepaskan sarungku. Aku tinggal mengenakan celana dalam dan kaus. Chandra bangkit melepas celana dalamku dan Atika mendapat bagian melepas celana dalamku.

Senjataku telah tegak siap tempur dan pemanasan kurasa sudah memadai meski belum maksimal. Aku memulai menindih Chandra yang berada di tengah lalu tangan Chandra menggenggam penisku diarahkan memasuki vaginanya. Aku merasa lama-lama penisku tenggelam dilahap penisnya. Aku memainkan gerakan naik turun dan mencari posisi yang dirasanya nikmat. Awalnya Chandra tidak bersuara, tetapi beberapa saat kemudian mulai mengerang dan akhirnya mencapai orgasmenya. Aku cium bibirnya sambil menunggu orgasmenya tuntas. Setelah itu aku berpindah ke istriku yang masih ranum, Atika.

Dia sudah membuka kedua belah pahanya dan langsung menangkap penisku dan dituntunnya memasuki vaginanya. Setelah penisku masuk lalu aku bergerak lagi naik turun menunjam ke vagina Atika dia langsung merintih nikmat khas rintihan orang sedang melakukan hubungan badan. Atika pun tidak bertahan lama dia langsung menjerit lirih. Aku merasa denyutan di vaginanya dan bibirnya langsung aku sedot sampai tuntaslah orgasmenya.

Giliran Liani, aku minta dia mengambil peran diatas. Dia paham lalu jongkok diatas tubuhku dan memasukkan penisku kedalam vaginanya. Dia bergerak naik turun sambil mendengus-dengus. Rupanya posisi itu banyak menguras tenaga, sehingga mengganti gerakan maju mundur membuat penisku terasa dibetot-betot. Gerakan itu memberi sentuhan maksimal baik di clitorisnya maupun di gspotnya. Tidak lama Liani pun ambruk.

Kali ini aku ingin menuntaskan nafsuku dengan berencana memancarkan air mani, Aku memilih Atika untuk aku setubuhi lagi . Dia tampaknya sudah standby sehingga aku dengan mudah dipeluknya. Aku bermain dengan dia penuh kosentrasi , maka dengan mudah kucapai kepuasan dan ejakulasi. Mungkin Atika juga merasakan nikmat juga liang vaginanya aku siram sperma hangat.

Aku tergeletak lelah. Ketiga mereka dengan tetap bugil membersihkan bekas cairan di sekitar kemaluanku dengan handuk basah dan dengan handuk lainnya menyeka badanku sehingga bekas keringat dihapuskan.

Tidak terasa bahwa aku tertidur di kamar Chandra dan Atika. Ketika aku terbangun, dari jendela terlihat sudah mulai gelap. Mereka bertiga masih tidur berhimpit-himpitan denganku satu tempat tidur berempat. Setelah semua terbangun, aku mengajak mereka semua mandi bersama-sama. Ideku disetujui lalu kami beriringan sambil tetap telanjang masuk ke kamar mandi.

Aku dimandikan bagaikan bayi. Bukan hanya badanku dibersihkan tetapi penisku sesekali disedot oleh Liani bergantian dengan Chandra. Nikmat juga tetapi tidak sempat sampai tegak berdiri kami mengakhiri mandi bersama.

Malam itu aku masih sempat bermain sekali lagi dengan Liani dikamar kami. Istri terbaruku ini terheran-heran atas kemampuanku menghadapi 5 istri dalam satu siang saja. Dia duga aku memiliki semacam ilmu gaib. Tentu saja aku sangkal dan kuterangkan bahwa kemampuanku itu ditopang oleh pengendalian diri dari pengolahan nafas.

Keesokannya sepanjang hari tidak ada yang dilakukan selain makan. Maka waktu-waktu senggang kemudian diisi dengan persetubuhan. Jika kemarin aku berhadapan langsung dengan 3 istriku, kali ini kelima istriku bersama-sama mengeroyokku. Kesempatan itu aku unjuk kekuatan dengan pengendalian diri dan olah nafas, semuanya bisa kutaklukkan tanpa aku berejakulasi.

Kelihatannya agak berlebihan, tetapi pembaca yang paham soal pengolahan nafas dan bermeditasi, hal yang aku capai itu dapat dipahami.

                                                                                                     *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 5

 

By Jakongsu

Sampai di sini saya rasa pembaca sudah jenuh, tetapi saya tidak bisa berhenti bercerita karena ceritanya masih panjang. Membosankan atau tidak apa boleh buat, karena memang saya harus ungkapkan, karena di bagian ini saya akan bercerita bagaimana saya bisa menambah istri satu lagi menjadi 6.

Sungguh saya sudah merasa sangat cukup memiliki 5 istri yang semuanya cantik-cantik, budi pekertinya luhur dan sangat teliti memperhatikan suami. Kalau ditanya apakah saya kewalahan dengan 5 istri. Dalam apa pun saya tidak merasa kewalahan. Dalam memberikan kasih sayang, saya tidak menjatah-jatah, semuanya saya lakukan sewajar-wajarnya. Kalau soal sex, ah sama sekali tidak. Saya menikmati secara nomal, tidak maksa.

Pemenuhan kebutuhan sex untuk istri ukuran adilnya bukan soal, kalau si A mendapat jatah 2 kali seminggu, maka si B, C, D dan E juga harus dapat 2. Adil dalam soal sex bukanlah kuantitas seperti angka, tetapi adalah kualitas kasih sayang yang tulus. Sex adalah puncak rasa kasih sayang antara suami dan istri.

Manusia diciptakan berbeda-beda, ada yang makan harus dengan nasi baru bisa kenyang, tetapi ada juga yang cukup makan roti sudah kenyang, atau kalau tidak makan bubur sagu tidak merasa sudah makan. Itulah keanekaragaman manusia, yang diciptakan dengan keunikan dan kebutuhan yang berbeda. Dalam soal sex juga begitu. Istri saya ada yang merasa sudah terpenuhi kebutuhan sexnya dengan hanya berhubungan sekali dalam sebulan, ada juga yang dia menginginkan saat-saat tertentu yang itu mungkin bisa sekali seminggu, tetapi di lain bulan dia hanya butuh sekali saja.

Saya bukan superman, yang harus bisa melakukan hubungan sex setiap hari bahkan sehari sampai 3 kali, seperti minum obat. Pria yang memiliki istri lebih dari satu, bukan karena dia hiper sex yang setiap waktu menginginkan hubungan sex, sehingga perlu menambah terus istrinya, dan dia bisa berganti-ganti perempuan setiap kali libidonya naik. Sex adalah kebutuhan sesaat yang terpuaskan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Keindahan poligami adalah karena suami disayang lebih dari seorang wanita dan dilayani oleh beberapa wanita sesuai dengan kelebihannya masing-masing, ada yang pinter masak, ada yang ahli memijat, ada yang bisa diajak diskusi, dan ada yang mau membantu menguruskan beberapa urusan misalnya masalah bisnis, bernegosiasi dan lain sebagainya.

Rasanya tidak perlu lah berpanjang-panjang saya bercerita soal ini, karena saya kini menghadapi dilema. Istri saya menyodorkan seorang wanita lagi untuk menjadi istri. Bagaimana tidak pusing. Semua istri saya uniknya malah mendorong saya agar menikahi wanita yang mereka sodorkan. Orang luar melihatnya saya bagaikan laki-laki tamak yang tak puas-puas menambah istri terus. Padahal itu semua bukan kemauan saya.

Ketika usia 40 tahun saya sudah beristri 5 orang. Rasanya jumlah istri saya itu sudah lebih dari cukup. Bukannya saya kewalahan, membiayai istri-istri saya, sebab justru mereka yang membawa bisnisnya bergabung ke bisnis saya, Sebetulnya kalau berpoligami seperti itu, kan sebaiknya malah sebanyak-banyaknya beristri.

Tidak ada grand disain, tidak ada skenario, tetapi nyatanya kelima istri saya berasal dari suku yang berbeda-beda. Makin unik lagi ketika seorang wanita bermarga Hasibuan asal keluarga Tapanuli Selatan Sumut disodorkan oleh Sarinah kepada ku. Menurut Sarinah wanita yang panggilannya Uli Marlina adalah seorang pengusaha farmasi. Dia mewarisi usaha keluarganya berupa beberapa apotek. Uli memang sarjana farmasi. Uli adalah sahabat lama Sarinah, yang bertemu kembali setelah lama tidak saling kontak.

Meski secara harta, Uli tidak ada masalah, tetapi kehidupan asmaranya sangat memprihatinkan. Dua kali dia gagal membina hubungan dengan pria. Tragisnya dua kali itu pula dia ditinggal kekasihnya dengan mengawini wanita lain. Sulit baginya untuk tidak patah hati. Bukan sebentar dia membina hubungan yang akhirnya kandas.

Sarinah bertemu dengan Uli ketika wanita Batak Mandailing itu sedang ancang-ancang mengakhiri hidupnya. Cerita galau ini dibawa Sarinah ke para madunya. Dalam rapat yang dirahasiakan dari saya, mereka bersepakat menolong Uli. Namun itu masih keputusan sementara, karena perlu ada penelitian khusus oleh lebih dari dua orang selain Sarinah. Maka Bu Chandra dan Sabrina bersama Sarinah bertemu di satu tempat.

Mulanya Uli tidak mengetahui bahwa wanita-wanita yang bersama temannya Sarinah itu adalah para madu. Semua kesialan hidup Uli ditumpahkan kepada wanita-wanita itu. Uli ingin mengurangi beban pikirannya sehingga dia senang sekali mendapat kesempatan curhat.

Sambil mendengar curhatan, para istri pak Argo ini juga menilai kepribadian Uli, apakah dia cocok untuk menjadi istri Pak Argo. Kesimpulannya Uli lolos bisa menjadi anggota keluarga baru. Secara kepribadian dia sebenarnya cukup kukuh, penampilan fisik tidak mengecewakan, karena cantik dan tubuhnya langsing.

Dengan susunan kata-kata yang canggih, suatu kelebihan yang dimiliki Sabrina, Uli ditawari menjadi istri Pak Argo. Mulanya Uli tidak mengenal siapa itu pak Argo dan dia pun tidak menyangka bahwa yang berbicara dengannya itu adalah sebagian dari istri pak Argo. Setelah akhirnya dia tahu bahwa dia dicadangkan menjadi istri ke enam oleh istri-istri pak Argo, rasanya Uli hampir pingsan karena keterkejutannya.

Lama dia tidak bisa berkata-kata. Sepintas pun dia tidak pernah membayangkan menjadi istri ke enam. Uli terhenyak cukup lama, karena tidak tahu harus berkata apa. Bu Chandra memberi kesempatan berfikir pada Uli bahkan mengajak Uli anjangsana ke kediaman pak Argo.

Meski agak jengah juga menerima tawaran menjadi istri ke enam, apalagi mengunjungi markas besar para istri-istri itu, tetapi karena rasa sungkan kepada sahabatnya Sarinah, akhirnya Uli mau juga berkunjung.

Apa yang dibayangkan Uli seperti terbalik dengan kenyataan yang dia lihat. Tidak ada rasa iri, rukun semua, dan kelihatan sejahtera, semua terurus dengan baik. Uli berkenalan dengan istri-istri Pak Argo yang lain. Terlihat jelas bahwa istri-istri Pak Argo bukan orang miskin yang diangkat derajatnya setelah menjadi istri. Mereka semua terlihat smart.

Goyah juga pendirian Uli, dari yang tadinya merasa jijik jadi bisa menerima kenyataan malah hati kecilnya mendorong dia bergabung. Ketika diperkenalkan kepada Pak Argo, Uli terkesan sosoknya yang kalem dan rendah hati. Sulit rasanya membenci penampilan Pak Argo, meskipun dia adalah pria yang sudah sangat dewasa.

Pak Argo ketika menerima permintaan para istrinya untuk menambah istri lagi yaitu si Uli Marlina. Tidak serta-merta pula diterima. Pak Argo ingin berbicara lagi dengan Uli disaksikan semua istrinya.

Pertemuan itu akhirnya terlaksana pada suatu hari Minggu siang. Pak Argo menanyakan kebenaran Uli mau dipersunting sebagai istri ke enam. Tanpa ragu Uli menjawab positif, dia pun sudah mempersiapkan semua alasan dan jawaban menghadapi cercaan keluarga besarnya serta orang-orang disekelilingnya.

Dipersingkat saja Uli sudah resmi menjadi istri keenam Pak Argo. Uli makin bisa menjadi dirinya sendiri menghadapi berbagai sinisme orang. Nyatanya dia merasa hidup lebih tenang dan damai mempunyai saudara yang sangat memberi perhatian dan kasih sayang.

Di usia ke 42 Pak Argo mempersunting Uli yang kala itu sudah memasuki usia 29 tahun. Bagi kebanyakan orang usia seperti itu sudah agak telat membina rumah tangga, tetapi Uli menyelamatkan usianya dengan bergabung bersama istri-istri Pak Argo.

Perkawinan saya dengan Uli tidak diselenggarakan pesta, resepsi . Kami hanya kenduri makan besama usai ijab kabul dilaksanakan. Bukan hanya keinginan saya, tetapi Uli juga maunya begitu. Banyak keluarganya yang menentang Uli menjadi istri ke enam, tetapi menurut Uli kepada saya mereka hanya bisa menentang, tetapi tidak bisa merasakan bahkan tidak juga memberi jalan ketika saya dua kali ditinggal kawin.

Saya memahami mengapa laki-laki meninggalkan Uli, Setelah saya bergaul dan saya gauli sebagai istri saya, dia orangnya memang keras dan kokoh pada pendiriannya. Sulit berkompromi, apalagi jika ditentang secara frontal, dia bukan tipe wanita lemah lembut, manja dan mudah menyerah. Namun dia tetap secara kodrat adalah perempuan yang tidak mampu menghindari kasih sayang. Selama menjadi istri saya, dia sama sekali tidak pernah sekalipun memperlihatkan kegarangannya. Entah mengapa dia luluh begitu saja di hadapan saya.

Saya harus bercerita soal satu ranjang dengan dia diawal perkawinan kami, karena ini berkaitan dengan melemahnya dia setelah menjadi istriku dan hilang kegarangannya yang selama ini ditunjukkan kepada lingkungannya.

Malam pertama setelah pernikahan kami, aku menangkap kegalauannya dan kekakuan sikapnya. Aku mencoba mengikuti pola pikirnya ketika untuk pertama kalinya tidur sekamar. Dia masih mengajakku berdiskusi mengenai berbagai hal, utamanya soal bisnis. Dia tahu aku menguasai bidang-bidang bisnis istri ku dengan baik. Uli kelihatannya mengagumiku bisa mengajak Liani, yang menurut dia itu suatu maha karya ku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak pernah memaksakan kehendak kepada semua istriku, juga mereka yang akan aku nikahi, aku jelaskan prinsipku bahwa apapun yang dilakukan harus memberi manfaat dan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Aku agak sedikit nakal dengan mengatakan, bahwa meskipun ini malam pertama, bagi Uli dan sudah menjadi hak ku menggauli istri, tetapi aku akan pasrahkan keputusan apakah Uli ingin tidur bersamaku dan bergaul sebagaimana lazimnya suami istri atau ada keinginan lain.

Sebagai wanita yang cepat paham oleh makna di balik kata-kata Uli akhirnya melemah dan mukanya merah, mungkin karena malu.”Pak terus terang aku takut, malu dan tidak tahu harus berbuat bagaimana sebagai seorang istri, aku pasrahkan hidupku juga tubuhku kepada Bapak dan semua yang bapak perintahkan akan saya turuti. Saya ingin mencapai sakinah mawardah warohmah bersama bapak,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kupeluk tubuhnya lalu kucium keningnya, dia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Waktu itu kami berdua duduk berdampingan di sofa di kamarku. “Uli sekarang adalah istriku yang sah, aku tentu tidak akan menjatuhkan martabat istri-istriku, sebaliknya semua istri-istriku harus mempunyai martabat yang mulia, jadi apapun yang kulakukan kepada istriku semuanya demi kebaikan bersama,” kataku.

“Iya pak saya pasrah, saya harus bagaimana Pak,” tanyanya sambil menengadahkan kepalanya.

“Izinkan aku membuka baju kamu satu persatu ya,” ujarku.

Uli mengangguk lemah. Aku lalu membuka bagian atas bajunya lalu jilbabnya, setelah itu rok panjangnya. Uli tinggal mengenakan kutang dan celana dalam. Aku pun melepas semua pakaianku tetapi tetap meninggalkan celana dalamku. Aku membimbingnya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku membuka BH nya lalu menurunkan celana dalamnya. Mulanya dia merasa malu sehingga menutup payudaranya dan kelaluannya dengan tangannya. Aku biarkan dia sebentar mengikuti nalurinya, karena mungkin ini pertama kalinya dia telanjang di depan laki-laki. Aku minta dia membuang air seninya di toilet dan membersihkan bagian kewanitaannya.

Aku bukan mau berlaku curang dengan tetap menyembunyikan kemaluanku dari pandangannya. Sebab aku menghindarkan dia terkejut melihat kemaluan laki-laki. Perempuan berbeda dengan laki-laki. Jika laki-laki penasaran ingin melihat kemaluan wanita dan itu akan menambah rangsangan. Sebaliknya bagi wanita, umumnya malah takut melihat kemaluan laki laki untuk pertama kalinya. Bukan malah terangsang tetapi malah dia bisa kehilangan nafsunya karena takut. Yang terbayang segera adalah benda itu akan masuk ke dalam tubuhnya dan tentunya itu akan menyakitkan.

Setelah dia membersihkan bagian kewanitaannya. Aku bimbing kembali ke peraduan dan kubaringkan lalu aku selimuti. Aku lalu ikut masuk kedalam selimut dan memeluknya. Aku menciumi keningnya, lalu pipinya dan akhirnya bibirnya. Kelihatannya gairah Uli sudah mulai bangkit. Aku menciumnya dengan lembut. Dia menerima ciumanku dan membalasnya dengan lembut. Kami berciuman sekitar 5 menit. Terus terang waktu itu sebetulnya sangat lama bagiku, karena aku tidak merasakan nikmat sebetulnya berciuman bibir itu, Namun bagi wanita itu adalah pintu masuk meningkatkan birahi.

Nafasnya sudah mendengus-dengus sebagai pertanda dia sudah terangsang. Dadanya aku elus-elus. Terasa kenyal dan lumayan juga besarnya. Pentil susunya aku usap-usap. Uli menggelinjang menahan rasa geli yang juga nikmat. Aku pelintir putting kiri dan kanannya bergantian lalu meremas secara lembut bongkahan dadanya yang montok. Uli sudah mulai mendesis tanpa dia sadari, karena libidonya makin tinggi.

Aku ciumi dan menelusuri turun ke leher lalu hinggap di puting kiri dan kanan. Uli mulai tidak karuan bergerak mengikuti desakan birahinya. Dia makin mengerang ketika lidahku bermain di pentil susunya.

Tanganku menjamah segitiga dibawah dan merasakan betapa lebatnya bulu di kemaluannya. Belahan kemaluannya terasa lembab dan ketika jariku menuruni lipatan aku merasakan adanya bibir dalam (labia minora) yang agak bergelambir. Bibir dalam itu agak menonjol keluar lipatan. Banyak orang mengira melihat tonjolan keluar dari lipatan itu adalah clitoris. Aku kuak kedua bibirnya dan menjamah lipatan lebih ke dalam. Terasa celah itu berlendir kental. Vaginanya sudah siap untuk di penetrasi. Aku mencari clitorisnya dan segera menemukan tonjolan kecil yang mengeras di atas ujung lipatan dan tonjolan itu kuelus-elus lembut. Uli menggeliat-geliat setiap ujung clitorisnya aku sentuh. Aku mainkan terus sampai dia mencapai orgasme.

Setelah dia lega dengan orgasmenya aku mengambil posisi telungkup diantara kedua kakinya yang sudah mengangkang, Ciumanku dari kedua payudara turun ke pusar, perut lalu ke gundukan kemaluannya yang dipenuhi oleh bulu kemaluan keriting lebat. Aku berusaha membuka belahan itu karena lebatnya bulu-bulu.

Kedua tangan Uli menangkap kepalaku dan berkata, “Pak jangan kesitu Pak, Aku malu,” katanya.

“Istri tidak perlu malu kepada suami, “ kataku lalu langsung melahap kemaluannya dan lidahku menjilati ujung clitorisnya. Uli tak mampu mencegah karena kata-kataku dan juga karena nikmat yang ditimbulkan dari oralku di clitorisnya. Uli tergolong wanita yang tidak bisa menyembunyikan kenikmatannya. Dia merintih dengan suara cukup keras sampai akhirnya mencapai kepuasan puncaknya.

Setelah bisa memuaskan nafsunya dengan olahan tangan dan lidah, selanjutnya aku mencoba melakukan penetrasi. Usia Uli sudah sangat matang untuk melakukan hubungan sex. Oleh karena itu tidak terlalu susah membenamkan kepala penisku sampai semua terbenam. Dia memang mengeluh karena katanya kemaluannya agak perih.

Benteng keperawanannya menghalangi penisku masuk lebih dalam. Dengan sedikit tenaga aku tekan dan rasanya relatif lebih mudah memecahkan selaput daranya. Namun dia tetap merasa perih meski pun tidak amat sangat.

Penisku bisa tenggela seluruhnya di dalam vaginanya, aku lalu melakukan gerakan maju mundur perlahan-lahan dan makin lama makin cepat. Uli kelihatannya sudah melupakan rasa sakitnya dia malah merintih nikmat. Aku makin semangat karena rasanya posisiku tepat merangsang dua titik vitalnya yaitu clitorisnya dan gspotnya.

Aku terus memacunya sampai dia mencapai orgasme dan tanpa sadar dia berteriak karena gelombang nikmatnya tidak mampu dibendung. Kami istitahat sejenak lalu aku genjot lagi dan dia makin cepat mendapat orgasmenya sampai orgasme yang ketiga melalui hubungan badan akhirnya dia minta aku berhenti karena sudah tidak kuat lagi merasa badannya seperti lemas sekali. Energinya terkuras akibat orgasmenya yang optimal. Sesunguhnya perempuan justru bertambah kekuatannya setiap kali mendapat orgasme. Badannya akan terasa tambah segar dan pikirannya akan menjadi jernih dan cemerlang, tetapi bukan saat setelah orgasme. Energinya akan berlipat ketika keesokan harinya bangun tidur. Sebaliknya pria akan kehilangan banyak energi setiap kali berejakulasi, sampai keesokan harinya rasa lelah itu masih terasa. Itulah sebabnya aku lebih suka tidak berejakulasi dalam berhubungan. Aku tetap dapat merasakan nikmat melalui orgasme tanpa ejakulasi.

Keesokan pagi Uli lebih dulu terbangun dia memelukku sehingga membangunkanku juga. Kami lalu mandi di pagi buta berdua saling menyabuni saling membersihkan seluruh sisa-sisa pertempuran tadi malam. Ketika fajar Uli mengaku tubuhnya segar dan semua rasa stressnya sudah lenyap. Wanita yang tadinya kaku dan suka jaim, kini malah bermanja-manja. Istri-istriku yang lain maklum dan tahu bahwa Uli sudah mendapat kepuasan tertinggi sehingga takluk kepada suaminya.

Sejak Uli bergabung aku jadi punya mainan baru dengan bisnis farmasi, kami berdua mengembangkan bisnis apoteknya dengan konsep baru untuk masuk ke mall-mall kelas atas. Hasilnya penjualan meningkat hampir 200 persen.

                                                                                                       *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 6

By Jakongsu

Rumahku tidak pernah sepi karena ada 6 bidadari di dalam rumah yang menurut pandanganku semuanya cantik-cantik dan menggairahkan. Uli yang tadinya agak kaku sekarang sudah luwes seperti kodratnya wanita. Dia malah menjadi konsultan bagi keluarga kami mengenai obat-obatan.

Aku sering memandangi istri-istriku dari jauh dan tidak menyangka pada usiaku 42 tahun sudah memiliki 6 istri. Ini memang kelewatan rasanya. Namun aku pasrah kepada jalan hidupku yang ternyata dipercaya untuk menjadi suami dari sekian banyak wanita. Yang membuatku kagum pada diriku sendiri adalah para istriku tadinya bukan orang sembarangan. Boleh dibilang mereka adalah wanita karir yang sudah memiliki pendapatan berlebih. Sebetulnya dengan kecantikan dan uangnya mereka bisa memilih lelaki yang macam apapun dan mudah saja mereka membuat takluk banyak lelaki. Nyatanya mereka malah rela hidup di keluarga poligami.

Banyak teman-temanku sering menyindir aku dengan gurauan bahwa aku memiliki ilmu pelet, sebab yang menjadi istriku selain cantik-cantik juga kaya. Dengan logika apa pun sulit dipercaya wanita seperti itu bisa pasrah kupersunting menjadi istriku. Nyatanya ceritaku sampai aku bisa memiliki 6 istri bukan cerita yang dibuat-buat dan sebenarnya semua adalah logis.

Akhir-akhir ini aku agak curiga karena Sabrina sering membawa teman wanitanya ke rumah. Aku tidak tahu apa urusannya. Sabri memang tidak menyembunyikan temannya itu dia memperkenalkan kepada ku, tetapi aku tidak menanyakan apa bisnis mereka sehingga sering kelihatan jalan berdua.

Sabri pernah bercerita bahwa temannya itu mengelola bisnis yang jarang terdengar. Sejak lulus S-1 Ekonomi di UI dia dipercaya ayahnya membangun usaha jasa pembersihan badan kapal dari karang dan kerang-kerang yang menempel di lambung kapal. Keberadaan karang dan kerang-kerang di lambung kapal menghambat laju kapal sehingga memboroskan bahan bakar.

Orang tuanya memang kawakan di bisnis besi tua yang berasal dari kapal-kapal tua. Itu memang bisnis yang dikuasai oleh orang-orang Madura. Teman Sabrina memperkenalkan diri dengan nama lengkap Suri Permata Sari.

Aku mengatakan kepada Sabrina, “ Hayo kamu mau sodorkan lagi biar aku nambah bini lagi ya,” kataku.

“Ah enggak, orang dia saja katanya geli melihat keluarga poligami. Padahal dia anak istri keempat dari saudagar Madura,” kata Sabrina.

“Kalau dia geli melihat keluarga poligami, kenapa dia sering jemput kamu ke sini,” tanyaku ke Sabrina istri ke tiga ku.

“Gak tahulah, mungkin saja dia studi banding, abis kalau aku jemput dia malah milih menjemput aku,” kata Sabrina.

Kedua mereka guyub dalam rangka menggarap bisnis catering untuk kapal-kapal, Semakin lama kuperhatikan si Suri makin sering menyambangi Sabrina, malah entah beberapa kali dia menginap di kamar Sabrina.

Rumahku terbuka terhadap tamu-tamu siapapun. Teman istriku juga adalah teman kami semua sehingga tidak perlu main kucing-kucingan. Semua harus merasa nyaman di rumahku, karena rumah adalah istana bagi keluarga.

Aku ingat benar dengan pepatah Jawa yang berbunyi “jalaran tresno witing kulino” yang secara mudahnya diartikan “rasa sayang timbul karena terbiasa dan akrab”. Itulah akibatnya

Suri meskipun kulitnya agak gelap tidak seperti Sabrina yang putih, tetapi wajahnya ayu badannya langsing. Beberapa kali kami ngobrol di rumahku, dia sering minta masukan mengenai soal-soal bisnis. Suri mengesankan gadis yang cerdas dan ulet, pantas jika dia menggeluti bisnis service perkapalan yang sesungguhnya merupakan bidang laki-laki. Apalagi pergaulan di Pelabuhan yang kesannya keras dan kasar. Namun kelihatannya dia enjoy dengan bisnisnya. Dia merasa cocok pula jalan dengan Sabrina dan mereka sudah menyusun rencana untuk membuat bisnis baru.

Suatu hari Sabrina membisik kepadaku bahwa Suri kelihatannya senang kepadaku, meskipun dia tidak terang-terangan. Sabrina menangkap sikap itu dari komentarnya mengenai diriku. Kata Suri, enak ngobrol denganku ada perasaan teduh, katanya. Emang pohon beringin kok pakai istilah teduh.

“Aneh ya Pak, dulu dia begitu benci dengan keluarga Poligami, mungkin pengalaman di keluarganya yang kurang baik, kok sekarang malah sering kerumah kita,” kata Sabrina.

Aku mengatakan, sikap terlalu membenci itu memang berbahaya, karena satu waktu bisa berbalik. Sebaiknya kita tidak harus membenci orang meski pun dia pernah menyakiti kita, apalagi membenci tanpa alasan yang jelas. Jangan hanya lihat kulitnya lalu mengira isinya sama dengan kulitnya. Durian kulitnya keras berduri, tetapi buahnya lembut dan wangi.

Sebagai lelaki yang mempunyai banyak istri aku memang sering mendapat cibiran, sindiran bahkan olok-olokan. Sikap kurang senang itu lebih banyak ditunjukkan oleh kaum perempuan dari pada laki-laki. Aku sudah mampu mengatasi rasa sakit hati terhadap mereka yang membenciku, hanya karena aku memiliki istri lebih dari satu.

“Pak boleh enggak aku berandai, andai,” kata Sabrina.

“Ah kenapa tidak, kamu pasti mau mengatakan, bagaimana andai Suri mau menjadi istri bapak,” kataku langsung menebak.

“Lho kok Bapak tau sih,” kata Sabrina keheranan.

“Gimana Pak,” tanya Sabrina agak mengejarku.

“Wah repot nih, istri Bapak malah masing-masing bawa temennya untuk menjadi istri saya,” kataku.

Itu adalah pembicaraanku kira-kira sebulan yang lalu. Tadi pagi Sabrina menanyakan apakah hari ini aku sibuk, dia mengatakan bahwa ayah si Suri ingin bertemu bapak, katanya ingin rundingan soal bisnis. Aku katakan hari ini kebetulan tidak ada janji dengan siapa-siapa.

Akhirnya kami janjian ketemu di satu restoran di Kelapa Gading.. Ayah Suri rupanya sudah lebih dahulu tiba di tempat yang dijanjikan. Dia langsung mengenaliku, karena mungkin anaknya pernah menunjukkan fotoku di HP nya.

Ayah Suri datang sendirian dan memperkenalkan dirinya dengan nama Rachmat. Aku juga datang sendiri. “Saya sering dapat cerita dari anak saya mengenai Bapak,” kata Rachmat.

Aku membalasnya, “Suri tidak pernah bercerita mengenai bapaknya kepada saya,”

Kami berdua tertawa, suasana menjadi cair. “Pak kita sama-sama punya istri banyak, istri saya empat, bapak berapa? “ tanyanya.

Aku jawab seadanya. Kayaknya pertanyaan itu hanya basa-basi saja sebab pastilah anaknya sudah memberi tahu.

“Tapi bapak lebih beruntung dibanding saya, istri bapak semuanya pengusaha dan mandiri, kalau saya, semua bikin pusing Pak, tiap hari ada saja yang diminta. Bapak pandai merekrutnya pak gak kayak saya asal tembak aja,” kata Pak Rachmat.

“Lho saya hanya istri kedua saja yang saya sendiri menginginkannya, selanjutnya malah istri-istri saya yang menyodorkan dan mereka pula yang melakukan fit and proper test,” kata ku sambil sama-sama terbahak-bahak.

Pak Rachmat jauh lebih tua dariku, dia mengaku umurnya 60 tahun. Aku langsung puji dia di usia segitu masih mampu melayani 4 istri. “Ah bapak ini kayak orang-orang lainnya saja, yang dipikirkan hanya soal sex aja, padahal pak jujur ya kita punya istri lebih dari satu, kan bukan berarti kita kuat sex. Kalau saya sih biasa-biasa saja, bapak gimana,” tanya rada serius.

“Ah sama saja pak, kalau saya bukan frekuensi yang penting adalah kualitas semua kan bisa kita siasati pak,”” kataku.

Dari guruan kami malah jadi bicara serius saling tukar ilmu dalam soal sex dan perlakuan kepada istri-istri. Aku jadi bingung, kira-kira apa yang mau dibicarakan sehingga Rachmat ini ingin ketemu saya. Tapi saya biarkan saja pembicaraan mengalir, tanpa saya sela menanyakan keperluaannya.

Akhirnya dia mengatakan. “Begini pak, anak saya Suri ingin menikah,”

“Yah memang umurnya sudah pantas dia berumah tangga Pak,” sahutku.

“Bukan itu pak masalahnya, tapi dia ingin menjadi istri Bapak,” katanya sambil menatapku.

Aku terkejut juga. “lho dia cerita kepada istri saya katanya tidak suka poligami, udah kapok, katanya”

“Itulah pak, saya juga heran, setahu saya juga begitu. Saya terus terang jadi ingin kenal sama bapak sebelumnya dan pengin tahu, kenapa kok sampai anak saya kepincut sama Bapak. Tadinya saya curiga ada ilmu-ilmu hitam atau gimana, tetapi setelah kita ketemu ini saya percaya Bapak jauh dari hal-hal seperti itu.”

“Saya terus terang baru dari bapak saya tahu bahwa Suri itu ingin menikah dengan saya. Dan sejujurnya saya merasa sudah cukup punya istri enam,” kataku serius.

“Itulah pak, saya juga sudah kasih gambaran, menyandang gelar istri ke tujuh itu, bukan perkara mudah. Anak saya sekarang baru 24 tahun, bapak, kata anak saya usianya 43, betul kan pak. Beda hampir 20 tahun, menjadi istri ke tujuh, wah saya nggak ngerti bagaimana dia berpikir,” kata Pak Rachmat.

“Pak hidup ini seringkali tidak bisa hanya dari pertimbangan secara matematis, logis yang otak kiri. Dalam bisnis pun kita tidak melulu mempertimbangkan hal-hal yang logis, kadang-kadang intuisi kita lebih memberi info yang benar, apakah peluang itu kita tangkap atau kita biarkan, “ kataku yang mengkritik pertimbangan Pak Rachmat yang semata-mata hanya menggunakan otak kiri.

“Benar juga pak, saya baru-baru ini membatalkan peluang karena filing saya gak sreg, padahal diatas kertas semua ok, ternyata filing saya benar, barang itu banyak yang gak beres,” katanya sambil menyalamiku lagi.

“Saya sempat gak bisa ngomong Pak waktu Suri bilang bahwa saya mengawini ibunya juga ketika usia saya hampir sama dengan Bapak. Dan lucunya dia malah bilang begini, saya menikah dengan laki-laki bujangan belum ada jaminan bahagia lahir batin, kalau menjadi istri Pak Argo, sudah ada bukti pada 6 istri yang semuanya bahagia, tentram dan makmur,” katanya geleng-geleng.

“Sekarang saya puas dan mantap pak, maaf pak saya bukan melakukan fit dan proper tes, tapi namanya kita mau menjalin keluarga, kalau tidak kenal lebih dahulu kan kurang afdol rasanya,” kata Pak Rachmat.

“Pak maaf apakah saya bisa ketemu dengan Suri bersama bapak, “ tanya saya.

“Oh bisa sekali, kebetulan dia tadi bareng saya ke sini bersama ibunya. Mereka jalan-jalan di mall, coba saya telponnya,” kata Pak Rachmat.

Tidak lama kemudian muncul Suri bersama Ibunya. Kami duduk di satu meja.

Saya langsung bertanya kepada Suri, mengenai info yang disampaikan ayahnya bahwa dia mau menjadi istriku. Suri mengangguk. Saya tidak lagi tanyakan apa pertimbangannya. Ibunya angkat bicara bahwa keinginan Suri menjadi istri ku, sudah lama menjadi bahan diskusi berdua.

Aku salut juga, karena sejauh ini sahabatnya Sabrina tidak pernah tahu mengenai keinginan terpendam Suri. Dia pintar menjaga rahasia.

Saat ketemu Sabrina di rumah dan kuberitahu soal Suri, Sabrina benar-benar terkejut. “Gila anak itu, diam-diam udah lama dia naksir suami gua,” katanya.

Acara pernikahan diselenggarakan secara sederhana di kediaman Pak Rachmat. Tidak ada pelaminan hanya duduk lesehan saja dan kerabat serta keluarga yang diundang.

Keenam istri yang lain mulai berisik, mereka mendorong agar aku dan Suri melakukan bulan madu dan tentunya mereka semua akan ikut. Aku tidak bisa menolak ketika mereka mensepakati untuk liburan ke Phuket.

Para istriku melarang aku tidur sekamar dengan Suri sebelum malam bulan madu di Phuket. Aku tak berdaya, dan Suri tidak bisa protes.

Seorang pria dengan 7 istri berlibur ke Phi Phi Island yang terpencil, tempat yang memang paling cocok untuk bulan madu. Kami menyewa 3 kamar besar-besar yang masing-masing memiliki teras ke arah laut. Aku menempati kamar bersama Suri dan istri-istriku masing masing sekamar bertiga.

Suri adalah wanita Madura, yang cukup cantik, karena profil mukanya tajam dan tubuhnya langsing. Aku tidak perlu menceritakan pertempuranku memecahkan keperawanannya, karena seperti yang lainnya . Hanya aku harus akui bahwa vagina wanita Madura bukan hanya mitos kalau rasanya legit, kenyataannya memang begitu. Itu aku rasakan sendiri pada Suri.

Wanita di usia seperti Suri, tidak terlalu sulit menjebol selaput daranya juga dia sudah mampu menikmati hubungan suami istri. Pada saat penerobosan segelnya 10 menit kemudian dia sudah menjerit karena nikmat orgasmenya tak tertahankan. Istirahat sejam kami bermain kembali dan 15 menit dia sudah muncrat, aku gasak terus mencapai orgasme berikutnya aku berhenti, karena dia sudah menyerah.

Ke esokan hari pagi-pagi subuh , aku sudah memberi sarapan birahi lagi kepada Suri sampai dia terengah-engah dan akhirnya tepar tertidur lagi.

Di Phi phi island pengunjungnya lebih banyak bule dibandingkan dari Asia. Hanya perempuan Thailand saja yang banyak mendampingi bule-bule. Cewe-cewek bule beberapa ada yang telanjang bulat berjemur di tepi pantai. Sedangkan rombonganku 7 perempuan semuanya mengenakan jilbab, bahkan bermain di pantai pun mereka berbasah-basahan dengan tetap berjilbab. Aku tidak ikut turun ke laut, hanya memandangi dari kejauhan saja. Seorang lelaki bule yang dari tadi memperhatikanku mendekat. Kelihatannya dia penasaran melihat aku bersama 7 perempuan.

Dia tanya apakah itu semua keluargaku, aku jawab ya, mereka semua adalah istriku. Dia tercengang dan menyalamiku langsung mengatakan “salut”. Dia minta izin ngobrol denganku. Rasa ingin tahunya besar sekali. Dengan sangat hati-hati aku seperti diwawancarai mengenai kehidupanku. Aku buka saja apa adanya, toh aku juga gak kenal dia.

Dia banyak bertanya mengenai bagaimana aku hidup bersama 7 wanita, yang menurut dia cantik-cantik dan bagaimana aku membiayai semua istriku. Aku ceritakan bahwa hampir semua istriku sebelumnya adalah bisnis woman. Mereka menikah denganku dan menggabungkan perusahaan mereka dengan perusahaanku. Jadi masalah materi bagi istri-istriku sudah melimpah.

Agak hati-hati dia lalu mina izin bertanya soal sex. Aku katakan bahwa aku adalah laki-laki normal, seperti kebanyakan orang. Aku bukan superman sex yang setiap hari menggauli istriku. Aku hanya melakukan hubungan suami istri seminggu 2 kali, kadang-kadang dengan istri yang sama pada minggu itu, bisa juga dengan istri yang berbeda. “Anda berapa kali seminggu intercourse,” tanya saya.

“Saya juga seminggu cuma dua kali dan cuma satu ronde,” katanya

Saya katakan saya juga begitu, bedanya hitungan ronde bagi saya bukan dari berapa kali saya ejakulasi, tetapi beberapa kali istri orgasme. Jadi, tanyanya tambah penasaran, semalam berapa kali istri anda orgasme. Saya jawab santai, kadang dua kali atau 3 kali. Ya seberapa dia kuat saja.

“Ah ini seriuskan, bukan anda lebih-lebihkan,” katanya.

Dia bertanya bagaimana saya bisa bertahan sampai istri bisa orgasme 3 kali. Saya mengatakan, bahwa untuk menikmati sex itu juga perlu skill dan kesehatan yang baik. “Kami orang Asia sebenarnya lebih trampil dalam soal sex, buktinya kamasutra itu dari Asia, di Cina juga ada ilmu seperti Kamasutra yang disebut Su Ni Jing atau seni bercinta dan di Jawa juga memiliki skill seperti itu, bahkan diabadikan pada ornamen di Candi Sukuh. Selain itu praktek poligami sejak zaman dahulu kala hanya terdapat di Asia, harem-harem semua berada di Asia, saya belum dengar sex skill berasal dari Eropa atau Amerika. Hanya kalian orang bule, berani tampil vulgar membuat film dan foto. Tapi sebetulnya film dan foto orang-orang bule masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan yang dibuat di Asia, misalnya di Jepang”kata saya.

“Anda sangat menguasai sekali,” pujinya.

“Sex bukan hanya pelampiasan nafsu kepada lawan jenis, tetapi untuk mencapai kesenangan bersama serta merupakan suatu aksi yang secara nyata menunjukkan limpahan kasih sayang,” kata saya.

Si bule yang aku lupa namanya itu rupanya kehabisan pertanyaan atau karena kagum, sampai dia lupa mau tanya apa lagi. “Anda mau tanya, bagaimana bisa saya membuat istri orgasme 3 kali,” kataku mengingatkannya.

“Ah betul, tadi saya mau tanya itu, tapi akhirnya lupa gara-gara anda bercerita yang luar biasa,” katanya.

“Saya juga melakukan olah tubuh yang juga asalnya dari Asia, seperti Yoga dari India, dan ilmu pernafasan ala Tao dari China, semua itu mengajarkan pengendalian diri, termasuk diantaranya pengendalian kapan kita mau ejakulasi, dan kapan harus ditahan, Apakah anda pernah dengar Yoga dan Tao isme,” tanya saya.

Dia mengangguk-angguk. “ Saya selama ini menganggap sex hanya sebagai pelampiasan nafsu, saya tidak menyadari perlu skill untuk itu. Saya kira fellatio, cunnilingus, 69, MOT. WOT dan doggie serta 3some adalah ketrampilan,” katanya.

Dia lalu memperkenalkan diri bahwa dia adalah jurnalis dari New York, berlibur dengan istrinya yang juga jurnalis. “Bolehkan saya wawancarai istri-istri anda,” tanyanya.

Saya katakan, sebaiknya tugaskan istri anda untuk mewancarai istri-istri saya. Saya menunjukkan Sabrina atau Liani yang lebih mudah dan lebih lancar bercerita.

Dipanggilnya istrinya yang sedang berjemur. Istrinya datang mendekat hanya mengenakan celana bikini model G string pula dan tanpa penutup dada. Si bule itu bercerita sambil menunjuk istri-istriku yang sedang bermain ombak. Istrinya terperanjat ketika diberitahu bahwa istriku ada 7. Si bule itu lalu menugaskan istrinya mewawancarai istriku dan sudah kutunjuk siapa yang bisa diajak wawancara.

Si Bule lalu minta izin kepadaku untuk dia menulis di medianya dan dia minta izin aku berfoto bersama semua istri-istriku. Bagi ku tidak ada masalah, karena tidak ada yang salah yang aku lakukan, tidak melanggar hukum dan tidak melanggar akidah agama.

Aku meneruskan ngobrol sambil menyedot air kelapa yang sudah didinginkan. Dari jauh aku melihat istri si bule duduk di bibir pantai sambil ngobrol dengan istri ku.

Setelah dia puas bertanya soal-soal sex akhirnya dia menanyakan soal management istri. “Bagaimana anda mengelola istri-istri anda,” tanyanya.

“Oh kalau itu saya pakai jimat.” kata saya.

“Ah jimat, bagaimana itu bentuknya,” tanyanya serius.

“Jimat saya itu tidak ada bentuknya, tidak berwujud tetapi bisa dirasakan,” kata saya.

“Apa semacam black magic,” katanya.

“Sama sekali tidak, jimat saya itu adalah warisan dari leluhur saya, kami orang jawa menyebutnya Hasta Brata,” kata saya santai.

“semacam apa itu,” tanyanya.

“Silakan browsing saja dan penjelasannya ada di situ semua.” kataku.

“Ok nanti saya cari di internet,” katanya. Aku lalu menulis di pasir tulisan hasta brata.

Malam kedua aku masih memberikan seluruh waktuku kepada Suri, dan dia sudah bisa sangat menikmati. Kami berlibur di pulau sepi ini untuk 4 malam.

Hari ketiga mulai acara sex orgy dengan istri-istriku. Pertama Liani setelah menerima bisikan dari Chandra mengajak Suri jalan-jalan ke souvenir shop. Tinggallah Chandra, Sarinah dan Sabrina., Chandra menggeretku masuk ke kamarnya. Siang itu kami bermain aku melawan ketiga istriku. Aku memberi mereka masing-masing sekali orgasme melalui oral dan 2 kali orgasme melalui hubungan suami istri. Setelah ketiganya terkapar, aku yang berhasil bertahan tidak ejakulasi, mandi bersih lalu keluar menemui istriku yang lain untuk menikmati sunset.

Selepas sunset dan makan malam, Chandra, Sarinah dan Sabrina mengajak Suri mengunjungi pusat keramaian yang agak jauh. Tinggallah Atika, Liani dan Uli. Aku gantian ditarik Liani masuk ke kamar yang di dalamnya sudah ada Atika dan Uli. Aku diminta mengintimi mereka. Bagi Uli ini adalah pengalaman pertama. Mulanya dia agak rikuh, tetapi setelah melihat istriku Atika yang umurnya lebih muda dari dia bersikap santai bermesraan denganku, akhirnya dia pun larut. Kami bermain sampai hampir tengah malam karena mereka semua aku hadiahi 2 kali vaginal orgasme.

Selepas itu aku tinggalkan mereka bertiga yang tidur nyenyak berbungkus selimut. Aku menduga Suri berada di kamar Chandra. Aku kunjungi kamarnya, ternyata kosong. Akhirnya aku kembali di kamarku, ternyata mereka ada disana. Mereka, Chandra, Sarinah dan Sabrina menuntut tidur sekamar denganku. Suri kelihatan bingung, tetapi tidak berkata apa-apa. Sarinah buka suara, “Jangan kuatir dik Suri, kami tidak ganggu privacy kamu sama Bapak, kalau Bapak menginginkan berhubungan dengan kamu, harus dilayani, tidak usah pikirkan bahwa kami ada di sini, kami kan juga istri Bapak, jadi tidak masalah jika kami berada di sini dan melihat Bapak intim dengan kamu.

“Ya mbak, tapi kan saya malu, dilihat ama mbak-mbak,” katanya.

“Ya kalau kamu malu, ya nonton saja biar kami bertiga yang bermesraan dengan bapak, kita semua kan istri bapak,” kata Sabrina bercanda.

Sarinah lalu menghampiri Suri yang merah padam mukanya karena malu. “Jangan diambil hati, itu hanya becanda saja, sebagai istri Bapak kita harus terbuka, dan tidak boleh malu satu sama lain,” katanya.

Sementara Sarinah sedang berbicara dengan Suri, Chandra dan Sabrina sudah telanjang dan menelanjangiku. Sarinah mengambil giliran pertama berada di atasku, setelah dia mencapai orgasme lalu diambil alih oleh Chandra, Dia kemudian ambruk juga. Sarinah mendorong Suri untuk ambil bagian. Mulanya dia malu-malu, tetapi ketika Sarinah yang sudah telanjang membantu Suri membuka baju, dia tidak bisa menolak dan dibantu Sarinah Suri berada akhirnya berposisi di atasku . Aku meraih nya sehingga dia telungkup diatasku dan aku membantu memasukkan penisku ke vaginanya.

Akhirnya dia lupa soal rasa malunya dan sudah mengerang-ngerang lalu ambruk juga dan posisinya langsung diganti Sarinah. Ketika kami sedang asyik mengejar kenikmatan, pintu terbuka dan masuklah ke tiga istriku yang lain.

Mereka minta jatah juga. Aku pasrah saja telentang sehingga mereka bergantian tumbang setelah mencapai orgasme diatas tubuhku. Tugasku hanya menjaga tiang bendera tetap tegak. Selebihnya istri-istriku yang bermain mencari posisi yang memberi kenikmatan bagi mereka. Kami tuntas bertempur setelah pukul 1 malam dan akhirnya di satu kamar itu bergelimpangan 8 tubuh bugil. Ada yang tidur di kasur bersamaku ada yang tidur menggelar bed cover dan ada yang menyusun bantal kursi tidur di bawah.. Pagi-pagi kami bangun semua dan tertawa geli mendapati tubuh kami semuanya telanjang. Pagi itu aku dimandikan oleh para bidadariku dan Suri akhirnya bisa menyesuaikan diri.

“Kalau aku tidak menjadi istri bapak mana mungkin mengalami seperti ini ,” kata Suri kepada istri-istriku yang lain. Mereka semua tertawa senang.

Selanjutnya menghabiskan waktu liburan kami, ke tujuh istri tidur di kamarku, Di dalam kamar kami semua bugil. Aku tidak harus melayani semua mereka, tetapi dengan waktu jeda. Sehingga ke tujuh istriku secara bergiliran bisa menikmati ke gagahan kemaluanku.

Keakraban istri-istriku bertambah erat, karena mereka sudah merasa terbuka satu sama lain sampai masalah sex pun mereka tidak lagi menyembunyikan apa-apa. Keluar dari kamar, semua istriku mengenakan hijab sehingga tertutup seluruh tubuhnya dengan pakaian yang tidak meperlihatkan lekuk tubuhnya.

 

****

Menyingkap Kehidupan Poligami 7

 

By Jakongsu

Sudah sekitar 4 tahun aku hidup dengan 7 istri. Tidak ada rasanya perubahan yang terlalu mencolok, selain rumahku bertambah ramai, karena ada 7 istriku yang setia menyambutku di rumah dan merawatku. Aku sebetulnys bukan suami yang manja, minta dibukakan sepatu, minta dibukakan jas, atau minum air dingin dari dispenser saja minta tolong . Aku kerjakan sendiri sepanjang masih bisa aku lakukan.  

Sebetulnya bukan aku tidak ingin bermanja-manja, tetapi jika aku tidak banyak bergerak pada usia 47 tahun, banyak penyakit yang mendatangiku nanti. Aktifitas ringan-ringan adalah jalan untuk terus menggerakkan tubuh.

Sampai sejauh ini aku masih cukup baik kesehatannya, kolesterol normal, asam urat cukup baik, gula darah norma dan tekanan darah juga wajar. Aku membiasakan tidak terlalu banyak makan, puasa Senin – Kamis diusahakan sepanjang bisa. Jalan pagi sekitar satu jam seminggu paling tidak 3 kali. Ada 3 ukuran menurutku yang menjadi patokan tubuh ini sehat apa tidak. Pertama gampang tidur, kedua gampang makan dan ketiga gampang buang air besar. Sepanjang ke tiga hal itu tidak ada masalah maka kondisi kesehatan dan pikiran pasti oke.

Mungkin sudah sekitar 4- 5 tahun kehidupan keluargaku ada yang mencermati. Ini aku ketahui kemudian. Seorang wanita pemilik travel biro, dimana aku berlangganan membeli tiket, pesan hotel dan lain sebagainya berkaitan dengan traveling. Dia adalah Cut Merry. Orangnya cantik, dari namanya sudah bisa dipastikan orang tuanya berasal dari Aceh.

Aku tidak menyangka dia mengamati kehidupanku. Jika dia sesekali bertanya hal-hal mengenai keluarga dan bukan yang berkaitan dengan perjalanan aku pikir ya wajar-wajar saja. Kita kalau bisa sharing dan berbagi pengalaman kan indah.

Cut Merry kenal semua dengan ke tujuh istriku, ya karena keluarga kami berlangganan ke travelnya, wajar saja sih. Suatu hari dia merayuku untuk melakukan wisata bersama seluruh istriku pada suatu waktu dimana ada libur panjang berkaitan tanggal merah di hari Jumat dan hari Seninnya.

Mulanya tawaran itu tidak terlalu aku perhatikan, tetapi Merry menggosok istri-istriku. Perempuan kalau sudah diiming-imingi belanja barang murah dan bagus, sulit mengabaikannya. Merry bercerita dia sering mengantar tamunya ke Guang Zhou, China untuk berbelanja barang-barang keperluan wanita. Hasutan Merry itu ternyata ampuh juga karena istri-istriku jadi bermohon kepadaku untuk jalan bareng-bareng ke Guang Zhou.

Kalau sudah kalah voting, aku tidak berdaya lagi kecuali mengikuti kemauan kaum mayoritas. Merry menemuiku dengan muka yang kelihatan senang. Dia menawarkan itinerary atau jadwal acara jalan-jalan ke China. Tiga kota ditawarkan untuk perjalanan tour itu, yaitu, Hong Kong, Shenzen dan Guang Zhou.

Setelah kesepakatan tercapai maka pada hari yang dinantikan kami berangkat, pemandunya adalah Merry sendiri. Grup tour itu hanya aku dan 7 istriku ditambah pemandunya.

Bergaul dengan 7 istri dan dan aku selama 4 hari siang dan malam membuat Cut Merry jadi menyatu dengan keluarga besar itu. Jika tadinya Cut Merry ingin membuat perangkap, malah dia yang terperangkap. Bagaimana tidak, Cut Merry malah seperti tidak ada jarak dengan ku.

Sejujurnya Cut Merry awalnya benci melihat pria memperistri banyak wanita dengan berbagai prasangka buruk sebagai alasannya. Namun selama bergaul akrab, dia malah kagum dan bisa mengerti mengapa para wanita yang menjadi istri Pak Argo mau diperistri.

Sulit dipungkiri Cut Merry yang tadinya membenci, sepulang dari perjalanan jebakan itu malah kagum. Dia memang tidak muda lagi, Usianya sudah 30 tahun, usia yang dianggap kritis bagi wanita jika belum juga menikah. Sebenarnya sudah beberapa kali dekat dengan pria, tetapi selalu kandas karena berbagai ketidak cocokan. Padahal Cut Merry bukan wanita yang tidak punya daya pikat. Dia memiliki tubuh yang ideal, wajah cantik dengan ciri khas Aceh.

Setelah mengumpulkan semua keberanian, Cut Merry berterus terang dengan Bu Chandra bahwa dia ingin menjadi istri ku. Mendengar curahan hati itu. Bu Chandra senyum-senyum saja. Alasan Cut Merry, dia nyaman sekali bergaul dengan semua istri ku.

Ceritanya bisa lebih panjang lagi, tetapi singkatnya Cut Merry akhirnya bergabung dengan keluarga besar ku. Dia bisa menghadapi berbagai tentangan dari keluarganya, sampai akhirnya diizinkan memilih jalan hidupnya sendiri.

Sebenarnya pria dengan 8 istri sudah sangat luar biasa. Bagaimana tidak mau jalan-jalan saja harus pakai 2 mobil. Mau makan direstoran, harus pesan meja dengan kursi yang banyak, jadi semuanya jadi besar.

Acara pernikahan dilaksanakan dengan sangat sederhana, karena hanya sedikit kerabat dan keluarga yang diundang. Tidak ada bersanding di pelaminan dan malam pertama dilaksanakan di rumah ku sendiri. Merry mengatakan, upacara seremonial tidak penting, yang penting adalah membina rumah tangga yang tentram.

Di malam pertama Cut Merry minta maaf jika kemudia dia sudah tidak perawan lagi. Bukan karena sudah pernah berhubungan badan dengan lelaki lain, tetapi ketika masih kelas 6 SD pernah jatuh dari sepeda dan dari kemaluannya keluar darah sedikit. Merry mengatakan, meski dia sudah 3 kali berganti pacar, tetapi masih dapat menjaga kehormatan wanita.

Saya katakan, bahwa perawan itu penting, tetapi jika pun tidak perawan, tidak menjadi masalah. Tidak adil rasanya aku yang sudah punya 7 istri masih menuntut keperawanan. Yang penting adalah memiliki istri yang soleha.

Acara malam pertama aku mensebadani seorang wanita yang sudah berumur 30 tahun. Umur seperti itu, sewajarnya sudah mempunyai anak, tetapi Merry berhubungan badan pun belum pernah. Dia masih agak kaku ketika aku mulai mencumbunya.

Aku harus mengubah mindsetnya yang tadinya mindset wanita lajang, mandiri sekarang menjadi istri seorang Argo yang sudah memiliki 7 istri. Malam ini tidur satu ranjang dengan suaminya yang mempunyai hak menggaulinya.

Merry akhirnya tertunduk dan menangis. Aku tidak tahu apa dibalik linangan air matanya, apakah dia bahagia, atau malu menghadapi kenyataan menjadi istri kedelapan, yang adalah pilihan jalan hidupnya sendiri.

Aku belai rambutnya lalu aku cium keningnya. Badannya melemah dan mengikuti arah gerakku. Tanpa dia sadari dia menengadahkan kepala dan bahasa tubuh seperti itu sudah kupahami sebagai keinginan wanita minta pembuktian bahwa dia disayangi. Aku kecup bibirnya. Merry awalnya kaku meskipun bibirnya dia buka. Aku mencium sambil memainkan lidahku.

Birahinya menuntun apa yang harus dilakukan, ciumanku dibalas dengan melumat pula bibirku dan lidahnya ikut bermain. Sambil terus aku cium, bajunya aku buka. Malam itu dia mengenakan baju dengan kancing. Jadi satu-persatu kancing bajunya aku lepas sampai terbuka semua. Setelah itu aku loloskan kedua lengannya. Tinggallah BH yang melekat dan di bawah, masih mengenakan gaun panjang.

Aku meraih pengait BH di punggungnya dan melepasnya. Untuk urusan melepas kaaitan BH aku sudah berpengalaman dengan 7 istriku. Jadi tidak perlu disangsikan lagi.

Setelah BH terlepas, dan aku campakkan entah kemana, maka terhidang dua gunung kenyal yang putih bersih dengan ujung berwarna coklat muda. Payudara Merry bentuknya indah, dan masih tegak menantang meskipun ukurannya lumayan besar. Aku remas perlahan-lahan payudaranya kiri dan kanan bergantian.

Posisi kami waktu itu duduk di pinggir ranjang. Badannya aku rebahkan dan aku lalu menciumi lehernya terus turun menyium bongkahan buah dadanya yang masih kenyal. Aku jilati puting susunya. Merry merintih sambil mengatakan. “ iiiihhhh geliii tapiii enak paak, nikmaaat bangeeeet ,”

Aku hentikan sebentar. Merry lalu mengatakan, “pak aku nurut aja mau bapak apain, aku belajar dari bapak, pokoknya aku pasrah, tadi itu enak banget pak rasanya kok merangsang banget .”

Setelah mengeksplotiasi seputar dada aku turun ke bawah. Posisi badanku tengkurap diantara selangkangannya. Bulu kemaluannya cukup lebat, kusisihkan ke kiri dan kekanan lalu belahan kemaluananya aku buka, terlihat sudah basah dan berwarna merah serta di bibir dalamnya berwarna agak hitam.

Daerah sekitar clitorisnya terlihat tonjolan kecil. Aku jilat tonjolan kecil itu, Merry menggelinjang dan merintih. Aku jilati terus sampai Merry menjambaki rambutku dan mengerang nikmat. Akhirnya dia mencapai orgasme.

Aku sengaja membuatnya orgasme agar liang vaginanya benar-benar siap menerima penetrasi. Aku beritahu ke Merry ketika aku mengambil posisi MOT, bahwa aku akan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. “Sakit nggak pak,” tanyanya.

“Awalnya selalu agak sakit, tetapi hanya sebentar, setelah itu baru terasa nikmat. Tapi aku belum pernah memecahkan perawan perempuan berumur 30 tahun, apakah masih sakit atau hanya sakit sedikit saja,” kataku.

Perlahan-lahan kuarahkan ujung penisku ke arah lubang vaginanya. Masih terasa susah karena belahannya masih terkatup. Aku dorong agak memaksa baru kepala penisku bisa masuk. “Pak pelan-pelan pak agak perih, “ katanya.

Mungkin untuk pertama kalinya lubang vaginanya mengembang sebesar kepala penis sehingga pemekarannya agak terasa sakit. Namun tidak terlalu mengganggu sampai penisku terus masuk dan tertahan setelah semua kepala penisku terbenam. Halangan selaput daranya aku usahakan menembusnya dengan perlahan-lahan.

Saat penisku tidak bisa maju lagi, aku mengejankan penisku sehingga menjadi lebih keras. Sambil mengejan sembari mendorong. Hasilnya lumayan, penisku maju sedikit. Aku ulangi seperti tiu berkali-kali sampai sekitar 10 kali rasanya penisku sudah lumayan terbenam. Kuraba penisku terasa sudah separuh terbenam. Berarti aku sudah berhasil menembus halangan, tanpa dia mengeluh sakit. Mungkin juga halangan selaput perawannya tidak terlalu menutup, karena dimasa kecil pernah cedera.

Aku tekan perlahan-lahan dan bisa terus maju, Merry terlihat agak tegang, dia menggigit bibir bawahnya sendiri. Dia tidak tahu sejauh apa penisku sudah membenam, tetapi yang dirasakan adalah lubang vaginanya terasa penuh dan mengganjal. Aku lihat Merry tidak kesakitan, maka aku berani melakukan gerakan tarik-tekan perlahan-lahan. Mulanya Merry khawatir gerakan itu menyakitkan, namun kemudian dia merasa ada kenikmatan, sehingga desahannya makin keras.

Mendengar desahan yang cukup keras diselingi erangan aku makin semangat mengayun sambil mengatur posisi menujamnya penis kedalam vaginanya yang bisa menggerus clitoris dan titik G atau G spot nya. Aku menengarai dengan desahan dan rintihan yang keluar dari mulutnya. Jika erangannya makin keras berarti kenikmatan yang dirasakan maksimal.

Aku pertahankan gerakan dengan sudut kemiringan hunjaman yang memberi kenikmatan sampai dia akhirnya menjerit. Jeritannya berbeda dengan jeritan sakit, atau jeritan lainnya. Jeritan ini adalah sebagai pelampiasan rasa nikmat luar biasa di alat vitalnya yang meremang ke seluruh tubuh Merry.

Selepas jeritan panjang terasa denyutan-denyutan di kemaluannya disertai dengan rintihan seirama denyutan itu berkali-kali. Setelah usai, Merry membuka mata dan mencium ku. “Pak rasanya enak luar biasa, saya tidak pernah seumur hidup merasakan seperti ini, saya beruntung sekali Pak punya suami yang mengerti dan berpengalaman memuaskan istri, pak rasanya saya ingin lagi apa bisa pak,” kata Merry dengan pandangan mata sayu.

Aku membalas ciumannya lalu kembali menggenjot dengan sudut yang memberi kenikmatan maksimal tadi. Gerakan ayunanku tidak terlalu cepat, tetapi gerakan yang memberi kenikmatan setiap cm pergerakannya. “Aduh paaaak rasanya saya gak tahan, seperti kebelet pipis,” tak lama kemudian sekujur liang vaginanya mengedut-kedut dan Merry kembali mengerang.

Sudah dua kali dia orgasme melalui hubungan badan dan sekali sebelumnya melalui oral. Namun dia masih dia masih tidak menolak ketika aku bekerja lagi diatas badannya sampai dia orgasme lagi. Sementara itu aku masih bertahan untuk tidak mencapai ejakulasi.

Sudah 5 kali dia mendapatkan orgasmenya melalui hubungan badan dan Merry mengeluh badannya letih sekali, dan rasanya sudah tidak kuat lagi meneruskan melakukan hubungan badan. Akhirnya aku menghentikan dan mencium bibirnya sebagai bentuk kasih sayang. Setelah aku lepas dia terseyum lalu jatuh tertidur lelap. Saking lelapnya sampai tidak lama kemudian Merry mendengkur halus.

Selepas menunaikan kewajiban menafkahi istriku yang terakhir aku membersihkan diri lalu mengenakan celana pendek dan sarung lalu kaus oblong. Aku keluar kamar untuk sekedar menghisap rokok barang sebatang. Aku bukan perokok, tetapi sesekali ada keinginan untuk merokok sambil menghirup kopi.

Di ruang tengah istriku sedang berkumpul. Melihat kedatanganku mereka berpindah duduk disampingku ada yang memijat pundak, tangan kiri, kanan lalu ada yang besimpuh di bawah memijat kaki kiri dan kanan. Disinilah rasa bahagia memiliki istri banyak, semuanya berebut melayaniku. Selain memijat yang lain membuat kopi dan ada yang menyajikan singkong dan ubi rebus. Kebetulan semua istriku sedang berada di rumah jadi 7 orang bidadari mengerubungiku.

Ketika aku sedang berada di tengah-tengah istri-istriku, Merry keluar dari kamar mendengar candaan para istriku. Dia malu-malu mendekat melihat tidak ada tempat lowong di dekatku. Chandra yang tadi memijat tangan kiriku dia bangkit lalu menarik Merry agar duduk di sampingku. Merry tersipu-sipu berada di tengah istri-istriku yang lain.

Istri-istriku meminta untuk memijat badanku, sehingga aku dibimbing memasuki kamarku. Kamarku adalah kamar terbesar di rumah. Ukurannya 8 x 10 dengan sebuah tempat tidur ukuran King size. Kalau tidur berhimpitan cukup untuk 5 orang, selain itu terdapat satu set sofa dan di sudut lain meja kursi untuk bekerja.

Setelah semua masuk entah siapa mengambil inisiatif mengunci pintunya. Sarungku dibuka, begitu juga kausnya sehingga tubuhku telanjang tinggal celana dalam telungkup di atas tempat tidur. Chandra sebagai istri tertua memberi tahu kepada Merry bahwa sebagai istri ku tidak boleh memiliki rasa cemburu, karena diriku adalah milik semua istri. Chandra mengatakan bahwa para istri-istri ku biasa bermanja-manja kepada suaminya, “Jadi dik Merry lihat saja, kalau merasa ingin nanti boleh ikut gabung.

Sementara itu aku diam saja menikmati pijatan yang kadang kala diselipi ciumah di pipi, dan entah dimana saja. Penisku dari tadi belum ejakulasi, sekarang sudah berdiri lagi. Setelah pijatan telungkup aku dipijat telentang. Dalam keadaan telentang aku tidak lagi dipijat, tetapi istri-istriku menciumiku, ada yang mencium bibirku, ada yang menjilati pentil susuku, yang lain mengulup penisku. Aku tidak ingat siapa saja dan berada di bagian mana. Namun dari ekor mataku bisa melihat bahwa Merry duduk di sofa menonton istri-istriku yang lain sedang mengerubutiku.

Mereka yang mengerubutiku akhirnya menelanjangi dirinya masing-masing. Mungkin mereka ada 5 orang. Yang lainnya tidak ambil bagian, biasanya mereka sedang kedatangan tamu bulanan. Pijatan berakhir dengan secara bergilir mereka memacuku satu persatu, akhirnya Merry dipanggil untuk ikut ambil bagian. Mulanya dia malu,dan kelihatannya terpaksa, tetapi dia mau juga buka baju semua sampai telanjang dan mengambil gilirannya memasukkan penisku dan dia duduk diatas penisku dan melakukan gerakan berhubungan badan sampai mencapai orgasme

Sejak saat itu, Merry tidak canggung lagi bermain dalam pesta orgy bersama dengan istri-istriku. Akibat terbiasa orgy, aku jadi jarang berhubungan suami istri secara pribadi dengan istri-istriku.

Pengusaan diriku sudah makin kuat, terutama menahan ejakulasi. Satu minggu kubatasi berejakulasi hanya 2 kali saja, untuk menjaga stamina tubuhku. Kalau soal berhubungan badan rasanya hampir setiap hari berganti-ganti dan sering pula main keroyokan. Merry ternyata sangat menikmati permainan orgy. Menurut dia bermain seperti ini tidak mungkin jika hanya dari perkawinan monogami.

Pada usiaku 47 tahun, istri pertamaku Chandra berusia 39 tahun, Sarinah 32 tahun, Sabrina 35 tahun, Atika 28 tahun, Liani 35 tahun, Uli 34 tahun dan Suri 28 tahun. Atika yang menikah denganku ketika masih berusia 19 tahun kini sudah menyelesaikan gelar S-2. Dia memiliki beberapa usaha Bimbingan Belajar dan sedang merintis mendirikan sekolah terpadu dari SD sampai Perguruan Tinggi. Minat Atika adalah di bidang pendidikan, sehingga dia banyak idenya dalam pengembangan pendidikan.

Merry yang baru bergabung denganku sudah mulai berencana membangun hotel bintang 4 di Belitung dan beberapa youth hostel di Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan Bali. Istri-istriku yang sudah menguasai seluk beluk bisnis banyak memberi advis bagi yang sedang ekspansi usaha.

                                                                                                 *****

Menyingkap Kehidupan Poligami 8

By Jakongsu

Setelah saya memiliki istri 8 orang, cerita masih belum selesai dan kelihatannya masih panjang. Dalam kehidupan saya dengan 8 istri, kadang-kadang saya merenung sendiri. Rasanya saya bagaikan memiki harem dengan istgri-istri yang siap melayani kapanku aku inginkan. Namun keadaan di rumahku sebetulnya tida seperti itu juga. Aku tidak bisa sesukaku menginginkan tidur dengan istri sesuai kehendakku hari itu.  

Semua istriku adalah orang-orang sibuk di bisnisnya masing-masing, sehingga waktu berkumpul di rumah amat jarang. Selalu silih berganti kehadirannya, bahkan tidak jarang melakukan perjalanan keluar kota. Saat-saat bisa semua berkumpul 8 orang sudah semakin jarang.

Ada baiknya juga bagiku karena dengan demikian aku tidak dibebani harus terus-menerus berkumpul dengan semua istri-istriku. Mereka bergantian mendampingiku baik siang maupun malam harinya. Keluhan pada pasangan monogami yang istrinya sibuk dengan bisnis sehingga urusan rumah tangga bahkan tugas melayani suaminya terabaikan, tidak terjadi pada keluargaku. Mereka 8 orang yang jadwalnya sibuk silih berganti dan tidak selamanya juga sibuk di luar rumah.

Aku bisa menikmati indahnya memiliki istri 8 orang yang silih berganti datang melayaniku sesuai dengan keinginan mereka selama sekitar 3 tahun, sampai usiaku menjelang 50 tahun. Dalam usia setengah abad, kesehatanku masih prima, tidak ada keluhan penyakit dan kondisinya semua normal. Oleh karena itu menghadapi ke delapan istriku juga tidak menjadi beban bagiku.

Suasana ketentraman mulai berubah, ketika kyaiku tempatku nyantri tempo hari suatu waktu datang bekunjung ke rumahku. Terhadap kyai aku menaruh hormat yang tinggi sekali, tidak ada kata yang berani kuucapkan untuk membantahnya. Ibaratnya, kata-kata kyai ku adalah hukum bagiku. Bagi yang pernah nyantri, apalagi memiliki kyai yang sangat berkharisma bisa memahami apa yang aku uraikan ini.

Pak kyai datang bersama rombongannya, ya kukatakan rombongan karena kyai sudah cukup tua, usianya sudah mendekati 90 tahun, tetapi masih bagus ingatannya dan bicaranya masih runtut. Hanya fisiknya sudah kelihatan renta. Dia didampingi salah satu istrinya, dua orang anaknya dan seorang asistennya, serta seorang anak perempuan kecil.

Pak Kyai tanpa basa basi ketika kami sudah duduk dan minuman sudah tersaji mengatakan agar aku mengambil istri gadis kecil yang bersamanya. Aku terkejut, dan kebetulan waktu itu ada 4 istriku yang mendampingi saling liat-liatan. Bayangkanlah anak yang masih hijau, mungkin bukan hanya pantas jadi anakku, tetapi jadi cucuku pun masih masuk umurnya.

Aku tidak berani langsung menolak, aku tanya kenapa Pak Kyai menyampaikan permintaan seperti itu, karena aku sudah terlalu tua, sedang anak yang diajukan untuk menjadi istriku masih sangat muda. “Saya sudah tahu kamu akan bertanya begitu, sehingga jawabannya sudah saya siapkan,” kata Pak Kyai.

“Begini nak, anak perempuan ini adalah anak dari salah satu santriku yang bekerja di rumah dan selalu mendampingiku kemana pun aku beranjang sana. Dia baru dapat kemalangan, ketika bersama istrinya pergi ke Semarang bisnya masuk jurang. Kedua orang tuanya meninggal bersama anaknya yang masih umur 2 tahun. Dia punya anak dua orang, ini Aisyah yang paling besar. Anak ini sekarang yatim piatu. Kasihan dia karena sebenarnya dia anak yang cerdas dan budi pekertinya juga baik,” kata Pak Kyai.

Kata-kata di dalam uraiannya itu sudah mengandung pemaksaan kepadaku untuk tidak boleh menolak. Sesungguhnya aku sangat tidak tega memperistri anak yang masih sangat muda ini, tetapi aku sama sekali tidak berani menolak kehendak Kyai. Jika saja Presiden yang memintaku seperti ini aku masih bisa berkilah, saya akan pikir dahulu. Tapi kepada Kyai aku banya bisa berkata .”baik kyai ngersa aken dawuh”

Aisyah umurnya baru 12 tahun, dibalik jilbabnya wajahnya masih sangat imut. Dia menunduk saja duduk di samping istri kyai. Aku melihat dia pun tidak berani menolak arahan Pak Kyai. Aku saja tidak berani membantah, apalagi anak perempuan kecil yang lemah itu, mana berani, angkat muka aja takut.

Celakanya Pak Kyai langsung meninggalkan Aisyah di rumahku. Dia berpesan kepada Aisyah dalam bahasa Jawa yang artinya, Kamu saya pertemukan jodohmu dengan Pak Argo. Saya memilih dia menjadi suamimu, agar kamu menjadi orang yang baik. Kedua orang tuamu mengabdi ke saya dengan seluruh kehidupannnya, jadi saya berkewajiban menunjukkan jalan bagimu untuk yang benar.

Setelah sekitar 2 jam kami bercengkerama dengan Pak Kyai, beliau kemudian pulang kembali langsung ke pesantrennya di Jawa Tengah.

Aisyah aku serahkan kepada istri-istri untuk mengurusnya, Chandra sebagai istri tertua adalah orang yang paling bertanggung jawab.

Setelah waktu itu aku mengumpulkan semua istri-istriku untuk membahas bagaimana menghadapi perintah pak Kyai. Suara terpecah dua, sebagian menganjurkan aku untuk menikahi saja, sesuai dengan perintah Kyai, tetapi sebagian lagi menentang mengingat Aisyah masih terlalu muda. Tukar pendapat berlangsung meski dalam semangat kebersamaan. Mencermati pendapat-pendapat istriku dalam perdebatan itu, aku memutuskan tetap menikahi Aisyah sesuai dengan titah Kyai, tetapi tidak sekarang. Aku menunggu waktu, sampai Aisyah benar-benar siap dinikahi.

Aku minta istri-istriku secara bersama-sama atau bergantian membimbing Aisyah agar dia benar-benar siap untuk dinikahi. Kata modernnya Aisyah di training menjadi istri.

Setelah 3 bulan Aisyah kelihatan mulai kerasan berada di tengah-tengah keluargaku. Dia tidak lagi takut kepadaku. Jika aku pulang dan duduk sambil ngopi dia berani duduk disampingku dengan sebelumnya mencium tanganku. Banyak hal mulai berani dia bicarakan kepadaku.

Anak ini sebenarnya bukan anak pendiam, tetapi anak yang cerdik dan banyak berbicara. Karena dia masih merasa anak-anak, jika di rumah dia tidak memakai kerudung. Istri-istriku yang lain juga begitu kalau di rumah. Jika tidak berkerudung baru terlihat wajah aslinya yang manis.

Setelah 6 bulan kami bergaul dan sudah semakin akrab, ketika Aisyah duduk di sampingku dia melontarkan pertanyaan, “Pak kapan aku dinikahi,”

Aku terkejut dan hampir saja tersedak karena ketika dia ngomong begitu aku sedang nyruput kopi.”Pak aku sayang sama bapak, aku pingin cepet-cepet nikah,” katanya.

Badanku rasanya lemes mendengar anak perempuan umur 13 tahun minta aku nikahi. “Apa kamu tahu kalau nikah itu gimana, “ tanyaku serius.

“Ya tau lah pak kan sudah diajari sama mbak-mbak semua,” katanya.

Aku memang memerintahkan Aisyah memanggil semua istriku dengan mbak, meskipun mereka sepantasnya dipanggil ibu.

“Apa yang kamu tau itu,” tanyaku.

“Ya aku bisa sayang-sayangan sama Bapak, bobo bareng Bapak, Bapak boleh cium aku, aku pun boleh cium bapak, aku sayang banget ama bapak,” katanya.

Matilah aku menerima kenyataan seperti itu, anak 13 tahun sudah menginginkan tidur bersamaku yang umurnya beda 37 tahun.

“Apa kamu tau kalau bobo sama bapak itu gimana,” tanyaku.

“Ya tau lah Pak, bapak bisa menggauli aku sebagai istri bapak, dan nantinya aku bisa hamil lalu punya anak deh,” katanya.

“Apa kamu tidak takut digauli sama Bapak, kamu kan masih kecil, sedang Bapak sudah tua,” tanyaku serius.

“Kalau sudah jadi istri ya tidak boleh takut digauli sama suaminya. Aku tau kok kalau pertama kali itu rasanya sakit, tapi kan aku sayang sama bapak, jadi sakit pun gak apa-apa. Melahirkan kan lebih sakit lagi, tapi mau lagi mau lagi,”katanya dengan nada rada centil.

“Speech less”. Aku tidak bisa berkata apa apa lagi. Kepalaku rada pening jadinya karena shock.

Setelah pembicaraan itu, aku memerlukan rapat lagi dengan semua istri-istriku. Pertama aku menanyakan pendidikan apa yang diberikan kepada Aisyah selama ini. Sabrina angkat bicara mewakili yang lain. Dia mengatakan, pendidikan yang diberikan adalah pendidikan persiapan menghadapi perkawinan. Itu meliputi pembentukan sikap, pengubahan mind set, pendidikan sex dan pembentukan perilaku dan pribadi sebagai seorang perempuan dengan gelar istri.

Aku sampaikan pembicaraan Aisyah kepada ku tempo hari, yang intinya dia sudah minta dinikahi, aku ingin mendengar pendapat para istri-istriku. Seperti sudah kompak mereka mengatakan aku harus segera menikahinya.

Saran istri-istri ku itu ku anggap gila, aku disuruh menikah dengan perempuan umur 13 tahun, sementara umurku baru 50, eh maaf sudah 50 tahun.

Uli angkat bicara, aku bisa tetap menikah meskipun Aisyah masih di bawah umur. Caranya aku menikahinya secara siri, sampai Aisyah cukup umur untuk nikah secara hukum baru nikah resmi dilaksanakan.

Apalagi alasanku untuk menolak, semua istriku mendukung aku segera menikah dan Aisyah sendiri minta dinikahi. Aku tidak bisa membayangkan setelah nanti resmi menikah, apakah aku harus menyetubuhi istriku yang usianya mungkin pantas jadi cucuku,

Aku tidak bisa membayangkan, rasanya untuk melakukan nikah siri aku perlu mengunjungi Kyai. Aku sekaligus minta nasihatnya bagaimana sebaiknya jika aku sudah melakukan ijab kabul.

Pak kyai senang sekali ketika kukabari bahwa aku akan menikah dengan Aisyah di pesantren beliau. Pak Kyai menetapkan hari pelaksanaannya, dan aku diminta membawa semua istri ku.

Ijab kabul telah terlaksana dengan lancar. Yang paling penting adalah aku minta nasihat Pak Kyai mengenai bagaimana sebaiknya aku memperlakukan Aisyah yang sudah resmi menjadi istriku.

Menurut Pak Kyai, jika Aisyah sudah mendapat mensturasi, aku boleh menggaulinya, tetapi kalau belum aku harus bersabar menunggu sampai dia mensturasi. Sebab mensturasi itu menandakan wanita sudah akil balik dan sudah siap menikah.

Namun kata Kyai, aku harus menjaga jangan sampai Aisyah hamil sebelum usia 18 tahun. Kasihan, kata kyai sekecil itu sudah menanggung beban hamil dan melahirkan. Pak Kyai juga berpesan bahwa untuk hubungan suami istri pertama kali aku harus sabar, dan harus ada kerelaan Aisyah untuk melakukannya.

Sekarang sah sudah aku menjadi pedopil, apa boleh buat, ternyata jalan hidupku memang harus begitu. Tidak ada acara perayaan, tidak ada malam bulan madu dengan liburan. Sesampainya di rumah kembali, semua istri-istriku menyarankan selama seminggu ini aku harus tidur sekamar dengan Aisyah.

Bukan aku suami takut istri walau pun istriku ada 8 yang mendorong aku segera meniduri Aisyah. Tapi aku memang tidak bisa berkilah untuk tidak meniduri Aisyah.

Dengan perasaan malu dan segala macam perasaan aku akhirnya masuk kekamar bersama Aisyah. Repotnya Aisyah ini malah manja banget kepadaku dan bertingkah seperti istri-istriku yang sudah dewasa.

Di dalam kamar aku mengajak tidur berbaring di ranjang. Selanjutnya aku bingung harus bagaimana. Rasanya kecil banget mau dicumbu.”Pak aku kan istri bapak, kok istrinya gak dicium sih,” katanya.

Mati kutu aku dibuat anak kecil ini. Aku peluk tubuhnya lalu aku ciumi keningnya, lalu pipinya kiri dan kanan. Ya sampai di situ saja. “ Pak kok bibirku gak di cium sih,” katanya.

“Kenapa kok minta bibirnya dicium,” tanyaku.

“Lho mbak-mbak ajarinnya begitu, di film-film juga ciuman bibir kalau mereka pacaran atau suami istri.” katanya.

Aku peluk lagi tubuhnya lalu bibirnya aku kecup dan kedua bibirnya aku lahap. Badan Aisyah gemetar. Aku berciuman dengan Aisyah cukup lama sekitar 5 menit. Ketika aku lepas nafasnya mendengus-dengus.

Kami berhenti sebentar lalu Aisyah yang nyosor mencium bibirku. Dia menyedot bibir bawahku dan memainkan lidahnya memasuki mulutku. Kali ini dia yang mengendalikan permainan bibir dan kami berciuman cukup lama sampai ludah kami meleleh.

“Pak enak banget ya ciuman itu,” kata gadis kecil ini.

Aisyah lalu turun dari tempat tidur. Aku perhatikan apa yang akan diperbuatnya. Dia melepas semua pakaiannya sampai dia telanjang bulat. Aku perhatikan dia melepas pakaiannya satu persatu tanpa ragu. Ketika baju luar dibuka, aku tidak melihat dia mengenakan BH, Buah dadanya hanya mengenakan semacam kaus singlet. Lampu kamarku masih terang benderang, sehingga aku bisa melihat tubuh polosnya. Kedua buah dadanya sudah tumbuh, tetapi masih kecil, pentilnya yang berada di ujung juga masih kelihatan kecil sekali. Di kemaluannya sama sekali belum ada bulu kemaluan. Kemaluannya menggembung dengan belahan rapat.

“Kenapa kamu buka baju seperti itu, kan nanti kedinginan,” tanyaku.

“Kata mbak-mbak kalau saya tidur sama bapak saya harus telanjang, Pak boleh saya buka baju bapak semua,” tanyanya.

Apakah harus aku tolak atau pasrah saja, apalagi dia sudah mendahului telanjang. Akhirnya aku pasrah dan membiarkan dia membuka satu persatu pakaianku sampai akhirnya aku juga telanjang bulat. Penisku belum bangun, karena pengaruh perasaan bimbang ku. Aisyah kelihatan terperanjat melihat alat vitalku yang sedang tidur. Sebenarnya penisku tidak sepenuhnya tidur, sudah agak bangun juga tetapi belum mengeras.

“Pak boleh saya pegang, ininya Bapak,” pintanya yang langsung memegang penisku. Jari telunjuk dan jempolnya menekan-nekan penisku seperti sedang memeriksa buah mangga mau tahu sudah mateng apa belum. Tangan kecil berada di penisku dan menekan-nekan membuat penisku makin lama makin mengeras. “ Lho pak kok makin lama makin besar dan keras,” katanya.

Kepalaku berkecamuk antara nafsu yang mulai bangkit dan rikuh pula. Aisyah kemudian tidak hanya menekan menggunakan dua jarinya lagi, tapi menggenggam dan melakukan gerakan seperti memeras.

Akhirnya penisku mengeras sempurna. Buah zakarku menjadi sasaran berikutnya dia meremas buah zakarku seperti meremas penisku. Aku terlonjak dan tidak sengaja berteriak, “Au”

Dia terkejut, “ Kenapa pak, sakit ya , maaf ya pak aku nggak tau,” katanya.

Aku jelaskan bagian itu jangan diremas karena sakit. Dia hanya boleh dielus-elus saja. Dia mengikuti perkataanku sehingga dia pun mengelus-elus buah zakarku. Rasa nikmat menjadikan aku makin tinggi birahiku.

Kutarik tubuh Aisyah ke atas lalu aku peluk dan kembali aku cium bibirnya. Aku jilati juga kupingnya aku ciumi lehernya lalu tanganku menjamah payudaranya yang baru tumbuh. Aku tidak berani meremas, karena masih kecil, jadi aku elus-elus saja dan putingnya yang terasa mengeras, meski masih kecil aku elus-elus juga.

Penasaran juga aku ingin menjilati payudaranya lalu lidahku menyapu payudaranya bergantian kanan dan kiri lalu mengecup pentilnya. “ Geli pak,” kata Aisyah sambil menggelinjang. Mungkin karena sudah terbiasa, ketika mulutku menjelajahi payudara, tanganku menjamah gundukan kecil di bawah. Belahannya terasa masih rapat dan penampangnya cembung menimbulkan gairah untuk menjamah lebih jauh. Aku mencoba mencari clitorisnya dan menjawilnya. Dia bergerak menjingkrak seperti terkejut. Aku colek lagi dan dia berjingkrak. “Pak geli pak,” katanya.

Aku pikir baru dicolek saja sudah geli, berarti belum waktunya di oral. Akhirnya aku berhenti tidak meneruskan cumbuan. Meskipun penisku sudah tegak tetapi aku belum tega mengarahkan penisku ke vaginanya.

Aku berbaring diam disamping Aisyah yang juga diam. Sekitar 5 menit aku diam karena bingung harus bagaimana lagi. Aisyah lalu bertanya, “ Pak kok bapak sudah berhenti, kenapa kok anunya bapak gak dimasukkan ke ininya aku,” katanya.

“Kamu masih terlalu kecil, kemaluan bapak tidak akan bisa masuk, karena kamu punya masih terlalu kecil,” kataku.

“Lho kok kata mbak-mbak meski lubangnya masih kecil, tetapi bisa melar kok, ayo dong pak dicoba, saya udah akil balik pak,” katanya merajuk.

Harus bagaimana ini, masak aku menyetubuhi anak sekecil ini. “ Kalau aku coba melakukannya sekarang, kamu akan merasa sakit sekali. “ kataku berkilah.

“Gak apa -apa Pak, semuanya memang begitu, mbak-mbak juga ngaku pertamanya juga sakit, tapi abis itu rasanya enak banget, jadi saya pengen Pak,” katanya.

Apa boleh buat, anak ini kayaknya secara mental sudah siap menghadapi aksi suaminya, jadi aku mau tidak mau harus melakukannya sekarang.

“Oke deh Aisyah, saya akan coba melakukannya, tetapi kalau kamu tidak tahan sakitnya, kita akan berhenti, lalu lain kali dicoba lagi, kalau masih sakit, dicoba lagi beberapa hari kemudian sampai tidak terasa sakit, gitu ya,” kataku.

Aisyah mengangguk. Aku mengambil jelly untuk menambah pelumasan. Aku baluri ke seluruh penisku terutama banyak di bagian kepalanya. Setelah itu di depan lubang kemaluannya aku beri agak banyak.

Aku lalu mengambil posisi berada diantara kedua pahanya yang sudah ngangkang selebar-lebarnya. Aku mulai mengarahkan kepala penisku ke gerbang lubang vaginanya. Baru kepala penisku aku tekan sedikit. Wajah Aisyah sudah mengkerut seperti menahan rasa sakit. Aku tanya apakah sakit. Dia menjawab dengan menggelengkan kepala, kata dia cuma agak takut.

Aku tekan lagi lalu melesak sedikit sehingga setengah kepala penisku terbenam, Aku tanya apa sakit. Dia mengangguk. “Kuat nggak,” tanyaku. Dia kembali mengangguk. Aku tekan lagi dan kepala penisku bisa terbenam. Terlihat Aisyah menahan sakit.

Aku tarik karena tidak tega meneruskan tetapi kedua tangan Aisyah menarik tubuhku merapat, Dia menginginkan aku memasukkan lagi penisku. Aku ikuti kemauannya dan kepala penisku masuk lagi, kali ini mentok di selaput daranya. “ Aku katakan tidak bisa masuk lagi, selaput dara ini kalau dipaksa jebol, rasanya akan sangat sakit, udahan aja ya,” aku menawarkan.

Aisyah merengut wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Artinya dia mau tahan rasa sakitnya. Tapi rasanya aku gak tega juga, tapi dia mau aku terus.

Aku teringat soal orang cabut gigi yang dihipnotis sehingga tidak terasa sakit. Aku sudah lama belajar hipnotis. Sekarang ilmu itu sudah cukup aku kuasai, tetapi aku belum pernah terapkan untuk memecahkan perawan. Biasanya aku melakukan hipnosis untuk kesehatan, untuk mengatasi phobia-phobia tertentu. Cukup berhasil juga beberapa phobia yang menghinggapi istriku bisa dihilangkan.

Kali ini aku akan mencoba menghipnotis Aisyah untuk mengubah rasa sakitnya dengan rasa geli. Aku ajak Aisyah santai dan aku masukkan sugesti sampai akhirnya dia masuk dalam pengaruh bipnotis. Matanya terpejam tetapi masih bisa mendengar sugestiku. Aku mulai melakukanpenetrasi lagi dan perlahan-lahan aku tekan penisku sampai terasa menjebol segelnya dan kulihat ada sedikit darah keluar . Ketika aku coba tarik sekujjur penisku berwarna merah muda, karena darahnya bercampur dengan jelly dan cairan pelumas yang dimiliki Aisyah sendiri.

Aku dorong lagi sampai bisa masuk agak jauh, tetapi tidak sampai mentok, mungkin ada sekitar 3 cm lagi. Di dalam sana aku merasa mentok. Aku tidak memaksa membenamkan seluruh penisku. Seharusnya Aisyah menangis karena sakit, tetapi dia malah tertawa geli. Memang suasananya jadi tidak syahdu, tapi itu lebih baik dari pada melihat istri kecil ku ini kesakitan.

Aku bisa begerak lancar. Sebenarnya karena sensasi memerawani anak di bawah umur ini merupakan pengalaman luar biasa, libidoku naik tinggi, sehingga aku merasa ingin berejakulasi. Aku gerakkan maju mundur sudah terasa lebih lancar dan Aisyah malah tertawa geli. Menjelang aku ejakulasi aku cabut penisku lalu aku tumpahkan spermaku di perutnya.

Setelah tuntas aku seka dengan handuk kecil menghilangkan sperma dari perutnya. Setelah itu aku sadarkan kembali Aisyah. Setelah sadar Aisyah mengeluh vaginanya terasa perih. Aku katakan itu akibat penetrasi. Kami lalu membersihkan diri dan kembali mengenakan pakaian . Malam ini Aisyah tidur disampingku.

Selanjutnya aku baru berani melakukan penetrasi ke vagina Aisyah setelah seminggu, karena aku anggap bekas lukanya sudah sembuh. Ketika aku melakukan lagi terhadap Aisyah dia masih terasa perih, meski tidak terlalu menyakitkan. Mungkin karena dia masih di bawah umur dia belum bisa menikmati hubungan sex sesungguhnya. Aku belum pernah melihat dia mencapai orgasme. Aku pun tidak berani melepas spermaku di dalam vaginanya.

Untuk seterusnya hubungan sex dengan Aisyah bisa lancar, beberapa kali dia bisa juga mencapai orgasme, tetapi tidak setiap kali berhubungan dia bisa mendapat orgasme. Aku menerapkan sistem kalender. Manakala dia sedang masa subur, aku tidak berani melepas sperma di dalam. Aku tidak membolehkan dia mengenakan spiral, karena masih terlalu muda. Selain itu malu juga sama dokter.

Meskipun sudah berstatus istri ke 9, tetapi Aisyah tetap bersekolah. Di bersekolah dengan sistem home schooling.

Pendikan Aisyah aku lanjutkan, tetapi dia tidak belajar di sekolah umum, kasihan nanti jadi-olok-olokan temannya karena statusnya sudah bersuami. Dia belajar secara home schooling yang terus sampai lulus SMA.

Ketika saya menulis cerita ini aku sudah berusia 60 tahun. Meski di usia senja, kesehatannya masih cukup prima, Rambut masih lumayan dan ubannya belum begitu banyak. Kebugarannya boleh ditandingkan dengan orang berusia 45 tahun.

Apa rahasianya bisa berpenampilan sesehat itu dalam usia 60. Setiap pagi aku berusaha jalan kaki minimal 2 km setelah selesai shalat subuh. Jadi aku mencari masjid yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah. Sebelum saatnya azan aku sudah jalan kaki menuju masjid. Usai subuh aku mengambil jalan agak memutar, sehingga pukul setengah 6 baru sampai rumah.

Kebiasaan lain yang kelihatannya mendukung kesehatan, aku tidak suka minum yang manis, makanan yang terlalu manis. Kebiasaan itu memang sudah sejak dari muda. Makan daging, atau ayam holeh dibilang sangat jarang, belum tentu sebulan sekali. Hobbyku adalah makan sayur, buah dan ikan air tawar. Kalau sudah berhadapan dengan menu sambal, ikan emas goreng, lalap dan sayur asem, wah rasanya nikmat sekali. Tapi itu pun aku tidak pernah tambah nasi. Satu piring sudah cukup.

Jam makanku agak beda dengan orang kebanyakan. Jam 11 aku makan siang yang sekaligus makan pagi, nanti jam 5 sore makan lagi sebagai makan siang dan makan malam. Setelah itu aku tidak ngemil, makan kue. Kalaupun ngemil terbatas rebusan singkong atau ubi bahkan talas dan ngopi encer tanpa gula. Hobby ku adalah menenggak air putih. Air mineral ukuran 1,5 liter itu setiap hari habis 2 botol.

Yang paling penting aku selalu menghindari stress, dengan tidak terlalu lama membebani pikiran dengan hal-hal yang menyusahkan, memendam marah, kecewa dan yang negatif lainnya. Apa pun yang terjadi harus disyukuri dan diterima dengan ikhlas Jadi hidup ini lebih ringan. Kalau mau dituruti beban saya berat sekali, persoalan datang silih berganti. Tapi semua harus bisa dinikmati. “buah pare yang rasanya pahit saja bisa jadi nikmat, Malah daun pepaya rebus kalau tidak ada rasa pahitnya kurang sedap. Hidup harus dibuat seperti itu, jadi semuanya jadi nikmat dan ringan.

 

                                                                                                                   *****

Keluarga Free X (1)

Keluarga Free X (1)

 

By Jakongsu

Sesosok wanita menarik perhatianku, ketika aku baru saja selesai memarkir mobil. Sempurna sekali tubuhnya, wajahnya cantik, rambutnya coklat dan kulitnya putih bening. Kelihatan dari wajahnya dia keturunan China. Aku berdiri di samping mobilku sambil memperhatikan kemana arah cewek cantik itu. Wah mobilnya bukan sembarangan, Mercedes tipe terbaru.

Begitu dia masuk mobil aku pun cepat-cepat masuk mobil kembali. Maksudku ingin menguntit. Mobilnya bergerak kearah tempatku parkir. Tiba-tiba muncul ide untuk menabrakkan saja mobilku ke mobilnya. Mobilku Jeep Wrangler parkir posisi maju, sehingga aku harus keluar mundur.

Ketika mobilnya muncul, segera kumundurkan mobilku sehingga tabrakan belakang mobilku dengan samping sebelah kirinya. Tidak terlalu keras, tetapi cukup dalam juga body samping belakangnya mblesak ke dalam. Sedang mobilku tidak mengalami kerusakan berarti.

Sosok bidadari yang kuincar tadi langsung keluar dari mobil dan melihat kerusakan. Dia marah-marah menyalahkanku, yang katanya sembarangan saja mundur gak lihat-lihat. Aku segera minta maaf dan berjanji akan memperbaiki semua kerusakannya. Padahal aku tahu bahwa mobil semewah ini tidak mungkin tidak ada asuransinya. Jadi aku tidak perlu khawatir keluar duit banyak.

Dia memelototi aku dengan muka kesal. Wajahnya, ampun cantik banget, apalagi dalam keadaan marah begitu. Aku tawarkan untuk menuju bengkel langgananku. Dia tidak mau membawa mobilnya yang kelihatan jelek karena penyok, aku disuruhnya membawa mobil dia sementara dia membawa mobilku. Untung saja mobilku interiornya sedang bersih tidak berantakan seperti biasanya.

Aku setuju, sekitar 30 menit kami jalan beriringan sampai ke bengkel langgananku. Pemilik bengkel menyambutku dengan akrab. Bengkel ini memang langganan keluargaku, dia juga menerima perbaikan yang ditanggung asuransi. Aku disarankan mengurus asuransinya.

Cewek yang mobilnya kutabrak tadi belum tahu namanya siapa. Aku terpaksa menanyakan namanya dengan menyalaminya, dia menyebutkan namanya Karina. Dia lalu menelepon perusahaan asuransinya. Urusan asuransi tidak perlu aku uraikan, nanti terlalu nglantur.

Karina tampangnya masih kesal, dia bilang aku membuat acaranya berantakan. Dia menuntut aku mengantar pulang ke rumahnya. Aku dengan senang hati dan mengorbankan semua acaraku hanya untuk mendapat kesempatan kenal lebih jauh dengan Karina.

Kami sampai ke kawasan Pondok Indah Jakarta. Rumahnya besar dan sangat mewah. Sampai dirumahnya aku tidak tahu statusnya, jangan-jangan dia istri piaraan konglomerat. Aku disuruh ikut masuk rumahnya. Kebetulan ibunya masih di rumah. Segala kekesalannya ditumpahkan ke ibunya mengenai tragedi tadi. Aku hanya terdiam saja duduk di kursi. Paling tidak aku tahu bahwa Karina bukan istri piaraan konglomerat, tapi anak konglomerat.

Ibunya untung tidak ikut memarahiku, dia malah meminta anaknya sabar, karena musibah tidak bisa dihindarkan. Mamanya masih cantik di kisaran usia 40-an. Dari wajahnya kulihat mamanya seperti bule. Dari beberapa pertemuan kemudian ku ketahui bahwa mamanya keturunan Amerika Latin. Mereka bertemu ketika Papanya yang orang China sedang tugas bekerja di New York. Terlihat sekali Karina sangat manja. Kutaksir Karina baru berusia sekitar 20 tahun.

Kugambarkan sedikit sosok Karina, Tingginya sekitar 170 cm, tidak beda jauh dari tinggiku yang sekitar 175cm. Kulit putih seperti umumnya cewek cina. Tapi aku tidak terlalu khawatir karena kulitku juga tidak hitam, seperti mamaku yang keturunan Lebanon yang kawin dengan papaku, Jawa asli. Tubuh Karina nyaris sempurna, teteknya kelihatan cukup tegap dan besar, pantatnya penuh dan pingangnya kecil. Kakinya putih tanpa cacat. Ya iyalah anak orang kaya pasti perawatannya full.

Ibunya malah mengajakku ngobrol, menanyai keluargaku dan kegiatanku. Kujelaskan bahwa papaku Pati di Angkatan Laut, kini jadi pengusaha setelah pensiun. Ibuku keturunan Lebanon. Aku baru selesai kuliah dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan ayahku.

Ibunya yang memperkenalkan namanya, Margareth. Dari tatapan matanya mengesankan dia menyenangiku. Aku pura-pura culun aja, meski aku bisa membaca bahasa tubuh. Karina yang duduk di samping ibunya, juga sering mencuri-curi pandang ke arahku. Dari sorot matanya aku memastikan bahwa Karina juga tertarik.

Sekitar 2 jam kami ngobrol di ruang tamu yang mewah sekali. Ibunya dan juga Karina men save no HP ku. Aku pastilah mempunyai semua no HP mereka. Malam ketika aku asyik ngobrol dengan kolega di kafe Kemang,, Hpku bergetar, muncul nama Karina.

Dia minta aku menjemputnya di rumah besok pagi jam 7 pagi, dia ada janji meeting dikantor clientnya. Ini sebagai hukuman akibat aku menabrak mobilnya. Bagiku ini bukan hukuman tapi kesempatan, ya kesempatan mengenal lebih jauh.

Setengah jam sebelum jam 7 aku sudah duduk diruang tamu rumah Karina. Rumahku hanya 10 menit dari rumahnya, jadi bisa cepat sampai. Pagi itu aku disambut ibunya yang kemudian mengajakku duduk di meja makan untuk sarapan toast dan milo hangat. Mama Margareth banyak bertanya mengenai diriku. Kayaknya dia penasaran mengenai siapa diriku.

Keluarga mereka baru sekitar 2 tahun tinggal di Indonesia. Sebelumnya sekitar 10 tahun di New York dan sebelumnya di Caracas, Venezuela. Dari negara itulah mama Margareth berasal. Pantas saja cantik. Cewek Venezuela terkenal cantik, buktinya mereka sering memenangkan Miss World.

Jam 7 pagi tepat Karina muncul dengan wajah segar dan cantiknya luar biasa, berkat blasteran Cina dengan Latin Amerika. Kami segera pamit dan aku diminta men sun pipi mama Margareth, itu memang kebiasaan mereka. Sambil mensun aku sempat terkena tendangan ujung tetek mama Margareth yang terasa empuk menyundul dadaku.

Hari ini wajah Karina tidak cemberut seperti kemarin, Dia malah tampil sumringah. Aku mendrop Karina di salah satu gedung di Thamrin, dan aku meneruskan menuju kantorku di daerah Menteng. Karina katanya akan pakai taksi menuju kantornya di kuningan. Tapi bubaran kantor aku diminta menjemputnya.

Akhirnya aku jadi seperti supir Karina selama mobilnya masih di bengkel. Aku senang-senang saja karena dengan begitu bisa lebih dekat dengan Karina yang sekarang sudah makin jinak. Selain itu aku juga senang cipiki-cipika dengan mama Maragareth yang makin hari rasanya makin mesra, karena aku dipeluknya erat sampai dadanya ngepres ke dadaku.

Seperti dugaan pembaca, aku nantinya akan dapat mencicipi Karina dan mamanya. Tapi sabar ya. Ceritanya tidak seru kalau lompat-lompat, rasanya jadi kurang nalar.

Belum sebulan aku sudah diajak Karina masuk ke kamarnya di lantai atas. Kejadian itu ketika aku mengantarnya pulang kerja. Rumah waktu itu sepi. Aku digandeng Karina menaiki tangga dan langsung masuk ke kamarnya. Kamarnya khas cewek banget, dimana-mana ada warna pink. Kamarnya lega dan selain sebuah bed yang lebar, terdapat meja kerja dan sofa kecil. Kamar mandi juga ada di dalam.

Setelah pintu tertutup, Karina langsung memeluk dan menciumiku dengan ganas. Aku membalasnya dengan ganas pula sambil aku gendong dan kubaringkan di tempat tidurnya. Hanya 5 menit tanganku diam, setelah itu langsung merambah kedua susunya. Mulai dari meremas dari luar baju sampai akhirnya memelintir kedua putingnya yang masih kecil. Pentilnya kecil dan nyaris terbenam, padahal susunya besar sekali, sampai telapak tanganku tak muat menangkupnya.

Cumbuan berat sekitar 15 menit, kami berdua sudah bugil. Tubuh Karina putih mulus tanpa cacat dengan jembut hitam lebat. Dia menunjukkan kemahiran menghisap penisku dengan sedotan-sedotan kuat. Dengan keahliannya ini sudah bisa di duga bahwa Karina sudah cukup mengenal lelaki dan mungkin sudah lebih dari seorang yang dia cumbui. Tapi peduli amat lah, karena aku pun bukan pejaka lagi sejak umur 15 tahun.

Karina senang memainkan batang penisku yang katanya tegap dan panjang. Padahal penisku pernah ku ukur panjangnya cuma 15 cm lebih dikit dan lingkarannya 20 cm. Cukup lama dia mengoralku dan cukup lama pula aku menahan diri agar tidak muncrat. Akhirnya dia bosan dan minta aku pula yang mengoralnya.

Memeknya yang lebat dengan jembut agak merepotkan juga, Kusibak jembutnya dan terlihatlah belahan memeknya. Model memeknya tidak secantik wajah Karina. Bibir dalamnya kelihatan berlebih keluar. Sehingga aku bisa menjewernya ke kiri dan ke kanan. Jika dijewer maka terlihatlah lubang magmanya yang merah muda dan diatasnya terdapat tonjolan dengan ujung bulat mengkilat. Aku menyerbu itilnya dengan menangkupkan mulutku ke memeknya bagian atas. Lidahku dengan mudah menemukan tonjolan itil yang sudah ngaceng. Karina kelojotan dan menjerit-jerit nikmat ketika itilnya aku serang dengan jilatan lidah. Sambil menjilati itilnya jari tengah tangan kananku masuk ke lubang vaginanya mencari tonjolan Gspotnya. G spotnya sudah mengembang dan terasa agak kasar sedikit. Dengan bantuan pelumasan vaginanya yang sudah banjir aku menjilati sambil menggosok gpotnya. Karina tidak mampu bertahan dengan seranganku sehingga dalam waktu tidak sampai 5 menit dia sudah orgasme dan memuncratkan ciaran kental dari lubang kencingnya.

Spreinya basah seperti kena ompol. Karina masih mengejan-ngejan karena gelombang orgasmenya. Setelah itu terkulai lemas seperti orang pingsan. Aku khawatir juga kalau dia benar-benar pingsan, maka kuciumi mulutnya dan kumainkan lidahku di dalam mulutnya. Ternyata ada reaksi, sehingga aku merasa aman. Penisku yang sudah tegangan penuh aku arahkan memasuki liang vaginanya yang sudah licin. Perlahan-lahan aku selundupkan seluruh batangku sampai tenggelam. Nikmat sekali jepitan memeknya. Sesekali ada pula gerakan ototnya mencengkeram batang penisku.

Mudahnya aku menikamkan penisku ke memeknya maka meyakinkan aku bahwa Karina sudah tidak virgin. Ah aku tidak ambil pusing siapa yang memerawani. Dapat kesempatan sekarang merasai memeknya pun rasanya sudah luar biasa.

Karina yang masih lemas aku tindih dengan gerakan pelan memompa memeknya. Sekitar 5 menit aku memainkan posisi MOT mulai ada reaksi Karina dia merintih sambil tangannya memeluk badanku. Punggungku dicakarnya ketika dia mencapai orgasme. Rasanya agak perih, tapi aku bisa menghiraukan karena aku pun kemudian mencapai orgasmeku. Sperma ku tembakkan ke dalam memeknya, sehingga luber.

Aku biarkan penisku yang baru muncrat tetap berada di dalam memeknya, sambil kusangga badanku dengan siku sehingga tidak menindih penuh tubuh Karina. Kupandangi wajahnya yang kelihatannya makin cantik. Aku ciumi. Teteknya yang kencang menggembung dan aku remas-remas.

Kegiatanku itu rupanya memicu penisku bangun lagi. Padahal masih pada posisi tercelup dalam vagina. Merasa makin keras, aku gerakkan maju mundur yang malah jadi makin nikmat dan makin keras. Setelah terasa cukup keras aku bekerja lagi mengaduk vagina Karina. Dia mengatakan kewalahan menghadapiku yang bisa main tanpa jeda. Aku pun seumur hidup baru ngalami sekali ini bisa langsung on dalam tempo hanya kurang 2 menit. Mungkin karena pemandangan dan rasa yang kudapatkan nilainya plus semua, maka rangsangan di otak jadi mudah bangkit kembali.

Ronde keduaku membuat Karina kewalahan. Dalam posisi MOT dia mendapat dua kali orgasme. Aku balikkan posisi menjadi WOT. Karina hanya sanggup ketika dia mencapai orgasmenya lagi sekali setelah itu dia minta aku kembali di atas. Kugenjot dengan cepat dan kasar, dia menjerit nikmat dan dapat lagi satu O, sampai dia berteriak, mungkin sangking nikmatnya.

Mungkin teriakan itu terdengar sampai keluar kamar, karena tidak lama kemudian Mama Margareth muncul di pintu, yang kami lupa menguncinya. Mama tidak sekedar melongok, dia malah masuk menonton aku yang sedang menindih anaknya. Aku tidak bisa berbuat apapun, karena posisi bugil berdua sedang tindih-menindihan dan penisku terbenam di memek Karina. Aku pasrah, apa pun yang akan terjadi aku harus terima.

Ternyata si Mama tidak marah, malah meminta Karina jangan teriak-teriak karena sudah malam. Tidak lama kemudian mama meninggalkan kami. Aku jadi agak kurang gairah setelah ke gap sedang ngentot. Namun Karina masih saja mendesah-desah mengikuti irama gerakanku. Kayaknya dia gak terpengaruh karena kepergok mamanya.

Cukup lama ku embat si Karina sampai dia lempar handuk alias menyerah karena tidak mampu lagi melayani nafsuku. Padahal penisku masih tegap dan belum terasa ada tanda mau nyemprot. Karena kasihan anak cantik kecapaian, jadi aku hentikan permainan yang kurasakan jadi nanggung. Apa boleh buat lah. Kalau diterusin badanku juga lelah. Karina berpesan sebelum tidur agar aku jangan pulang, tidur bersama dia sampai pagi.

Untuk menetralisir birahiku, aku masuk kamar mandi dan menyiram sekujur tubuhku dengan air dingin. Lepas mandi muncul pula tuntutan baru. Perutku lapar. Berbaju piyama yang sudah disediakan Karina aku turun ke bawah, menuju dapur besih. Aku periksa satu persatu laci kitchen dan akhirnya kutemukan mi instan. Dua bungkus sekali masak, lumayan juga mengganjal perut. Tapi rasanya masih belum marem. Kucari sesuatu di dalam kulkas. Di frezer ada beberapa hamburger siap saji bersama rotinya dalam keadaan beku. Ah gak masalah, ada microwave semuanya beres, tidak sampai 5 menit aku sudah menikmati hamburger panas.

Setelah tuntas melahap, sekarang aku jadi kekenyangan. Aku duduk sejenak di sofa ruang keluarga untuk menetralisir perut yang teramat kenyang. Remote tv di tangan, maka dunia ada di dalam genggamanku. Aku berhenti di tayangan HBO. Bagus juga filmnya sehingga aku terpaku menontonnya. Jam di dinding berdentang 12 kali.

Handphoneku bergetar. Aku agak kesal, karena ada orang mengirim pesan tengah malam begini. Sambil agak malas-malasan kubaca layar HP. Astaga, ternyata mama Margareth yang mengirim pesan. Isinya “ Itu kamu yang di ruang tengah nonton TV ya,”, Kujawab “Benar ma”

Tidak lama kemudian si Mama muncul dari pintu kamar tidurnya. Dia menghampirku yang tengah duduk santai disofa. Mama pakai daster yang mungkin dari kain satin, karena terlihat berkilat dan halus. Dia mendekatiku dan tanpa basa-basi langsung duduk dipangkuanku menindih tubuhku yang posisinya setengah berbaring. Belum sempat aku berpikir, kedua tanganku sudah diraihnya dan diajak untuk meremas kedua payudaranya yang tidak dibalut BH. Dikasih enak, mana mungkin nolak.

Kedua telapak tanganku langsung bekerja sesuai dengan permintaan. Tidak puas meremas dari luar pagar, tanganku masuk ke dalam daster melalui belahan depan daster. Dua payudara besar yang masih sangat kenyal aku remas dan aku pelintir putingnya hati-hati. Pemiliknya mendesah dan menindihku.

Mama bangkit lalu melepas celana boxerku sekaligus celana dalamku. Penisku yang dari tadi belum layu, mengeras sempurna kembali. Aku tidak sempat bertanya kenapa mama, sampai minta jatah dariku, karena mama langsung melahap penisku. Tidak hanya dihisap dan dijilat. Bukan hanya batang penis, tetapi kedua kantong zakarku turut dikulum. Sudah itu lubang matahari ku tidak luput dari jilatannya. Nikmatnya luar biasa di service pemain U-45 berpengalaman.

Aku pasrah saja melayani keinginan Mama Margareth yang makin buas. Puas mengoral, mama bangkit dan mengangkat dasternya yang ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Dia berdiri diatasku . Memeknya tepat di depan mulutku. Aku segera tahu apa yang diinginkan. Sambil mama berdiri di sofa aku meraih pinggulnya dan langsung menjilati belahan memeknya. Kelihatannya si Mama mencukur jembutnya sehingga tinggal sedikit di ujung lipatan , seperti jambul komedian “Gogon”.

Belahan memeknya menjepit daging yang agak menggelambir keluar. Bentuk memeknya seperti Karina, dengan labia minoranya yang agak panjang. Aku sibak dengan menariknya melebar. Itil si Mama kelihatan lebih menonjol seperti penis kecil. Oleh karenanya aku lebih mudah mencucupnya dan menjilati itil.

Mungkin karena geli nikmat si Mama melonjak-lonjak sehingga membingungkan ku mengikuti gerakannya. Lama-lama posisi kami jadi rubuh. Aku telentang di sofa dan si Mama menduduki mulutku. Mulanya posisi itu membuat aku gelagapan, karena tidak ada ruang untuk bernafas. Setelah kuatur posisi yang melegakan, aku meneruskan serbuan keujung itil yang bentuknya seperti kepala penis kecil.

Mungkin karena posisi mama diatas, sehingga dia lebih leluasa bergerak, dan itu membuatku sulit mengikuti gerakannya. Berkali-kali itilnya lepas dari lidahku. Mama aku bimbing telentang di sofa lalu aku berada di atasnya dan menjilati itilnya. Posisi ini bagiku lebih pas, karena mama jadi agak sulit bergerak dan jilatanku konstan di ujung itilnya. Mama mengerang nikmat, jari tengah kutusukkan ke dalam lubang vaginanya dan meraih gspotnya. Mama makin merintih seperti orang nangis, tetapi nadanya nikmat.

Tidak lama kemudian mama meraung tertahan dan bersamaan dengan itu muncratlah cairan dari memeknya membasahi mukaku. Rambutku dijambaknya sampai terasa sakit, tapi terpaksa aku tahan, karena mama tidak sadar meremasnya terlalu kuat.

“Kamu luar biasa sampai aku bisa benar-benar lemes,” kata Mama. Aku ambil ancang-ancang menancapkan senjataku ke dalam lubang nikmatnya. Mama mencegah lalu bangkit dan menarikku masuk ke kamar tidur khusus tamu.

Di kamar ini memang lebih leluasa. Mama pasang posisi ngangkang dan aku juga merangkak diantara kedua kakinya. Tanpa dituntun kuarahkan penisku memasuki lubang vaginanya. Penisku menemukan jalannya dan aku tinggal menekan perlahan-lahan. Meski sudah berumur, tetapi jepitan memek si mama, lumayan enak juga. Aku memompa perlahan-lahan terus menerus. Mama mendesis, ini menandakan posisiku tepat merangsang g spotnya. Makin lama suara mama makin keras dan akhirnya terdiam lalu melenguh panjang sambil mendekapku kencang sekali. Batang penisku terasa dipijat oleh otot-otot vagina mama.

Selepas orgasme aku merasa memek mama makin ketat, sehingga menimbulkan kenikmatan bagi penisku. Aku menggenjot lagi sampai sekitar 10 menit yang akhirnya kami bersamaan mencapai kepuasan. Aku melepas spermaku di dalam lubuk memek mama. Badanku berkeringat meskipun ruangan ber AC.

Aku memperhatikan body mama, meski sudah tua tetapi masih bagus. Mungkin karena orang bule atau karena dia rajin merawat dan melakukan senam. Kesadaranku pulih, sehingga berfikir situasi keluarga Karina. Bagaimana seorang ibu memergoki anaknya di entot orang, tapi diam saja dan bagaimana pula sang ibu minta dientot pacar anaknya, padahal suaminya sedang ngorok dikamar. Mungkin saatnya nanti aku akan tahu bagaimana relasi keluarga mereka.

Setelah istirahat sejenak, mama bangun dan mengajakku ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Kami saling membersihkan diri dari cairan kenikmatan kami tadi. Di kamar mandi yang terang inilah aku baru cermat mengamati keindahan tubuh mama. Susunya toge banget meski agak menggantung tetapi masih padat, alias belum kempot. Warna putingnya merah jambu dan putingnya menonjol sebesar ujung jari kelingking.

Pantatnya bahenol banget, seperti pada umumnya wanita latin. Matanya tajam dan hidungnya mancung. Tingginya hampir setinggi aku. Lemak tubuhnya tidak terlalu tebal, tetapi menggumpal di beberapa tempat. Meski begitu pinggangnya masih langsing.

“Mama ada masalah sama papa” tanyaku.

“Ya gitulah, mungkin papa sudah terlalu tua sehingga agak jarang melayani mama. Kalaupun main, mama tidak sampai puas dia sudah lemes dan langsung ngorok.” kata Mama.

Tidak banyak ngomong karena kami saling meraba dalam membersihkan diri, Mama mencoba mengocok penisku yang kuyu dan aku meremas tetek mama yang menggemaskan. Setelah mengeringkan diri dengan handuk, mama menyarankan aku kembali ke kamar Karina karena dia akan kembali ke kamarnya.

Karina masih lelap tidur, dan posisinya masih belum berubah. Dia terlalu lelah bermain denganku tadi, karena berkali-kali mendapatkan orgasme. Aku belum tahu apa reaksinya jika dia tahu aku “bermain” dengan mamanya. Apakah dia akan bisa menerima, seperti mamanya mengetahui anaknya aku embat.

 

****

Keluarga Free X (2)

 

Keluarga Free X (2)

 

By Jakongsu

Hubungan ku dengan keluarga Karina semakin akrab. Aku tidak menduga, hasil menabrakan mobilk ke mobil Mercy Karina tempo hari menghasilkan hubungan yang demikian jauh. Aku dengan bebasnya menyetubuhi Karina di kamarnya sendiri dan sepengetahuan mamanya. Aku kira papanya juga tahu, karena aku sering menginap di kamar Karina.

Aku masih tidak membuka informasi kepada Karina bahwa aku sering memuaskan keinginan sex mamanya. Aku kelak akan membuka juga rahasia ini, tetapi waktunya belum tepat. Saat kami sarapan pagi bertiga, Mamanya buka suara yang berkata terus terang bahwa mama puas sekali bermain sex denganku. Kuperhatikan raut muka Karina, sepertinya dia biasa saja mendengar pernyataan mamanya.

Ternyata si Karina sudah lama tahu bahwa aku melayani mamanya juga, Aku agak bingung dengan keluarga ini, apa karena terlalu lama tinggal di Barat, sehingga mereka bebas saja berbicara masalah sex dan menerima hubungan seperti yang terjadi padaku.

Aku sempat salah tingkah dan malu, ketika papa Karina menyatakan terima kasihnya padaku, karena aku bisa memenuhi keinginan istrinya. Dia merasa agak tenang karena selama ini merasa kewalahan atas tutuntan ranjang dari Mama Margareth. Menurut Papanya, lebih baik istrinya berhubungan sex dengan ku dari pada dengan orang lain yang tidak dia kenal. Dia pun mengatakan hubunganku dengan Karina sebaiknya dilanjutkan sampai ke jenjang perkawinan, karena keluarga ini tidak punya anak laki-laki, sehingga tidak ada yang bisa mewarisi usaha yang sudah berkembang besar.

Di awal cerita aku tidak mengungkapkan bahwa Karina sebetulnya punya dua adik. Karina adalah sulung sekarang berusia 23 tahun. Adiknya Stevani sekolah di Singapura berumur 18 tahun dan bungsu Melody tinggal di Singapura bersama kakaknya. Mereka berdua sekolah di sana. Mereka jarang pulang karena kedua orang tuanya sering menjenguk.

Ketika aku diajak Karina ke Singapura barulah aku mengenal mereka berdua. Mereka cantik-cantik dan bongsor. Melody lebih bule dibanding Stefani. Si bungsu yang berusia 13 tahun badannya seperti cewek 17 tahun.

Di Singapura ayah Karina memiliki apartemen yang cukup bagus. Namun ketika aku dan Karina ke Singapura dia memilih tinggal di Shangrila hotel bersama ku dari pada nginap di apartemen.

Sejak hubunganku sudah demikian terbuka sehingga papanya pun merestui, maka aku makin leluasa menyetubuhi mama Margareth dan Karina. Pernah suatu kali ketika ketika aku sedang bertarung dengan mama, dikala Karina tidak dirumah. Tiba tiba Karina dengan santainya masuk ke kamar mama dan menonton pertandingan kami. Setelah itu, Karina minta jatah. Aku tidak tahu kapan dia pulang, karena mungkin sedang asyik dengan si Mama.

Nafsu sex Karina dan mamanya tergolong hiper. Hampir setiap hari aku melayani mereka berdua. Untung aku juga punya nafsu yang menggebu-gebu, jadi mampu saja menandingi mereka. Aku merasa pening jika sehari saja tidak ngentot. Rasanya bekerja pun susah berkosentrasi, karena selangkanganku terganggu oleh tegangan. Setiap hari paling tidak aku bisa 3 kali ejakulasi, tanpa badan merasa lelah. Sering juga aku mencapai 5 kali. Itu terjadi jika aku nginap di hari libur.

Suatu hari, aku diajak paksa Karina ke Singapura. Keperluannya adalah menemani Stefani yang sendirian tinggal di apartemen. Si kecil Melody ikut tour sekolahnya ke China selama 5 hari. Satu sampai hari kedua aku tidak mengalami kejadian aneh. Aku tidur sendirian dan Karina tidur menemani Stefani. Itu pun sebelumnya Karina minta jatah untuk mendapat “obat tidur”. Dia menyebut orgasme dengan ku sebagai obat tidur.

Tidak mungkin Stefani tidak tahu kalau aku “bermain” dengan kakaknya. Lha wong teriakan Karina dan erangannya bisa menembus sampai keluar unit apartemen. Biasanya setelah dia mendapat kepuasan dia langsung menemani adiknya dan katanya langsung tidur.

Hari ketiga, yang kebetulan jatuh pada hari Senin, Karina memaksa pulang, karena dia mendapat telepon dari kantornya bahwa ada masalah yang harus ditangani. Anehnya aku tidak boleh pulang, menunggu sampai si Melody pulang. Padahal aku juga ingin menyelesaikan pekerjaan juga. Namun Karina marah beneran ketika aku memaksa juga ingin pulang.

Aku berkilah, kenapa bukan mama yang datang menemani Stefani, kan mama tidak kerja, begitu desakku. Mama kata Karina sedang ke Paris bersama rombongan teman-temannya. Aku agak bingung, karena dipaksa tinggal bersama Stefani. Maksudku apa Karina tidak khawatir jika nanti adiknya aku “garap”. Atau apakah dia sengaja mengumpan adiknya untuk aku “ makan”. Dua pertanyaan itu tidak bisa kutanyakan terang-terangan ke Karina. Apalagi dia sudah cemberut saja dan begitu taksi datang, tanpa banyak basa-basi dia terus bablas ke airport

Di tinggal Karina, aku jadi tidak tahu harus bagaimana. Pagi itu aku buru-buru mandi dan langsung membuat sarapanku sendiri, roti berlapis selai. Sementara itu Stefani yang tadinya agak cuek, kok jadi berbalik bermuka manis. Aku membatin dalam hati,” apa aku kuat menahan diri berdua dengan remaja cantik di apartemen ini”

Stefani kuliah di Singapura. Aku lupa dia ambil jurusan apa. Yang kuingat, pagi itu dia mengenakan rok mini, yang sangat mini sehingga paha putih yang gempal jadi kelihatan sangat memikat lelaki. Andai saja dia membungkuk sedikit, maka celana dalamnya akan kelihatan.

Ah aku jadi alay, Di Singapura remaja umumnya berpakaian seperti itu. Jadi pakaian Stefani ya normal saja sebetulnya. Stefani minta aku antar ke kampusnya. Aku tidak bertanya kenapa mesti diantar segala, emang biasanya kan jalan sendiri.

Aku turuti saja kemauannya. Kami berjalan berdua menuju stasiun MRT. Sepanjang jalan Stefani menggandengku. Sebetulnya dia tidak menggandeng tapi nglendot. Jadinya susunya yang kenyal berkali-kali menekan lenganku. Dari pengalamanku di dunia persilatan lendir, cewek yang besikap seperti ini biasanya sudah tunduk dan mau diapakan saja. “Ah masak Stefani begitu sih, kan aku baru akrab dan belum banyak berbicara dengan dia,” kata ku dalam hati.

Kalau bisa aku nikmati dan memang sedap kenapa harus banyak pertanyaan, ya sudahlah rasakan saja. Begitulah akhirnya aku bersikap. Sampai di kampusnya, eh Stefani malah mengenalkan aku dengan teman-temannya. Berkali-kali aku bersalaman. Setelah itu aku dilepasnya, dan dia masuk kelas.

Belum sehari aku sudah bingung melihat sikap adik si Karina. Dari kampusnya aku jalan-jalan dan nongkrong di sekitar Orchad road sambil cuci mata. Pemandangan memang indah, karena banyak yang bening-bening melintas. Namun lama-lama bosan juga. Mau masuk mall juga bosan. Akhirnya aku putuskan menuju stasiun MRT terdekat untuk kembali ke apartemen. Paling tidak aku bisa tidur bermalas-malasan.

Belum sampai stasiun MRT, HP bergetar. Karina mengabarkan bahwa dia sudah sampai kantor. Dia berpesan, agar aku jangan pulang ke Jakarta sampai si Melody kembali dari Cina. Kenapa ya Karina khawatir sekali jika aku meninggalkan Stefani sendirian.

Rasanya ingin sekali menghisap sebatang rokok. Kulihat di taman ada bapak-bapak sedang asik mengisap rokok sambil membawa asbak kecil. Aku bergabung dan karena aku tidak punya asbak, aku numpang asbaknya. Untung dia berbaik hati dan mempersilakan aku menggunakan asbaknya.

Rasanya lebih nikmat merokok di Singapura dari pada di Jakarta. HP ku bergetar lagi. Di layar muncul nama Stefani. Mau apa lagi anak ini, batinku. Dia mengabarkan sudah selesai kuliah karena beberapa mata kuliah pindah waktunya. Stefani ingin menyusulku. Aku dimintanya menunggu saja di tempatku merokok. Dia kenal benar sudur-sudut Orchad.

Sekitar setengah jam kemudian Stefani muncul dari arah stasiun. Begitu melihatku dia berlari-lari kecil lalu menubrukku dan mencium pipiku. Dia bersikap seolah-olah kami sudah lama tidak bertemu. Padahal belum ada 4 jam berpisah.

Kami mencari makan siang. Aku mengusulkan makan makan noddle duck, dia setuju. Habis makan kami kembali ke apartemen. Mataku agak ngantuk sehingga yang paling kuinginkan adalah tidur.

Berkaus oblong, celana pendek, aku melesat ke dalam selimut di kamarku. Udara AC di apartemen ini sangat dingin. Mungkin tidak sampai 5 menit aku sudah tertidur. Entah berapa lama tertidur aku terbangun karena merasa ada gangguan. Stefani sudah berada disisiku. Dia memelukku dan menciumi wajahku.

“Wah anak ini cari perkara,” kata ku dalam hati.

“ Kak aku suka ama kakak,” katanya.

“Aku kan pacar kakakmu,” kataku.

“Biarin aja, pokoknya aku suka ama kakak,” dia mendesak.

Semula aku pasif saat dia menciumi pipiku. Hembusan nafasnya terasa memburu. Ini pertanda dia sedang naik nafsunya. Puas menciumi pipiku dia merambah mulutku dan langsung menangkupkan mulut kecilnya ke mulutku. Lidahnya dia permainkan masuk ke dalam mulutku.

Aku tidak bisa berdiam diri maka kutarik dia menindih tubuhku dan kami berciuman hangat. Aku merasa ciuman Stefani ganas sekali. Dia menarik tubuhku sehingga aku berada diatasnya. Aku melepas ciuman di mulut dan aku jilati telinganya lalu leher dan terus ke bawah. Tanganku serta merta mencari sasaran gundukan kenyal di dadanya.

Dia tidak menghindar ketika tanganku meremas gundukan itu dari luar kaus oblongnya. Terasa di tanganku bahwa gundukan empuk itu tidak mengenakan BH. Tanganku menelusup dari bawah kausnya menjangkau gundukan kenyal. Stefani malah membantu dengan mengangkat kausnya sehingga terpampang kedua susunya yang lumayan menggunung. Putingnya belum sempurna berkembang, tetapi teteknya telah membengkak cukup besar.

Aku jilati kedua putting kecil itu sampai Stefani mendesah-desah. Tugas tanganku sudah diambil alih oleh lidah, sehingga tangan mencari sasaran lain yang lebih penting. Celana pendeknya aku dorong kebawah sekaligus dengan celana dalamnya. Terasa jembutnya yang cukup lebat menutupi belahan memeknya.

Posisi celananya belum terbuka penuh masih berada di pahanya, jariku sudah masuk kecelah-celah belahan memeknya. Belahan memeknya masih rapat tetapi sudah terasa licin karena lendir yang meleleh keluar dari lubang vagina.

Dengan jariku, aku memainkan itilnya. Stefani makin seru merintih.Celananya dia buka sendiri juga kausnya sehingga bugil sepenuhnya. Aku menjilati perutnya dan perlahan-lahan turun ke bawah sampai ke selangkangannya. Tanpa merasa risih dan malu Stefani sudah mengangkang selebar mungkin. Dia mengerti aku bertujuan menjilati memeknya.

Jembut yang lebat memuat sebagian masuk ke dalam mulutku. Setelah aku sibak kedua sisi memeknya tampak belahan merah muda dengan tonjolan diatas yang sudah mencuat. Itilnya sudah keluar dari sarang. Aku melumat itilnya sampai dia melonjak-lonjak. Aku tidak tahu apakah karena dia merasa geli atau kenikmatan yang sangat, sehingga dia mengangkat-angkat pinggulnya.

Aku jilati terus sampai akhirnya dia minta aku berhenti dan kepalaku ditekan sekuat-kuatnya ke memeknya yang sedang berdenyut-denyut. Lepas itu aku ditarik keatas. Kausku dibukanya dan celanaku dia tarik sampai akhirnya aku juga bugil. Aku didorong sehingga telentang. Penisku mengacung tegak, karena sudah full ereksi.

Di genggamnya sejenak, dikocok lalu dia melumat penisku. Permainan oralnya sudah cukup mahir. Dari situ aku menduga dia sudah jebol perawannya. Tidak terlalu lama dia mengoralku lalu bangkit dan mengarahkan batang penisku memasuki lubang kemaluannya yang sudah licin. Tanpa halangan berarti, penisku masuk sepenuhnya. Stefani berinisiatif bergerak sendiri mengejar puncak kenikmatan.

Cengkraman memeknya lumayan nikmat. Dia melakukan gerakan seperti sudah terbiasa berhubungan sex. Aku bisa bertahan karena aku pasif di bawah. Sementara itu Stefani terus memacu dengan mendesah-desah. Dia ambruk ke dadaku dan nafasnya memburu seperti habis marathon. Dibawah sana memeknya seolah-olah sedang memijat-mijat penisku karena denyutan orgasmenya.

Dia memuji bahwa kontolku rasanya nikmat sekali. Aku tidak bertanya emang biasanya pakai kontol siapa. Buat apa aku bertanya hal-hal konyol begitu. Yang penting enjoy aja. Udah dapat makan yang enak kok tanya resepnya apa, bahannya beli di mana dan sebagainya. Bisa-bisa jawabannya membuat kecewa.

Aku melanjutkan permainan dengan berada di atasnya. Akulah yang menggenjotnya sekarang. Memeknya makin terasa mencengkeram. Desahan dan reaksi tubuhnya membuatku jadi sangat terangsang sehingga akhirnya aku tidak mampu bertahan dan lupa daratan pula sehingga melepas jutaan benihku di dalam memeknya. Pada saat itu rupanya dia belum sampai, sehingga dia menggerakkan pinggulnya menggeser-geser penisku yang baru saja melepas sperma. Rupanya dia tidak terima aku mencapai finish duluan. Stefani berusaha bergerak terus sampai akhirnya dia finish juga dengan teriakan panjang sebagai tanda puncak kepuasan.

Kami berdua kelelahan dan tergeletak tidur begitu saja. Dengan tetap bugil kami berdua berselimut bersama. Stefani memelukku sampai dia tertidur dan akupun sudah tidak mampu lagi menahan kantuk.

Aku bangun dengan perasaan lega. Mani dan cairan sudah mengering di tubuhku, rasanya lengket. Aku bangunkan Stefani yang masih agak malas bangun. Karena terasa kebelet kencing aku tinggal dia yang tetap tergolek di ranjang. Aku masuk kamar mandi dan melepas hajat kecilku di toilet. Aku melanjutkan dengan mandi dengan shower air hangat. Tidak lama kemudian muncul Stefani sambil mengucek-ucek matanya. Dia pun kebelet pipis. Suara desiran pipisnya nyaring sekali mengalahkan suara shower.

Dari kamar masuk ke kamar mandi Stefani santai sambil tetap bugil. Selepas hajat kecilnya terlampiaskan dia bergabung denganku mandi sambil membasahi rambutnya. Kami berangkulan sambil menikmati guyuran air hangat.

Stefani mempermainkan penisku yang sedang loyo dan aku meremas-remas buah dadanya yang tegak menantang. Stefani mewarisi tetek ibunya yang besar, Karina sebetulnya juga besar. Jembutnya lebat tetapi belahan memeknya ada gelambir kecil, seperti kakaknya dan juga ibunya.

Stefani manja sekali, sampai mengeringkan badannya pun dia minta aku yang melakukan. Aku dan Stefani mengenakan kimono dan tidak mengenakan apa pun di dalamnya. Dari jendela apartemen aku menikmati pemandangan kota yang mulai redup dan lampu-lampu mulai menyala.

Malam ini kami malas keluar cari makan. Stefani minta pizza yang bisa di antar. Semua AC kami matikan sehingga dinginnya ruangan agak berkurang. Dua potong pizza cukup mengganjal. Sehabis pizza, hidangan berikutnya adalah melumat mulut. Itu gara-gara Stefani yang duduk di pangkuanku lalu memancing-mancing menciumiku.

Permainan itu berlanjut sampai akhirnya kami kembali telanjang bulat. Stefani minta “main” di sofa. Dia katanyanya ketagihan rasa kontolku. Ada-ada saja komentarnya. Entah berapa kali dia mencapai kepuasan sementara aku baru mencapai ejakulasi ketika permainan berlanjut dikamar Stefani.

Malam itu aku bertempur hampir sepanjang malam. Jika tidak salah ingatanku aku sampai 7 kali ejakulasi, sementara Stefani sudah tidak kuhiraukan lagi berapa kali dia mencapai puncak kenikmatannya.

Aku merasa, Stefani lebih maniak dibanding kakaknya atau mamanya. Dia minta terus malam itu, meski pun katanya badannya sudah letih. Aku dan dia malam itu jadi kurang tidur tapi kelebihan ngentot.

Paginya Stefani tidak sanggup bangun pagi, dan dia bolos kuliah, karena badannya rasanya lemes sekali. Meski begitu habis sarapan pagi, paginya jam 10 juga sih. Stefani sudah minta dientot lagi. Ada saja caranya untuk membangkitkan nafsuku dan menegakkan penisku. Untungnya aku masih mampu memenuhi permintaannya. Rasanya aku hanya mengeluarkan sperma beberapa tetes saja akhir-akhirnya. Produksinya tidak mampu mengejar output.

Siang kami tetap tinggal di apartemen dan Stefani menelepon restoran mi pangsit ayam. Ketika pesanan tiba sebetulnya aku sedang “bermain” lagi. Stefani bersembunyi di kamar dan aku menyambar kimono membayar pesanan.

Aku ingin membuat sensasi yang mudah-mudahan akan diingat Stefani selamanya. Kami ngentot dengan posisi duduk berhadapan. Penisku masuk ke vaginanya dan kakinya diatas kakiku merangkul pinggangku. Kotak mi ayam aku letakkan diatas pangkuan kami. Posisi kotak mi itu berada diatas pertemuan kedua kelamin. Kami makan sambil kontolku masuk di dalam memeknya. Satu kotak kami makan berdua menggunakan sumpit. Setelah habis ganti kotak yang lain sampai ludes. Untung penisku tetap mengeras, sehingga tidak copot.

Stefani tertawa geli atas posisi kami menikmati makan siang mie diatas sambungan memek dan kontol. Setelah minum, permainan dilanjutkan lagi sampai kami berdua terkapar.

Begitulah selama aku berada di singapura menemani Stefani. Sebenarnya lebih tepatnya bukan menemani, tetapi memuaskan hasrat sex adik si Karina. Meski Karina sering meneleponku, tetapi dia tidak sedikitpun menyinggung soal hubunganku dengan Stefani. Mama Margareth juga begitu. Padahal sepantasnya mereka tahu bahwa aku tidak mungkin tidak ngesex dengan Stefani.

Melody pulang lebih cepat dari jadwalnya. Pagi-pagi pesawatnya sudah mendarat di Changi. . Melody bercerita bahwa di Cina akan ada badai, sehingga kepala rombongan memutuskan untuk memperceepat kunjungan ke Cina.

Aku merasa gembira karena berarti aku bisa pulang pada hari itu juga. Nyatanya Stefani mati-matian menahanku sehingga aku diperbolehkan pulang Senin pagi. Itu berarti aku harus extend 5 hari lagi. Melody pun ikut-ikutan menahanku. Aku tidak berdaya menembus pertahanan mereka. Aku coba menelepon Karina, eh dia malah nyarani aku tambah barang sehari lagi sehingga aku balik hari selasa. Ah Karina ternyata lebih gila.

Aku tidak putus asa, lalu mencoba menelepon mama Margareth. Ini mamak sama aja dengan anaknya. Aku diminta tetap di Singapur dulu. Jujur saja aku sudah jenuh dengan suasana Singapura yang terkesan hidupnya monoton, Kalau soal sex, meski tidak main dengan stefani, toh di Jakarta ada Karina dan mama Margaerth yang sudah berpengalaman.

Aku agak jaim terhadap Melody. Masalahnya aku beda umur cukup jauh. Kami sepakat akan makan malam diluar. Siang itu kami makan masing-masing. Stefani tidak bisa meninggalkan kampusnya dan Melody pergi ke mall dekat apartemen mau ketemuan sama temen-temennya membahas paper yang akan mereka tulis hasil study tournya. Aku cari makan siang di dekat apartemen lalu balik dan mendengkur.

Aku terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Apartemen masih sepi, penghuni lainnya belum pulang. Sambil menunggu mereka aku ingin merendam diriku di dalam bath tub yang berisi air hangat.

Kontolku ngaceng akibat terendam air hangat. Aku tiduran menikmati air yang ku atur makin lama makin panas. Sampai suhu yang kurasa nyaman kuhentikan pengisian airnya. Sambil tiduran aku berkhayal membayangkan betapa nikmatnya hidupku, ngentot banyak sasaran, perut gak pernah lapar, duit gak terlalu mikir, kontol dipuji-puji cewek. Apalagi yang kurang dalam hidupku.

Aku terkejut, karena muncul sosok Melody yang sudah bugil bergabung ke dalam bak tempatku berendam. Apa lagi maunya anak ini. Masak umur 13 tahun juga minta di entot sih. Tapi penisku jadi makin ngaceng dan keras.

Melody bergabung dan dia telungkup diatas ku yang posisiku membujur telentang. Tidak dapat terhindar penisku menyundul-nyundul tubuhnya mungkin juga memeknya. Teteknya menempel di dadaku dan rasanya kenyal sekali.

Posisi Melody telungkup di atasku rupanya agak sulit dia pertahankan, sehingga dia mengubah posisi jadi telentang di atasku. Tanpa menunggu peluang berikutnya kedua tanganku lalu menggenggam buah dadanya. Teteknya masih keras dan kenyal sekali, Belum terlalu besar, tetapi cukup penuh di dalam tangkupan telapak tanganku. Pentilnya masih kecil sekali. Kuraba ke bawah diantara kedua pahanya terasa masih sedikit bulu yang tumbuh.

\ Aku meremas-remas memeknya yang montok dan belahannya masih rapat. Itilnya kuraba, dia mengeluh kegelian, ketika jari tengahku menemukan letak itilnya. Kami lalu berciuman sambil saling meraba dan meremas. Melody tanpa canggung meremas penisku yang sudah keras seperti kayu.

Rasanya tidak perlu terlalu lama berendam, karena birahiku sudah makin memuncak. Aku bangkit dan meraih handuk lalu mengeringkan tubuhku seterusnya tubuh Melody yang kuseka. Lepas itu Melody langsung aku gendong menuju tempat tidur. Aku memulai dengan menjilati pentil teteknya yang masih kecil, tapi sudah mengeras. Penasaran dengan memek anak di bawah umur, aku mencoba membukanya dan terlihat pemandangan menakjubkan. Belahan memek yang masih sempit dengan lubang vagina kecil. Penasaran juga aku ingin tahu apakah selaput daranya masih ada apa sudah jebol. Lubang vaginanya aku buka lebar. Dia mengeluh perih, tapi aku tetap membukanya. Terlihat lubang vaginanya tetapi di dalamnya tidak terlihat ada selaput putih yang menghalangi. Penampakan ini mengesankan dia sudah tidak virgin lagi.

Aku kembali ketujuan semula menjilati itilnya. Melody kegelian dan dia bukannya merintih atau mendesah malah tertawa karena merasa geli saat itilnya aku jilat. Ini membuatku kurang nikmat sehingga aku mau langsung saja menancapkan penisku ke lubang memeknya.

Perlahan-lahan kutuntun penisku memasuki lubang kenikmatan. Melody mengernyit dan minta aku pelan-pelan. Meski lubangnya ketat, tetapi penisku bisa terus masuk tanpa halangan sampai akhirnya terbenam habis.

Dia mengaku masih agak sakit, Aku jadi menggoyangnya perlahan-lahan. Makin lama gerakan penisku maju mundur makin lancar karena lubangnya juga makin licin. Melody sudah tidak mengeluh sakit. Tapi dia tidak memberi respon nikmat seperti umumnya perempuan kalau dientot.

Lubangnya sangat ketat, meski sudah tidak perawan lagi. Untung aku cukup kenyang ngentot selama ini sehingga bisa bertahan terus. Setelah 5 menit aku genjot, Melody mulai bereaksi. Dia mendesis-desis dan diluar kesadarannya dia jadi merintih dengan irama cewek yang sedang merasa nikmat di ewek.

Aku makin bersemangat karena kemudian dia menjerit lirih ketika memeknya kurasa berdenyut-denyut. Ternyata, anak di bawah umur bisa juga mendapat orgasme. Padahal tadinya aku menyangka anak seusia Melody ini belum bisa menikmati senggama.

Memeknya makin licin tapi tetap mencengkeram. Aku makin laju memainkan penisku di lubangnya.rasa nikmat sudah mulai menjalari tubuhku menandakan sebentar lagi aku akan orgasme. Aku genjot terus menjelang orgasme, melody memelukku erat sekali. Rupanya dia mendahului mencapai orgasme. Denyutan memeknya menimbulkan nikmat sehingga akhirnya aku pun memuncak dan memuntahkan spermaku yang jumlah tidak banyak lagi.

Melody memanggilku “kak”.Kak nikmat sekali main sama kakak. Aku belum pernah merasakan kenikmatan kayak gini. Harusnya aku tanya “lu ngentot sama sapa aja”. Tapi kutahan saja keinginan tahu ku. Mungkin suatu saat aku bisa tahu tanpa harus bertanya.

Aku terkejut bangun ketika selimut dibuka tiba-tiba. Padahal aku dan Melody masih dalam keadaan bugil di bawah selimut itu. Rupanya Stefani sudah datang bahkan dia sudah bugil dan langsung menerkamku. Dia tidak peduli bahwa aku habis ngentot adiknya dan tidak peduli ada adiknya berbaring disampingku, tapi dia langsung minta penisku dimasukkan ke dalam lubang memeknya.

Tentu saja penisku belum ready. Stefani giat mengulum penisku sampai akhirnya berdiri juga dan layak menancap di lubang memeknya. Stefani langsung menderaku dengan laju memaju mundurkan penisku di dalam lubang kenikmatannya. Dia mendapat orgasme pertama, namun kelihatannya dia masih menginginkan lagi, maka dia memacu tubuhnya di atas tubuhku lagi sampai kembali mencapai kepuasan.

Aku bukan ingin membanggakan diri kuat bersetubuh, tetapi karena sudah terlalu kenyang “bermain” makanya persaaanku menjadi kebal dan mampu bertahan lama. Dua kali mendapat orgasme, Stefani tidak mampu meneruskan permainan. Dia rebah disampingku tidur telentang sambil terengah-engah. Aku ciumi dia sampai akhirnya dia terlelap tidur.

Melody yang dari tadi menyaksikan aksi kakaknya bermain dengan ku, mungkin birahinya bangkit. Dia menarik tubuhku agar menindih tubuhnya. Aku paham, Melody minta aku bermain dengan dia. Ketika aku sudah diatas tubuhnya Melody tangannya menangkap penisku lalu dia arahkan memasuku lubang memeknya yang ternyata sudah licin. Dengan mudah penisku masuk perlahan-lahan. Aku mengenjotnya tidak terlalu cepat, tetapi dengan kecepatan tetap.

Melody tidak terlalu lama dia sudah mendapatkan orgasmenya, dia lebih cepat meraih puncak kepuasannya dibandingkan pertempuran yang pertama tadi. Mungkin perempuan adalah kebalikan dari pria. Jika pria main di ronde kedua dan selanjutnya maka, orgasmenya akan makin lama tercapai. Sebaliknya perempuan malah makin cepat mendapat orgasme setelah mendapat orgasme yang pertama.

Setelah kedatangan Melody, aku harus melayani nafsu sex mereka berdua. Badanku terasa agak lelah, karena setiap hari berpacu sex dengan kedua cewek itu, Untungnya aku bisa mengimbangi olah raga dengan berjalan-jalan seputar Singapura.

 

***

Keluarga Free X (3)

Keluarga Free X (3)

 

By Jakongsu

Ketika aku kembali ke Jakarta, Karina sudah menunggu, karena cukup lama dahaganya tidak terpenuhi. Mama Margareth juga minta jatah. Siang malam aku bertempur dengan mereka berdua. Mama Margareth tidak sebuas Karina, maka aku bisa agak santai menghadapi mamanya.

Aku lebih sering tinggal di rumah Karina dari pada tidur di kamarku sendiri. Pekerjaanku memang agak terbengkalai. Namun aku membangun sistem baru sehingga aku bisa bekerja tanpa harus setiap saat ke kantor. Di samping itu ada beberapa pekerjaan dari papa Karina yang diserahkan pengurusannya kepada ku.

Papa Karina suatu hari mengutusku ke Bangkok untuk mewakili dirinya bertemu clientnya di sana. Ada beberapa proyek yang harus di negosiasi dengan clientnya di Bangkok. Mengetahui aku akan ke Bangkok, 3 hari, Mama Karina mengatakan dirinya mau ikut.

Sebenarnya pengikut mengikuti jadwal yang diikuti, bukan malah mengubah rencana. Tapi bukan begitu yang terjadi. Mama Margareth membuat rutenya sendiri, sehingga perjalanan menjadi Jakarta – mampir Singapura semalam – Bangkok 2 hari 1 malam – kembali lagi mampir semalam di

Singapura – baru kembali ke Jakarta.

Biasanya aku hanya menggunakan tiket kelas ekonomi, tetapi karena si Mama ngikut maka berubah menjadi tiket first class dan hotel di Bangkok menjadi suite room. Itu semua yang mengatur Mama Margareth dan si Papa tidak bisa menolak.

Kami terbang pagi dari Jakarta untuk mengejar makan siang di Singapura. Mama malah sudah book seat di restoran Sanur, yang terkenal gulai kepala ikan dan tahu telornya. Kami tiba di Singapura tidak dijemput, karena anak-anak masih sibuk dengan sekolahnya. Mereka berjanji ketemu di restoran Sanur.

Dari airport, menggunakan limousine kami berdua menuju ke apartemen anak-anak. Masih cukup waktu untuk meletakkan koper dan istirahat sebentar. Setiba di apartemen, Mama Margareth mau mandi, karena tadi pagi tidak sempat mandi, takut kesiangan tiba di airport. Maklumlah mandi dan dandannya lama sih.

Aku raih remote TV lalu santai di sofa menyaksikan siaran olah raga. Mama Margareth keluar dari kamar anak-anak hanya mengenakan kimono, tetapi bagian depannya tidak ditutup, sehingga harta karunnya terlihat. Dia seharusnya masuk kamar mandi yang ada di dalam kamar, tetapi malah menghampiriku yang sedang mulai ngantuk di sofa. Mama duduk dipangkuanku dengan manja dan berbisik bahwa dia minta dimandiin.

Aku tidak bisa menolak permintaannya, dan aku menduga, urusan tidak hanya selesai masalah mandi, tetapi mesti ada kelanjutannya, sehingga mandinya tidak cukup sekali. Rasa ngantuk terpaksa harus dilawan dan aku bangkit menuju kamar mandi di dalam kamar Stefani dan Melody. Sebelum masuk kamar mandi, seluruh pakaianku dilucuti oleh Mama.

Untuk mempersingkat urusan mandi, kami menggunakan shower. Aku membasuh seluruh tubuh mama dan tentunya meremas kedua susunya dan mengobel belahan memeknya. Sampai saat itu penisku belum berdiri, mungkin karena semalam habis bertempur 2 ronde dengan Karina di Jakarta.

Dibawah guyuran shower mama jongkok lalu mengisap penisku yang masih lemas. Di hisap dan dijilati kantong zakarku yang akhirnya menimbulkan nafsu birahi. Penisku perlahan-lahan mulai terisi, sampai akhirnya penuh juga. Mengetahui penisku sudah standby, mama manarikku. Dia bersandar di dinding lalu meraih penisku untuk dimasukkan ke sarangnya. Diangkatnya salah satu kaki untuk memudahkan penisku masuk ke memeknya. Aku ikuti kemauannya dan aku mulai mengayuh. Hampir 10 menit, lututku terasa gemetaran dan rasanya tidak kuat berdiri terlalu lama. Mama rupanya juga lelah juga.

Dia mengajakku pindah bermain di tempat tidur. Mama langsung telentang dan membuka kedua kakinya lalu dia tekuk. Lubang memeknya terlihat menganga siap melahap penisku. Tanpa aku tuntun penisku langsung bisa masuk. Aku genjot agak lama juga, sampai mama sampai ke tujuan titik kepuasan tertinggi. Entah apa yang diteriakkannya ketika orgasmenya tercapai. Sementara itu orgasmeku rasanya masih jauh.

Aku menyudahi permainan. Mama menciumiku dan menyatakan puas sekali bermain denganku. Seumur hidupnya dia belum pernah mendapat laki-laki yang mampu memuaskan dalam setiap permainan. Akhirnya kami mandi sekali lagi lalu mengenakan baju dan tak lupa menyemprrotkan parfum.

Waktu yang tersisa sekitar 20 menit lagi, dan kami harus tepat tiba di restoran, karena waiter di telepon sudah berpesan, jika 10 menit telat, maka tempatnya akan diberikan orang lain. Kami berjalan cepat menuju stasiun MRT yang kebetulan tidak jauh. Tiba di stasiun tujuan tidak sampai 5 menit dan sekitar 10 menit kemudian kami sudah sampai di restoran. Tepat waktu dan kami diarahkan ke seat yang sudah disiapkan. Baru saja duduk telepon dari Stefani sudah masuk, dia mengabarkan sudah sampai di lantai bawah mall tempat restoran itu berada, sedang Melody baru turun dari MRT.

Acara makan siang usai, si mama mengajakku jalan-jalan ke mall. Sesungguhnya aku bosan berkeliling-keliling mall, tetapi karena putri raja yang mengajak, mana bisa aku bantah. Mama membelikan ku beberapa stel baju dan celana dari merk-merk terkenal. Duit mama banyak banget, karena beli barang-barang mahal begini kelihatannya gak ngitung.

Dia lalu tanya aku apakah aku mau dibelikan jam. Mulanya aku tolak, karena merasa jam tanganku masih keren. Tapi mama maksa untuk membelikan jam baru. Aku sebetulnya malas ganti-ganti jam.

Kaget dan takjub aku dibuat mama, dia menggiring ku masuk ke toko jam khusus Rolex, aku tidak bisa mengusulkan pilihan, semua kemauan mama harus aku turuti. Sebuah jam tangan keluaran terbaru yang kulirik harganya setara dengan dua buah Toyota Inova. “sampai kapan pun, aku tidak mungkin mau membeli jam seperti ini dari uang ku sendiri,” kataku membatin. Mungkin itulah imbalan dari kepuasan sex yang aku berikan kepada mama.

Setelah puas berkeliling mall, kami berempat pulang ke Apartemen. Sebelumnya mampir dulu ke gerai restoran untuk membeli makanan take away yang akan menjadi makan malam kami di apartemen.

Sesampai di apartemen aku segera ganti baju di kamarku sendiri, sementara Mama, Stefani dan Melody sedang sibuk dikamar mereka membongkar belanjaannya. Aku berbaring dan ngantuk pun datang.

Nikmat sekali rasanya bisa tidur begini saat orang lain sedang sibuk di kantor bekerja seperti diuber setan.Saking pulesnya tidur, sampai aku tidak sadar jika aku ditelanjangi. Aku terbangun karena merasa dinginnya ruangan kamar. Ketika mataku terbuka, aku kaget juga karena di sekelilingku sudah hadir Stefani, Melody dan Mama dan yang membuat kantukku hilang sama sekali, karena mereka semua bugil.

Aku langsung membatin bahwa aku akan berperang melawan 3 musuh dalam waktu yang bersamaan. Mama tanpa basa-basi langsung menduduki mulutku, dia minta aku mengoral itilnya, Stefani sudah bekerja di penisku menjilati dan menghisap, sedang si bungsu berbaring disebelahku sambil tangannya memegang tanganku dan mengarahkan agar tanganku memainkan memeknya.

Aku bingung mana yang harus aku nikmati, semua perlu kosentrasi. Aku jalani saja tugas yang ada di depanku dan apa yang bisa dinikmati yang aku nikmati, Ketika merasa nikmat kontolku dijilat, maka jilatanku dan kobelanku jadi terhenti, setelah itu kembali membagi perhatian antara kerja lidah dengan kerja tangan mengobel.

Nampaknya jilatanku dirasakan oleh mama sebagai jilatan maut, karena dia mendesah-desah. Sementara itu si Stefani sudah tidak lagi menjilati kontolku dia malah memasukkan penisku ke vaginanya. Stefani mencari sendiri sudut kenikmatan bermain dengan penisku. Rasanya dia berhasil menemukan, sebab dia merintih-rintih. Mama duluan orgasme lalu si Stefani kejang-kejang kena orgasmenya sendiri.

Setelah mereka tidak lagi menindihku, aku bangkit dan langsung menghela Melody. Penisku kutanam ke memek yang masih agak jarang rambutnya dan segera aku menggenjotnya. Melody rupanya sudah setengah jalan setelah aku kobel tadi. Dia merintih seperti menangis. Anak semuda dia sudah bisa merintih menikmati alunan sex, berarti dia benar-benar merasai kenikmatan di pusat birahinya. Makin lama rintihannya makin keras sampai di titik puncaknya di menjerit mengejutkan semua orang. Melody mendapatkan orgasme terbaiknya, lalu mememelukku erat sekali. Suara dan desahan selama dia kugenjot membangkitkan nafsuku, ketika dia mencapai orgasme aku makin terangsang mendengar jeritan nikmatnya. Penisku tidak mampu membendung lahar panas dari dalam ketika dipijat oleh otot vagina Melody yang menyamai orgasme. Jadilah kulepas ejakulasiku di dalam memek kecil si Melody.

Kami berempat terkapar puas dan lemas. Seperti biasa jika mencapai kepuasan sex, mata jadi mengantuk. Maka kami berempat tidur bergelimpangan tidak menentu dalam keadaan bugil tapi berselimut tebal.

Betul juga perkiraan mama, malam itu kami sama sekali tidak bergairah keluar makan malam, apalagi candle night dinner. Lebih enak makan yang kami beli tadi siang lalu dipanaskan microwave. Makan malam kami lebih nikmat lagi, karena dilakukan secara bugil. Mama yang bikin gara-gara. Dia melarang kami mengenakan baju, bahkan secuil celana dalam pun dilarangnya.

Melody yang paling manja. Dia duduk dipangkuanku sambil minta didulang. Penisku saat itu tidak berdiri, mungkin kalau ngaceng, atas bawah mulutnya aku bisa suapi. Yang atas disulangi makanan yang bawah dijejali sosis.

Selesai makan kami ngobrol sambil menonton tv di ruang keluarga, juga masih telanjang. Setelah bosan akhirnya kami masing-masing masuk kamar. Melody dan Stefani masuk kekamarnya, si mama memilih tidur satu bed denganku. Dia minta dipijat, karena badannya lelah.

Mama memang benar-benar minta pijat, karena dia sudah telungkup lalu meminta aku memijati seluruh tubuhnya. Sekitar satu jam aku pijat sambil ngobrol, akibatnya penisku jadi ngaceng. Namun tubuhku tidak sejalan dengan semangat penisku. Penisku kekar, badanku lemas. Usai memijat, aku tidur telentang dan menarik selimut tidur satu selimut dengan mama. Tangan mama meraih penisku, dia terkejut mendapatkan penisku ngaceng. Dia menawari “Main” tapi aku menolak karena badanku lelah.

Mama tidak putus asa dan berjanji tidak akan meminta diriku berperan, cukup telentang santai saja, semuanya mama yang akan bermain. Aku pasrah. Mama mulai dengan oral. Hisapan mulutnya memang maut sekali nikmatnya. Hampir sejam dia mengoralku, tak kunjung berhasil membuatku ejakulasi. Memeknya yang sudah berlendir lalu dia adu dengan penisku. Mama bermain dengan gerakan berbagai gaya, sampai dia sendiri yang syur dan orgasme. Mungkin ada 3 kali dia mencapai orgasme, tapi aku tidak kunjung muncrat juga. Akhirnya mama menyerah dan memilih tidur memelukku.

Ke esokan pagi kami sudah bersiap untuk terbang ke Bangkok. Tiba di Bangkok aku chek in dikamar yang telah dipesan mama, lalu membuat janji dengan client papa untuk bertemu. Dia mengundangku ke kantornya dan menyarankan agar segera saja berangkat, karena lalu lintas di bangkok macetnya parah. Mama memilih tinggal dikamar menungguku balik.

Jam 3 sore aku selesai dan masalah yang seharusnya dua hari diselesaikan, akhirnya selesai dalam satu kali pertemuan itu. Aku dan client papa sama-sama puas kami bersalaman erat sekali karena puas pembicaraan menghasilkan suatu solusi yang sangat baik.

 

Aku kembali ke kamar, mama masih berada di kamar. Kesempatan beristirahat seharian, katanya. Malam itu kami mencari tempat makan malam yang romantis. Aku berdua duduk di restoran sambil menikmati hidangan lezat khas Bangkok.

Dari tempat dinner kami sempat mampir menonton atraksi sex, yang disitu populer disebut tiger show. Setelah puas kami kembali ke hotel untuk istirahat.

Seperti yang dipersyaratkan mama, jika tidur malam, setelah bersih diri, maka diharuskan tidak mengenakan pakaian apa pun untuk masuk ke dalam selimut. Aku dan Mama tidur dalam satu selimut dan kami berdua telanjang bulat di dalamnya.

Andai saja aku tidak terlalu sering melakukan hubungan badan, pada situasi seperti ini, pasti penisku akan tegak berdiri. Tetapi kali ini, penisku tidur anteng, meski pun mama tidur memelukku dan mengelus-elus dadaku.

Tiba-tiba mama menyatakan ingin bicara serius denganku. Mau tidak mau aku harus menyatakan siap. Mana mungkin dielakkan. Mama pertama menanyakan keseriusanku berhubungan dengan Karina. Mama dan papa katanya sangat berharap aku menikahi Karina. Jika aku menyatakan ya, maka mama berjanji akan mengungkap rahasia dalam keluarga mereka yang di mata orang, kehidupan mereka aneh.

Aku berpikir sejenak, apa yang aku rasa tidak cocok denganku terhadap Karina. Tidak aku temukan sih. Cuma apakah sudah pantas aku menyandang gelar suami dan mempunyai rumah tangga, lantas tidak bebas lagi, setelah ada ikatan. Kalau tidak bebas, aku tidak tahu apa lagi yang aku inginkan, perempuan mana lagi yang akan diburu dan dimakan. Dan apakah ikatan perkawinan dengan Karina bakal mengekang pergaulanku.

Namun ada yang aku ragu, dan ini harus kutanyakan kepada Mama, sebab sebelum aku meresmikan hubungan dalam pernikahan, nyatanya aku sudah meniduri, mamanya, adik-adiknya. Apakah pantas diriku yang sudah menjelajah itu menjadi suami idaman.

Menurut Mama, masalah kehidupan bebas melakukan hubungan sex dalam keluarga, itu bukan masalah. Sepanjang dua belah pihak menginginkan, tidak ada paksaan, maka hal itu sah-sah saja. Bahkan jika sudah kawin nanti pun, tidak akan ada pembatasan.

Sebelum aku menjawab YA, aku perlu tanya ke mama, mengapa aku jadi pilihan untuk menjadi menantunya. Kata mama, pribadiku cocok dan bisa beradaptasi dengan situasi keluarga mama. Semua anggota keluarga bisa menerima kehadiranku bahkan lebih dari itu, menyukai kehadiranku.

Akhirnya aku menyatakan siap menjadi suami resmi Karina. Mama langsung menciumiku. Wajahnya kelihatan berbunga-bunga. Dia mengatakan sepulang dari Bangkok ini akan mulai disusun rencana pernikahan itu.

Aku lalu menagih mama bercerita mengenai keluarganya. Mama berkata agar aku sabar sedikit.

Dia mengajakku duduk di bed dengan posisi berhadap-hadapan.

Begini ceritanya.

Mama dan papa sebelum menikah sudah melakukan kehidupan sex bebas. Maklum kehidupan di Amerika memberi peluang seperti itu. Papa dan Mama memang memiliki nafsu yang kuat. Mama mengaku bahwa tidak perawan lagi sejak usia 10 tahun. Yang mengambil perawannya adalah ayahnya sendiri. Aku sempat tertegun, tetapi mama datar saja dan tidak merasa bahwa hal itu luar biasa.

Hubungan dengan papanya tidak bersembunyi dari mamanya, sehingga sejak diperawani itu rutin melakukan hubungan dengan papanya. Mama tertarik pada papa, karena mama suka pada pria asia, yang dinilainya sayang istri bertanggung jawab.

Sejak pacaran sampai menikah pun papa dan mama bergabung dengan klub swinger, suatu perkumpulan tukar menukar istri-suami. Setelah Karina lahir, kegiatan swinger jauh berkurang. Bahkan setelah di Jakarta mereka masih punya patner swinger, yang kata mama beberapa adalah pejabat penting. Itulah yang memberi jalan kepada papa, mudah menyelesaikan urusan bisnis, karena pejabat-pejabat itu adalah rekan swinger.

Itulah makanya tidak ada yang tabu bagi keluarga mereka dalam soal sex.

Satu rahasia lagi yang diungkapkan mama adalah bahwa semua anak-anaknya yang memerawani adalah papa sendiri. Itu dilakukan bukan secara sembunyi-sembunyi, karena mama membantu proses pecah dara itu. Anak-anak diperawani setelah mereka berulang tahun ke 12. Penjelasannya mengapa begitu, menurut mama, itu adalah bagian dari sex education. Dengan begitu anak-anak mudah dikendalikan dan bisa bicara lebih terbuka.

Ketika papa masih muda, kemampuan sexnya sangat prima, tetapi setelah tua vitalitasnya turun sekali. Apalagi sekarang, papa sudah susah ereksi karena diabetes yang diidapnya. Itulah makanya Papa menyerahkan kepada ku untuk memenuhi hasrat sex mama. Mama mengaku hasratnya sampai setua ini masih menyala.

Kata mama, semua anak-anaknya sejak diperawani sudah dipasangi kontrasepsi. Oleh karena itu mereka terhindar dari hamil. Melody yang masih di bawah umur pun sudah dipagari oleh kontrasepsi.

Aku benar-benar terhenyak dengan pengungkapkan rahasia di keluarga Mama Margareth. Kenyataan yang kuhadapi ini sungguh menakjubkan, Jangankan melihat, mendengarpun aku belum pernah. Bahkan dapat cerita mengenai keluarga seperti ini aku belum pernah.

Aku memeluk dan mencium mama lalu mengucapkan terima kasih telah diberi kepercayaan menjaga rahasia keluarga mereka. Mendengar itu, mama terisak-isak menangis terharu. Wajahnya aku ciumi lalu mama aku baringkan. Selimut sudah terbuka sehingga tubuh bugil kami berdua terlihat jelas.

Mama sulit menghentikan tangisnya, sebaliknya aku kok malah bernafsu, sehingga tak pelak tanganku mulai meremasi dada mama yang ukurannya XXXL. Kumainkan pentilnya sampai mengeras. Lalu aku jilati dan menghisap serta mengigit lirih. Mama mulai mengeluarkan suara lirih tanda-tanda mulai terangsang. Sesenggukan tangis haru berubah menjadi sesenggukan birahi.

Kedua kaki mama dibukanya lebar-lebar. Aku menangkap bahasa tubuh itu bahwa mama ingin aku rangsang kelaminnya dengan ciuman dan jilatanku. Karena harapan sudah dipancarkan, maka kenikmatan akan muncul jika itu dipenuhi. Aku melakukannya tetapi tidak sampai memberi kepuasan maksimal. Tujuanku hanya menaikkan derajat birahinya saja. Aku menciumi sekitar bibir vagina mengigit pelan dan menarik lalu menjilati. Mama semakin bergairah, tangannya mencengkeram sprei dan kepalanya menggeleng-geleng sambil bersuara irama nikmat.

Aku tidak menyerang clitorisnya. Biasanya inilah titik serangan utamaku. Dalam keadaan sudah semakin hot aku tinggalkan bagian kelamin dan aku mengatur posisi menindih mama dan mengarahkan penisku memasuki lubang kegairahan mam. Perlahan-lahan penisku menguak dinding vagina mama sampai seluruhnya tercelup.

Aku berhenti sejenak lalu melancarkan serangan ciuman di mulut mama. Ketika kosentrasi mama beralih dari bawah ke atas, aku mulai menggoyang penisku maju mundur. Kosentrasi mama pecah dan kembali merasa kenikmatan di vaginanya.

Persetubuhan pasca suasana haru sampai berlinangan air mata tadi memberi dampak kepasrahan total menikmati hubungan kasih sayang. Aku tidak lagi menilai bahwa lubang memek mama sempit atau mencekam. Aku hanya merasa kenikmatan ketika penisku berada di dalam lubang vagina mama yang menyayangiku. Mungkin mama pun tidak terlalu hirau oleh posisi ku mencoblos memeknya. Di bagian mana pun dirasa nikmat karena kepasrahan seluruh tubuh untuk menerima hubungan kasih sayang sudah demikian total.

Hubungan sex seperti ini memberi kenikmatan yang sangat luar biasa. Aku tidak mampu terlalu bertahan. Mungkin hanya 10 menit akhirnya aku menyemprotkan cairan kebahagiaanku. Merasa aku mencapai puncak, rupanya mama pun merasa kenikmatan puncaknya sampai pada titiknya. Bukan karena clitorisnya tergerus, atau g spotnya disenggol tetapi keikhlasanku melampiaskan hasrat sex dilakukan dengan gerakan kasih sayang. Mama lalu menjerit panjang beberapa saat setelah kusemprot cairan panas di dalam vaginanya.

Dapat dikatakan kami mencapai orgasme kami yang sangat bermutu secara bersamaan. Setelah itu kami memagut satu sama lain sampai akhirnya penisku keluar sendiri. Kutarik selimut dan mama langsung memelukku sampai kami tertidur pulas.

****

 

Keluarga Free X (4)

 

Keluarga Free X (4)

 

By Jakongsu

Setiba kembali ke Jakarta segera dipersiapkan pernikahanku dengan Karina. Di singkat saja ceritanya, selesai nikah sebetulnya kami tidak perlu berbulan madu, namun mama yang mengusulkan berbulan madu. Tetapi bulan madunya lain dari pada yang lain, karena bukan hanya aku dan Karina yang pergi berlibur, tetapi semuanya kecuali papa. Pilihan tempat bulan madu adalah satu resort di di Thailand Selatan, di pulau kecil yang sangat terisolir. Resort itu khusus untuk wisatawan yang tidak ingin diganggu liburannya.

Kami berlima menempati villa dua kamar yang dibangun di atas air. Suasananya sangat romantis. Pengunjung resort itu tidak terlalu banyak. Mungkin hanya kami yang tampang Asia, lainnya orang bule. Namun cewenya ada yang orang Thai dan Jepang atau Cina.

Banyak yang bugil bersantai di pantai. Aku seperti Joko Tarub yang dikelilingi para bidadari. Adalah si Mama yang mengusulkan agar kami bugil saja di dalam resort. Kebetulan laut di bawah penginapan tidak terlalu dalam, hanya setinggi pinggang jadi bisa berenang dengan turun dari tangga di penginapan.

Aku setuju usulan mama dan langsung terjun ke laut berenang tanpa celana. Rupanya ini mendorong lainnya ikut-ikutan yang lain sehingga kami berlima berenang bugil di sekitar penginapan. Airnya sejuk dan banyak ikan-ikan kecil berenang di dasar.

Selepas berenang kami mandi bilas bersama-sama dalam satu kamar mandi. Kalau sudah telanjang begini, sudah tidak ada lagi bedanya istri, ipar atau mertua. Semua saling merangkul, mencium dan menghisap penisku bergantian.

Diawali oleh suasana hot di kamar mandi jadi keterusan ke kamar. Aku dikerubuti oleh 4 orang bidadari yang semuanya bugil dan sedang birahi. Apakah perlu aku ceritakan suasana pertarungan dengan mereka. Kayaknya gak usah ya, nanti kepanjangan toh ceritanya juga sama dengan sebelumnya.

Setelah selesai bertempur kami makan bersama dengan hidangan yang diantar room service. Selesai makan aku menikmati rokok di teras villa dengan pemandangan laut.

Aku membayangkan yang tidak bisa terbayang, bagaimana kelak kehidupanku setelah berumah tangga dengan Karina, dimana aku bebas menyetubuhi adik-adiknya bahkan mamanya. Apa perkawinan itu hanya formalitas, tetapi faktanya aku pejantan mereka.

Karina menurutku cukup sempurna, dia bisa mengurus suami, bisa masak, rajin berbenah dan meski pun kerja kantoran, tetapi urusan di rumah tidak terbengkalai. Kami tidak mempunyai pembantu karena tidak banyak yang barus dikerjakan. Apartemen yang cukup mewah hadiah perkawinan dari papa Karina terawat apik berkat Karina pandai mengelolanya.

Setelah Stefani mempunyai pacar dan Melody setelah masuk universitas juga punya pacar. Mereka berdua jarang lagi berhubungan denganku. Sesekali Mama Margareth masih ingin berakrab sex denganku.

Sudah lebih dari 5 tahun Mama tidak pernah pulang kampung, dia mengatakan rindu dengan keluarganya. Setelah rapat keluarga, papa memutuskan mama boleh pulang kampung, tetapi papa tidak bisa menyertai. Perjalanan ke Caracas Venezuela memang sangat panjang dan melelahkan.

Rapat keluarga memutuskan akulah yang harus menemani mama, karena tidak laki-laki lain dalam keluarga setelah papa berhalangan. Aku sesungguhnya enggan melakukan perjalanan yang sangat panjang dan jauh. Sudah kebayang betapa beratnya melawan jetlag dan berbagai kendala di perjalanan.

Namun aku tidak bisa menolak dan terpaksa harus mendampingi mama. Perjalanan pertama adalah Jakarta – New York. Mama memerlukan mampir di ibukota dunia ini untuk menyambangi beberapa sanak saudaranya yang tinggal di situ. Meskipun kami terbang dengan fasilitas kelas satu, tetapi lamanya perjalanan itu membuat aku tetap saja bosan.

Kami tiba di Bandara JFK pada siang hari. Di Bandara sudah dijemput oleh salah seorang ipar mama. Dia menjemput bersama istrinya, bule cantik berambut pirang. Perjalanan dari bandara ke Manhattan cukup lama juga karena jalanan agak macet. Mama memilih bermalam di hotel dan menolak tidur dirumah saudara-saudaranya. Hotel The Plaza dekat taman Central Park di tengah Manhattan cukup megah, konon ini adalah milik Donald Trump.

Kami tinggal di New York 3 malam untuk aklimatisasi, atau menyesuaikan diri dengan iklim setempat. Siang jadi malam dan malam jadi siang, begitulah rasanya di New York, karena perbedaan waktu lebih lambat 12 jam dari WIB. Jadi kalau siang mata agak ngantuk, karena tubuh masih mengikuti jam WIB yang sudah malam. Sedang kalau malam susah tidur karena di Indonesia masih siang.

Aku diperkenalkan oleh keluarga besar mama yang ternyata cukup banyak tinggal di New York. Silaturahmi tidak seperti di Indonesia, tetapi pertemuan dengan dinner bersama, tertawa-tawa dan mereka bercerita mengenai masa lalu. Aku bengong saja, karena tidak punya bahan pembicaraan. Dinner setiap malam dari jam 8 malam sampai jam 10. Setelah itu bubar.

Kami tidak bisa terbang langsung dari New York ke Caracas. Ini mungkin karena perseteruan Amerika Serikat dengan Venezuela. Pilihannya kami harus stop over di Mexico. Mama memilih stop over di Cancun, satu kota wisata pantai yang sangat terkenal. Cancun mungkin seperti Denpasar, yang kalah ramai dengan daerah resortnya yang menyebar sepanjang garis pantai lautan Atlantik.

Aku dan mama menginap semalam di Cancun di sebuah hotel di tepi pantai, kalau tidak salah ingat namanya hotel Tropical. Tidak banyak yang bisa aku kagumi dari Cancun, karena rasanya Bali jauh lebih indah. Mungkin wisatawannya saja yang menarik, karena mereka lebih berani berpakaian, terutama cewek-ceweknya . Cancun bukan kota yang murah.

Selama semalam kami nginap di hotel, kami sempatkan keluar makan malam di tempat keramaian yang merupakan bangunan kumpulan dari cafe-cafe dan club-club. Pulangnya aku agak pusing karena minuman Tequila, mama mungkin juga rada terpengaruh karena gelagatnya agak kurang normal.

Jam 11 malam kembali ke hotel. Seperti biasa aku membersihkan diri, karena badan agak lengket berkeringat. Cancun kota yang cukup hangat. Mama mengikuti ke kamar mandi, kami berdua telanjang dan saling menyeka. Pengaruh pandangan melihat tubuh sintal seorang wanita meskipun tergolong STW, birahi jadi bangkit. Apalagi Mama malah memainkan penisku dengan menggengam dan mengocoknya. Akhirnya kami bergumul di dalam bak air hangat. Sehingga tidak dapat dielakkan, penisku terselip masuk ke vagina mama. Aku kurang bisa bergerak leluasa, karena bak mandi yang sempit, jadi agak repot menyetubuhi mama dalam bak. Meski begitu, penisku tetap terbenam di dalam memek mama.

Mama kelihatannya juga kurang puas, akhirnya kami mengeringkan badan dan melanjutkan permainan di tempat tidur. Kami bermain berganti-ganti posisi, seperti mempratekkan kamasutra. Namun menurutku yang paling nikmat MOT dan WOT, selebihnya hanya melelahkan dan repot, karena gerakan kurang leluasa.

Aku bisa mencapai orgasmeku dan mama sempat mendapat dua kali orgasme. Orgasme adalah obat tidur, karena setelah permainan itu kami langsung tertidur sampai pagi.

Setelah sarapan pagi yang menunya sangat mexico, kami bersiap-siap berangkat ke airport untuk penerbangan ke Caracas.

Tiba di Caracas sudah gelap. Ada penjemput, seorang wanita cantik yang mengacungkan papan nama isinya adalah namaku. Kami bersalaman dan sesuai dengan unggah-ungguh disana aku harus mencium pipi kiri dan kanannya. Dia memperkenalkan diri dengan menyebut namanya Stevi. Seorang gadis bule, tapi berambut hitam, cantik sekali, bodynya proporsional dan tinggi. Cewek-cewek di Venezuela terlihat cantik-cantik. Bisa dikatakan jika ada 10 cewek yang cantik adalah 11.

Stevi adalah keponakan Mama. Dia hanya bisa berbahasa Spanyol. Aku hanya mengerti sepotong-sepotong, kalau mama jangan ditanya, menggerutu aja pakai bahasa gituan. Stevi menyetir sendiri mobilnya. Aku lupa apa mereknya, tapi sedan cukup keren, kayaknya buatan Amerika.

Stevi mengantar ke hotel dan dia memberi waktu setengah jam saja untuk kami meletakkan koper dan merapikan penampilan. Sebab sebuah gala dinner sudah dipersiapkan oleh keluarga besar di sana di rumah salah seorang family mama.

Aku hanya buang air kecil saja, sementara mama masih sempat ganti baju menyesuaikan acara makan malam. Stevi yang turut ke kamar sempat juga melepas hajat kecilnya yang desirannya nyaring sekali sampai terdengar keluar.

Sekitar 30 orang sudah duduk mengelilingi meja jamuan. Aku menyalami mereka semua memperkenalkan diri. Dinner dilaksanakan di belakang rumah di halaman terbuka. Acaranya bakar-bakaran atau barberque .Musik latin diperdengarkan tidak terlalu keras. Aku duduk terpisah jauh dari mama. Repotnya aku sulit ngobrol, yang karena mereka semua kurang bisa bahasa Inggris.

Meski begitu, aku senang karena di kiri dan kananku adalah cewek-cewek cakep. Mereka hanya senyum-senyum saja ketika tidak mengerti ucapan inggrisku. Sekitar 2 jam kami bergembira dan pulangnya rada puyeng karena kebanyakan minum minuman beralkohol.

Sesampai di hotel aku dan mama langsung tertidur sampai pagi. Kami bangun lalu mandi bersama. Kami hanya berpelukan dan saling mencium. Selesai mandi kami turun ke bawah untuk sarapan pagi. Mama memberi tahu bahwa hari ini kami akan pindah menginap atau tinggal di salah seorang saudara mama.

Tempat menginap itu memang agak jauh di luar kota, tetapi merupakan resor wisata. Di tempat itu lengkap berbagai fasilitas. Mama bercerita sambil berbisik bahwa resor itu adalah resor nudis. Kami diberi kesempatan menginap free of charge alias gratis untuk semua fasilitas. Maklum yang memiliki tempat itu adalah sepupu mama.

Sekitar sejam kami santai di restoran, muncul Stevi yang melambaikan tangan di pintu masuk restoran. Penampilannya segar, baju teng top dengan hot pan yang super pendek, sampai lekuk bokongnya kelihatan. Kelihatannya di balik teng top dia tidak pakai BH, sehingga teteknya berguncang geal-geol. Padahal teteknya cukup membusung.

Setelah cipika-cipiki dia duduk satu meja, tapi menolak ikut sarapan. Kami bertiga naik kekamar membereskan koper. Lalu turun.setelah menyelesaikan bill hotel kami melaju dengan mobil yang dikendarai Stevi.

Lalu lintas di Caracas tidak sepadat Jakarta, malah menurutku sangat longgar. Sekitar 45 menit, kami sampai di resor yang letaknya seperti di dataran tinggi. Di pintu gerbang petugas menanyai Stevi, lalu dia membukakan pintu gerbang.

Jalan masuknya lumayan panjang juga, mungkin sekitar 1 km. Wilayah resor itu memiliki pemandangan yang indah dan sangat terpelihara. Sebelum sampai di kantor penerimaan tamu mata ku sering melihat orang-orang bugil sedang menikmati liburan.

Setiba di front office, saudara mama yang memperkenalkan namanya Carlos yang merupakan pemilik resort itu menyambut kami. Pegawainya memberi well come drink rasanya seperti sprite tetapi di dalamnya ada daun mint. Aku teguk sekali teguk langsung habis, karena rasanya manis segar dan dingin.

Aku dan mama diberi kamar terpisah, malah terpisah jauh, Jika aku di sisi Barat, Mama di sisi Selatan. Kamar yang didisain. Mas Carlos, begitu aku menyebutnya sengaja memisahkan kami berjauhan agar kami lebih banyak bergaul dengan pengunjung.

Bangunan penginapannya cukup bagus, rapih, bersih, dan interior serta eksteriornya khas Mexico, dengan kayu dan batu bata yang diekspos. Di dalam kamar terdapat, tempat tidur besar, kamar mandi yang dilapisi batu alam, teras dengan pagar dari kayu bulat.

Aku masih menyimak arsitektur di dalam kamar, lalu melihat-lihat keluar dari teras kamarku. Suara ketukan pintu mengejutkan. Buru-buru aku buka pintunya. Aku terkejut, ketika muncul sosok Stevi yang sudah telanjang bulat di depan pintuku. Tanpa ragu dan malu dia masuk ke dalam kamarku dan berbicara dalam bahasa inggris sepotong-potong yang maksudnya aku harus membuka semua bajuku pada hari ini.

Tidak terlihat kerikuhan, Stevi membantu membuka bajuku dengan memelorotkan celanaku sekalian celana dalamnya. Penisku masih loyo, mungkin karena ikut terkejut. Ditoelnya penisku yang masih lemas berkali-kali sampai akhirnya bangun. Aku membalas dengan memelintir pentil susunya kiri dan kanan. “”Wow…..” katanya.

Birahiku jadi bangkit, mungkin Stevi juga. Kami berciuman lekat sekali sambil berdiri. Harus diakui permainan pagutannya luar biasa. Aku jadi lupa daratan dan langsung meremas teteknya yang cukup menggunung dan menantang. Puas meremas aku melakukan kerajinan tangan di selangkangannya. Terasa berlendir celahnya. Tanpa menunggu lama, aku cucukkan penisku sambil berdiri masuk ke lubang vaginanya. Terasa hangat dan lumayan mencekat. Kusandarkan Stevi ke dinding lalu aku genjot. Dia mengerang-ngerang. Aku tidak peduli apakah itu pura-pura atau memang sungguhan.

Cukup lama main berdiri, lututku jadi lemas. Sambil penisku masih tertancap aku gedong Stevi dan kami rebah ke tempat tidur lalu meneruskan genjotan. Rasa persetubuhannya jadi makin nyaman dan aku benar-benar bisa menikmati genggaman memeknya dan memperhatikan bentuk tubuhnya yang memang aduhai.

Mungkin aku bermain sekitar 15 menit. Stevi bisa juga mendapat orgasme bersamaan dengan ku. Dia menciumiku dan entah apa yang disebutkan tapi aku mengira-ira dia memujiku dari permainan singkat itu.

Kami lalu sama-sama membersihkan diri dan setelah berhanduk, Stevi menggandengku menuju ruang makan. Disana terlihat semua orang sudah bugil sambil menikmati makan siang yang disiapkan secara prasmanan. Mama menyambutku sambil senyum-senyum. Dia juga bugil.

Ada sekitar 20 orang di dalam ruang makan itu, sebagian besar masih muda-muda. Cowoknya ganteng-ganteng dan ceweknya cantik-cantik pula. Tuan rumah terlihat duduk diapit dua cewek cake-cakep. Aku tidak melihat istrinya. Rupanya istrinya mondar-mandir mengatur hidangan sambil berjalan bugil. Dia tidak hirau, suaminya sedang bercengkerama dengan cewek-cewek cantik.

Aku digandeng Stevi dan diperkenalkan kepada yang hadir di situ. Mereka berbeda dengan yang ikut makan malam. Cukup bersahabat para nudist yang berkumpul di rumah ini. Stevi memperkenalkan aku ke cewek yang tak kalah cantiknya bernama Silvya. Aku telanjang dia telanjang, jadi tidak ada yang dirahasiakan. Aku berusaha berpenampilan biasa, dan untungnya tadi habis bertempur, jadi birahiku lumayan terkendali berada di tengah-tengah orang telanjang. Cewek ini kata Stevi akan mendampingiku berkeliling halaman rumah untuk menunjukkan berbagai fasilitas.

Area kaum liburan kaum nudist yang aku kelilingi cukup luas, kata Silvy sekitar 10 ha. Ada pondok-pondok kecil untuk istirahat, ada telaga untuk bermain kano lalu bisa juga memancing. Aku dan Silvy berkeliling dengan kendaraan ATV. Dia yang mengendarai aku membonceng. Tidak bisa dihindarkan aku duduk merapat ke tubuhnya dan aku memeluknya dari belakang. Tanganku kadang-kadang menyentuh jembutnya. Dari pada pura-pura aku sentuh saja gundukan kemaluannya yang berbulu lumayan lebat. Tidak hanya menyentuh tapi aku juga berkesempatan menyelipkan jariku ke dalam lipatan memeknya. Silvy hanya menggoyang-goyang badannya. Dia berbicara yang hanya sepotong aku pahami. Yang jelas memeknya berlendir. Sambil dia menunjukkan fasilitas di situ aku meremasi teteknya yang mengkel. Silvy usianya 21 tahun. Akibat tanganku tidak bisa anteng, maka penisku jadi makin mengeras dan menyodok bagian belakang pantatnya yang montok.

Kami sering bertemu para nudist yang selalu memberi salam dengan melambaikan tangannya. Mereka tidak hanya berjalan-jalan, tetapi ada juga yang bermesraan di kerimbunan semak sambil membeber kain untuk alas. Menurut Silvy di taman nudist ini pengunjung bebas bertelanjang dan melakukan hubungan sex dengan siapa saja asal tidak ada paksaan.sex

Silvy sedikit-sedikit bisa bahasa Inggris, sehingga dia bercerita dengan bahasa campur-campur. Kami berhenti di sisi telaga yang paling jauh. Suasana masih sepi. Silvy mengajakku berjalan-jalan di tepi telaga. Aku turun dari ATV dengan agak canggung, berhubung penisku tegang. Apa mau dikata, aku santai saja jalan sambil penisku ngacung ke depan. Silvy hanya tersenyum melihat penisku siap tempur. Digandengnya penisku lalu dia mengajakku masuk ke semak-semak. Ada jalan kecil yang terawat rapi dan akhirnya kami menemukan tangga yang menaiki rumah di atas pohon. Silvy mengajakku naik ke atas. Silvy naik mendahuluiku, sehingga aku mendapat pemandangan celah selangkangannya dari bawah, karena model tangganya adalah tangga tegak lurus. Cukup tinggi juga, sehingga dari pondok diatas pohon kami bisa melihat sekeliling.

Silvy kayaknya sengaja pasang posisi, karena dia merangkak di depanku. Tanpa minta izin aku pegang bongkahan pantatnya lalu aku tancapkan penisku memasuki lubang vaginanya. Silvy melenguh ketika merasakan memeknya aku tusuk dari belakang. Dia lalu menggoyang pantatnya maju mundur. Aku menyetubuhinya dengan posisi doggy sambil melihat-lihat pemandangan sekeliling. Unik juga main di tempat beginian. Posisi doggy hanya berlangsung 5 menit, lalu diteruskan dengan posisi MOT. Cukup lama juga kami main sampai kami puas dan aku melepas mani ku didalam memeknya.

Selepas itu kami istirahat sambil menyaksikan pemandangan dari atas ke sekeliling wilayah peristirahatan. Dari beberapa sudut aku sempat menangkap pemandangan orang lagi berhubungan sex, ada yang sepasang, ada yang rame-rame. Yang membuatku agak kaget di salah satu sudut semak aku melihat sekumpulan anak di kisaran usia 10 – 13 tahun mungkin ada 5 anak, 3 diantaranya perempuan. Mereka sedang asyik bercumbu dan ada pula yang bersetubuh.

Tempat mereka memang agak tersembunyi, tetapi dari celah-celah daun aku dapat melihat kegiatan mereka. Mungkin mereka tidak sadar jika ada yang mengintai. Aku gamit Silvy untuk melihat pemandangan yang menurutku menakjubkan. Silvy senyum saja. Di sini seperti itu sudah biasa katanya.

Silvy lalu mengajaku turun dan dia lalu menggandengku menuju tempat anak-anak tadi lagi “bermain”. Suara gemerisik, kaki kami menginjak daun kering membuat anak-anak itu melihat kedatangan kami. Silvy lalu memberi salam “ hola” yang dijawab anak-anak itu dengan sebutan yang sama.

Mereka tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran kami. Yang lagi ngentot, terus aja ngentot, yang lagi meremas-remas ya lanjut. Silvy ngomong ke anak-anak itu bahwa aku dan dia mau gabung, apa boleh. Kelima anak-anak itu secara hampir bersamaan mengangguk dan mempersilakan kami gabung.

Silvy menarik anak laki-laki yang kutaksir baru berusia 12 tahun. Mungkin Silvy mengatakan akan mengajarinya menjilat memek, karena Silvy menarik anak itu ke kangkangan kakinya dan memberi instruksi untuk melakukan oral. Berkali-kali Silvy memberi arahan agar anak didiknya menjilati tempat yang sensiitif.

Aku bengong melihat adegan itu, seorang cewek yang tubuhnya masih kecil, teteknya saja baru membengkak kecil dengan pentil yang tumbuh lancip. Dia mengatakan kira-kira minta izin mengisap penisku. Aku persilakan dia melakukan keinginannya. Dia melakukan oral sangat mahir, dijilati penisku yang masih loyo, lalu. Melomot kantong zakarku dan dijilatinya. Dia berkomentar, seperti yang diterjemahkan Silvy bahwa penisku bau sperma dan cairan vagina. Silvy yang menjawab bahwa baru saja dia “main’ denganku.

Sensasi dijilati anak di bawah umur memberi rangsangan yang sangat kuat. Penisku langsung bangun perlahan-lahan sampai akhirnya tegang maksimal. Eh anak itu berhenti malah tepuk tangan senang. Mungkin dia senang karena berhasil membangunkan penisku. Lainnya lalu menyarankan dia memasukkan penisku ke memeknya yang masih gundul dan belahannya masih rapat. Aku didorongnyanya agar berbaring lalu dia duduk di atas penisku, membimbing kepala penisku memasuki lubang memeknya. Perlahan-lahan dia rendahkan badannya sehingga penisku makin terbenam. Cukup banyak juga batang penisku terbenam di memeknya meski tidak sampi mentok, alias penisku masuk semua, karena aku merasa kepala penisku menyundul halangan.

Halangan itu bukan selaput perawan, karena dia sudah jebol. Anak ini memperkenalkan diri sambil bergerak naik turun dengan menyebut namanya Amanda. Heran juga aku melihat anak yang baru numbuh tetek sudah main dengan lihainya diatas tubuhku. Memeknya terasa mencekat, tetapi lubangnya licin. Cukup lama dia menggenjot diatas, sampai dia merasa lelah. Lalu berhenti dan melepas memeknya dari penisku. Aku belum klimaks dan rasanya si Amanda pun belum juga mencapai klimaksnya. Dia rupanya memberi kesempatan temannya yang usianya lebih tua. Ini kelihatan karena susunya sudah lebih besar dan di ujung lipatan memeknya sudah tumbuh sedikit rambut. Dia mengangkang di atasku lalu memasukkan penisku ke memeknya. Memeknya licin dan penisku langsung ambles sepenuhnya sampai mentok. Sambil bergoyang dia cium aku dan menyebut namanya Velany. Enak juga memeknya, rasanya cukup menggigit dan takjub melihat bibir memeknya sampai agak monyong karena dipaksa menerima penisku yang terlalu besar bagi memeknya.

Agak lama kami bermain sampai dia mencapai klimaksnya dan rebah ke tubuhku. Setelah itu dia berdiri dan posisinya diganti oleh satu lagi temannya. Kayaknya usianya diantara si Amanda dengan Velany. Teteknya sudah tumbuh tapi masih kecil gundukannya, Memeknya sudah cukup banyak bulunya. Mukanya imut dan rambutnya hitam seperti jembutnya. Dia melihat batangku masih kokoh berdiri lalu dimasukkan ke memeknya. Dia tidak mau bermain diatasku dan minta aku menindihnya. Aku turuti kemauannya. Badannya terasa kecil di bawah tindihan tubuhku. Kepalanya saja tepat di dadaku. Aku menggenjot memeknya yang sudah terasa licin. Memek anak ini yang memperkenalkan namanya Sisil, terasa terlalu licin, sehingga kesannya longgar. Aku lepas penisku dari memeknya dan mengambil sembarang kain yang ada di situ, lalu aku melap penisku yang berlumuran cairan memeknya. Setelah itu pelan-pelan aku masukkan lagi. Sekarang terasa agak kesat dan mengigit. Lumayan juga rasanya seperti memek yang baru diperawani. Aku bermain terus sampai akhirnya aku ejakulasi. Aku rasa si Sisil belum mencapai orgasme, karena tanda-tandanya tidak aku rasakan. Badanku lemas karena setengah hari ini aku sudah nembak 3 kali. Aku duduk bersila dan memperhatikan dua anak laki laki yang penisnya masih kecil bermain di memek Silvy dan yang satu sedang merintih nikmat di oral .

Kedua anak itu berganti-gantian menjajal lubang atas dan lubang bawah Silvy, sampai keduanya mencapai puncak kenikmatannya. Hujan tiba-tiba seperti tumpah dari langit, membuat aku terkejut, tetapi yang lainnya tenang -tenang saja. Malah anak-anak itu berlarian bermain hujan. Aku baru sadar, apa yang perlu dikhawatirkan, karena kondisi kami kan bugil, jadi tidak perlu takut baju basah.

Aku dan Silvy kembali ke ATV dan dia mengarahkan pulang ke hotel. Silvy adalah salah satu pegawai di hotel yang bertugas sebagai pemandu tamu-tamu. Dia bercerita Stevi juga petugas di resor itu. Dia mengantarkan aku kembali ke kamar dan kesempatan itu kami mandi bersama di kamar mandi dengan pancuran air hangat.

Menurut Silvy, jika aku berminat “main” dengan pengunjung disitu, dan kesulitan berkomunikasi, dia dengan senang hati akan membantu. Menurut Silvy, banyak cewek yang bakal mau diajak kecan oleh ku karena aku adalah pria tampang Asia yang jarang-jarang ada di resor itu.

Aku dan mama tinggal di situ selama 12 hari. Aku puas setiap hari berganti-ganti pasangan. Sebagian besar si Silvy yang mengkomunikasikan dengan targetku. Pernah aku main dengan 2 cewek yang merupakan anak dan ibunya. Ibunya berusia sekitar 35 dan anaknya umur 12 tahun cewek. Kami main bertiga di kamarnya. Suaminya yang ada di situ tenang-tenang saja dan mengetahui istri dan anaknya aku embat.

Selama di resort itu aku puas-puaskan bermain dengan anak-anak di bawah umur, karena mereka cantik-cantik dan di negaraku anak seperti itu susah di dapat. Pernah sekali aku menemukan anak usia mungkin antara 9 atau 10 tahun. Lha teteknya aja belum numbuh. Dia mendekatiku dan minta digendong dan mengajak aku masuk ke kamarku. Dia rupanya ingin merasai penisku pula. Aku tadinya menolak karena anak ini terlalu kecil untuk di ewek, tapi dia bilang sudah beberapa kali main dengan laki-laki dewasa. Gila juga dia yang berinisiatif memasukkan penisku ke dalam memeknya. Meski belum akil balik, tetapi memeknya sudah mampu menampung penisku yang terlalu besar bagi belahan memeknya.

Sedikitpun dia tidak merasa sakit, malah menggenjotku bersemangat. Lucu juga aku melihatnya sehingga dengan kamera Hpku aku mengabadikan dia sedang di atasku berkali-kali.,

Itukan pengalaman yang enak-enak. Ada juga yang agak kurang enak, ketika beberapa kali nenek-nenek mengajakku berhubungan dengan alasan mereka ingin merasakan penis asia. Ada yang paling tua kutaksir umurnya sudah lebih dari 60 tahun. Dia membawa jelly pelicin untuk membantu memperlancar penisku memasuki vaginanya. Meski nenek-nenek tapi nafsunya hot juga. Dia bisa juga meraih orgasme, sementara aku sulit. Memeknya sih memang tidak terlalu kendor, tetapi badannya sudah pada kendor, sehingga selama main, pemandangan yang disuguhkan kurang menggairahkan. Adegan lucu dan unik pernah juga kualami ketika semalaman aku harus bermain dengan 3 nenek-nenek. Teteknya sih besar-besar, tapi sayangnya sudah bergelayut, sehingga kalau diremas seperti balon berisi air yang kurang kenyal. Mereka bertiga bermain mengerrubutiku. Aku mau melayani mereka karena ini adalah peluang yang langka, main orgy dengan nenek-nenek bule. Aku rasa genggaman memek perempuan tua tidak terlalu beda dengan wanita dewasa, cukup nikmat juga koq. Namun yang membedakan adalah bodynya yang sudah kendor, sehingga kalau dipandang agak kurang menggairahkan.

Selama 12 hari, tiada hari tanpa”main”. Malah sehari bisa 3 – 4 kali crot. Setelah kami meninggalkan Caracas menuju pulang Jakarta. Aku banyak tertidur salama di pesawat. Rasanya tenagaku seperti habis terkuras.

Mama bercerita bahwa dia beberapa kali menemukan pasangan. Menurut mama rasa penis orang bule kurang nikmat, karena tidak bisa keras sekali seperti penis Asia. Meskipun penis-penis itu besar, tetapi karena kurang keras, jadi kata mama kurang nikmat. “You’r the best” kata mama.

 

 

                                                                                                      ****

Empat Generasi

By Jakongsu

 

 

 

 

 Cerita berikut ini sangat unik. Kalau tidak unik untuk apa diceritakan. Apa yang diuraikan dalam cerita ini sulit dipercaya. Namun percaya atau tidak percaya itu urusan anda. Kalau memang merasa tidak nyaman ya jangan dibacalah, kenapa harus memaksa. Kalau anda teruskan membaca dan di akhir cerita anda menyesal, karena menganggap saya mengada-ada, saya tidak memaksa anda percaya. Namanya juga kepercayaan, ya sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

 

 

 

 Aku memang menyenangi cewek yang baru beranjak menuju remaja. Cewek seperti itu menurut pandanganku memiliki keindahan istimewa, mulai dari berkembangnya bentuk tubuh dengan payudara yang baru tumbuh, kemaluan yang mulai ditumbuhi bulu, atau berbulu halus dan jarang.

 

 Sulit sekali mendapatkan cewek yang seperti aku gambarkan itu, karena cewek seperti itu ada di kisaran usia 12 – 13 tahun, atau di tahun terakhir SD atau di awal SMP. Di internet banyak sekali foto dan video anak-anak dibawah umur, mulai dari yang softcore atau hanya bertelanjang saja sampai yang melakukan hubungan badan, baik dengan cowok dewasa atau pun dengan sesama anak yang sebaya.

 

 Namun video-video itu semua dari luar. Paling banyak film barat, lalu Jepang dan yang paling dekat adalah anak-anak Kamboja. Ada juga yang menyebut film Indonesia, namun setelah saya cermati ternyata dari Kamboja juga.

 

 Cukup lama saya melakukan perburuan untuk mendapatkan cewek yang pra remaja, namun sulit sekali alias belum pernah dapat. Masalahnya saya ingin yang aman. Kalau terlalu beresiko, saya lebih baik mundur saja.

 

Saya sudah menyebar jaring dengan mengakrabi para pencari cewek yang akan dijadikan pekerja sex komersil (PSK) Ada sekitar 5 orang yang menjanjikan akan mencarikan cewek seperti yang saya mau.

 

Mereka katakan, sebelum saya minta ke mereka, ada banyak anak seperti itu yang diminta orang tuanya bekerja di Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya. Namun karena akhir-akhir ini razia PSK di bawah umur gencar, jadinya mereka tidak berani menjaring PSK yang pra remaja.

 

 Penantianku akhirnya membuahkan hasil, salah satu kibus (kaki busuk) yang beroperasi di pantura Karawang mengabarkan bahwa dia mendapatkan apa yang aku inginkan. Namun anak itu tidak mau dibawa ke kota. Jadi aku harus mendatangi tumahnya.

 

 Dihari yang dijanjikan aku bersama si Kibus yang bernama Leman, jalan ke arah Cilamaya. Kampungnya cukup jauh juga, sekitar 2 jam dari pusat kota Karawang. Jalannya memang tidak bagus, malah sebagian besar rusak. Mungkin itu yang membuat perjalanan jadi lama, bukan karena jaraknya yang amat jauh.

 

Sebuah desa yang berseberangan dengan sawah, aku diperintahkan si Leman untuk memarkirkan mobil di satu halaman rumah orang yang agak luas. Leman mengenal pemilik rumah sehingga ketika mereka bertegur sapa, tidak ada kecanggungan.

 

 Aku diajak Leman berjalan menyusuri jalan diantara rumah-rumah yang letaknya tidak beraturan. Sebuah rumah, atau tepatnya gubuk ternyata adalah tujuan si Leman. Setelah dia menyerukan salam, keluarlah seorang wanita yang kutaksir usianya sekitar 40 – 50. Tidak lama kemudian keluar lagi 2 orang perempuan yang usianya lebih muda dari wanita yang pertama keluar tadi. Lalu muncul bocah yang masih culun. Aku sudah menduga, pasti anak ini yang akan ditawarkan untukku.

 

 Sejenak kuamati, anak ini bahannya cukup bagus. Mungkin karena kurang perawatan dan kurang biaya, sehinga terlihat kusam. Perempuan yang lain pun, punya potensi bagus jika dioles, termasuk yang paling tua tadi.

 

Setelah bersalaman dan berkenalan, aku dan Leman dipersilakan duduk di bale-bale atau amben bambu di teras rumah. Malu juga aku rasanya, karena usiaku yang dipertengahan 30 mengincar perempuan yang kata Leman usianya sekitar 12 tahun. Padahal di situ ada perempuan-perempuan lain yang sesuai dan cocok untukku.

 

Leman memberi uang yang sempat terlihatku warnanya biru. Salah seorang dari mereka lalu masuk kedalam. Aku tidak tahu apa maksud Leman kasih uang lima puluh ribu itu. Aku diam saja, karena tidak ada kesempatan tanya.

 

Kami ngobrol dan saling berkenalan. Dari situ baru aku tahu bahwa semua 4 perempuan yang aku salami tadi adalah saudara sekandung. Maksudku bukan sekandung kakak beradik, tetapi hubungannya sangat dekat, mereka adalah anak, ibu, nenek dan buyut. Sorry kalau saya keliru menyebutnya sekandung, karena waktu nulis ini saya tidak menemukan istilah yang tepat.

 

Mereka benar-benar punya bahan bagus, tapi karena kurang perawatan jadi semuanya terlihat kusam. Dari tempat tinggalnya sudah aku pastikan bahwa mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Dan ternyata, uang pemberian si Leman tadi untuk menyiapkan hidangan kopi.

 

Aku tidak ingin berlebihan tapi gambaran mereka adalah sebagai berikut. Perempuan yang paling muda bernama Suryani, tingginya sekitar 145 cm, tubuhnya cenderung kurus, rambutnya lurus terurai dan kurang di bentuk, kulitnya sawo matang. Teteknya sudah mulai tumbuh, karena di dadanya sudah terlihat tonjolan kecil. Hidungnya bagus. Meski tidak terlalu mancung, tetapi tidak juga pesek. Yang membuat dia akan terlihat cantik, karena dagunya agak lancip. Bajunya kumal.

 

Ibunya yang kuingat tadi menyebut namanya Salamah, atau sebutannya Amah. Dia menyebut umurnya 26 tahun. Berarti dia melahirkan si Suryani atau panggilannya Ani pada usia 14 tahun. Di desa ini umur segitu sudah punya anak, dianggap tidak aneh, karena umumnya mereka kawin di usia muda.

 

Amah tidak jelek-jelek amat, tapi karena miskin jadi agak kurang menarik. Tingginya sekitar 150 cm. Pantatnya kelihatan keras dan agak menonjol. Sarung yang dipakainya tidak bisa menahan tonjolan bokongnya. Perutnya tidak membusung, lumayan datar. Dadanya lumayan jugalah, ukurannya kelihatannya sepadan dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

 

Mereka memang berperawakan langsing-langsing, alias terlihat singset. Ibu si Amah yang tadi menyebut namanya Limah, atau disebut Mak Imah, tubuhnya lebih bongsor. Dia lebih tinggi sedikit dari si Amah. Bodynya tidak gemuk, tapi teteknya kelihatan cukup besar, bokongnya juga gempal. Yang menurutku istimewa, perutnya tidak gendut, seperti umumnya wanita sebayanya. Mak Imah mengaku umurnya sekitar 40 tahun. Umur segitu sudah punya cucu, dia seperti anaknya juga kawin muda dan umur 14 sudah melahirkan.

 

Jika disandingkan dengan ibunya yang tadi menyebut dirinya Nek Ijah, mereka berdua seperti kakak beradik. Aku tidak berlebihan memberi gambaran, tetapi Nek Ijah yang kata si Amah umurnya sekitar 54 tahun masih punya daya tarik sebagai wanita STW (setengah tuwa). Badannya memang agak sekal, alias lebih gemuk dari anaknya. Tapi menurutku dia masih terbilang normal, karena tidak terlalu gendut. Tingginya hampir sama, atau sedikit lebih pendek dari si Imah. Yang kukagumi nek Ijah kulitnya paling bening dari semuanya. Gak usahlah aku gambarkan statistik tubuhnya, nanti saja , karena kalau sekarang, pasti pembaca bingung.

 

Terhadap semua wanita itu yang kukagumi adalah wajahnya bersih dari jerawat, dan kakinya mulus, tidak ada bekas koreng, apalagi koreng atau luka. Kulit mereka rata-rata sawo matang. Kuduga, itu karena mereka sering terpapar sinar matahari dalam kehidupan di desa. Mungkin jika tinggal di Jakarta bisa lebih bening.

 

Sampai disini saja pasti pembaca masih bingung nama-nama mereka, ada Ani, ada Imah, ada Amah dan ada Ijah. Udahlah jangan di hafal-hafal, nanti akan saya jelaskan sehingga anda pasti ingat terus.

 

Uniknya mereka semua, kecuali Ani alias si Suryani, statusnya janda. Kalau harus diceritakan bagaimana kok mereka sampai menjadi janda. Ceritanya bakal berbelit-belit dan membosankan. Apalagi menceritakan anak-anak mereka ada berapa. Wah makin pusing jadinya.

 

Jadi ya nikmati saja apa yang aku gambarkan dalam cerita ini, dan jangan jadi pertanyaan apa yang tidak aku ceritakan. Nikmati saja. Jangan pula menyoal yang lain-lain. Kalian bikin saja cerita sendiri.

 

Ngopi sudah sudah hampir habis, makan gorengan cukup banyak, aku mulai agak terbiasa dan berkurang rasa canggungnya, karena emaknya si Ani terus terang bercerita untuk menjual anaknya. Alasannya lagi butuh duit untuk bayar utang. Cerita mak si Ani ini di benarkan pula oleh Nek Amah dan Nek Ijah. Jadi mereka semua tahu dan menyadari bahwa kedatanganku itu untuk membeli keperawanan si Ani. Sementara itu . Ani hanya diam saja, dari tadi tidak pernah bicara, dia hanya nunduk saja dan mondar-mandir membawa minuman dan hidangan gorengan.

 

Aku tidak melihat ada tersirat rasa malu ketika semua orang tuanya menyebut akan menjual keperawanan Ani. Dia malah biasa saja, tanpa ekspresi. Selanjutnya giliran aku yang bingung, karena anak ini tidak mau dibawa keluar. Dia hanya mau melepas keperawanannya di rumah ini. Berarti aku harus menginap di gubuk mereka.

 

Aku ingin melihat situasi di dalam rumah mereka, apakah layak atau gimana. Aku beralasan numpang buang air kecil. Dengan segera mak si Ani, alias mak Amah mengajakku masuk rumah jalan terus ke belakang dan kamar mandinya agak terpisah dari rumah induk, tidak ada dinding, hanya ada sumur pompa dan ember, Tidak kulihat ada kakus, karena ternyata kakusnya agak jauh ke belakang lagi. Jangan dibayangkan kakusnya punya dinding, karena hanya ada satu tonggak dan lubang untuk menampung tinja.

 

Mak Amah menangkap kebingunganku. Dia lalu menunjuk saluran air pembuangan agak dipinggir tempat sumur pompa. Di situ memang ada selokan kecil. Aku disuruhnya kencing di situ. Sementara itu dia tetap berdiri tidak jauh dariku. Agak rikuh juga, kencing berdiri di dekat perempuan yang baru aku kenal, meski aku membelakanginya. Ah aku harus menyesuaikan kebiasaan mereka, maka aku coba saja menurunkan resleting dan melepas hajat kecilku.

 

Kami kembali memasuki rumah dari belakang dan menembus ke depan. Di dalam rumah tidak terlihat ada kamar, hanya hamparan kasur di pojok ruangan. Jadi di dalam rumah ini hanya ada 1 ruang. Lantainya diperkeras dengan semen, bukan keramik atau ubin. Dinding rumah, setengahnya terbuat dari papan, dan keatas terbuat dari tepas bambu atau juga sebut bilik atau orang jawa menyebutnya gedek.

 

Mereka kelihatannya cukup lama hidup miskin. Terus terang aku agak kurang berselera mendapatkan keperawanan Ani. Bukan karena bahannya kurang bagus, tetapi lingkungannya yang kurang layak. Padahal, tipe seperti Ani ini yang lama kucari dan kuinginkan, tapi ketika ditemukan ada ganjalan sarana dan prasarana. Aku harus menghapuskan gambaran tidur di hotel, dengan udara sejuk dan mandi air hangat serta hiburan televisi. Sampai saat itu aku tidak punya dan tidak tahu bagaimana skenarionya mengeksekusi Ani di dalam rumah yang tanpa sekat dan hanya satu hamparan kasur.

 

Tapi aku suka dengan tantangan, sehingga aku putuskan untuk membeli keperawanannya. Leman menjual Rp 4 juta dan dia terus terang mengaku dapat bagian sejuta. Jadi keluarga Ani akan mendapat tiga juta.

 

Transaksinya segera aku selesaikan. Selanjutnya aku tidak tahu harus bagaimana. Ikut sajalah yang akan mereka atur. Leman setelah mendapat bagiannya ia lalu pamit mohon diri. Dia sudah menitipkan mobilku ke pemilik rumah. Aku hanya perlu memberi uang yang menurutku tidak terlalu besar kepada orang yang nanti akan menjaganya. Orang itu nanti akan datang. Jumlahnya kurasa lebih kecil, bahkan jauh lebih murah dari biaya titip nginap di Bandara Soeta. Menurut Leman orang di lingkungan ini tidak akan reseh, karena mereka sudah maklum dan yang beginian ini biasa.

 

Leman sudah tidak terlihat lagi. Tinggallah aku sendirian di daerah yang kurasa masih asing, Bukan saja daerahnya yang belum pernah aku datangi, tetapi juga aku tidak tahu harus bagaimana. Waktu itu sudah jam 4 sore. Jam 5 sore, aku ditawari mandi.

 

Nah ini dia persoalan yang aku rasa sulit. Sebab aku tau, satu-satunya kamar mandi adalah sumur pompa yang tidak berdinding di kerimbunan kebun singkong. Aku tidak bawa sarung, juga tidak bawa baju ganti. Yang melekat ditubuhku hanya celana jeans, celana boxer di dalamnya, kaus oblong dan baju lengan pendek.

 

Dari pada aku bingung, aku tanya bagaimana caranya mandi, karena kamar mandinya tidak berdinding. Si Nek Imah senyum-senyum. “ Ya mandi aja biasa, buka baju semua lalu yang mandilah,” katanya.

 

Penjelasannya malah tidak jelas. Dari pada bingung aku tantang aja mereka semua agar mandi bareng-bareng sehingga aku tau bagaimana caranya mandi di tempat mandi terbuka itu. Mereka memang mau begitu, jadi meski tidak aku minta mereka memang akan mandi bersamaku.

 

Empat perempuan bersamaku jalan menuju sumur pompa. Aku pura-pura melambat membuka baju dengan ritual gosok gigi. Mereka dengan santainya sudah berbagi tugas. Dekat pompa ada dua ember besar yang diisi air. Yang memompa Nek Amah dan si Ani bergantian mengisi kedua ember itu. Setelah ember penuh, Keempat perempuan itu membuka bajunya satu persatu, dan disangkutkan ke tonggak-tonggak kayu di sekitar tempat mandi.

 

Aku masih berpakaian lengkap mereka berempat sudah bugil dan langsung jongkok di sekitar ember. Aku sempat juga melirik ketelanjangan mereka. Tapi mereka tidak merasa risih sama sekali aku lihat begitu, ya biasa ajalah kelihatannya.

 

Rasanya aku harus seperti mereka, tidak perlu malu. Aku segera menelanjangi diriku . Mereka senyum-senum melihat kelakuanku. Untung si otong gak berontak, meski agak gemuk juga dikit. Aku langsung jongkok diantara mereka dan bergantian menimba air membasahi diri. Mereka menyabuni tubuhnya dengan tetap pada posisi jongkok.

 

Aku kesulitan menyabuni diriku seperti mereka, sehingga dengan kekuatan sepenuh tenaga melawan rasa malu aku berdiri dan menyabuni seluruh tubuhku. Mereka cekikikan melihat tingkah ku. Si Buyut buka suara memerintah Ani untuk membantuku menyeka sabun di pungggungku. Tanpa rasa malu Ani berdiri pula, sehingga langsung terlihat memeknya yang belum berjembut dan teteknya yang baru berupa tonjolan kecil. Dia mengambil sabun dari tanganku, lalu menyabuni punggungku. Nek Amah jahil pula karena dia memerintahkan cucunya untuk menyabuni senjataku. Tanpa tedeng aling-aling dia memerintah” kontole, disabuni sekalian,” katanya.

 

Ani agak ragu menggapai senjataku. aku diam saja berdiri menunggu. Ani meraih senjataku lalu menyabuninya. Tangan lembutnya otomatis membangunkan penisku jadi makin tegang. Untungnya air cukup dingin, sehingga senjataku tidak sampai mengacung tegak.

 

Dua ember tentu saja tidak cukup untuk membilas tubuh kami berlima. Ani tanpa canggung meraih tangkai pompa dan langsung memompa. Namun gerakannya lemah gemulai, sehingga airnya tidak mengucur banyak, Nek Ijah dalam bahasa daerah mengucapkan sesuatu lalu bangkit menggantikan Ani. Baru 10 kali pompaan dia sudah menyuruh anaknya si Imah mengambil over tugas. Sambil jongkok aku menonton ketelanjangan mereka satu persatu, dan akhirnya si Amah pun mendapat giliran memompa. Lengkap sudah pemandangan yang kulahap. Suguhan ketelanjangan di tengah rimbunan pohon singkong, cukup menarik. Kelak aku akan mendokumentasikan dengan video phone ritual mandi berjamaah ini

 

Meski agak mengganjal, karena ngaceng, segar juga rasanya seusai mandi bareng yang sangat menegangkan. Kembali aku disuguhi kopi dan dengan rokok aku menikmati di bale-bale depan rumah. Tidak lama kemudian muncul dua orang dengan pakaian hansip. Menurut si Nek Imah, mereka adalah keamanan dan datang mau ambil uang untuk jaga mobilku. Aku langsung serahkan selembar uang biru, yang pada waktu cerita ini aku tulis, nilainya cukup besarlah, apalagi untuk ukuran desa begini.

 

Basa-basi sejenak lalu mereka minta diri, pamit. Aku juga serahkan sejumlah uang ke Amah untuk makan malam. Sampai sejauh ini aku tidak tahu nanti malam bagaimana skenarionya. Sebetulnya mau nanya, tapi malu.

 

Di dalam rumah kulihat hanya ada 3 kasur yang dibentang berhimpitan. Spreinya meski warnanya kumal, tapi cukup rapi menutup semua kasur itu satu persatu. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku nanti akan tidur di kasur itu juga, dan bagaimana caranya eksekusinya. Di bagian lain ruangan itu tidak terlihat hamparan kasur lain. Berarti aku akan tidur dengan mereka berempat nanti dan rasanya tidak mungkin ada malam pertama disini. Mau nanya, masih malu.

 

Waktu terus berjalan, tiba saatnya makan malam jam 8 malam. Tidak ada hiburan, karena mereka tidak memiliki TV. Makanan sederhana, tapi cukup nyaman juga. Habis makan aku mengajak si Amah berjalan untuk melihat mobilku apa masih dalam posisi aman. Tanpa penunjuk jalan, sudah dipastikan aku akan kesasar. Mobilku ternyata benar dijaga oleh dua hansip tadi. Aku menegur mereka dan aku tawari mereka rokok. Ngobrol sebentar lalu aku pamit.

 

Malam sudah makin larut. Di HP ku yang signalnya lemah menunjukkan pukul 10 malam. Aku diajak masuk ke peraduan. Kami semua menempati tiga kasur yang berjajar aku dipinggir sebelah Barat, disebelahku Ani, lalu maknya si Amah, lalu si Nek Imah dan disampingnya si Nek Ijah.

 

Aku tidur dengan melepas celana jeans, sehingga hanya mengenakan celana boxer dan kaus oblong.. Aku tidak melakukan inisiatif apa pun karena tidak tahu harus bagaimana. Ruangan digelapkan karena satu-satunya lampu pijar sudah dimatikan. Suasana ruangan tidak sepenuhnya gelap, karena cahaya dari luar masuk menembus celah bilik bambu.

 

Ada sekitar setengah jam kami berdiam. Lalu Mak Amah buka suara yang meminta ku memulai. Aku tanya bagaimana harus mulainya, orang disini banyak orang. “ Santai aja bos,” katanya.

 

Dia menyuruh Ani melepas semua bajunya, yang langsung dituruti. Setelah dia bugil diatur si Amah berbaring di sebelahku. Sambil duduk si Amah memberi instruksi apa yang barus dilakukan anaknya. Dia mengajari Ani agar meraih kontolku dan membuka celanaku. Ani membuka celanaku, tapi dia masih kesulitan karena aku diam saja tidak berusaha membantunya. Aku cuma ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Si Amah membantu anaknya melepas celanaku. Dia lalu mengajari Ani agar menggenggam penisku dan mengocoknya. Ani karena belum pernah, terasa dia masih canggung, sehingga tindakannya tidak memuaskanku. Kelihatan si Amah geram dan mengajari anaknya bagaimana caranya menggengam penisku yang memang sudah ngaceng full. Gilanya si Amah menggenggam penisku pula mencontohkan gerakan mengocoknya. Buset kontolku digenggam bergantian oleh dua orang yang merupakan anak dan ibu.

 

Sensasi gila yang sulit dibayangkan. Sementara itu si Imah dan Ijah kulihat bangun dan duduk menonton pula. Sesekali mereka ikutan pula memberi arahan. Aku diam mematung. Ani mulai bisa menggengam penisku dan mengocoknya dia melakukan sambil berbaring miring kearahku. Kusempatkan menyentuh teteknya yang masih kecil dan terasa kenyal sangat.

 

Meski sangat terangsang, aku masih tetap bingung. Si Amah lalu menyuruh anaknya telentang dan membuka kakinya lebar-lebar. Aku diminta Imah mengambil posisi diatas anaknya. Aku tanpa malu lagi mengarahkan penisku ke memek Ani, Sulit sekali memasukkan barangku ke vaginanya. Kelihatannya memek Ani belum berpelumas, karena bisa jadi dia tidak terangsang, tetapi malah takut, menghadapi pengalaman pertamanya itu.

 

Ibunya si Amah mengamati proses itu dan dia tahu aku belum juga berhasil. Dia bangkit lalu balik lagi dan langsung menggenggam penisku dan melumasinya sepertinya dilumasi body lotion. Memek si Ani juga di lumasi. Amah mengamati dari bawah sambil membimbing penisku memasuki lubang memek anaknya.

 

Agak lumayan bantuan body lotion, sehingga kepala penisku bisa masuk sedikit. Aku tekan perlahan-lahan sambil menggerakkan maju mundur, sampai akhirnya mentok di halangan selaput perawannya. Si Ani mengeluh sambil mengatakan memeknya perih. Ibunya menyuruh dia untuk menahan. Sebetulnya aku merasa kasihan juga, karena Ani masih terlalu kecil untuk dientot oleh kontolku yang sudah mencapai ukuran dewasa normal, panjang 15 cm.

 

Perlahan-lahan aku tekan, lalu tarik dikit, tekan lagi, tarik sampai Ani agak lengah lalu aku tekan agak bertenaga dan jebollah perawannya, karena penisku langsung masuk lebih jauh meski pun aku lakukan agak pelan, sampai mentok. Seluruh penisku terbenam dan posisi itu aku bertahan sejenak, karena kasihan si Ani kesakitan. Dia menangis dan yang membuat seleraku berkurang, tangisannya bersuara seperti anak – anak. Aku tidak tahu harus bagaimana, karena penisku masih terbenam. Aku menikmati ketatnya lubang memek Ani. Jika tangisannya sesenggukan, maka liang memeknya juga menyempit.

 

Neneknya Imah dan Ibunya Amah membujuk Ani agar menghentikan tangisannya. Mereka mengatakan, sakitnya cuma sebentar. Ani disuruh menahan saja. Agak lama aku terdiam dengan posisi penis terbenam. Akhirnya tangisan si Ani reda, namun dia masih menutup matanya yang masih mengeluarkan air mata.

 

Aku mencoba bergerak pelan menarik sedikit lalu menekan lagi sampai terasa lancar. Setelah agak licin liangnya aku bergerak agak lebih panjang. Penisku juga terasa sakit seperti terjepit. Jujur saja ngentot begini tidak terasa nikmat. Namun sensasi memerawani anak 12 tahun, rasanya luar biasa.

 

Meskipun sakit aku berhasil juga mencapai ejakulasi dan kulepas saja di dalam memek sempit itu. Kubiarkan penisku mengecil sehingga lebih mudah menariknya keluar. Setelah kelamin kami berpisah. Ani langsung menangis. Dia mengeluh memeknya perih. Ibunya sibuk menyeka memeknya yang dibanjiri oleh spermaku. Amah juga menyeka penisku yang belepotan, sampai akhirnya bersih.

 

Ani bangkit mengambil bajunya dan mengenakan kembali. Dia masih menangis sesenggukan, sambil duduk ditepi kasur. Mendengar tangisan itu aku jadi kehilangan selera dan mengenakan kembali celana boxerku. Neneknya, Imah dan Ijah menarik Ani dan memeluknya untuk menghentikan tangisannya. Dia kemudian tidur diantara Ijah dan Imah.

 

Aku berbaring dan disebelahku si Amah. Tempat tidur yang kapasitasnya untuk 3 orang sekarang ditempati 5 orang. Jadi kami saling berhimpitan. Aku dan Amah tidur berhimpitan pula. Aku ya harus menerima keadaan itu.

 

Mataku mulai ngantuk. Aku biasa begini, sehabis ejakulasi selalu diserang rasa ngantuk. Entah berapa lama aku tertidur, terbangun karena merasa badanku seperti ditindih.Amah rupanya memelukku bagaikan aku adalah gulingnya. Aku tidak tahu dia sengaja atau tidak. Namun kesadaranku yang pelan-pelan makin siuman, merasa tetek si Amah yang saat itu berusia 26 tahun menghimpit lenganku. Rasanya dia tidak pakai BH pula.

 

Kakinya merangkul kakiku dan rasanya sampai kepaha tidak terasa dihalangi oleh kain. Kulirik ke bawah, memang sarungnya terangkat tinggi sekali sampai hampir ke pantatnya. Kelihatannya dia memang benar tidur, karena mendengkur lirih. Iseng aja kuraba pantatnya yang bahenol. Aku merasa aneh karena rabaanku tidak menemukan garis celana dalam. Pelan-pelan kutarik keatas sarungnya dan memang benar dia tidak pakai celana dalam.

 

Penisku kembali bangun menghadapi sensasi ini. Nafsuku jadi bangkit juga. Kuremas-remas pantatnya yang sudah tidak tertutup sarung lagi. Bosan meremas pantat, aku penasaran pada memeknya. Kudorong dia pelan-pelan sampai ke posisi telentang. Tanganku lalu menggapai memeknya. Jembutnya tidak terasa banyak, anehnya belahan memeknya terasa berlendir.

 

Aku memainkan clitorisnya. Aku mendengar nafasnya mendengus-dengus, salah satu tangannya lalu masuk ke dalam celana boxerku dan mengenggam penisku. Penisku dikocok-kocoknya. Beberapa saat kemudian dia menarik tubuhku sehingga aku berposisi miring. Dia pun miring menghadapku. Tangannya meraih penisku yang sudah bangun sepenuhnya. Dituntunnya penisku memasuki lubang memeknya. Kami ngentot posisi miring. Makin lama makin sedap, tetapi gerakannya tidak leluasa.

 

Gerakan Amah makin agresif dan dia pun tanpa malu-malu mendesis-desis. Tanpa sungkan dia mendorongku sehingga aku telentang. Amah bangkit langsung mendudukiku dan memasukkan penisku ke memeknya. Dia menggenjot sambil merintih yang menyebabkan Nek Imah dan Nek Ijah terbangun.

 

Mereka menonton permainan kami sambil berbaring miring. Amah yang ditonton tidak peduli tetap asik memacu nafsunya. Aku tidak bisa menikmatinya secara maksimal, karena risih juga ditonton. Amah makin cepat memacu sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya yang dibareng dengan jeritan lirih.

 

Kehebohan acara ngentot kami membuat posisiku jadi berubah makin ketengah kasur. Ini makin ditegaskan setelah si Amah mencapai puncaknya dia berguling ke sisi lain diriku sehingga aku di posisi diapit antara Amah dan Imah.

 

Aku telentang dengan posisi tidak pakai celana dan penisku mengacung. Aku diam saja dan tanpa mengenakan celanaku aku berusaha tidur saja. Meski agak susah aku yang dihimpit Amah dan Imah tertidur juga.

 

Tidurku tidak bisa nyenyak karena merasa kontolku seperti dikocok. Aku terbangun, tetapi pura-pura masih tidur. Aku intip ternyata si Nenek Imah yang memainkan penisku. Wanita yang pada waktu itu berusia 40 tahun mungkin terangsang melihat adegan aku bermain dengan Amah yang tidak lain adalah anaknya. Dikocoknya pelan-pelan sehingga tidak bisa tertahan penisku jadi tegang kembali. Dengan gerakan hati-hati dia bangkit dan menaiki tubuhku. Dia jongkok diatas diriku dan memasukkan penisku ke dalam lubang memeknya perlahan. Digerakkan badannya pelan-pelan naik turun. Nikmat juga rasa memeknya, Meski umurnya sudah 40an tapi masih cukup menjepit juga. Lama-lama gerakannya tidak terkontrol karena dia telungkup diatas ku dan terus memompa sampai akhirnya mencapai kepuasannya. Merasa tanggung aku peluk tubuhnya dan aku melanjutkan gerakan sampai akhirnya aku pun ejakulasi.

 

Tubuhku terasa lelah sekali sehingga aku tidak peduli lagi dan aku tidur kembali. Aku terbangun karena diluar terlihat cahaya mulai terang. Aku masih belum bercelana, tetapi ketika aku terbangun bagian bawahku sudah ditutupi sarung. Aku adalah yang paling akhir bangun. Yang lain terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

 

Sebelum aku bangkit aku merenung sejenak. Semalam aku menyetubuhi anak, ibu dan neneknya. Sebetulnya istilah menyetubuhi agak kurang tepat. Jika dikatakan aku menyetubuhi si Ani, itu memang betul, tetapi si Amah, dia sendiri yang berinisiatif memasukkan penisku ke vaginanya. Begitu juga si Imah, nenek Suryani, dia memasukkan kontolku ketika aku masih tidur. Jadi untuk kedua orang terakhir ini istilah yang tepat aku disetubuhi. Namun apa pun ceritanya aku memang sudah bersetubuh dengan perempuan dari 3 generasi.

 

Sambil merenungi itu, penisku mulai mengeras lagi. Dia memang tidak keras full, tapi ya agak membengkak. Nek Imah membangunkanku . Dia mengajak mandi bersama lagi. Pukul 6 pagi aku masih merasa dingin, tapi mereka sudah mau mandi. Jika kuturuti kemauanku, rasanya inginnya nanti saja . Namun aku ingat bahwa kamar mandinya terbuka, makin siang makin rawan terlihat orang. Apa boleh buat, dingin-dingin dan masih agak ngantuk aku bangkit dan bersama semua penghuni rumah menuju sumur pompa.

 

Kali ini aku berinisiatif memompa dan mengisi dua ember sampai penuh. Sementara itu keempat perempuan itu sudah melepasi bajunya semua sampai telanjang bulat. Lalu seperti kemarin mereka berjongkok mengelilingi ember dan menyirami tubuhnya. Jika jongkok, aku memang tidak bisa melihat tetek dan memek mereka.

 

Aku melepasi bajuku sampai bugil juga dan ikut-ikutan jongkok bergantian menimba air. Pagi ini acara mandi bersama lebih akrab dari kemarin sore, aku bebas menjamahi tubuh mereka satu persatu sampai ke nenek Ijah. Tentu saja menjamahnya sambil mengusap sabun. Namun usapan itu hanya jalan untuk meremas tetek dan menjamah memek. Sebenarnya aku agak ragu menyabuni Nek Ijah, tapi dia sendiri yang minta aku menyabuni tubuhnya. Ya aku tidak bisa menolak.

 

Bodynya meski lebih tebal dengan lemak, tetapi susunya masih enak diremas. Jembutnya juga tidak terlalu banyak. Nek Ijah nakal juga dia, karena sementara aku menyabuni tubuhnya, dia mengambil kesempatan untuk meraih kontolku dan mengocoknya sebentar. Meski cuma sesaat, dampaknya kontolku jadi ngaceng.

 

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah Nek Ijah yang sudah berusia 54 tahun masih punya nafsu ingin dientot juga. Jika dilihat dari gelagatnya sepertinya dia memancing-mancing. Karena setelah melihat kontolku ngaceng dia menggeser-geserkan pantatnya yang tebal ke kemaluanku. Aku sempat meraih badannya dan melakukan gerakan seperti menyetubuhinya, padahal penisku tidak masuk ke memek, cuma dijepit diantara kedua pahanya. Bukan itu saja dia malah berbalik arah sehingga kami berhadapan sambil berdiri. Disiramnya penisku lalu digenggamnya dan diarahkan masuk ke dalam lubang memeknya. Tidak mudah memasukkan penis dalam posisi berdiri, tetapi dia cukup lihai juga karena aku merasa penisku sudah terjepit di dalam lubang vaginanya.

 

Tidak lama, mungkin cuma 1 menit, Nek Ijah melepas kontolku dari memeknya. “ Nanti diliat orang, kita terusin di dalam aja,” katanya membisik ku.

 

Betul juga katanya, karena di tempat terbuka begini kalau ada orang melihat kami bersetubuh, rasanya kurang sopan juga. Ritual mandi segera selesai, aku mengenakan celana boxer dan kaus oblong. Nek Ijah mengenakan kain batik menutupi payudaranya dan pahanya. Orang Jawa menyebutnya kemben.

 

Nek Ijah menggandengku masuk rumah. Aku turuti saja tarikannya, kira-kira dia mau apa. Apakah mungkin kami melakukan persetubuhan, sementara cuaca sudah terang, sehingga semua orang di rumah ini bisa melihat.

 

Namun dugaanku keliru. Nek Ijah mengajakku naik ke kasur. Aku ditelentangkan dan celana boxerku dilepas. Penisku yang masih setengah tegang diraihnya lalu dia langsung mengoral. Begitu mulutnya melahap penisku aku langsung lupa diri, karena nikmatnya kuluman mulut Nek Ijah.

 

Kulihat perempuan lain mondar-mandir, sibuk dengan urusannya masing-masing sambil sesekali melirik kami berdua. Mereka seolah tidak ambil pusing oleh kegiatanku bersama Nek Ijah. Birahiku makin memuncak, sampai penisku benar-benar keras.

 

Nek Ijah tidak membuka kembennya. Dia menduduki dan menuntun penisku memasuki lubang vaginanya. Ternyata dibalik kemben itu dia tak pakai celana dalam. Setelah penisku tenggelam tertelan memek Nek Ijah, dia langsung melakukan gerakan berputar. Luar biasa rasa nikmat penisku yang seperti diperas-peras oleh memeknya. Mungkin inilah yang disebut “Goyang Karawang”. Penisku bagaikan sendok yang mengaduk vaginanya. Aku tidak peduli apakah Nek Ijah bisa merasakan nikmatnya ngentot, karena aku merasa kan nikmatnya di penisku luar biasa.

 

Aku mampu bertahan, walaupun permainan Nek Ijah ini top banget. Mungkin karena semalam aku sudah ngecrot dua kali, jadi penisku agak imum. Nek Ijah rupanya asyik sendiri dengan erangan-erangannya. Mungkin gerakan ini mengakibatkan clitorisnya tergerus maksimal dan G-spotnya juga seperti kena ulegan. Dia mendahului ku mencapai orgasmenya . Tampaknya dia mendapat orgasme yang luar biasa, karena, nenek-nenek ini menjerit tanpa sadar, sampai menarik perhatian semua orang di dalam rumah.

 

Memang aku merasa penisku seperti dipijat-pijat oleh gelombang orgasmenya. Penisku juga terasa hangat oleh siraman lendir vagina Nek Ijah. Dia sudah ambruk menindih tubuhku dengan nafas terengah-engah. Setelah usai, perlahan-lahan kubalikkan posisinya sambil menjaga jangan sampai penisku lepas. Aku berhasil menindihnya. Nek Ijah menurut saja kemauanku. Setelah posisinya mantap, aku mulai menggenjot. Terasa agak beda memek nene-nenek ini. Rasanya sekarang malah lebih menggigit, dibanding tadi. Aku terus bermain mencari jalan ke puncak kepuasanku sendiri. Aku tidak peduli apakah Nek Ijah juga merasakan nikmat. Hampir 10 menit aku mengayuh, mulai terasa aku akan ejakulasi. Gerakanku dipercepat, sementara itu Nek ijah rupanya syur pula dengan gerak cepatku. Dia merintih seperti menangis lalu berteriak mengejutkanku, ketika aku menembakkan spermaku ke dalam memek nya.

 

Badanku terasa lelah, sepagi ini sudah bekerja keras. Aku berbaring disamping Nek Ijah sambil mengatur nafasku sampai normal kembali. Nek Ijah mengusap-usap rambutku. Dia kata aku pintar membahagiakan perempuan, karena bisa bermain dan memuaskan pasangannya.

 

Kupakai kembali celana pendekku dan aku kembali ke kamar mandi mencuci alat vitalku. Bukan itu saja aku mengulang mandi lagi, karena badanku berkeringat. Lepas mandi perutku terasa lapar.

 

Mereka seperti pandai menduga, karena hidangan nasi goreng, yang cukup pedas dengan telor mata sapi kesukaanku sudah tersedia. Tanpa diminta dua kali aku langsung melahap sepiring penuh nasi goreng yang cukup pedas, tapi rasanya nikmat banget.

 

Mandi, udah, ngentot udah, makan sampai kenyang. Apalagi kesenangan yang belum kudapat. Dalam hati aku tertawa geli, karena kejadianku dirumah ini seperti “Buy one get four”. Badanku segar, kenyang, dan ringan. Aku mencari udara segar duduk di amben sambil menghisap rokok dan menyeruput hidangan kopi tubruk. Tidak lama kemudian ke empat bidadariku mengerumuni ku dan kami bercanda sambil berbual-bual.

 

Mereka memintaku menginap semalam lagi, karena mereka menyenangi aku. Kata Amah aku pinter mainnya, dan kuat. Nek Ijah menimpali dengan mengatakan aku orangnya bagus. Sudah terbayang dikepalaku, jika aku nginap semalam lagi, maka akan terjadi pesta orgy paling tidak dengan 3 perempuan dewasa. Aku melihat Ani tidak bakal bisa ikut, karena memeknya masih sakit.

 

Permintaan mereka aku setujui, dan mereka menyambutnya dengan menyiumiku bergantian. Meski aku senang tetapi benakku bertanya. Bagaimana jalan pikiran perempuan-perempuan ini, sehingga mereka dengan seenaknya mengentot denganku di depan anak dan ibunya bahkan neneknya, juga tidak peduli pada cucuk dan cicitnya.

 

Ketika hal itu kutanyakan dalam obrolan di teras rumah, Imah menimpalinya dengan santai bahwa mereka merasa tidak perlu malu, karena sudah sama-sama dewasa. Akhirnya dari obrolan itu aku menyimpulkan bahwa mereka meskipun adalah anak, cucu, cicit, emak, nenek dan buyut, sepertinya hubungan itu diabaikan. Mereka menganggap ya sebagai sesama perempuan yang ingin mendapat kepuasan saja.

 

Entah karena jalan pikirannya terlalu sederhana, atau memang karena norma soal hubungan sex di kampung ini begitu longgar. Jadi mereka tidak perlu ambil pusing, atau merasa malu apalagi segan, jika harus ngentot di depan anak atau cucunya bahkan cicitnya. Karena sama-sama perempuan, sama-sama punya keinginan, ya penuhi saja keinginan itu selagi bisa.

 

Seharian bergaul dengan mereka aku menjadi makin akrab dan sudah dianggap sebagai keluarga, atau bahkan dianggap sebagai suami mereka. Dengan santainya masing-masing bermanja-manjaan denganku, menggelendot, menciumi dan memelukku dikasur.

 

Malam kedua, aku bekerja lebih keras, karena kami bermain 4some. Agak berkepanjangan jika aku uraikan permainan kami. Tapi semalam itu aku berhasil mengoral mereka, termasuk Suryani. Tapi yang bisa dientot tidak termasuk Ani. Hebatnya aku berhasil membuat mereka squirt melalui olahan tanganku. Ini yang membuat mereka makin senang denganku. Malam itu aku sempat dua kali berejakulasi. Agak lupa di memek siapa aku ngecrot malam itu.

 

Hari itu aku harus pulang ke Jakarta, karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Meski pun Amah.Imah dan Ijah tidak menuntut, tetapi aku tidak tega, sehingga mereka kuberi sejuta-sejuta. Mulanya mereka menolak, tetapi aku tahu bahwa uang itu sangat berarti, sehingga aku memaksa mereka menerimanya.

 

Ketika aku kembali pulang, mereka dengan berat hati melepas, bahkan sampai berlinangan air mata. Mereka menuntutku agar seminggu lagi aku datang lagi dan menginap lebih lama.

 

Setelah hampir dua minggu aku baru bisa kembali ketempat gubuk mereka. Bukan main senangnya melihat kedatanganku. Itu adalah hari jumat sore. Kau berencana akan menginap di rumah mereka sampai hari minggu. Jadi ada 2 malam yang bakal kuhabiskan untuk pesta orgy di gubuk di tengah desa.

 

Kedatanganku kali itu aku membawa oleh-oleh. Pakaian-pakaian cukup banyak. Aku memang bukan membeli baju-baju baru, tetapi aku memborong baju-baju bekas eks impor. Hampir seharian aku memilih dan menaksir ukuran baju-baju mereka. Mungkin sekitar 10 stel untuk setiap orang. Meski pun bekas, tetapi masih sangat layak pakai. Apalagi untuk dipakai di desa, masih kelihatan sangat bagus.

 

Oleh-oleh setiap orang aku bungkus, satu persatu. Bukan hanya pakaian, tetapi juga ada tas wanita, 3 buah masing-masing, lalu sepatu dan sendal. Semuanya barang bekas eks impor. Semua baju aku laundry dan barang-barang lain aku bungkus dengan plastik seperti kelihatan baru. Baju-bajunya pun terlihat seperti baru karena terbungkus rapi dalam plastik laundry. Bagasi mobilku penuh.

 

Sesampai aku ditempat mereka, aku tidak membawanya, karena aku datang sendiri, sehingga tidak bisa aku jinjing sendiri semuanya. Aku ajak mereka ke mobilku, lalu masing-masing membawa oleh-olehnya.

 

Sesampai di rumah mereka tidak sabar membukanya. Sepertinya aku mengerti selera para perempuan itu, karena mereka merasa cocok dengan pilihanku termasuk model dan warnanya. Aku tidak mengungkap bahwa itu barang bekas. Mereka menganggap semua itu adalah baru. Tanpa malu, mereka mencoba bajunya satu persatu, Untung ukurannya bisa masuk semua, termasuk sepatu dan sandal.

 

Aku tahu bahwa mereka tidak punya tempat untuk menyimpan baju-baju itu. Makanya aku menempatkan baju mereka di dalam box kontainer plastik. Jadi aku membawa 4 kontainer , dan kontainer itulah yang mereka gendong. Aku sudah mempelajari situasi perjalanan dari mobil ke rumah mereka, sehingga aku membungkus kontainer itu dengan karung goni, jadi tidak terlihat mencolok oleh para tetangga mereka.

 

Aku sudah bagaikan raja di rumah itu. Mereka menawariku untuk dipijat. Bukan tanggung ke empat cewek itu memijatiku semua. Memang pijatannya terasa tidak karuan. Mungkin bukan karena pijatannya kurang nikmat, tetapi karena semua bagian dipijat jadi rasanya bingung untuk menikmati pijatan mana yang enak.

 

Meski hari masih sore, tetapi akibat pijatan itu suasana jadi hot. Aku hanya mengenakan celana dalam boxer. Mulanya dipijat dengan posisi telungkup, kemudian ya telentang. Dari sejak telungkup tadi penisku sudah agak mengeras. Begitu telentang, karena tidak ada halangan, penisku jadi makin menggembung. Nek Ijah yang pertama berkomentar sambil meremas penisku. Tanpa menanya dan izinku, ditariknya satu-satunya penutup tubuhku, sehingga penisku berdiri gagah perkasa.

 

Imah yang sedang memijat paha kananku langsung meraih penisku dan digenggam lalu dikocoknya. Birahiku jadi meningkat. Ditengah kenikmatan itu rupanya Imah sudah mengambil posisi diantara selangkanganku lalu dilomotnya penisku dan melakukan gerakan maju mundur. Nek Ijah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia menjilati pentil susuku bergantian kiri dan kanan. Amah nenbuka bagian atas pakaiannya dan menyodorkan susunya untuk aku hisap. Susunya masih sangat kenyal dan pentilnya terasa pas sekali dipelintir pakai bibir. Aku merasa Suryani masih memijati tangan kananku. Mungkin dia bingung, apa yang harus dilakukan.

 

Aku dikeroyok begitu dan sudah dua minggu libur tidak ngentot, apalagi sedotan Imah nikmatnya luar biasa, spermaku tidak bisa kupertahankan sehingga meletuslah di dalam mulut Imah. Ketika spermaku muncrat, terasa Imah diam saja membekap kontolku dengan mulutnya. Sebetulnya ketika ejakulasi, aku merasa kepala penisku geli sekali. Namun semaksimal mungkin aku tahan. Setelah hentakan ejakulasi usai. Imah melepas mulutnya dari penisku. Aku tidak tahu apakah spermaku di telan atau dibuang, karena pemandanganku tertutup oleh badan si Amah yang masih menyodorkan susunya dan badan Nek Ijah yang masih menjilati putingku bergantian.

 

Setelah mereka tahu aku mencapai kepuasan, mereka menghentikan aktifitasnya di badanku. Aku tergolek lunglai dan pasrah. Imah membersihkan sekitar kontolku dengan handuk basah. Dengan handuk lain dia menyeka keringat di sekujur tubuhku. Aku benar-benar diperlakukan bagai raja.

 

Amah memerintahkan anaknya Suryani agar membuka semua bajunya sampai telanjang. Setelah itu dia membimbing anaknya untuk mengoral penisku yang sedang kuyu. Mulanya dia menolak, karena jijik katanya. Namun ibunya mencontohkan melomot penisku. Neneknya si Imah juga memerintahkan Ani mengoral. Dia setengah memarahi cucunya yang masih belum mampu menghapus rasa jijiknya. Selepas Amah melompot penisku memberi contoh, si Imah ikut memberi contoh dengan menjilati kedua bijiku. Bagian itu adalah kelemahanku, karena jika dijilat disitu aku merasa nikmat sekali. Dia mencontohkan menjilat kontolku dan memperlihatkan bahwa tidak ada alasan jijik mengoral ku.

 

Karena si Buyut juga memberi perintah yang sama, tidak ada celah bagi Ani untuk mengelak. Aku tahu bahwa Ani belum terangsang, sehingga dia masih agak jijik. Tapi karena dipaksa terus akhirnya dia mulai menciumi batang penisku yang sudah mulai bangun. Dari kegiatan menciumi lalu dia mulai berani memasukkan kepala penisku ke mulutnya. Mulutnya tidak melahap semua kepala penisku, tetapi hanya sebagian saja. Meski begitu rasa nikmatnya sudah mulai menjalari tubuhku.

 

Perlahan-lahan penisku memuai. Aku bangkit dan dalam posisi duduk mengangkang memperhatikan kerja si Ani. Dia telungkup diantara selangkanganku. Ani kutarik keatas dan melepas kulumannya. Kini dia yang kubaringkan. Ani menuruti kemauanku. Dia tidur telentang dalam keadaan bugil.

 

Aku menciumi teteknya. Ani menggelinjang dan berusaha menahan kepalaku. Dia merasa geli dan tidak mampu menahannya. Karena kegelian aku menghentikan ciuman di teteknya yang masih kecil. Tanganku yang kemudian meraba, meremas perlahan-lahan dan mempermainkan putingnya yang masih kecil. Kenyal sekali tetek yang baru tumbuh ini. Bentuknya masih sangat mancung. Kelihatannya dia mulai bisa mengatasi rasa gelinya dan puting kecilnya mulai mencuat dan terasa agak mengeras. Tanganku yang satunya meraba belahan memeknya. Memek cembung dengan belahan yang rapat. Jari tengahku menekan belahan rapat itu, mencari letak clitorisnya. Tidak terasa dimana letak clitorisnya. Memeknya memang belum berkembang, aku usap-usap di titik yang kuduga adalah tempat clitoris berada.

 

Mulanya tanganku ditahan, karena dia menggelinjang kegelian juga. Namun aku memaksa bertahan terus mengusap posisi itilnya. Akhirnya dia melemah dan membiarkan aku memainkan memeknya dan mengusap itilnya.

 

Kucolek lubang vaginanya mulai terasa ada cairan agak kental keluar dari lubang vaginanya. Ini menandakan dia mulai terangsang. Aku penasaran ingin mengoral memek kecil yang baru aku jebol keperawanannya dua minggu lalu.

 

Kepalaku ditahannya dan dia berusaha menjauhkan kepalaku dari memeknya. Jilatanku masih terasa geli bagi memeknya. Aku memaksa tetap membekap memeknya, namun lidahku tidak menyentuh wilayah itilnya, aku menjilati sekitar lubang vaginanya. Setelah dia mulai bisa menerima jilatanku, aku beralih ke wilayah itilnya. Setiap tersentuh titik tertentu dia menggelinjang. Aku menengarai di titik itulah letak clitorisnya yang masih tertutup oleh bibir vaginanya. Aku menyerang titik sensitif itu dengan jilatan halus, sehingga Ani makin menggelinjang. Aku tahu gelinjang ini bukan karena geli, tetapi karena nikmat. Dia sudah terangsang dan cukup tinggi sehingga tidak lagi merasa geli. Jika dia belum terangsang dipastikan tidak mampu menahan rasa geli.

 

Cukup lama aku mengoral memek Ani sampai terasa secuil daging keras makin menonjol. ?Aku terus berkosentrasi menjilati titik itu. Tanpa dia sadari dia merintih sebagaimana rintihan cewek yang menikmati senggama. Makin lama, makin menonjol itilnya dan akhirnya dia tidak mampu membendung gelombang orgasmenya . Kepalaku dijepitnya oleh kedua paha dan tangannya menekan kepalaku merapat ke memeknya. Mulutku merasai denyutan bibir memeknya berkali-kali.

 

Ani kemudian tergeletak pasrah dan menutup matanya. Air mukanya menunjukkan rasa puas. Aku mengambil pelumas Jelly untuk melicinkan penisku memasuki lubang memek kecilnya. Lubang memeknya juga aku lumasi. Ani diam saja dan pasrah. Dengan hati-hati aku menusuk kepala penisku yang sudah licin karena pelumas jelly. Ani mengernyit menahan sakit. Penisku terus aku dorong dengan tekanan yang sangat hati-hati sampai akhirnya terbenam seluruhnya. Memperhatikan bibir memeknya, terlihat memek itu seperti terkuak paksa menerima hunjaman penisku.

 

Perlahan-lahan sekali aku menggenjot memeknya. Aku merasa memeknya masih sangat sempit, tetapi penisku tidak merasa sakit seperti ketika memerawani waktu itu. Setelah berkali-kali gerakan maju mundur, terasa lubang nya makin menerima penisku. Aku pun merasa nikmat oleh jepitan memeknya. Ani diam saja tida merespon gerakanku.

 

Mungkin anak di bawah umur belum mampu menikmati entotan, sehingga dia tidak bereaksi. Berbeda dengan wanita yang sudah cukup umur, mereka biasanya sudah mengerang jika aku genjot begini. Aku nikmati saja jepitan memek anak 12 tahun yang sangat nikmat. Lelah main dengan posisi aku diatas, aku berguling sambil memeluk Ani sehingga dia menjadi berposisi di atas. Emaknya, neneknya dan buyutnya memberi arahan agar dia mengatur posisi yang nikmat. Awalnya Ani jongkok diatasku dan melakukan gerakan naik turun. Namun kontrolnya masih belum bagus sehingga penisku berkali-kali lepas dari lubangnya. Emaknya mengajarinya melakukan gerakan maju mundur. Gerakan itu memberikan rasa pada penisku seperti diperas-peras. Mungkin Ani merasa sakit melakukan gerakan itu, dia tanpa arahan telungkup diatasku. Dia tidak melakukan gerakan, sehingga akulah yang bergerak dibawahnya.

 

Posisi aku balik lagi namun kali ini aku tidak menindihnya, tetapi duduk bersimpuh sehingga aku bisa melihat penisku menerjang memek kecilnya. Pemandangan itu menambah rangsangan bagiku sehingga tak lama kemudian aku mencapai puncak dan melepaskan semprotan maniku di dalam memeknya. Aku tahu si Ani tidak sampai orgasme, mungkin karena dia belum mampu menikmati persetubuhan ini.

 

Badanku penuh keringat. Imah mengurus tubuhku yang penuh berkeringat dengan menyeka menggunakan handuk. Aku terbaring dalam keadaan masih bugil, lalu ditutupi oleh sarung. Sekitar setengah jam aku istirahat. Sementara itu Ani sudah kembali berpakaian.

 

Kami kemudian menuju kamar mandi untuk mandi bersama, sebelum hari gelap. Dinginnya air pompa terasa sangat menyegarkan. Aku dimandikan oleh 4 wanita yang semua bugil. Dari ujung kaki sampai rambut semuanya ada yang mengurus. Aku bagaikan anak bayi, diurus oleh 4 perempuan.

 

Setelah badan segar aku menikmati segelas kopi tubruk, singkong rebus dan rokok kretek. Nikmat sekali suasana desa seperti ini, apalagi perasaanku lega karena habis ngentot dan 2 kali crot.

 

Sehabis makan malam, mereka masih mematut-matut baju, sepatu dan tas yang aku berikan kepada mereka. Pakaian yang mereka miliki sebelumnya tidak sebanyak yang aku bawakan, sehingga pemberianku ini sangat luar biasa bagi mereka. Padahal aku belanja itu semua tidak sampai sejuta.

 

Setelah mereka puas dengan baju-baju barunya dan malam juga makin larut, akhirnya kami berkumpul di kasur. Mataku belum merasa ngantuk, sehingga aku duduk bersila. Melihat aku belum rebah, mereka menyesuaikan duduk di dekatku. Amah mengambil kesempatan memijat bahuku, sementara Nek Ijah memijat tangan kanan dan Imah memijat tangan kiri.

 

Sambil memijat kami mengrobrol mengenai macam-macam, mengenai keluarga mereka, mengenai keadaan kampung. Aku makin banyak tahu mengenai latar belakang mereka satu persatu. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menikah secara resmi, maksudnya nikah dan mendapat surat nikah. Kebanyakan di kampung ini menikah, cukup mendatangkan kyai lalu mengucapkan ijab. Jadi mereka hanya melakukan nikah siri.

 

Suami-suami mereka juga mudah saja pergi meninggalkan rumah, dengan alasan mencari kerja di kota, ada yang kembali, tapi kebanyakan pergi begitu saja dan tidak peduli dengan keluarganya. Perempuan ditelantarkan oleh suami, sudah dianggap biasa di desa ini..

 

Ngobrol lama-lama membuat aku ngantuk. Kubaringkan diriku di kasur, tetapi mereka mengaturku agar aku berbaring di tengah, artinya aku diapit oleh dua orang di kiri dan dua di kanan, Siapa saja yang di kanan dan yang di kiri aku lupa. Namun ketika aku tidur telentang mereka tidak lantas ikut berbaring. Aku kembali dipijat, sambil mereka terus bercerita bergantian. Sejujurnya aku hanya ingin tidur saja, karena nafsuku untuk “bertempur” sudah agak lemah.

 

Namun perempuan-perempuan ini tetap berusaha memuaskan hasrat sexku yang sebenarnya sedang dalam keadaan padam. Ada saja yang memijat-mijat penisku yang sedang loyo. Tidak sekedar meremas dari luar celana, tetapi diraihnya batangku di dalam celana. Seingatku Nek Ijah yang memulai memijat ala vitalku. Dia katanya pernah belajar soal terapi kejantanan. sekeliling kemaluanku diurutnya.

 

Kepiawaiannya mengurut mengakibatkan perlahan-lahan penisku mengeras juga, makin lama penisku bangun makin keras. Padahal hasratku belum bangun. Urutan dengan tangan kemudian berlanjut dengan urutan dengan mulut. Nek Ijah yang paling senior, mahir sekali memainkan mulutnya. Puas melumat kemaluanku dia melepas pakaian bawahnya dan mengangkangiku, vaginanya diadu dengan penisku sampai akhirnya penisku terbenam. Dia memainkan vaginanya sambil tetap duduk diam. Aku merasa otot-otot di dalam kemaluannya berdenyut-denyut memijat penisku. Mungkin gerakan memeknya itulah yang disebut empot ayam. Meski umurnya sudah setengah abad lebih dan cengkeraman memeknya tidak seketat yang muda-muda, tetapi karena kemahirannya, aku merasakan nikmat juga dimainkan oleh memeknya.

 

Sekitar 10 menit dia melakukan olah otot vagina, rupanya dia makin bernafsu. Nek Ijah mulai memacu gerakan berputar kadang naik turun kadang maju mundur. Begitu terus berganti-ganti dan dia syurr sendiri sampai akhirnya dia kelojotan karena orgasmenya. Memeknya memang tidak ketat lagi, tetapi karena cairan pelumasnya tidak banyak berproduksi lagi, dampaknya aku merasa dibekap juga oleh jepitan memeknya.

 

Nek Ijah bangkit, meninggalkan penisku yang masih berdiri tegak gagah berani. Amah yang sedari tadi berbaring disampingku dan membimbing tanganku agar beroperasi di memeknya sampai aku merasakan memeknya banjir, bangkit menggantikan posisi Nek Ijah. Dia rupanya ingin melakukan dengan posisi berbeda. Di jongkok menduduki penisku dengan posisi membelakangiku.

 

Dia melakukan gerakan mengulek. Aku menikmati pemandangan kemontokan pantatnya yang bergetar-getar ketika menabrak tubuhku. Meski cahaya remang-remang, aku tetap cukup jelas melihat pantatnya yang semok naik turun dan berputar-putar diatas kemaluanku. Dia mengolah gerakannya sendiri untuk mendapatkan kenikmatan sampai akhirnya dia pun terpuaskan setelah mencapai puncak kenikmatannya dan rebah telentang di atas tubuhku.

 

Penisku masih terus tegak. Aku sendiri bingung atas kemampuan penisku bertahan keras terus, padahal aku sedang kurang bernafsu. Mungkin itu merupakan hasil kerja terapi kejantanan yang dilakukan nek Ijah tadi.

 

Melihat penisku masih keras dan tegak, Imah duduk disampingku. Dia mengurut-urut di sekitar kemaluanku. Urutannya membrri kenikmatan sendiri dan mengakibatkan penisku terasa makin keras seperti kayu. Aku tidak tahu, untuk apa penisku diurut, aku senang karena urutannya menambah kekerasan senjataku.

 

Imah lalu menaikiku dan memasukkan penisku ke dalam liang vaginanya. Setelah terbenam seluruhnya, Imah telungkup diatasku. Pinggulnya bergerak naik turun, kadang-kadang bergoyang kekiri-kekanan. Aku merasakan permainannya itu sangat merangsang dan memacu birahiku sampai akhirnya hampir mencapai puncak. Kelihatannya Imah tahu jika aku sudah mendekati finish. Dia lalu berhenti bergerak, sehingga libidoku turun kembali. Setelah itu dia melakukan olah pinggulnya lagi. Permainannya memang luar biasa, sebab dengan cepat birahiku naik lagi, lalu dia berhenti lagi bergerak. Aku jadi merasa dipermainkan, karena menjelang aku tepancut, dia berhenti, sehingga aku gagal meraih puncak..

 

Aku jadi tidak sabar. Jika tadi aku diam saja alias pasif, kini aku berinisiatif bergerak-gerak menerjang ke atas. Rupanya Imah kurang berkenan, tetapi dia tidak protes, dia hanya mengikuti gerakanku, sehingga dia mampu mengurangi gesekan. Sebab jika aku dorong naik dia ikut naik, aku tarik dia mendorong memeknya mendekat. Gerakanku agak kurang leluasa karena dia menindihku.

 

Aku menyerah lalu kembali diam. Imah kembali berperan. Dia melakukan gerakan yang unik menurutku. Badannya tidak bergerak, tetapi pinggulnya seperti bergerak seperti gerakan mengangguk-angguk sehingga aku merasakan penisku seperti dicabut-cabut. Gila nikmatnya luar biasa. Lama-lama gerakannya makin buas dan aku pun terbawa nikmat dan aku sampailah digaris finish, tetapi Imah makin gila dan tidak peduli dengan ejakulasiku. Dia makin buas bergerak.Rupanya ketika aku ejakulasi, dia pun hampir mencapai kenikmatan. Dampak semprotan spermaku yang hangat membuat dia mencapai kepuasannya sampai dia merintih panjang. Dia terengah-engah di atas tubuhku dan peluh kami mengucur cukup banyak.

 

Badanku terasa lelah sangat, sehingga aku tidak peduli lagi dengan keadaan tubuhku. Aku langsung tertidur..

 

Nyenyak sekali tidurku. Aku terbangun pagi-pagi karena mendengar kokok ayam jago. Begitu bangun aku memegang senjataku. Sebab aku merasa, barangku seolah-olah hilang. Ketika kupegang, ternyata bukan hilang tetapi terkulai loyo. Aku sempat syok, karena biasanya setiap bangun pagi barangku pasti mengeras, apalagi jika dalam keadaan sesak kencing. Pagi itu aku memang kebelet kencing, tetapi yang mengkhawatirkanku adalah barangku tidak bangun, malah loyo.

 

Aku bangun dan melepas hajat kecil di luar rumah. Aku kembali dan berbaring di samping Nek Ijah. Dia rupanya juga sudah siuman. Aku peluk tubuhnya lalu aku bisikkan masalahku. Dia senyum-senyum. Dia lalu duduk di sampingku, lalu melepas celanaku dan melakukan pijatan di sekitar kemaluanku. Kelihatannya dia paham betul dengan otot kemaluan. Tidak terlalu lama dipijat dan diurut, penisku mulai bangun dan makin lama makin keras. Aku kagum juga kemahirannya membangunkan ular tidur. Penisku jadi keras, padahal aku tidak sesak kencing.

 

Nek Ijah berhenti memijat dan membiarkan penisku tegak berdiri mengeras. Sekitar 5 menit dia diamkan sambil terus diamati. Penisku tidak menyusut, masih tetap tegak. Nek Ijah mengangguk-angguk yang aku tidak tahu apa maksudnya.

 

Suryani yang baru bangun diperintahkan Nek Ijah membuka pakaian bawahnya. Ani tidak berani membantah kecuali mengikuti instruksi buyutnya. Aku menangkap rencana Nek Ijah. Dia menginginkan agar aku mencoba kedigdayaan penisku kelubang cicitnya. Aku meraih pelumas K Jelly dan melumasi seluruh batang penisku. Nek Ijah memerintah aku menindih cicitnya. Aku bangkit mengikuti perintahnya dan langsung mengarahkan penisku memasuki lubang vagina yang masih belum berbulu. Ani sebetulnya belum siap menerima penisku, karena dia belum terangsang. Aku tahu itu makanya aku lumasi memeknya dengan K jelly.

 

Tidak terlalu sulit penisku masuk ke dalam memek sempit dibantu pelumas k Jelly. Nikmat sekali rasanya jepitan memek anak dibawah umur. Aku memompa per lahan-lahan dan makin lama makin cepat. Cukup lama juga aku menggenjot Ani, meski pun memeknya menjepit dan nikmat tapi aku bisa bertahan cukup lama. Ani mulai terbawa gelombang birahi, sehingga tanpa sadar dia mendesis-desis lalu merintih. Aku makin bersemangat, karena aku tahu dia mulai merasa kenikmatan disetubuhi. Tiba-tiba Ani merintih panjang dan memeluk diriku ketat sekali. Dia mendapatkan orgasme, aku makin yakin, karena memeknya menjepit-jepit dengan irama seperti orang berejakulasi.

 

Aku behenti sejenak sampai dia selesai meluapkan kenikmatannya. Setelah itu aku mainkan lagi genjotan dan rasa memeknya makin nikmat saja. Sebetulnya tadi aku sudah hampir sampai juga, tetapi hilang karena gerakan aku hentikan. Aku genjot lagi dan aku berkosentrasi penuh sampai menjelang puncak kenikmatanku. Rupanya kosentrasiku memberi dampak pada permainanku yang menghantar punak kenikmatan Ani kembali. Dia merintih panjang dan memelukku lagi, tapi aku tidak peduli aku sudah hampir sampai maka aku genjot dan tidak berselang lama aku pun sampai kepuncak kepuasanku.

 

Luar biasa rasanya permainanku kali ini. Selain cukup lama, juga sangat nikmat. Aku tidak tahu pasti, penyebabnya apakah karena memek anak kecil yang sempit atau karena pijatan terapi kejantanan yang dilancarkan Nek Ijah tadi.

 

Dua malam aku menginap di rumah mereka aku menjadi kuda pacu yang seolah-olah tidak mengenal lelah karena semua lawanku bisa aku atasi dengan memuaskan. Meskipun spermaku makin lama sedikit keluarnya, tetapi vitalitasku tidak berkurang, tetap greng dan tetap bergerak tanpa lelah.

 

Berikutnya aku sering berkunjung ke desa mereka. Awalnya aku bisa sering ke desa mereka, rutin tiap dua minggu sekali. Kebetulan aku mendapat proyek konstruksi di Karawang, sehingga aku bisa dekat dengan mereka.

 

Setelah setahun dan proyekku selesai, aku menjadi jauh. Karenanya mereka sering aku boyong ke apartemenku. Aku memiliki apartemen dengan 3 kamar, yang sudah lama kubeli dari kawanku yang pada waktu itu butuh duit. Aku mendapatkan harga yang cukup murah waktu itu.

 

Aku di pertengahan usia 30 memang belum pernah menikah dan belum punya pasangan tetap. Dengan kehadiran mereka dalam hidupku aku bagaikan memiliki istri 4 orang sekaligus. Istri yang unik karena mereka adalah anak beranak dan usianya masing-masing berbeda 14 tahun.

 

Kehidupan mereka terangkat karena aku santuni. Penampilannya pun tidak lagi lusuh. Bahkan sudah dapat dikatakan bening-bening. Jika dilihat tampilan mereka terakhir, tidak terlihat bekas bahwa dahulunya mereka orang pelosok desa, yang tinggal di gubuk bambu.

 

Setehun kemudian aku mendapat proyek besar, sehingga bisa membelikan sebidang tanah, yang tidak terlalu luas, cuma sekitar 120 m2, di desa yang lebih dekat dengan kota Karawang Diatas tanah itu aku bangunkan sebuah rumah yang minimalis tetapi dirancang artistik. Diruang tengah ada ruangan luas. Itu memang kurancang begitu, karena di ruangan itu kubangun 4 kompartemen untuk masing-masing mereka.

 

  Aku mendadani mereka dan membantu merawat tubuh mereka. Rasanya kalau aku berjalan dengan ke 4 wanita ini di Senayan City, bakal banyak mata melirik iri kepada ku. ***

Image

Suryani

 

Image

Uyut Ijah

Image

Nek Imah 

Image

Mak Amah

 

Punya 3 Istri Begini Ceritanya

By Jakongsu

Meski agak susah payah, 3 tahun aku sudah menjalani kerja sebagai agent property. Sejak lulus S-1 Ekonomi, pekerjaan yang paling mudah diperoleh adalah agent property, lowongan lainnya terlalu berat seleksinya.

Cukup lama aku berjuang melawan malu, takut, dan kejar target. Akhirnya semua jadi terbiasa dan menjadi modal untuk meningkatkan karir. Aku terpacu oleh agent-agent lain yang kelihatannya biasa-biasa saja tetapi penjualannya cukup baik. Di kantor agent tempatku bekerja sebagian besar agent adalah cewek, ada yang ibu-ibu dan banyak juga yang masih muda.

Kadang-kadang penampilan mereka membuatku iri. Mobil mereka bagus-bagus, dandanan dan asesorisnya berkelas. Sementara aku harus puas dengan sepeda motor. Aku bertekad harus bisa menyamai para top seller. Pendapatanku banyak terpakai untuk mengikuti sales seminar dan seminar property. Aku pikir pengalaman dan pengetahuan orang perlu aku serap, karena kalau harus mengalami sendiri terlalu lama jatuh bangunnya.

Perlahan-lahan penjualanku mulai meningkat, sehingga menjadi perhatian sesama sales. Salah seorang sales di kantor ku membuka kantor agent property sendiri. Dia mengajakku untuk bergabung. Aku pikir dan pertimbangkan yang mengajakku adalah agent cantik, seorang wanita yang selalu berpenampilan smart keturunan China usianya masih tergolong muda. Mungkin malah sebaya dengan aku sekitar 25 tahun. Ia sudah cukup lama terjun menjadi agent, sejak awal kuliah dulu dia sudah bergabung menjadi agent property.

Kantor baru, ternyata hasil patungan 3 orang agent. Selain Meilan, juga Cindy dan Murni. Ketiga mereka termasuk bintang di kantor ku yang lama. Cindy juga cantik, sebagaimana gadis Manado, kulitnya putih, rambutnya hitam lebat. Murni, ayu khas Indonesia banget, warna kulitnya kalah putih dengan kedua rekannya, tetapi masih bisa dibilang putih.

Sebagai bos di kantor baru aku selalu berhubungan dengan mereka. Penjualanku terus menanjak, itu yang membuat mereka senang. Ketiga bidadari yang menjadi bosku itu makin akrab. Meski mereka cantik dan masih muda, tetapi aku sama sekali tidak berharap bisa lebih intim. Selain karena bos, juga rasanya kurang enak, karena rekan kerja sekantor.

Setelah setahun, aku bergabung dengan mereka, aku baru tahu bahwa ternyata mereka adalah janda. Aku cukup terperanjat, karena cantik dan semuda mereka kok bisa ketemu laki-laki bodoh yang menceraikan mereka. Kenapa sampai cerai dan bagaimana ceritanya, aku tidak tahu, aku gak berani nanya-nanya soal itu, lagian apa urusanku menyelidik mereka.

Meski begitu ada juga yang membuatku penasaran. Jika mereka sudah tidak bersuami, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan biologisnya. Apa mungkin mereka menggunakan jasa gigolo, atau gimana ya ?

“Hey ganteng, sibuk nggak,” tegur Cindy. Aku memang sering digoda dengan sebutan si ganteng. Cindy minta aku temani karena dia mau prospek orang di hotel. Kata dia calon prospeknya kelihatan jelalatan, dia takut dijebak.

Aku memang sedang tidak ada prospek, “ kalau gol, gua dapat komisi juga ya,” godaku.

“Ah lu perhitungan amat, minta ditemani aja, pakai nuntut komisi,” katanya.

Aku sebenarnya bercanda menggoda dia saja. Padahal aku tahu, prospek yang akan ditemuinya itu berminat membeli satu tower apartemen. Seandainya aku jadi Cindy, jika prospek menuntut minta ditemani tidur semalam, rasanya wajar aja, sebab yang bakal didapat satu tower. Bisa meledak tuh komisinya.

Calon prospeknya memang jelalatan, wajar jika Cindy ngeri nemuin dia sendirian. Mana orangnya buncit, kulit hitam dan tampangnya gak ada bagus-bagusnya. Tapi duitnya banyak. Cindy mulai menggelar jualannya. Aku hanya diam saja sambil mencermati bagaimana dia memikat dan menjerat prospeknya. Sebenarnya ilmu jualan Cindy gak hebat-hebat amat. Aku pikir malah standar saja. Mungkin karena dia cantik, maka dia banyak menjaring pembeli. Suaranya memang renyah, malah cenderung rada merangsang.

Prospek yang dihadapi Cindy ternyata bukan orang yang mudah dipikat dan digoda dengan kecantikan. Dia membanding-bandingnya dengan apartemen lain yang sekelas dengan yang dijual Cindy. Wah Cindy kelihatannya kehabisan akal menanggapi serangan si jelek yang tajir itu. Belum terlihat tanda-tanda dia tertarik dengan barang yang dijual Cindy. Dadaku sudah sesak, karena sedari tadi diam saja.

Setelah Cindy terdiam, aku mengambil over dengan memberi tambahan penjelasan. Aku melihat prospek ini adalah spekulan. Dia ingin menggaet keuntungan dengan beli di pasar perdana dan menjual di pasar reguler. Penjelasan Cindy tadi kurang menggelitik rasa geli spekulan. Aku langsung menggambarkan kemungkinan peningkatan harga pada setahun mendatang. Aku katakan minimal dalam setahun mendatang bisa untung 80 persen.

Sang prospek senyum sinis. Dia mendesakku dari mana aku bisa membuat perkiraan ngawur begitu. Aku mulai menggelar beberapa unggulan. “ Pak bangunan yang dipasarkan dan yang dibangun ini baru menempati seperlima dari lahan yang dimiliki developer, artinya , di masa depan terbuka kemungkinan developer membangun mall, atau hotel, atau condominium. Porperty yang ada disekitar apartemen ini harganya sudah melonjak 100 persen dibandingkan setahun lalu. Padahal apartemen ini baru memulai menanam tiang pancang. Jika apartemen ini jadi, pasti developer sudah menyiapkan jualan property yang lain.

Gombal yang begitu, membuat si prospek terdiam, eh dia malah membetulkan pernyataanku, karena ternyata dia pernah mau beli sebidang tanah dekat dengan bangunan apartemen itu, sekarang harganya sudah lipat dua.

Setelah basa-basi sedikit, akhirnya deal dan penjualan close. Cindy sibuk menyiapkan berbagai dokumen. Aku membantunya. Sejam kemudian aku dan Cindy sudah berada di mobil. Aku mengendarai Mercy C-200 terbaru miliknya. Kami kembali ke kantor. Di kantor, ternyata Meilan dan Murni menunggu kami. Maklum ini jualan besar.

Begitu bersua, Cindy langsung teriak “GOAL” mereka saling berpelukan sementara aku bengong saja melihat mereka bertiga meluapkan kegembiraan. Tanpa disangka-sangka Cindy melompat memelukku dan kakinya langsung merangkul tubuhku dan mulutnya menciumiku berkali-kali sampai aku gelagapan.

Cindy kemudian bercerita sambil memujiku. Menurut dia mangsa sudah hampir lepas, tetapi aku berhasil membalikkan situasi sehingga mangsa dengan suka rela masuk ke jaring. Mereka tidak tahu bahwa aku mempunyai kemampuan membaca pikiran lawan dan mengirim sugesti melalui telepati untuk menundukkan pendirian lawan bicara. Itu semua kupelajari dari mengikuti seminar-seminar.

Sejak saat itu, jika mereka akan bertemu prospek kakap mereka selalu mengajakku. Jika aku berhalangan mereka berani menunda appointment, menunggu sampai aku ada waktu. Memang tidak ada prospek yang gagal selama aku mendampingi mereka. Jualan mereka tidak lagi unit, tetapi sudah tower-tower.

Aku memang kecipratan banyak juga sih dari komisi mereka, tapi rasanya gak puas kalau belum aku sendiri yang mendapatkan prospek kakap.

Di hari yang aku lupa, Para bosku memanggil ke ruang kerjanya. Mereka meminta kesediaanku untuk menjadi sopir mereka. Seorang rekan mereka melangsungkan perkawinan di kota Cirebon. Aku juga kenal, karena Vera adalah pernah satu kantor di tempat yang lama.

Di hari yang dijanjikan, sekitar jam 10 pagi menjelang siang aku dijemput dengan Mercy C-200. Duduk di depan Cindy dan dibelakang Murni dan Meilan. Mereka pada doyan tidur, sehingga di jalan tol kulajukan dengan kecepatan maksimum, Sekitar jam 4 sore kami sampai di Cirebon. Murni yang agak mengenal kota ini mengarahkan ke penginapan berbentuk cottage.

Untuk urusan chek in, Meilan yang mengatasinya, Seorang bell boy mengarahkan kendaraan menuju salah satu cottage. Cottage yang dipilih lumayan bagus, bangunannya besar, namun ruang tidur dan ruang tamu menyatu. Rupanya yang dipesan hanya satu cottage. Berarti aku akan tidur dengan 3 bidadari.

Acara resepsi perkawinan dimulai jam 7 malam, sehingga masih ada waktu bagi kami untuk istirahat. Aku langsung masuk kamar mandi menyegarkan diri lalu berselonjor di sofa bed. Mataku ngantuk sekali. Aku tidak tahu lagi apa yang kemudian terjadi. Sekitar sejam aku lelap dan ketika aku bangun mataku menangkap pemandangan yang menakjubkan. Ketiga cewek itu mengenakan daster tipis dan di dalamnya hanya mengenakan celana dalam. Tetek mereka yang bergelantungan tampak jelas oleh pemandangan mataku. Mereka tampaknya tidak canggung sama sekali.

Aku duduk dan menyesuaikan cahaya ruangan di mataku. Mengetahui aku sudah bangun mereka kelihatan sibuk, ada yang membuatkan kopi, ada yang menyodorkan cemilan. Cindy dan Murni duduk mengapitku. Aku dipeluk mereka berdua, sehingga kedua ujung sikutku menyenggol benda empuk yang kenyal.

Tanpa basa basi tangan Cindy meraih selangkanganku, dia langsung menggenggam batangku yang masih setengah keras. Jujur, pada waktu itu merasa kikuk. Karena 3 wanita berada di satu ruangan sementara dua orang mengapitku, sedang yang satu lagi masih sibuk dengan HP nya. Tapi aku cepat berpikir bahwa pasti mereka sudah punya rencana terhadapku sehingga tanpa canggung Cindy berani berbuat seperti ini. Aku segera merespon aksi Cindy dengan merengkuh pundaknya dan langsung mencium bibirnya. Cindy langsung menyambut ciumanku dengan menyedot lidahku dan memainkan lidahnya masuk ke dalam mulutku.

Sedang aku asyik menguncup Cindy, Murni menarik kepalaku sehingga ciumanku lepas dari mulut Cindy dan langsung dicucup Murni. Nafas Murni sudah mendengus-dengus. Sementara itu aku merasa, resleting celanaku dibuka Cindy lalu menarik sekaligus celana dalamku.

Batangku yang sudah lumayan keras langsung melenting. Penisku ukuran normal untuk orang Indonesia, panjang 15 cm dan garis tengah 4 cm. Namun yang mungkin agak istimewa, topi helmnya besar seperti kepala jamur. “Wuih helmnya gede, amat,” kata Cindy.

Dia mencoba mengulum penisku, tetapi kelihatannya agak kerepotan karena lebarnya kepala penisku. Aku agak sulit berkonsentrasi, sebab yang atas melayani Murni yang bawah di rogol Cindy. Tanganku beroperasi meremas bongkahan tetek Murni. Teteknya tidak terlalu besar, tetapi tetap tidak muat untuk setangkup tanganku. Tanganku langsung masuk dari bawah dasternya meremas bongkahan tetek Murni dan memelintir putingnya yang sudah mengeras tetapi masih kecil.

Sementara itu aku merasa ada peserta baru di bawah sana. Aku melirik, Meilan ikut ambil bagian menjilati buah pelirku. Ini adalah pengalaman pertamaku bermain langsung dengan 3 wanita.

Tanganku meraih selangkangan Murni, langsung masuk ke balik celana dalamnya. Jembutnya tidak terlalu lebat dan parit ditengah nya terasa sudah berlendir. Aku menggosok-gosok parit berlendir itu. Dengan mudah aku menemukan clitorisnya, yang langsung aku gosok. Murni pecah kosentrasinya sehingga dia lepas dari mulutku.

Aku melepas celana Murni dan terus memainkan itilnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Murni duduk terkulai di sampingku dengan daster yang sudah tidak karuan. Sementara itu, Meilan mendahului temannya langsung mengambil posisi duduk di atas penisku dan mengarahkan penisku memasuki lubang hangatnya. Tanpa halangan penisku melesat perlahan, kedalam lubang kenikmatan. Cindy yang tidak kebagian mainan duduk di sampingku, kananku. Kurengkuh badannya dan kucium, lalu tanganku langsung menyeruak masuk ke balik celana dalamnya. Belahan memeknya juga sudah berlendir. Jembutnya dicukur botak, sehingga aku mudah menemukan lubang vaginanya dan meraih itilnya yang juga sudah mengeras. Aku mainkan itilnya. Cindy mengerang-ngerang. Karena konsentrasiku terpecah-pecah, sehingga aku tidak terlalu fokus dengan genjotan Meilan. Tanganku yang satu lagi tangan kiri ditarik si Murni lalu dia mengarahkan agar aku memainkan memeknya lagi.

Tiga tugas kulakukan dalam satu waktu, sehingga agak sulit bagi otakku mengendalikan gerakan. Aku turuti kemauan murni dan jari-jariku langsung melesat masuk ke dalam liang vaginanya. Untung aku rajin memotong kuku, sehingga aku tidak ragu-ragu mengobel memek. Setelah jari tengahku masuk penuh, aku mencoba memasukkan jari manisku sekaligus, dua jari berhasil masuk. Aku mengocok-ngocok. Rupanya posisi Murni kurang leluasa menikmati sodokan jariku, dia berbaring dan mengarahkan selangkangannya menghadapku. Sementara itu di sebelah kanan si Cindy sudah pula mengerang-ngerang karena kilikan jari di itilnya. Aku melepas celananya yang dia bantu sehingga bagian bawahnya yang gundul terlihat jelas. Aku masukkan jari tengah lalu aku masukkan lagi jari manisku.

Kini jari-jari penting sedang bermain di kiri dan kanan. Cindy mengikuti Murni mengubah posisinya menjadi telentang dan menghadapkan selangkangannya ke arahku. Aku memainkan G Spot Cindy dan Murni secara bersamaan dan mempertahankan kekerasan penisku yang terus digenjut Meilan. Sekitar 5 Menit kemudian Murni mengerang panjang dan bersamaan dengan itu terpancar cairan ejakulasinya sehingga mengenai tubuh Meilan. Terbawa oleh suara erangan Murni, Cindy menyusul memancarkan cairan ejakulasinya sambil mengerang dan berkedut-kedut. Meilan makin hot melihat kedua temannya mencapai orgasme dan aku pun jadi makin bernafsu sehingga aku merasa akan segera menembakkan spermaku. Mungkin karena waktunya hampir sampai atau memang gerakan Meilan yang memberi kenikmatan akhirnya aku melepas beban birahiku dengan menyemprot cairan hangat ke dalam rongga memek si Meilan. Pada semprotan kedua Meilan mendekapku dan menekan memeknya ke penisku sehingga seluruhnya terlahap oleh memek Meilan. Dia juga menjerit dan memeknya seperti meremas-remas penisku. Mungkin inilah maksud dari pepatah, “ Sekali kayuh, 3 pulau terlampau, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya”.

Ya cerita ini memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya, sehingga aku perlu menceritakannya karena kejadian seperti yang kualami ini tak banyak yang bisa ikut merasakan. Kalau tidak unik maka tidak akan kuceritakan.

Kami berempat terkulai lemas. Aku sempat tertidur sekitar 10 menit, para cewek juga sudah tertidur. Hembusan AC lama-lama terasa dingin, sehingga mereka terbangun. Badanku terasa lengket, karena di bagian bawah berselemak cairan sperma dan cairan memek Meilan, tangan kanan dan kiriku juga berselemak dengan cairan memek Cindy dan Murni. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 6 sore.

Aku beranjak bangun menuju kamar mandi, karena kantong kemihku terasa penuh. Dengan santai aku bertelanjang bulat lalu mandi air hangat di pancuran. Tidak lama kemudian masuk ketiga perempuan yang barusan aku embat dalam keadaan telanjang bulat. Lampu kamar mandi yang terang benderang memberi pandangan nyata terhadap body mereka satu persatu. Cindy badannya cukup sekel, tetek tidak terlalu besar, bulu jembutnya sama sekali tidak ada, sehingga memeknya botak dan kelihatan cembung, seperti memek anak kecil. Murni teteknya lebih besar dari Cindy, tingginya paling pendek diantara teman-temannya, jembutnya tidak terlalu banyak, rambutnya hitam lurus. Meilan kulitnya putih teteknya paling gemuk diatara teman-temannya, putingnya merah muda dan jembutnya lebat sekali berwarna hitam.

Kami mandi bersama-sama sambil bercanda dan aku meremasi tetek dan menghimpitkan penisku yang belum terlalu tegang ke pantat mereka yang menggairahkan. Kami berempat sudah tidak ada jarak lagi. Tanganku bebas merogoh memek siapa pun, meremas tetek siapa pun dan mencium siapa pun.

Kami harus bersiap-siap untuk menghadiri resepsi, Vera. Ketiga cewek yang sebenarnya adalah para bosku tampil anggun dengan gaun pesta malam. Jika melihat dari penampilan mereka dengan busana lengkap ini mereka sangat berwibawa. Tidak sebersit sedikitpun dibalik kewibawaan itu, mereka adalah wanita yang ganas dalam hal sex.

Kami hanya sekitar 2 jam saja di acara pesta itu lalu kembali ke penginapan. Sesampai di penginapan Murni mengungkap bahwa aku lulus dengan nilai terbaik pada ujian pertama. Masih ada ujian-ujian berikutnya. Ujian berikutnya adalah aku barus membuat semua mereka mendapat kepuasan malam ini, Murni bertanya apakah aku sanggup menghadapi ujian itu. Aku sanggupi tantangan itu, namun aku minta waktu sekitar 1 jam untuk tidak diganggu. Meilan, bertanya, untuk apa.

Aku jelaskan bahwa tantangan itu cukup berat, sehingga aku harus mengembalikan kebugaran tubuhku. Aku perlu waktu melakukan meditasi. Mereka celingukan heran, tapi kemudian aku diberi waktu sejam untuk bermeditasi. Aku duduk di karpet dengan melipat kaki dan kedua telingaku ku pasang earphone untuk mendengarkan musik for meditasi. Aku melakukan menditasi sekitar 30 menit.

Badan kembali terasa segar, dan tenaga pulih kembali. Mereka yang memperhatikanku bertanya untuk apa aku meditasi. Aku jelaskan singkat saja, meditasi untuk memulihkan tenagaku yang terkuras karena nyopir dari Jakarta dan ejakulasi yang tadi.

Menurut kesepakatan mereka bertiga mereka satu persatu harus aku layani sampai puas. Yang mendapat giliran pertama adalah Meilan, yang kedua Murni dan yang terakhir adalah Cindy. Aturan yang ditetapkan, aku harus bisa memuaskan mereka dalam waktu maksimum 20 menit untuk setiap orang, sehingga pengantri berikutnya tidak terlalu lama menunggu.

Menghadapi tantangan seperti ini kalau tangan kosong mana mungkin aku bisa mengatasinya. Meski aku masih muda tetapi aku sudah mempelajari Tao dan cukup mahir memainkan hipnotis. Sebab hipnotis aku perlukan dalam rangka marketing, hipnosis selling.

Aku terima tantangan itu, namun aku minta bantuan mereka untuk aku rilekskan badan mereka dulu. Aku tidak mengatakan menghipnotis mereka, tetapi membuat badan mereka merasa rileks. Ketiganya duduk berjajar di sofa lalu dengan cepat aku masukkan dalam pengaruh hipnotis. Aku sugestikan bahwa mereka akan merasakan orgasme ketika mendengar tepukanku sekali, jika aku bertepuk dua kali mereka akan bangun dan sadar kembali.

Setelah mereka dibawah pengaruh hipnotis aku segera mensugesti orgasme. Ketiganya kelojotan gak karuan. Aku biarkan keadaan itu sampai 5 menit baru aku bangunkan. Mereka terbangun dan mata mereka semua layu seperti orang kelelahan.

Meilan segera aku bimbing ke kasur dan kami bertelanjang bulat. Cindy dan Murni menonton pertandingan babak pertamaku. Tanpa foreplay aku langsung tancap gas. Aku berusaha mengatur nafas dan berusaha bertahan, sementara itu sambil aku memeluk dan menciumi telinganya aku bisikkan sugestiku orgasme. Baru 2 menit permainan Meilan sudah mengerang-ngerang kelojotan mencapai orgasmenya. Badannya langsung lunglai, aku tetap bertahan pada posisi MOT, tidak berapa lama dia sudah menjerit lagi karena gelombang orgasmenya menderanya. Dalam 10 menit dia sudah mencapai 4 kali orgasme, yang dua kali pertama di bawah pengaruh hipnotis sedang yang berikutnya di capai dalam keadaan sadar. Akhirnya Meilan minta aku menghentikan permainan karena dia sudah tidak sanggup.

Berkat hipnotis orgasme mereka bertiga tadi, memek Murni sudah ready. Celah vaginanya sudah berlendir dan licin. Tanpa pemanasan aku langsung menancapkan penisku dan memompanya perlahan-lahan. Aku kembali membisikkan sugestiku, dua menit kemudian Murni sudah berteriak karena orgasmenya yang pertama. Aku berhenti sejenak memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Aku genjot lagi tidak sampai dua menit dia sudah berteriak lagi karena gelombang nikmat yang tidak tertahankan. Aku biarkan dia dalam pengaruh hipnotis, sehingga dia berkali-kali mencapai orgasmenya . Aku tidak sempat menghitung, tetapi setelah orgasmenya yang kelima aku sadarkan dia, namun karena perangkatnya sudah bisa menyesuaikan permainanku, maka dia mudah mendapat orgasme lagi sampai lebih dari 3 kali. Dia pun akhirnya minta ampun dan minta dihentikan permainanku.

Murni langsung tidur pulas seperti Meilan yang sudah mendengkur halus. Tinggal Cindy yang masih terjaga. Dia geleng-geleng kepala melihat kemampuanku menewaskan dua wanita temannya sampai terkapar tak peduli dengan ketelanjangannya.

Cindy mengambil posisi diantara kedua temannya dan langsung aku tiban. Memeknya masih lumayan basah, sehingga dia dengan mudah melahap penisku masuk menerobos liang vaginanya. Aku kembali membisikkan sugesti orgasme dan tidak lama kemudian dia berteriak melengking karena merasakan kenikmatan luar biasa. Setelah istirahat sejenak aku embat lagi dan dia kembali mendapatkan orgasmenya. Aku biarkan terus menerus dia mencapai orgasme dibawah pengaruh hipnotis, sampai akhirnya dia terlihat agak lelah lalu aku sadarkan. Itu tidak banyak menolongnya karena dalam keadaan sadarpun dia kembali menjerit, sampai harus kututup bantal mulutnya.

Dia minta aku menghentikan permainan, karena dia sudah lelah sekali dan matanya sangat berat. Aku masih menggenjotnya sampai dia sekali lagi mencapai orgasme. Dia sudah tidak bertenaga lagi meski gelombang nikmatnya tidak mampu dia bendung. Akhirnya dia tergeletak seperti orang pingsan.

Ketiga cewek bosku itu terkapar di kasur berjajar bugil seperti ikan kembung. Iseng-iseng aku jepret dengan kamera HP dari berbagai posisi. Ini adalah moment yang tidak akan pernah terjadi lagi. Sementara itu aku belum mencapai puncakku. Aku mengalah dan memang sengaja tidak memuncratkan spermaku untuk menjaga tenagaku agar tetap fit.

Mereka bertiga tidak ada yang mengetahui bahwa aku menguasai hipnotis. Itu memang rahasia. Aku membersihkan diri dan mengenakan pakaian lengkap. Aku keluar dan mencari udara segar. Sambil menghisap rokok aku bertemu dengan petugas hotel, mungkin dia security. Perut yang terasa lapar menginginkan segera diisi. Aku ingin sate kambing.

Security menawarkan jasa untuk membelikan sate kambing yang cukup terkenal di Cirebon. Aku pikir ini praktis juga, sebab jika aku sendiri yang mencari berkeliling belum tentu bisa menemukan penjual sate kambing, apalagi yang top.

Setelah kuberi uang aku minta dibelikan 40 tusuk sate bumbu kecap dengan lontong. Nikmat juga malam-malam berada di ruang terbuka. Kebetulan cuaca terang. Aku mencabut sebatang rokok lagi dan mencari tempat duduk di taman dekat kolam.

Sekitar sejam kemudian pesanan sateku tiba. Setelah basa basi dan memberi uang tips, aku kembali masuk ke kamar. Ketiga perempuan masih nyenyak mendengkur di balut selimut. dibawah selimut mereka telanjang bulat.

Perut yang kosong menuntut agar aku segera menyantap sate. Sambil menonton TV aku menikmati sate yang ternyata memang benar enak dan empuk. Cindy terbangun. Kelihatannya dia kebelet pipis, karena langsung ngloyor sambil bugil masuk kamar mandi dan karena pintunya tidak ditutup maka desiran air kencingnya terdengar sampai keluar.

Kedengarannya dia membersihkan diri dengan air shower, mungkin bekas keringat yang lengket serta cairan setubuh yang mengering di selangkangannya menimbulkan rasa risih. Keluar dari kamar mandi dengan santainya tetap dalam keadaan bugil dia hampiri kedua koleganya yang masing ngringkel. Ditariknya selimut lalu dibangunkan keduanya. Meilan dan Murni terbangun karena gangguan itu. Murni bangkit dalam keadaan telanjang juga setengah berlari ke kamar mandi. Kembali terdengar desiran pancaran kecingnya. Meilan latah ikut masuk kekamar mandi dan dia pun melepaskan hajat kecilnya dengan semburan yang tak kalah nyaringnya.

Cindy bergabung denganku dan mengambil sebungkus sate. Dia memang penggemar sate, terutama sate kambing. Karena tusukan satenya yang sudah kelihatan, dia tidak lagi bertanya, langsung beraksi. “Enak nih satenya empuk, dimana belinya,” tanyanya. Cindy duduk di karpet yang sudah dia lapisi dengan kain. Kaki kirinya ditekuk keatas dan kaki kanannya juga dilipat seperti posisi bersila.

Murni menyusul dan mengambil jatahnya dia makan di dekat Cindy sambil jongkok dan juga bugil. Meilan datang belakangan masih sempat nyrocos menanyakan makanan yang kami santap. Dasar perempuan mulutnya lebih nyinyir, padahal gak perlu tanya juga udah bisa lihat apa yang kami makan. Dia ikut-ikutan bugil dan duduk bersila di samping Murni. Hanya aku yang mengenakan pakaian, celana boxer dan kaus oblong. Tapi mereka tidak peduli dan tidak juga protes.

Setelah acara naked gala dinner usai, kami ngobrol tanpa topik. Tiba-tiba Meilan bertanya, apakah aku sebelum ini memakai obat tahan lama, menghadapi 3 cewek. Tentu saja aku katakan aku tidak minum obat apa pun. Meilan tidak percaya. “kalau gak percaya lantas mau minta bukti apa,” tanyaku balik. Meilan terdiam, karena dia tidak punya cara membuktikan soal doping.

Murni membelaku dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah, meditasi sebelum pertempuran tadi. Cindy angkat bicara. “ Aku harus angkat jempol sama kemampuan Joe, aku belum pernah main sampai kewalahan seperti tadi.”

“Gua juga belum pernah sampai kalah KO seperti tadi, padahal dia melayani kita bertiga,” tambah Murni. “ Iya gua juga salut ama lu Joe, kayaknya kalau udah main ama lu, gua gak nafsu ama cowok lain.” kata Meilan.

Aku demikian tersanjung oleh pujian ketiga cewek yang sebenarnya sudah cukup matang dalam mengenal hubungan sex. Seperti yang ku ketahui, jika cewek sampai terpuaskan apalagi sampai menyerah karena tidak kuat lagi, dia akan sulit melupakan cowok yang menaklukan dirinya.

Sejak peristiwa itu aku bagaikan gigolo mereka. Bisa mereka satu persatu minta dipuaskan, dan sering juga mereka melakukan party 4 some. Akhirnya kami berempat menyewa apartemen yang cukup luas. Sekitar setahun kami bidup bebas berempat.

Sejak aku tinggal bersama mereka, aku tidak lagi bergabung dengan kantor mereka, karena aku memilih menekuni jalur menjadi developer. Mulai dari kecil-kecilan membangun town house, akhirnya lumayan juga aku bisa berlanjut membangun beberapa proyek town house.

Kami sudah seperti saudara kandung. Jika salah satu ada masalah, maka yang lainnya ikut repot mencari jalan keluar. Jika salah satu dari kami sakit, maka yang lainnya juga heboh. “Tresno jalaran kulino” memang benar terjadi pada kami. Mereka bertiga jadi mencintaiku demikian juga aku mencintai mereka bertiga, sehingga aku dan mereka bertiga juga tidak punya pacar. Jika ada yang kelihatan akrab, ada saja yang menegur. Kami jadi sulit dipisahkan. Jika kami berpesiar, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri, tidak ada yang mau tinggal. Jangankan gitu, maka di mall aja aku harus menggandeng ketiganya.

Mereka sudah menganggap aku adalah suami mereka, sebaliknya akupun mengangap mereka adalah bagian hidupku. Kenyataan ini agak sulit diterima oleh masyarakat umum, karena dianggap tidak wajar.

Adalah Murni yang mula-mula melontarkan ide, agar hubungan kami diresmikan saja dalam ikatan suami istri yang sah. Dengan demikian statusnya jadi lebih jelas. Meilan dan Cindy yang berbeda agama denganku, ternyata tidak menolak. Rasanya kami lebih berani menghadapi malu, dari pada harus berpisah. Oleh karena itu, akhirnya disepakati pernikahan resmi.

Sudah pasti keluarga kami masing-masing tidak setuju atas gagasan gila itu. Belum pernah ada rasanya seorang laki-laki menikahi 3 wanita sekaligus. Meski kelihatannya janggal, tetapi tidak ada hukum yang kami langgar, baik hukum agama, maupun hukum negara.

Aku dan ketiga istriku sudah lama dan terbiasa hidup mandiri, bahkan banyak membantu keluarga-keluarga kami yang hidupnya kekurangan. Oleh karena itu keluarga kami masing-masing terbelah dua, ada yang setuju-setuju aja, tapi ada juga yang menentang.

Untuk lebih memantapkan diri, kami bersepakat untuk melaksanakan resepsi besar-besaran. Ini untuk menunjukkan bahwa kami tidak bersembunyi dan berani tampil dengan percaya diri.

Pesta pernikahan unik kami dihadiri oleh sekitar 3000 undangan dan diliput oleh berbagai media, karena memang unik. Di pelaminan aku berdiri didampingi oleh ketiga istriku. Kami mensepakati bahwa istri pertama adalah Murni, kedua Cindy dan ketiga Meilan. Susunan di pelaminan juga unik karena seorang pria didampingi 3 mempelai wanita diikuti dengan 3 pasang orang tua perempuan.

 Begitulah kisahku. Sebetulnya masih ingin lebih panjang lagi bercerita, tetapi nanti jadi berkepanjangan dan malah jadi melelahkan.***

Pemandu Wisata Dadakan

By Jakongsu

Jenuh sekali rasanya dengan kemacetan di Jakarta dan pekerjaan rutin yang rasanya bikin perut mual. Aku berkhayal berkelana ke suatu daerah dataran tinggi yang masih asing bagiku. Di kantor aku mencoba membuka google earth menjelajah daerah-daerah yang kira-kira menarik. Pertama aku menelisik daerah Wanayasa di Subang, tetapi tidak ada yang menarik, hanya ada beberapa spot, tetapi kayaknya sih biasa-biasa saja.

Aku berpindah ke daerah antara Sukabumi dengan Cianjur. Ada situs megalitik Gunung Padang. Situs ini sering muncul di pemberitaan. Yang kuingat berita dugaan bahwa situs ini diduga berupa bangunan paling tua di Asia.

Sebetulnya mengunjungi situs megalitik, tidak terlalu menarik bagiku, apalagi untuk datang kesana harus menaiki jalan undak-undakan yang cukup tinggi. Namun ada yang menarik di sekitar Situs Gunung Padang. Di sana ada terowongan kereta api yang dibangun Belanda di akhir tahun 1800 an. Terowongan panjang lebih dari 400 m dengan stasiun kecil Lampegan. Terowongan dan stasiun yang tidak terpakai cukup lama itu juga sudah menjadi daya tarik wisata.

Namun rasanya kurang menarik bagiku untuk jauh-jauh datang hanya melihat terowongan dan stasiun. Setelah googling aku banyak menerima informasi mengenai situs Gunung Padang dan Lampegan. Boleh juga rasanya ada dua obyek wisata untuk menjadi tujuan wisata. Di peta Goggle muncul pula foto air terjun Cikondang. Air terjun itu kelihatannya cukup menarik. Wah 3 obyek wisata untuk sekali perjalanan wisata, rasanya cukuplah memadai.

Otakku berproses sesuai dengan pengalaman dan minatku. Jika di tahun 1879 – 1882 pembangunan terowongan Lampegan, pastilah banyak orang Belanda yang terlibat pada pekerjaan konstruksi itu. Pasti mereka tinggal di daerah sekitar proyek. Dan rasanya Belanda tidak akan berani membawa istri ke proyek yang pada waktu itu berada di pelosok hutan. Sebab sekarang saja letaknya kelihatan cukup jauh dari jalan raya Sukabumi-Cianjur.

Logikanya pastilah orang-orang Belanda dulu nyikat cewek-cewek kampung di sekitar Proyek. Pada waktu itu mana ada yang peduli kalau ngewek harus menjaga agar ceweknya tidak sampai hamil. Yang penting puas negcrot ya sudah. Bisa jadi akan ada orang-orang yang keturunan bule campur wanita sunda. Jika benar, maka yang sekarang ada itu adalah mungkin keturunan generasi ke tiga atau bahkan ke empat.

Informasi ini tidak aku dapat dari pemburuan melalui googling, jadinya bikin penasaran. Jadilah tujuan wisata itu makin menarik minat. Siapa tahu bisa ketemu cewek indo di kampung pedalaman Jawa Barat.

Untuk berkelana sendirian rasanya kurang nyaman. Aku mengajak temanku sebut saja Bambang, Aku memanggilnya Mas Bambang, padahal dia juga memanggilku Mas, mas Jay. Usianya memang lebih muda dariku.

Setelah bersepakat, aku ambil cuti 2 hari, Kamis-Jumat. Pagi-pagi sekali kami berdua berangkat langsung ke Cianjur. Aku menghindar pergi ke sana pada hari Sabtu atau Minggu, karena hanya boros-boros energi, dan uang dengan kemacetan jalur puncak.

Sedikit kujelaskan mengenai teman seperjalananku ini, dia agak punya keistimewaan soal indra ke enam. Memang tidak tajam-tajam amat, tetapi beberapa kali cukup terbukti dengan dugaannya. Soal lain kami berdua sama-sama suka berburu wanita cantik.

Hampir 4 jam juga akhirnya kami sampai ke jalan lintas antara Cianjur – Sukabumi. Kami berhenti di satu warung yang sangat sederhana di tepi jalan raya. Bukan untuk makan, karena sejam lalu sudah makan cukup kenyang, tapi untuk sekedar ngopi dan menggali informasi.

Enak sekali rasanya ngopi sambil nyedot asap rokok di daerah yang udaranya sejuk begini. Bambang tiba-tiba bangkit berjalan ke tepi jalan raya. Aku tidak sempat bertanya, hanya mengikuti dengan pandangan saja. Dia terlihat menghampiri seorang wanita yang kelihatannya sedang menunggu kendaraan umum.

Mereka kelihatan ngobrol sebentar, lalu wanita itu ikut Bambang berjalan menuju warung. Kelihatannya ceweknya cukup bening, umurnya sekitar 25 – 30 tahun agak tinggi, kulit putih dan rambut kelihat kayak dicat coklat. Setelah agak dekat aku baru agak jelas melihat raut wajahnya, yang lumayan cantik juga.

“Kenali mas,” Bambang mengenalkan wanita itu ke aku. Si cewek mengulurkan tangan dan aku segera menyalaminya. Rasanya lembut sekali tangannya. Dia menyebut namanya Wieke. Ketika kutawari minum dia menolak, eh malah minta izin ke pemilik warung mau ke WC.

Ketika dia berlalu, aku penasaran dengan rencana si Bambang. Dia dengan semangat menjelaskan bahwa, Wieke ini berhasil dibujuk Bambang agar menjadi penunjuk jalan untuk mencapai obyek wisata yang akan dituju.

Harus aku akui, Bambang cukup cerdas, dan mungkin sixth sense nya tadi bermain. Perjalananku bakal makin menarik dan menantang. Wieke duduk di depan mendampingiku mengemudi, Bambang pindah ke belakang.

“Mau kemana tadi Wiek,” tanyaku.

“Mau jalan aja,” jawabnya.

Jawabannya itu menimbulkan kecurigaanku, karena jawaban seperti itu sering dikemukakan cewek-cewek yang cari mangsa di Puncak. Aku harus memastikan apa profesinya, kalau dia jualan, aku agak malas juga lah.

“Mau jalan kemana,” tanya ku.

“Ya jalan aja, di rumah stress,” katanya singkat.

“Lho kok stress, emang kenapa,” tanyaku dengan rasa ingin tahu tanpa tedeng-aling-aling.

Akhirnya dia bercerita mengenai keadaan rumah tangganya yang terpuruk sejak dia ditinggal oleh suaminya yang menghilang begitu saja sejak usahanya bangkrut. Wieke kembali ke kampung bersama anak nya berumur 2 tahun tinggal di rumah orang tuanya.

Mencari kerja tidak ada yang cocok, mulai mejadi spg sampai bekerja di restoran, hasilnya tidak memadai, karena sebagian besar habis untuk ongkos dan lebihnya untuk di rumah hanya sedikit. “Ada sih yang ngajak untuk kerja gituan, tapi saya ogah, takut kena penyakit,” katanya terus terang.

“Lha sekarang kenapa stress,” tanya saya memancing.

“Gimana gak stress, duit gak ada, gak tau mau cari kemana, listrik di rumah belum dibayar, cicilan motor udah 2 bulan nunggak, utang di warung banyak,” katanya sambil berbicara menahan tangis.

Untuk menetralkan suasana aku bertanya mengenai arah jalan. Dia menunjukkan jalan, bahkan hafal benar dengan jalan yang rusak. Rupanya dia memang berasal dari daerah Cibokor, tempat dimana yang aku duga banyak keturunan Belanda.

Wieke membenarkan bahwa di kampungnya memang benar banyak orang yang keturunan Indo. Tapi dia tidak bisa menceritakan kenapa dikampungnya banyak cewek-cewek indo yang padahal asli lahir dan besar di kampung itu dan lahir dari keluarga Sunda. Dia mengaku juga bahwa mungkin dia juga keturunan Indo.

Aku mencoba mengorek informasi mengenai tujuan wisataku. Dia mengatakan, situs Megalitik memang banyak yang berkunjung, terutama pada hari libur atau minggu. Menurut dia, tujuan wisata itu kurang cocok untuk kami, karena akan melelahkan mendaki sampai ke puncak yang disebut teras-teras. Namun untuk foto-foto masih cukup bagus.

Kami tiba di terowongan Lampegan. Terowongan yang bersejarah ini agak kurang menarik karena banyak corat-coret grafiti. Dalam perjalanan menuju Lampegan kami meliwati kampung yang disebut banyak perempuan cantik keturunan indo. Sebetulnya aku ingin berhenti sejenak untuk ngopi, tapi Wieke mencegah, karena dia beralasan malu, sebab banyak yang dikenal di kampung itu.

Dari Lampegan perjalanan diteruskan ke Gunung Padang. Situs yang dipenuhi oleh bertaburan batu-batu purbakala itu masih dalam proses penggalian, sehingga bentuk bangunan sesungguhnya seperti apa, belum bisa dibayangkan.

Kami ambil beberapa foto, dan menjadikan Wieke menjadi modelnya. Orangnya cukup supel, dan wajahnya cukup photogenic, pandai bergaya pula. Sejam lebih kami habiskan mengitari situs Gunung Padang, lalu kami meneruskan perjalanan ke air terjun Cikondang. Orang Sunda menyebut Curug Cikondang.

Perjalanan cukup jauh juga dan jalannya banyak yang masuk klasifikasi off road . Untung mobilku SUV, sehingga mudah melahap jalan tanah yang berbatu-batu. Sesampainya di dekat air terjun perjalanan tidak bisa dilanjutkan karena buntu. Kami harus berjalan kaki sekitar 1 km. Air terjun sudah terdengar dari jauh. Cukup terbayar jalan rusak dan berjalan kaki 1 km dengan pemandangan air terjun yang cukup menakjubkan.

Waktu sudah semakin sore, jam di tanganku sudah menunjukkan jam 5 sore, jika pulang ke Jakarta bisa dipastikan akan sampai tengah malam. Aku memang sudah berencana akan bermalam. Aku lantas berpikir bagaimana caranya menanyakan kemungkinan ngajak nginap si Wieke. Persoalan berikutnya adalah, sama siapa si Wieke akan tidur, andaikan dia mau ikut nginap.

Pusing juga memikirkan cara menyampaikan hasrat. Aku berhentikan kendaraaan lalu mencabut 2 ratus ribu dan ku serahkan ke Wieke. Itu adalah upah dia sebagai pemandu. Diterimanya dan wajahnya terlihat senang betul.

Dalam suasana seperti itu, aku langsung melancarkan niatku mengajaknya menginap di Sukabumi. Wieke terdiam sejenak, sepertinya dia sedang berpikir. Akhirnya dia setuju ikut kami menginap. Satu persoalan sudah teratasi, persoalan berikutnya menunggu jawaban.

Aku meminta dia mengajak seorang temannya untuk ikut menginap, agar menjadi dua pasang. Wieke terdiam sejenak. “Temen saya banyak, kang,” katanya.

“Ada fotonya ? Di HP mu,” tanya ku.

Wieke lalu membuka foto-foto yang tersimpan di Hpnya, Sambil mobil terus berjalan dia menunjukkan sekitar 3 orang temannya. Aku minta si Bambang untuk memilihnya. Bambang memilih foto yang cukuk cantik, malah lebih cantik dari si Wieke, rambutnya juga rada pirang. Wieke mencoba mengontak. Aku tau yang diajak berbicara adalah Neneng, karena Wieke menyebutnya Neng.

Kelihatannya si Neng mau diajak nginap. Menurut Wieke, Neng juga janda, umurnya sedikit lebih muda, dan baru punya satu anak sekarang sudah sekolah di SD. Neng kawin muda, lalu cerai karena suaminya ketahuan punya simpanan.

Si Neng menunggu di minimarket. Sekitar jam 7 kami sampai di titik yang dijanjikan , tapi Neneng belum kelihatan batang hidungnya. Ketika di kontak Wieke, neng sedang dalam perjalanan naik ojek dari rumahnya. “Kang si neng gak punya duit, untuk bayar ojek, makanya dia nunggu kita nyampe dulu di sini, akang bayarin ya ojeknya,” kata si Wieke.

Menurut Wieke ojek si Neng sekitar tiga puluh ribu. Pantas saja dia belum muncul, karena kalau dia datang duluan, duit untuk bayar ojeknya dia gak punya. Kehidupan di kampung kelihatannya memang berat sekali.

Aku sempat menyeduh kopi, karena kebetulan mini market ini menyediakan alat penyeduh kopi dan ada bebera set kursi dan meja. Sekitar 15 menit kami menunggu, muncul sepeda motor dengan seorang perempuan duduk di belakang. Wieke yang sudah kupegangi uang 30 ribu langsung mendekati tukang ojek untuk membayarnya.

Neneng memang cantik juga, wajahnya segar rambutnya tergerai melebihi bahunya. Aku sudah sepakat dengan Bambang, bahwa aku berpasangan dengan Wieke dan Bambang dengan si Neng. Jika memungkinkan besok di swing.

Si Neng lebih ceriwis, dia banyak berbicara dengan logat khas Sunda. Sesampai di Sukabumi aku mengarahkan ke Salabintana. Dua buah cottage kami sewa. Unit yang tersedia tidak ada yang berdekatan, sehingga kami terpisah jauh. Unit cottage, cukup mewah, dengan ruang tamu terpisah dengan ruang tidur dan ada pantry untuk memasak.

Badan terasa lengket oleh bekas keringat. Aku berencana mandi. Di kamar mandi ada shower dan setelah kuperiksa memang tersedia air panas. Sayang tidak ada bak untuk berendam.

Wieke yang duduk menonton TV kuajak mandi bareng. Tanpa malu-malu aku minta dia memandikanku. “ Ih si Akang udah kolot juga masih minta dimandiin,” katanya

Namun begitu dia berdiri juga dan merangkulku menuju kamar mandi. Aku bertahan sejenak, karena sebelum masuk kamar mandi aku menyarankan agar masing-masing membuka baju agar bisa digantung di lemari. Gantungan di kamar mandi terbatas.

Si Wieke paham, lalu dia membuka bajuku dengan menarik kaus oblongku, lalu singlet, melepas sabuk dan menurunkan resleting. Di balik celana dalam sudah mengeras sebongkah urat. “Idih senjata udah dikokang aja tuh.” kata Wieke.

Tanpa ragu celana dalamku dilepasnya sekalian, sehingga penisku langsung tegak mengacung. Digenggamnya sejenak. Rasanya nikmat.

Berikutnya giliran Wieke melepas satu persatu pakaiannya sampai telanjang bulat. Tubuhnya masih bagus, kulit putih di sekujur tubuhnya nyaris tanpa noda dan cacat. Putingnya coklat muda, rambut di selangkangannya jarang, bahkan dapat dikatakan gundul. Bentuk memeknya jadi terlihat jelas cembung.

Teteknya masih cukup tegak berdiri, ukurannya tidak terlalu besar, tetapi juga tidak dapat digolongkan kecil. Perutnya kecil, meski masih tersisa bekas stretch ketika hamil dulu, pantatnya agak nonggeng.

Wieke termasuk tinggi, bedanya dengan ku mungkin hanya sekitar 5 cm. Kutaksir tingginya sekitar 170 cm. Kami berdua berangkulan menuju kamar mandi. Setelah ritual gosok gigi dengan sikat dan pasta gigi yang disediakan hotel, kami berdua lalu berbasah ria di bawah shower. Nikmat sekali rasa air hangat, apalagi sambil berpelukan dengan cewek yang cantik.

Tegangan penisku dari tadi tidak kendur, sehingga ketika disabuni tetap berdiri tegar. Wieke nakal, dia mengocok penisku membuat dia makin keras dan garang. Setelah sekujur tubuh kami bersih dan wangi. Wieke jongkok lalu menghisap penisku. Aku bagai melayang ke angkasa merasakan nikmat. Dia tidak menuntaskan sampai spermaku muncrat.

Dengan dua handuk kami mengeringkan badan, rasa lelah dan lesu seketika hilang, yang ada tinggal nafsu. Wieke menawariku untuk memijat, Aku memang suka dipijat, tetapi dalam keadaan tegang begini, aku memilih untuk melampiaskan birahiku dahulu.

Wieke setuju. Dia kuminta berbaring telentang dan aku menciumi sekujur tubuhnya menghisap kedua putingnya bergantian meremas teteknya yang mengkal, lalu mengobok-obok celah memeknya. Sudah berlendir celah vagina di bawah sana.

Aku berpindah melakukan oral di kemaluannya. Kemaluan Wieke agak unik, karena bibir dalamnya agak panjang sehingga aku bisa menjewerkan. Warnanya tidak seperti kebanyakan cewek indonesia yang umumnya berwarna gelap atau cenderung berwarna ungu tua. Milik Wieke yang seperti jengger itu berwarna merah agak gelap.

Aku mengecup kedua bibir panjang itu dan menggigit dengan kedua bibirku lalu menariknya. Dengan sentuhan itu saja Wieke sudah kelojotan nikmat, padahal itilnya belum tersentuh lidah. Banjir di lubang vaginanya makin banyak. Bulatan itilnya menonjol keluar dan terlihat mengkilat berwarna merah. Ketika kusapu dengan lidahku, Wieke langsung menggelinjang. Aku sedot sekuat-kuatnya, sehingga clitorisnya tetarik keluar. Bentuknya seperti kepala penis hanya saja ukurannya kecil. Aku menjilati, mengulum dan menghisapnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme.

Wieke termasuk cepat mencapai orgasme. Setelah orgasmenya selesai aku memasukkan jari tengah dan jari manis ke dalam celah vaginanya lalu perlahan-lahan. Mengocoknya. Awalnya dia tidak menunjukkan reaksi, tetapi beberapa menit kemudian dia mulai mengerang dan suaranya makin lama makin keras sampai akhirnya dia berteriak mau pipis, “ Kang aku kebelet pipis, aduuuuuh gak tahan, aduh- aduhhhhhh,” dan serrrr memancar cairan dari celah vaginanyanya, Pancaran cairan itu cukup deras, seperti air kencing, dan memancur sekitar 3 kali dengan gelombang orgasme.

Aku biarkan dia menikmati orgasmenya yang bergelombang sampai sekitar 7 kali. Setelah itu aku kocok lagi dan baru 3 menit dia berteriak lagi mau pipis sehingga tangannya menutup memeknya untuk mencegah pancuran.

“Aduh kang aku lemes banget nih di kerjain begini,” katanya

Tanpa menghiraukan kata-katanya aku langsung mengambil posisi diantara kedua kakinya yang mengangkang dan menghunjamkan penisku yang sudah dari tadi minta jatah. Perlahan-lahan aku benamkan ke liang vaginanya. Terasa cukup menggigit dan ada denyutan-denyutan di dalamnya. Aku memompanya dengan gerakan konstan mengikuti erangannya. Sekitar 5 menit aku merasa sudah hampir sampai pada garis finish. Aku berencana menarik penisku keluar, tetapi badanku di rangkulnya ketat sekali dan kakinya juga ikut mengunci sehingga aku tidak bisa bergerak. Ternyata dia dia juga mencapai orgasme.

Badan kami lemas dan peluh membasahi seluruh tubuh. Rasa dingin di Salabintana sama sekali tidak terasa. Aku menanyakan mengenai kesanggupannya tadi akan memijatku. Wieke merasa badannya lemas dan matanya ngantuk sekali.

Dalam keadaan masih telanjang Wieke sudah pulas tertidur pada posisi telentang. Dia tidak menghiraukan keadaan dirinya dan apa yang aku lakukan. Nyenyak sekali tidurnya. Iseng-iseng aku ambil foto dirinya yang sedang telanjang. Aku ambil dari berbagai poisisi, sampai kepada close up memeknya. Bahkan penisku ku tempelkan di mulutnya lalu kuambil foto close up wajahnya dengan batang penis di sisi mulutnya.

Lama-lama aku jadi terangsang dan penisku bangun lagi. Aku bersihkan memeknya dari lendir sperma ku dan lendir dari memeknya. Tidak hanya aku seka dengan handuk basah, tetapi sempat juga aku basuh dengan sabun sampai bau memeknya wangi sabun.

Wieke masih pulas tertidur. Aku renggangkan pahanya dan aku tiarap dengan mulut mengarah ke memeknya. Bau wangi sabun memberi kesan memeknya bersih. Aku menjilati liang memeknya, terutama menjilati lipatan tempat itilnya tersimpan.

Lidahku merasa, itilnya mulai berkembang sehingga agak keras menonjol rasanya. Wieke terbangun. Dia memegangi rambutku dan meremas-remasnya. Nikmat mulai menjalari tubuhnya sehingga dia mulai mendesis-desis. Lubang vaginanya mulai basah lagi dengan lendir pelumas senggama. Tiba-tiba tangannya menekan kepalaku ke memeknya dan dia mengerang nikmat karena orgasmenya. Mulutku merasakan kedutan permukaan memeknya. Cairan vaginanya makin banyak.

Aku bersimpuh di antara kedua kakinya dan memasukkan jari tengah dan jari manisku. Sementara tangan kiriku bekerja di vaginanya, tangan kananku mengambil video melalui HP. Tangan kiriku terus aktif mengocok memek. Wieke mulai mengerang menadakan kinikmatan mulai menjalari tubuhnya. Kamera HP ku sudah running. Tidak berapa lama kemudian , Wieke berteriak, karena orgasmenya sementara itu dari celah memeknya memuncrat berkali-kali cairan yang agak kental dan bening.

Aku puas karena bisa membuat Wieke mencapai orgasmenya sampai ejakulasi, dan semua itu terekam dengan baik di kamera HP ku. Aku melanjutkan pekerjaan dengan menyusupkan penisku kedalam celah yang sudah berpelumas. Penisku terasa lebih terjepit, karena otot dinding vaginanya berkembang dan semua bagian vaginanya memuai. Sensasi dijepit vagina yang usai orgasme rasanya nikmat sekali.

Aku lalu menggenjot perlahan-lahan dengan posisi MOT. Lima menit aku bekerja di atas membuat ku lelah. Aku minta dia berganti posisi. Kami berguling sambil kedua kelamin kami tetap menyatu.

Wieke bergerak dituntun oleh nafsunya. Dari posisi tengkurap menindihku dia berubah bangkit duduk bersimpuh diatas kontolku dan terus bergerak liar. Dia mengatus sendiri gesekan penisku di dalam vaginanya, sehingga akhirnya dia finish lebih dulu dan penisku terasa seperti disiram air hangat. Rupanya dia ejakulasi lagi.

“Aduh kang saya lemes banget, akang mainnya hebat banget sampai aku muncrat. Seumur-umur aku belum ngalami memekku sampai muncrat,” kata Wieke.

Aku melanjutkan permainan dengan berganti posisi di atas sampai akhirnya aku mencapai kepuasan. Badanku terasa lelah sekali, sehingga aku yang tertidur lebih dahulu.

Pagi-pagi sekali ketika aku terbangun, Wieke sudah membuatkan segelas kopi dari complimentary hotel. Aku masih telanjang, tanpa mempedulikan ketelanjanganku aku duduk di kursi lalu menyeruput kopi hangat.

“Idih akang malu atuh, barangnya keliatan kemana-mana” ujar Wieke.

Dengan manjanya dia duduk dipangkuanku. Kata dia selama bersamaku dia merasa sangat nyaman, lupa dengan persoalan yang dihadapi. Wieke kusuruh mengambil tas kecil ku yang tergantung di kursi.

Aku mengambil 10 lembar dolar AS yang masih mulus, kuberikan ke Wieke. Dia menerimanya dan wajahnya terkesan heran. “Akang ini uang apaa an, saya mah gak ngarti, belum pernah pegang yang beginian,” katanya.

Udah simpan saja, jangan sampai terlipat dan kusut.

“Aku mau kasih lagi, tapi ada syaratnya,” kataku.

“Ntar dulu akang, ini berapa sih,” tanyanya penasaran.

“Gak banyak sih, tapi kalau untuk beli motor matic sudah cukup,” katanya.

“Hah yang bener aja, serius ini bisa untuk beli motor,” katanya takjub.

“Naon tuh syaratnya, saya mah mau ajah kalau ditambah,” katanya berbunga-bunga.

“Kamu harus bujuk si Neng supaya dia mau ama saya dan kamu main sama temen saya,” kataku tanpa basa-basi.

“ Idih akang, emangnya main sama saya belum cukup ya,” katanya merajuk.

“Abis ngrasain pepes ayam, kan pengin juga ngrasai pepes ikan mas,” kataku.

“Aduh gimana ya, saya bingung tuh, mau duitnya tapi ngomongnya ke Neng itu yang saya malu,” katanya.

“Yah terserah, mau tambah, apa cuma segitu aja,” kataku.

“Aduh si akang mah ayak-ayak wae” katanya.

Dia mengambil HP nya, kelihatannya dia mengontak Neng. Dia berbicara bahasa Sunda dengan nada rada-rada kikuk.

“Kang si Nengnya mau tuh, tapi saya mah disini aja, boleh gak,” Wieke menawar.

“Yah tambahannya batal dong,” kataku.

“Ih si akang mah susah dilawan kemauannya,” katanya.

Tidak lama kemudian pintu kamarku diketuk. Wieke langsung membukakan. Si Neng dengan tampang segar, yang kelihatannya dia baru selesai mandi. Kami ngobrol sebenar, lalu Wieke minta diantar ke kamar si Bambang.

Neneng kelihatannya lebih sekel dan wajahnya lebih sensual, karena bibirnya tipis dan hidungnya mancung.

“Gimana teman saya neng,” tanya saya.

“Barangnya gede banget, sakit, mana mainnya lama lagi,” kata Si Neng yang ternyata ceplas ceplos.

“Enak dong dapat yang gede dan mainnya lama,” kataku.

“Ah sakit, yang ada, Neng gak ngrasa nikmat,” katanya.

“Wiek tadi ngomong si akang mainnya pinter, sampai dia kecapean. Kata Neng dia ketagihan main sama akang tuh, emang mainnya gimana sih kang,” kata Neng.

“Neng masih kuat main lagi” tanya ku.

“Ah Neng mah kuat aja, asal gak sakit, orang tinggal ngangkang doang, akang tuh apa masih bisa berdiri, kan tadi malam katanya bertempur abis-abisan.” kata Neng yang memang asli ceplas-ceplos banget.

“Ya kita buktikan aja, neng buka deh bajunya abis itu bukain baju akang.” kataku.

Tanpa menunggu lama, dia mulai melolosi satu persatu bajunya sampai bugil. Teteknya lebih besar dan masih tegak. Jembutnya jarang-jarang, pantatnya tonggek, dan pahanya tebal, sehingga selangkangannya rapat.

Bodynya sangat sexy dan mendekati sempurna, mana kulitnya putih pula. Aku jadi ingin memotretnya sebagai model. Ketika kuminta untuk ku foto dalam keadaan bugil, Neng sama sekali tidak menolak, “ Sok tuh kang, emangnya saya bagus di foto telanjang gini.”

Aku mengambil kamera SLR di tas dan menyulap kamarku menjadi seperti studio. Neneng kelihatannya tahu berpose untuk diambil fotonya. Aku menjepret dengan kamera HP juga sebagai cadangan. Dari mulai pose yang biasa-biasa saja sampai bergaya seperti bintang porno dengan mengekspos memeknya. Lebih dari 100 jepretan sampai aku berkeringat.

Puas memfoto, aku minta dia berpose dengan penisku. Tanpa ragu dia melumat penisku dan bergaya untuk diambil fotonya. Setelah berbagai sudut, aku mengarahkan dia menduduki penisku. Dengan posisi jongkok, dimana penisku setengah berada di dalam liang vaginanya aku mengambilnya beberapa shoot.

Anehnya dia sama sekali tidak malu, curiga atau ingin tahu bagaimana fotonya. Dia cuek saja. Wajahnya memang photogenic, sehingga tampil di foto jauh lebih cantik dari aslinya. Dia pintar mengatur mimik wajahnya, sehingga tampilan gambarnya seperti model profesional. Selain itu bodynya mendukung sekali, karena tubuhnya dengan tinggi 165 berpinggang kecil dan berpinggul besar.

Aku kecapean mengambil begitu banyak shoot. “Udah kang, cape ya , sini saya pijetin, katanya.

Aku jadi teringat semalam minta dipijat Wieke, tapi dia tepar . Dengan senang hati aku langsung mengambil posisi tengkurap. Kami berdua sejak tadi memang sudah bugil, sehingga aku dipijat juga berdua bugil.

Lumayan juga pijatannya. Yang menambah nikmat bukan hanya pijatan, tetapi ketika dia menduduki pantat dan pinggang ku terasa memeknya menempel ke tubuhku. Setelah bagian belakang tuntas, aku berbalik dan dia mulai memijat bagian depanku. Penisku sudah siaga pula dengan tegak mengacung. “Ini akang punya ukurannya pas gak terlalu besar, jadi kalau masuk ke memek gak nyakitin,” katanya sambil memainkan penisku.

Ketika memijat dadaku dia menduduki penisku. Sengaja dia tidak memasukkan ke lubang vaginanya, tetapi penisku diposisikan dijepit oleh belahan memeknya, sehingga ketika dia memijat dia melakukan gerakan maju-mundur. “Enak deh rasanya itilku ke jepit gini,” katanya.

Bagian kaki dilakukan terakhir, Dia cerdas juga karena memijatnya dengan posisi menunggingiku, sehingga seluruh bagian memeknya menjadi pemandanganku, mana dia sengaja agak nungging.

Aku jadi tidak sabar lalu di baringkan tubuhnya dan aku langsung menyerbu memeknya untuk aku jilatin. Neneng langsung mengerang-meski lidahku belum menjamah itilnya. Ketika itilnya kumainkan dia mulai kelojotan dan tubuhnya mengejang-ngejang. Itilnya makin lama makin keras menonjol. Memek Si Neng lebih rapi dibanding Wieke, karena bibir dalamnya tidak menggelambir.

Dia menjerit sepuasnya ketika mencapai orgasme. “ Aduh gila, jilatan si akang maut banget, sampai Neng rasanya mau mati saking enaknya” kata dia.

Aku melanjutkan dengan melakukan kocokan dua jari ke memeknya. Seperti Wieke tadi, tangan kiriku bekerja di memek, tangan kananku membidik dengan kamera HP. Mungkin hanya 2 menit Neng sudah kelojotan dan menjerit lebih keras, sambil memeknya memancarkan tembakan berkali-kali.

“Aduh maaf- maaf, neng tadi sampai terkencing-kencing gak ketahan, abis enaknya luar biasa, nih badan neng jadi lemes banget deh, “ katanya.

“Ini si akan belum main Neng udah lemes, gimana kalau nanti diembat ya,” kata Neng.

Aku langsung mengambil posisi menindih dan tangan neng dengan cekatan mengarahkan penisku memasuki lubang kenikmatannya. Perlahan-lahan penisku menerobos masuk. Memek Si neng rasanya agak lebih legit. Mungkin karena cairan pelumasnya lebih kelat. Jadi rasanya lebih lengket dan ketat.

Aku memompa dengan gerakan tidak terburu-buru sambil mencari gesekan di G-spotnya. Posisi yang memberi kenikmatan si Neng aku dapatkan melihat dari respon dan erangannya. Aku bergerak stabil dan konstan. Tidak sampai 5 menit Neng sudah mencapai puncaknya dan bersuara seperti orang menangis sambil memelukku erat sekali. Penisku terasa seperti dikompres air hangat, serta dipijat dengan ritme yang senada dengan gerakan tubuhnya.

“Aduh Neng baru percaya apa yang dikata si Wieke, si Akang mainnya enak banget, sampai bikin cewek lemes begini. Ini rasanya eneng gak kuat berdiri, kontolnya digimanain sih kok bisa enak banget, ngeganjel memek sampai rasanya enak banget,” kata Neng yang birbicara sambil menutup mata.

“Ngantuk neng,” tanyaku.

Dia menjawab dengan hanya menganggukkan kepala.

Aku belum klimaks sehingga aku perlu menuntaskan pekerjaanku. Si neng kembali aku genjot dan menjelang aku mencapai puncak, si Neng ribut minta aku menunggu dia karena dia juga katanya hampir, “ aduuhhhhhh, adduuuuuh, nenng mau nyampai, jangan di berhentikan dulu.” Aku tidak peduli kecuali makin cepat menggenjot. Kami finish hampir bersamaan, mungkin bedanya 1 detik lebih dulu aku baru disusul Neng yang merangkulku erat sekali. Spermaku memenuhi liang senggamanya. Aku membiarkan sampai penisku menyusut dan keluar dengan sendirinya.

“Edan kang, bener-bener bikin cewek ketagihan kalau diewek ama si akang,” kata Neng

Selepas pertempuran pagi itu, kami mandi bersama. Si Neng mandi lagi dan keramas lagi. Badanku segar, tetapi perut lapar. Neng mengontak Wieke, yang ternyata mereka sudah lebih dahulu selesai.

Kami mencari makan pagi setengah siang di Sukabumi. Makanan Sunda dengan ikan dan lalapan memang tepat sekali untuk perut yang sudah sangat lapar.

Di tengah kami asyik menikmati hidangan, Bambang mendapat telepon yang mengabarkan orang tuanya masuk rumah sakit. Dia dengan berat hati izin mendahului pulang ke Jakarta. Sementara itu aku masih berencana untuk mengeksplor pantai Selatan.

Lewat tengah hari kami sampai di pantai. Suasana tidak terlalu ramai, malah cenderung agak sepi. Kami bertiga menyusuri pantai sampai jauh sekali dari titik awal. Tidak ada seorang pun kami bertemu orang, karena kawasan pantai ini sudah di hutan. Pantainya agak menjorok ke dalam sehingga seperti tersembunyi.

Ide gilaku muncul lagi. Aku minta mereka berpose telanjang di pantai dan di dalam hutan. Mereka tidak menolak alias oke-oke saja. Dua cewek sekaligus aku foto dengan latar belakang pantai, dan ada yang di dalam semak hutan. Di dalam hutan itu ada sungai kecil yang jernih, menambah keindahan latar belakang fotoku.

Selesai berfoto ria, kami kembali ke mobil dan mengarah ke Ujung genteng untuk menginap semalam di sana. Malam itu kami mengumbar nafsu lagi dengan bermain three some. Malam itu aku hanya sempat main dua ronde, karena badanku sangat lelah.

Setelah sarapan sejenak kami bertolak kembali. Aku tawarkan ke dua cewek ini untuk menemaniku ke Jakarta. Mereka tadinya ragu, karena tidak mempunyai baju ganti. Setelah aku tawari nanti beli haju di Jakarta, mereka dengan senang hati mau ikut ke Jakarta.

Sore sebelum gelap kami sudah sampai ke Jakarta. Aku langsung mengarahkan ke dept store di Senayan City. Lama sekali mereka celingak-celinguk, bingung mau menentukan pilihan. “Kang bajunya sih bagus-bagus, tapi harganya kok gak kira-kira mahalnya, sayang atuh kang, kita cari yang rada murah aja yuk, saya mah sayang-sayang atuh duitna, ‘ kata si Neng.

Aku berpindah ke Melawai Plaza. Mereka merasa cocok dengan model dan harga baju di situ. “Ini baru cocok, disini bisa dapat 3-4 baju di tempat tadi cuma dapat sepotong doang,” kata Neng.

Aku menyewa hotel yang bawahnya ada mallnya hampir seminggu. Sementara itu aku pulang kerumah.

Hubungan ku dengan mereka berdua berlanjut, karena mereka kini bekerja untukku memegang outlet yang aku beli waralabanya. Wieke mengomandani outlet fashion sedang Neneng mengepalai outlet restoran.***

Gabung Apartemen Dengan Exhibitionist

By Jakongsu

Aku senang sekali mengamati sekretaris bos, Marisa namanya. Wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi dia memiliki bentuk body yang super. Aku taksir umurnya sekitar 25 tahun, setahun lebih muda dariku. Dia pandai memilih baju yang menampilkan kelebihan tubuhnya, sehingga kelihatan susunya penuh yang bagai magnet selalu memukau mata lelaki. Dari belakang dia menyuguhkan pemandangan yang tak kalah menggiurkan dengan bulatan bokong yang gempal. Nah bajunya itu selalu mampu menonjolkan apa yang memang sangat menonjol.

Aku tidak terlalu akrab dengan Marisa, maklum bagianku tidak langsung berhubungan dengan dia. Padahal kami sudah saling kenal lebih dari 2 tahun. Kantorku di disain terbuka sehingga sekitar 30 orang yang bekerja di dalam ruangkan itu bisa saling melihat. Repotnya kalau terima telepon, semua bakal bisa dengar apa yang dibicarakan.

Di layar komputerku suatu hari muncul kedip-kedip, penanda ada yang mau chating. Ini adalah chating antar pegawai. Sebenarnya signal itu biasa, karena memang kami komunikasi sesama pegawai menggunakan sarana chating intern. Yang luar biasa ketika kuperhatikan, yang ingin bicara dengan ku adalah Marisa. Jarang-jarang nih anak menghubungiku.

Pertanyaannya malah bikin gua tambah heran karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

“Jack” panggilnya. Namaku sebenarnya bukan Jack, tapi teman-teman kantorku memanggilku begitu, kata mereka karena kulitku putih dan agak jangkung.

“Siap bos, ada perintah,” sambutku menggoda.

“Eh elu ngekos dimana,” tanya si Marissa.

“Mau apa anak ini nanya-nanya gua tinggal di mana, mudah-mudahan dia pengin nginep di tempat gua”, batinku berharap.

Aku menjelaskan bahwa aku tinggal tidak terlalu jauh dari kantor, sekitar 30 menit naik kendaraan umum.

Eh dia nanya lagi, “ enak gak tempatnya, berapa sebulan ?’

“Ya lumayanlah, sebulan sekitar dua setengah juta, “kataku rada me mark up. Padahal cuma sejuta setengah.

Eh dia percaya aja, karena dalam pembicaraan selanjutnya dia tidak protes atau menyebut bayaran kost ku terlalu mahal. Dia belum mau membuka, untuk apa nanya-nanya. Aku jadi makin penasaran karena dia ngajak ngopi sore sepulang kantor.

Ah, ada apa kayanya serius , karena selama aku kenal dia belum pernah mengajakku ngrumpi. Sambil berharap dapat durian runtuh aku menjadi tidak sabar ingin segera selesai jam kantor ku.

Menjelang pulang kantor dia mengingatkan lagi agar aku datang ketemuan di suatu tempat, di Mall yang lumayan jauh dari kantor.

Aku tidak bersamaan dengan dia dari kantor, karena dia memang menginginkan begitu. Sekitar sejam kemudian aku sudah sampai di mall itu. Baru saja aku ingin menanyakan dimana ketemuannya, pesannya sudah masuk bahwa dia menunggu di satu warung kopi di lantai 3. Aku tidak hafal dengan letak tempat yang dia maksud, sehingga perlu bertanya pada satpam.

Ada tangan melambai ketika aku sampai di tempat yang dia sebutkan . Rupanya Marisa sudah duduk di pojok dan kelihatannya ada cewek satu lagi bersama dia. Usianya sebaya Marissa, lumayan cantik, rambut keriting dan kulitnya agak gelap sedikit.

Aku diperkenalkan dia menyebut namanya Vernita, aku memperkenalkan namaku Jack. Abis kalau aku sebut namaku sebenarnya, nanti si Marisa memanggilku Jack, kan jadi gak enak. Sampai setengah jam kami ngobrol yang gak jelas banget topiknya. Dasar cewek batinku, tangannya gak pernah berhenti ngetik di HP.

Tentu saja aku gak enak, nanya-nanya ada apa sebenarnya kok pake ngopi bareng di tempat yang jauh dari kantor pula. Aku ikuti saja arah pembicaraan mereka yang setiap saat ganti topik. Repotnya, kalau ngomong ama perempuan, kalau ganti topik pembicaraan dia gak ngasi judul, bikin aku bingung menimpalinya. Mungkin dia pikir lawan bicaranya mengikuti apa yang dia pikir.

“Gini Jack, sebetulnya maksud gua ngajaklu ngopi disini, ngajak lu sharing,” kata Marisa.

“Sharing ?” kataku masih belum menangkap arah pembicaraannya.

“Iya aku dan Verni baru nyewa apartemen, tempatnya bagus dan strategis, tidak jauh dari kantor kita dan dekat juga ke kantor Verni,” kata Marisa.

“Lantas,” timpalku mulai memahami arah pembicaraannya.

“Ya loe mau gak, sharing sewa apartemen ama kita-kita,” kata Marisa.

“Emang berapa sebulannya ,” tanyaku.

“Lima juta, udah semuanya termasuk listrik dan service charge “ katanya

“Kamarnya ada dua, kalo lu mau lu nempati kamar yang kecilan, aku ama Verni nempati kamar yang rada gede. Lu bayar satu setengah juta aja deh,” kata Marisa.

Sebenarnya aku ingin langsung saja menjawab mau, tapi aku ingin mengukur sejauh apa mereka meminatiku mengajak joinan.

Singkat cerita akhirnya aku dengan mereka. Memang benar apartemennya cukup bagus bahkan terkesan mewah. Apartemen full furnish, tertata secara apik.

Aku mengikuti saja irama kehidupan mereka, tempat tinggalku sekarang jauh lebih bagus dari kamar kost ku yang lalu. Yang lebih menggairahkan adalah aku bisa serumah dengan dua cewek. Tapi jangan dianggap semua enak. Aku jadi tidak bisa nenteng cewek lagi masuk kamar ku seperti ketika masih di kos-kosan dulu.

Sekitar seminggu kami saling menyesuaikan diri terhadap masing-masing penghuni. Aku akhirnya memahami mengapa mereka mengajakku joint tinggal satu apartemen. Mereka memerlukan sosok laki-laki di dalam rumah, untuk pelindung. Aku kira alasan itu cukup masuk diakal juga. Namun hati kecilku bertanya, mungkinkan pria dan wanita bersahabat dan tinggal serumah tanpa ada sex diantara mereka.

Hubungan pria dan wanita tanpa sex hanya kepada Ibu dan anak (kadang itu pun dilanggar)atau adik kakak ( banyak juga juga yang melanggar). Aku berprinsip untuk tidak mendahului, “tetapi kalau dia jual ane beli” begitu kata pepatah Betawi.

Setelah seminggu aku baru menyadari ada kejanggalan pada dua cewek ini. Marisa dan Vernita rasanya sama-sama punya keanehan. Mereka bukan lesbi, tetapi seperti mengidap exhibitionist. Bagaimana tidak, aku sering mendapat suguhan yang seronok. Mereka santai mondar mandir hanya mengenakan celana G-String yang menurutku tidak menutupi apa-apa. (lubang vagina kalau pun tidak ditutup toh gak keliatan juga kan) diatasnya mengenakan kaus seperti singlet tanpa BH dan hanya menjulur sedikit kebawah menutup celana dalamnya.

Padahal aku belum pernah sekali pun mencumbu mereka. Tidak sedikitpun mereka merasa malu duduk di ruang tamu satu sofa dengan ku sambil menonton TV. Meski aku belum perZAQERnah menjamah satu pun diantara mereka, tetapi aku sudah tahu bahwa Verni jembutnya lebih banyak, dan pentilnya lebih besar dari Marisa. Tapi Marisa punya buah dada lebih besar dan modelnya agak menggantung sedikit.

Aku tetap berprinsip tidak akan mulai jika tidak dicolek dulu. Jadi meskipun penampilan mereka sangat dan sangat menegangkan, tetapi aku berusaha memendamnya dan menikmati saja pemandangan yang langka dan mahal.

Sebuah ide begitu saja muncul di kepalaku ketika kami sedang duduk di meja makan bertiga. “Untuk menghemat biaya listrik, bagaimana kalau suhu AC di rumah kita dinaikkan menjadi 25 derajat saja,” usulku kepada mereka. Kepala ku yang sudah bertanduk sebenarnya bukan ingin itu, tetapi menginginkan nilai yang lebih tinggi, bukan hanya sekedar menghemat listrik.

“Panas dong ruangan kita nanti,” protes Verni

“Iya percuma saja ada AC kalau kita gerah.” sambung Marisa.

“Aku jamin tidak akan gerah dan panas, suhu 25 derajat itu adalah yang paling nyaman untuk tubuh kita, jadi kalau tidur kita tidak perlu pakai selimut, tetapi masih cukup sejuk. Di ruang tengah ini pun kita tidak akan kedinginan,” kataku.

“Ah apa bener bisa menghemat listrik, kalau bisa hemat banyak, lumayan juga, uangnya bisa buat jajan atau nambah-nambah uang saku,” kata Verni.

“Kalau mau, kita coba sekarang, dan semua kita harus sepakat jangan ada yang curi-curi menurunkan suhu AC di bawah 25 derajat, OK,” tantangku.

Mereka menerima alasan dan logika yang aku kemukakan. Mereka tambah mendukung ketika kemudian aku menantang dengan ucapan. “ Kalau perlu selama di dalam rumah kita bugil aja, toh aku juga sudah tahu semua jerohan kalian, orang penutupnya pada kurang bahan gitu,”

“Emang lu berani bugil di depan kita-kita,” tanya Marisa.

“Kalau kalian juga berani telanjang, aku juga gak masalah, itung-itung hemat cucian.” tantangku.

“Coba buka semua kalau memang lu serius,” tantang Verni.

Tanpa tunggu lama aku menelanjangi diriku. Untungnya tititku sedang stabil, tapi rada berisi juga walau belum sampai tegak. Jadi cuma kelihatan gemuk dan agak panjang aja.

“Gak salah aku pilih lu untuk jadi room mate kami,” kata si Marisa.

Dengan santai aku mondar mandir, bikin kopi, masak air panas dan duduk di sofa menikmati tayangan televisi dalam keadaan bugil.

Aku tidak memprotes Marisa dan Verni masih pakai celana G string dan BH yang juga minim. Aku percaya diri, sebetulnya mereka yang lebih menginginkan pamer tubuh dari pada aku. Aku yakin kedua mereka ini memang exhibitionist.

Selang 30 menit Marisa sudah melepas semua penutup tubuhnya sekeluar dia dari kamar. Tidak lama kemudian Verni juga bugil keluar dari kamar mandi. Mereka sangat menikmati tatapan mataku terhadap tubuh mereka. Semakin aku pantau semakin mereka mondar-mandir di depanku.

Sambil tetap menonton televisi, aku mulai sulit mengendalikan si otong. Dia mulai bangun dan memamerkan keperkasaannya. Aku santai saja dan malah duduk agak selonjor sehingga tititku kelihatan jelas mengacung.

Verni yang pertama memperhatikan perubahan pada senjataku yang sudah siap tempur. Dia sebetulnya senang karena rangsangan yang mereka sajikan berpengaruh terhadapku. “Buset sudah ngaceng aja si otong,” katanya.

Verni duduk disebelahku langsung tanpa izin dariku dia meraih senjataku dan menggenggamnya. “Gile keras banget kaya kayu, “ katanya. Dia lalu memanggil Marisa yang sedang di dalam kamar. Marisa keluar dan menyaksikan Verni sedang menggenggam penisku. “Lu apain Ver, kok bisa ngacung gitu,” tanya Marisa.

“Gua hipnotis supaya bangun, eh dia nurut,” kata Verni.

Marisa duduk di sampingku. Aku jadi diapit dua cewek mateng yang sudah bugil. “ Wah bakal kejadian ini malam,” batinku.

Marisa pun menggenggam batang kayu yang dimaksud Verni. Dia malah mengelus-elus topi baja yang sudah mengkilat karena memuai maksimal.

“Jack boleh nggak gue rasain,” tanya Marissa.

“Silakan asal jangan ditelen,” kataku mencandainya.

Tanpa sungkan Marisa langsung melahap. Tidak puas dengan posisi disampingku, dia pindah ke bawah diantara kedua kakiku. Sambil berlutut dia menyedot penisku kayak vacum cleaner. “Jangan dimakan sendiri dong, bagi gua napa,” protes Verni yang dari tadi menonton adegan Marisa menyedot tititku.

Verni turun ke bawah di samping Marisa dan mereka bergantian melomoti senjataku yang semakin menegang. Aku berusaha menahan kenikmatan yang menjalari batang kontolku. Mereka akhirnya bosan karena mulutnya pegel menganga terlalu lama melomoti penisku, yang ukurannya biasa saja tidak terlalu besar, hanya panjang 15 cm dan lingkarannya proporsional.

“Jack gantian dong gue diservice,” ujar Marisa

Dia duduk di sofa dan langsung mengangkangkan kedua belah pahanya yang lumayan tebal. Tanpa tunggu lama aku langsung menyerbu memeknya dengan duduk di bawah sofa. Aku tidak perlu berputar-putar tetapi lidahku langsung menghajar itilnya yang sudah terasa mengeras. Memeknya sudah cukup bergetah dengan cairan pelumas vaginanya yang meleleh. Ujung lidahku yang mengusik ujung itilnya memberi dampak nikmat luar biasa bagi Marisa. Dia langsung merintih dan menggelinjang merasakan rangsangan di itilnya. Tidak perlu terlalu lama, sekitar 2 menit dia sudah memuncak dengan suara seperti tangisan dan denyutan otot di sekitar vaginanya.

“Gila jilatan si Jack maut banget, sebentar aja gua udah jebol, kagak nahan,” katanya dengan dialek Betawi.

“Gua juga dong Jack,” pinta Verni yang sudah ngangkang di sebelah Marisa.

Memek Verni dihiasi jembut keriting tebal. Bibir memeknya juga agak panjang sehingga bisa dijewer, warnanya agak ungu pula. Aku jewer bibir memeknya sehingga telihat lubang vaginanya yang merah menyala. Itil Verni juga agak menonjol sehingga mudah ditemukan, Warnanya merah mengkilat seperti kepala penis, cuma ukurannya saja yang kecil.

Itilnya bisa aku cucup bahkan bisa digigit dengan bibir dan disedot sehingga makin besar. Lidahku memainkan kelentitnya dengan gerakan memutar dan menekan. Verni juga kelojotan dan terengah-engah merasakan kenikmatan tombolnya aku garap. Permainan lidah yang sangat fokus di itilnya membuat Verni pun tidak mampu berlama-lama. Sekitar 2 menit dia sudah mengerang seperti perempuan ditinggal mati suaminya.

Dahaga keduanya sudah terpuaskan, tinggal aku yang masih ngaceng nganggur alias cenggur. Marissa kutarik agar duduk dipangkuanku berhadapan dan memasukkan penisku ke gerbang nikmatnya. Marisa nurut saja dan langung menjebloskan batang penisku memasuki gua nikmatnya. Lumayan menjepit juga memeknya. Rasa nikmat dari penisku yang bergesekan dengan dinding vaginanya tidak bisa kutahan apalagi diabaikan, sehingga aku hanyut oleh kenikmatan. Belum 5 menit bentengku sudah jebol, padahal si Marissa sudah hampir sampai. Dia agak kecewa, tetapi aku tidak berdaya menunda datangnya tembakan ejakulasi. Spermaku kulepas semua di dalam memeknya. Aku tidak khawatir menimbulkan akibat dia hamil, karena wanita sematang Marisa sudah sangat mengerti bagaimana mencegah kehamilan, jadi aku tidak perlu repot.

Aku terkapar dengan penis yang lunglai.Verni yang belum kebagian, mengambil handuk lembab untuk membersihkan sisa-sisa lendir di batang penisku. Batangku dibersihkan disabun, sementara aku diam saja telentang di sofa. Verni berusaha membujuk senjataku agar mau bangun lagi. Dia melakukan oral deep throath dengan melahap habis batangku yang masih lunglai. Dia mahir juga karena perlahan-lahan si adek mulai bangkit. Aku akui kepiawaian Verni menstimulus senjata pria. Padahal otakku masih netral, tetapi barangku bisa bangun.

Setelah cukup keras, meski baru 80 persen, Verni sudah menaiki tubuhku lalu menggenjot sesukanya. Aku pasif saja, kecuali tanganku memeras kedua susunya dan sesekali menghisap putingnya yang berwarna coklat tua. Pertahananku untuk ronde kedua ini lumayan kuat, birahi bisa kukendalikan.

Verni berusaha maksimal mencapai orgasmenya, dia makin liar bergerak sambil mengerang-ngerang sendiri. Mungkin 10 menit dia menggenjotku sampai akhirnya rubuh ke badanku dengan nafas tersengal-sengal dan di bawah sana berkedut-kedut juga.

“Aduh top banget aku dapetnya,sampai lemes,” kata Verna.

Menurut dia batangku sangat keras sehingga lubang vaginanya terasa penuh dan nikmat menggerus-gerus seluruh gua vaginanya.

Marisa yang menonton pertandingan penasaran ingin mencapai O-nya yang tadi tidak kesampaian. Dia mengambil alih kendali setelah Verni turun dari pelana. Tanpa membersihkan sisa lendir di batang penisku, Marisa menjebloskan diri di atas pangkuanku. Dia mengatur posisi yang disukainya dan bergerak sekehendaknya. Setelah menemukan posisi yang dirasakan paling nikmat dia mulai bersuara seperti menangis .

Aku merasa persetubuhan ini terlalu licin sehingga tidak maksimal merangsang, tetapi bagi wanita kelihatannya tidak ada pengaruhnya. Marisa makin liar bergerak dan aku merasa dia sudah semakin dekat dengan puncak kejayaannya. Teteknya yang pontang panting bergerak aku tangkap dan aku remas. Kayaknya menambah rangsangan baginya karena dia lalu menyodorkan kedua putingnya untuk aku hisap.

Marisa merasa mendapat rangsangan maksimal di kedua titik birahinya. Gerakannya tidak lagi naik turun tetapi maju mundur, sehingga penisku seperti dibetot-betot. Dia akhirnya mencapai garis finish, padahal aku merasa masih jauh. Kubiarkan dia menikmati dulu puncak kepuasannya. Setelah reda dari denyutan orgasme dia kubaringkan di karpet lalu kutindih. Kini giliranku menghajarnya dengan posisi MOT. Tidak terlalu lama dia mendapat O lagi, wah gila dia cepet banget dapet orgasme lagi. Memeknya kata dia terasa ngilu setelah dua kali dapat orgasme, sehingga dia minta ampun dan aku menyudahi. Badannya terasa lelah sekali.

Aku bopong tubuh telanjangnya dan aku baringkan di peraduannya. Verni yang mengikuti masuk ke kamar menarikku ke ranjangnya. Aku paham bahwa dia minta aku embat. Dia berbaring dan menekuk kakinya dengan posisi ngangkang. Dengan mudahnya penisku masuk menerobos memek bergelambirnya. Aku sengaja memasukkannya secara perlahan-lahan untuk memberi sensasi gesekan ke dinding vaginanya.

Rasanya lendir Verni agak kental dan lengket. Sehingga memberi sensasi rasa mencengkeram. Aku melakukan gerakan slow, maju mundur sambil mencium bibirnya dan tanganku meremas teteknya yang kadang-kadang memelintir kedua putingnya. Tiga tempat rangsangan aku serang sehingga dia cepat sekali naik birahinya. Setelah terasa dia tidak menikmati ciumanku , kecuali merasa nikmat gesekan di memeknya aku mulai berkonsentrasi menggenjotnya. Rasa nikmat mulai menjalar di sekujur tubuhku. Biasanya rasa nikmat itu juga dirasakan oleh pasangan. Aku mulai berkosentrasi agar tidak ketinggalan orgasme. Suara desahan Verni menambah rangsanganku sehingga pesetubuhannnya makin nikmat. Aku mencurahkan semua perasaanku untuk menikmati permainan ini.

Pemasrahan total ini membuat semua gerakanku mendukung membantu mempercepat pasanganku juga menikmati persetubuhan itu, sehingga Verni memberi signal bahwa dia akan segera mendapat puncaknya. Teriakannya membuat aku makin terangsang sampai akhirnya aku mencapai puncak dan menyemprotkan cairan hangat ke dalam vaginanya. Rupanya penekanan penisku sedalam-dalamnya mengakibatkan Verni juga mencapai orgasmenya.

Kami berdua mencapai puncak secara bersama-sama. Nikmat sekali rasanya. Badanku terasa lelah sekali. Sayang bed yang ditempati Verni tidak cukup untuk tidur berdua, sehingga aku terpaksa bangkit dan berbaring di kamarku sendiri.

Setelah peristiwa penting itu kami sepanjang berada di rumah, tidak lagi mengenakan pakaian. Semua yang terjadi dirumah ini, kami rahasiakan serapat-rapatnya. Tidak ada tamu, saudara yang kami perkenankan masuk. Ada saja kami buat alasan agar tidak ada orang lain masuk ke markas kami.

Kami bertiga masing-masing punya pacar, tetapi tidak sekali pun pacar-pacar kami diperbolehkan bertamu. Tidak ada yang tahu bahwa aku bertiga tinggal satu apartemen. Kami mengaku bahwa aku dan Verni serta Marisa tinggal di unit yang berbeda.

Nikmatnya Investasi Perkebunan

Nikmatnya Investasi Perkebunan 1

 

Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Begitu bunyi peribahasa yang kuingat dari pelajaran ketika di SD pada masa lalu. Peribahasa itu sekarang menjadi kenyataan di dalam hidupku. Sejak aku berinvestasi di perkebunan singkong dengan areal yang lumayan luas, tidak hanya uang banyak yang kudapat, tetapi juga ke ria an sex aku peroleh.

 

Setiap akhir pekan aku berada di perkebunanku sambil mengawasi penanaman maupun panen. Sebetulnya mondar-mandir Jakarta ke perkebunan ini cukup melelahkan, karena letaknya cukup jauh. Namun karena aku menyenangi pertanian untuk mengisi kegiatan di hari tua sehingga tidak terasa berat, malah menyenangkan.

 

Berkebun jadi makin menyenangkan karena muncul berbagai macam wanita, yang menjadi hiburanku pada malam-malam sunyi. Di usia menjelang 50 tahun, aku normal, tidak tergolong maniak sex. Olah raga juga tidak pernah aku lakukan, kecuali jalan pagi yang hampir setiap hari aku habiskan sekitar 1 jam. Badan ku lumayan sehat, belum ada penyakit yang mengkhawatirkan, semua indikasi kesehatan menunjukkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, misalnya tidak diabetes, tidak darah tinggi, kolesterol normal, asam urat juga normal. Tinggi ku sekitar 170 berat 65.

 

Setiap aku general chek up tahunan, dokter selalu memuji bahwa kebugaranku prima, mereka malah menyebutkan kondisiku seperti 10 tahun lebih muda. Para dokter pasti kemudian menanyakan “Apa rahasianya ? Sebenarnya tidak ada rahasia. Aku hanya membatasi makan, dengan makanan yang sehat dan makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang. Kalau kutaksir aku sudah mendapat asupan 2000 kalori, maka aku berhenti makan, hanya minum air putih saja sebanyak-banyaknya. Kebiasaan itu sudah cukup lama. Tidak ada rahasia seperti yang ingin diketahui dokter, karena semua orang pasti tahu. Aku hanya berusaha mengendalikan diri dan harus menang dalam perang dengan diri sendiri. Aku kira tidak ada yang belum tahu soal ini, tetapi yang menjalaninya mungkin hanya sedikit. Berkat sikap hidupku itu, tidak ada keinginanku yang tidak tercapai. Ini bukan menyombongkan diri, kan ada pepatah, “dimana ada kemauan di situ ada jalan”. Pepatah seperti ini kan tidak membatasi kemauan apa atau keinginan apa.

 

Terlalu panjang menyombongkan diri nggak enak juga ya, tapi ya begitulah keadaanku, Jadi aku ingin menegaskan bahwa aku bukan superman, aku orang yang normal seperti kabanyakan orang. Hasil tabungan, maupun hasil hobby main internet sambil trading, aku bisa mengumpulkan tabungan yang lumayan, sehingga bisa membangun villa serta mempunyai garapan dgn kerjasama dengan petani untuk lahan seluas sekitar 200 ha.

 

Baru 3 bulan rumah villaku rampung dibangun. Bentuknya memang eksotis dan sangat menyatu dengan alam perkebunan. Ini adalah vila ku, berada di dataran tinggi sehingga hawanya sejuk sepanjang hari, tetapi jika malam, bisa membuat menggigil. Letak villaku bukan di Puncak atau di daerah-daerah mahal, tetapi jauh di pedalaman, di daerah pertanian yang kalau ditempuh dari Jakarta bisa sampai 6-8 jam.

 

Aku berada di villaku setiap minggu hanya hari Sabtu dan Minggu. Meski begitu, semua peralatan rumah sudah lengkap, sampai kamar mandi dengan air panas.Aku menginap di atas awalnya selalu ditemani istriku. Maka dialah yang mengurus segala-galanya. Kadang-kadang anak ku ikut juga untuk refreshing katanya.

 

Namun kemudian istriku malas ikut ke kebun, karena sepi katanya. Maklum dia memang lahir dan besar di Jakarta, jadi tidak betah tinggal di alam yang sepi. Anakku pun sudah bosan ke kebun, dia lebih memilih nongkrong di mall dari pada jongkok di depan perapian di kebun sambil menunggu singkong bakarnya mateng.

 

Masalah mulai timbul, karena jika menginap, jadinya aku tidur sendirian dan tidak ada yang mengurus rumah ini. Salah seorang kepercayaanku di kebun ini menawarkan pembantu untuk memberesi rumahku. Aku pikir sih oke-oke saja. Apalagi katanya yang ditawarkan itu adalah saudara istrinya. Pak Sudin demikian aku mengenalnya, memang lahir dan besar di daerah ini.

 

Suatu siang ketika sedang istirahat siang, Pak Sudin memperkenalkan seorang gadis, yang ternyata janda. Abis kelihatannya masih muda, lumayan cakep, meski penampilan desanya masih kental. Dia menyalamiku dan menyebut namanya Imah.

 

Otak jahatku mengipas agar aku menerima saja gadis, eh janda itu untuk bekerja dirumah ku. Siapa tahu bisa memberi layanan plus, kan lumayan, jadi tambah betah. Kuakui bahwa di usia senja ini vitalitasku untuk urusan selangkangan masih normal, hanya istriku yang lebih muda setahun dari ku setelah manupause, dia seperti kehilangan selera. Jadi sering menolak “ajakan” ku. Jadi terbayang gimana ya pria yang punya istri lebih tua, istrinya pasti lebih cepat kedaluwarsa dari dia.

 

Jadi otak jahatku ada ngarep dot com pada Imah. Sebaliknya otak baikku mencegah jangan sampai terjadi affair gila itu, karena risikonya lebih besar dari rasa nikmatnya. Betul juga sih. Apalagi sampai ketauan istri, tau pula Pak Sudin yang hormatnya kepadaku kadang berlebihan. Ah yang penting rumahku rapi dan terurus, itu sajalah targetnya, kata hatiku yang lurus.

 

Sampai 3 bulan Imah tinggal bersama ku, situasi aman-aman saja. Tetapi aku tidak berani berterus-terang menceritakan ke istriku bahwa aku sudah punya pembantu, si Imah aku fungsikan sebagai pesuruh kantor, jika ada istriku datang menginap. Jadi waktunya banyak dihabiskan di bawah. Tapi istriku sekarang sudah sama sekali ogah ke kebun, tapi duitnya demen. Dia pun ketika melihat Imah tidak curiga, lha wong dia bekerja melayani kebutuhan kerja pegawai di bawah, seolah-olah memberesi rumahku hanya kerja sambilan. Padahal sih sebaliknya.

 

Imah cukup rajin bekerja, sikapnya baik bisa menyesuaikan diri dengan semua orang, sangat menghormatiku, meski kadang-kadang aku menangkap pandangan matanya yang agak nakal kepadaku. Tapi aku pikir perempuan Jawa Barat memang suka begitu kalau memandang laki-laki, karena aku sering menangkap sorot mata seperti itu di banyak tempat di Jawa Barat. Mungkin juga itu bagian dari keramahan.

 

Semakin hari Imah semakin akrab denganku, meskipun dia memanggilku Bapak, tetapi tidak terlihat jarak antara majikan dan pekerja. Aku memang sengaja menciptakan suasana yang begitu, kan katanya sudah era demokratis. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tiarap beda posisi, begitu kan.Kami kalau makan satu meja, menonton TV duduk di sofa yang sama. Tinggal tidur yang belum satu kasur. Dua UR yang sudah, yaitu Satu Dapur, Satu Sumur, tapi belum Satu Kasur.

 

Sejujurnya aku sudah tidak tahan ingin menerkam si Imah, tapi gimana caranya, aku belum dapat. Aku tidak mau ada pemaksaan. Inginnya sih biarlah dia yang memulai baru aku menanggapi. Jadi aku selama ini bersikap biasa-biasa saja tidak berusaha memancing di air keruh. Bisa saja dia kuajak nonton video porno, sebab kalau sudah malam di atas tinggal kami berdua. Tapi rasanya taktik seperti itu, belum tentu cocok untuk wanita desa. Bisa-bisa dia malah malu dan kabur masuk kamarnya. Yah mungkin nanti akan tiba juga saatnya. Aku percaya pada pepatah Jawa “Tresno jalaran kulino”. Gak usah diterjemahkan lah, kalau gak tau ya skip aja.

 

Akhirnya tiba saatnya. Suatu malam Imah nyeletuk ketika kami sedang santai menonton TV. Jam di dinding baru menunjuk pukul 7 malam. Diluar gerimis dan sesekali ada petir dan kilat yang cahayanya membersit masuk .

 

“Pak mau saya pijat ?”

Aku agak terkejut mendengar tawaran itu, karena badanku memang lelah dan duduk di kursi dengan posisi bersandar agak rebah.

 

Selama ini aku segan bertindak yang mengarah ke arah “keliru” terhadap Imah, karena dia bekerja di sini sebagai pengurus rumah tangga Tentunya aku malu jika berusaha bertindak tidak senonoh ke Imah lalu dia melapor ke Pak Sudin.

 

Padahal Imah, merupakan sosok yang lumayan menarik. Usianya sekitar 24 tahun, janda tanpa anak, kulitnya putih seperti umumnya orang Jawa Barat badannya lumayan montok, tinggi lumayan tinggi untuk rata-rata perempuan di sini yakni sekitar 155 cm. Wajahnya ya lumayanlah, rambutnya agak panjang dan selalu digelung.

 

“Emang Imah bisa mijet,” tanyaku sambil bersikap biasa saja.

” Ya bisa lah atuh Pak,”

 

“Ya udah kamu beresi dulu kamar saya, saya mau mandi dulu rasanya badan agak lengket bekas berkeringat,” kataku, lalu bangkit ke kamar mandi.

 

Air hangat memancur dari shower. Tanpa air hangat, aku tidak kuat mandi di daerah ini karena hawa dingin di daerah dengan ketinggian sekitar 700 dpl. Selesai mandi, rasanya segar sekali. Aku hanya mengenakan celana dalam dan kaus oblong putih lalu mengenakan sarung. Itu memang pakaian tidurku jika aku berada di sini.

 

Selama mandi aku membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi selama pemijatan, apakah aku akan mendapat layanan plus, bagaimana memulainya karena sesungguhnya aku sedang berhasrat, setelah sekian lama tidak dilayani istri. Dengan pikiran itu, kemaluanku jadi agak menegang. “Ah bagaimana nantilah, sebab risikonya juga besar,” batinku.

 

Aku keluar dari kamar mandi yang ada di kamarku. Ruangan kamar cahayanya sudah ditemaramkan. Aku memang memasang lampu yang remang selama aku tidur. Kasur ukuran 180 cm aku hampar di lantai papan, gaya rumah Jepang.Di situ sudah bersiap Imah sedang duduk bersimpuh . Dia mengenakan sarung juga dan bagian atasnya kelihatannya kaus lengan panjang. Aku tidak terlalu jelas melihat karena dari cahaya terang di luar masuk ke dalam yang remang-remang mataku belum menyesuaikan dengan penerangan yang minim.

 

“Gimana nih telentang atau telungkup,” tanyaku ke Imah.

“Sok terserah bapak, gimana enaknya,” jawabnya.

 

Aku kemudian memilih posisi telungkup, karena ingin punggungku dipijat dulu. Aku di Jakarta sering juga ke panti pijat, sehingga aku hafal ritual pijat dimulai dari mana berakhir dimana,.

 

Imah rupanya bukan alumni panti pijat di Jakarta, karena dia bukan memulai memijat dari kaki, tetapi memulai dari punggung. Pijatannya memang lumayan nikmat juga. Cengkeraman dan tekanan tangannya nikmat sesuai dengan tingkat yang kuinginkan. Dia rupanya sudah menyiapkan minyak urut yang dibuat dari minyak kelapa dicampur bawang merah. Baunya memang kurang enak, tapi orang desa jamak menggunakan minyak urut seperti ini.

 

Imah minta izin membuka kaus oblongku untuk mengoles minyak di punggungku. Aku setuju saja sambil menunggu aksi berikutnya.

 

Kuat betul si Imah sudah sekitar sejam dia masih berkutat di sekitar punggung dan tangan ku. Rasanya memang enak dan sepertinya badanku jadi ringan. Setelah punggung Imah beralih ke kaki. Mulanya sarungku dinaikkan sampai sebatas lutut. Dia menggarap kaki kiri dan kananku sebatas lutut. Untuk memijat bagian paha dia meminta aku melepas sarung. Aku setuju saja dan dia menarik sarungku ke bawah. Aku jadi tinggal mengenakan celana boxer saja yang pendek.

 

Penisku sudah menegang dari tadi. Jika dalam posisi tengkurap begini sih tidak ada masalah, tapi kalau nanti telentang dia bakal menonjol mendorong celana dalamku. Aku pasrah saja akan apa yang terjadi nanti, rasanya sih manusiawi seorang laki-laki akan terangsang jika berdua dengan perempuan apalagi dalam situasi memijat begini dan dalam ruangan remang-remang.

 

Aku sama sekali tidak menyiapkan skenario apa pun, kecuali mengikuti arus saja.

 

Imah memintaku berbalik posisi. Entah terlihat jelas atau tidak dalam cahaya remang begini. Ah aku abai saja. Aku rasa yang memang wajar, sebagai laki-laki kalau penisnya tegang karena berduaan dengan wanita. Apa lagi terus menerus di jamah tubuhnya,

 

Pahaku mulai dipijatnya. Mengurutannya entah disengaja atau memang prosedurnya begitu, tetapi jarinya sering menyentuh kantong zakarku. Awalnya aku diam tidak bereaksi, padahal sentuhan itu memberi kenikmatan dan rangsangan. Tapi lama-lama secara tidak sengaja aku mendesis setiap kali tersentuh kantong zakarku. Aku merasa dia tidak lagi memijat dengan tekanan, tetapi sudah berubah dengan gerakan mengelus dengan jalur urut yang berakhir menyentuh zakarku.

 

“Kenapa pak,” tanya Imah mendengar desisanku.

“Nikmat,” kataku singkat.

“Kalau mau lebih nikmat celananya dibuka, boleh pak,” tanyanya

“Boleh,” jawab ku singkat.

 

Tanpa ragu dia menarik celanaku sehingga penisku yang sudah mengeras dari tadi langsung tegak mengacung.

 

“Wah bapak sudah umur tapi masih sehat ya,” komentarnya melihat penisku.

Dia lalu menggenggam sambil membelai-belai kantong zakarku.

Birahiku serasa sudah diubun-ubun dan segala macam pertimbangan dan akal sehat sudah ditindas nafsu.

 

“Nggak adil nih saya dipijat sampai telanjang, tetapi yang mijat masih pakai baju lengkap,” kataku.

 

“Jadi bapak maunya gimana?” tanya Imah.

Aku lalu meminta dia membuka juga semua bajunya.

“Ah si Bapak mah, dingin atuh Pak,” katanya.

“Tapi kok keringetan,” ujarku.

 

Mungkin dia berhasrat pula sehingga dia bangkit lalu menaikkan sarungnya sehingga seperti mengenakan kemben. Dia berbalik lalu melepaskan kausnya, lalu kelihatannya melepas celana dalamnya. Mungkin tadi dia tidak mengenakan BH, karena tidak terlihat dia meloloskan BHnya.

 

Meski dengan cahaya remang-remang tapi saya bisa menangkap bayangan kedua buah teteknya yang cukup besar, pahanya yang gempal.

 

Imah lalu duduk bersimpuh diantara kedua kakiku dia menggenggam penisku diremas dan dikocoknya perlahan-lahan, aku merintih merasakan nikmatnya olahan tangannya. Tanpa aku minta dia

merunduk lalu menciumi kantong zakarku, penisku diikuti dengan jilatan-jilatan. Kemudian penisku dilahapnya dan langsung dihisap sambil menaik turunkan mulutnya di sepanjang penisku. Aku sudah tidak mampu menahan desakan birahi sehingga tidak terlalu lama dihisap aku langsung menyemprotkan spermaku. Imah tetap bertahan selama aku melepas desakan spermaku, sampai akhirnya tuntas.

 

Semua spermaku dikumpulkan di dalam mulutnya lalu dimuntahkan ke handuk yang memang ada di situ. Aku terkulai nikmat. Imah lalu menarik selimut dan dia memelukku menyamping sehingga kami berada dalam satu selimut.

 

Tangannya memainkan kemaluanku yang sedang melemas. Sedangkan susunya yang lembut menghimpit lenganku sebelah kanan. Cuaca memang dingin, sehingga berpelukan di dalam selimut begini memang sangat hangat.

 

Dari percakapanku dengan Imah, terungkap bahwa dia memang sudah lama menginginkan suasana seperti ini denganku. Namun dia merasa segan untuk mengutarakannya. Ternyata tawaran memijat itu adalah bagian dari strateginya untuk mereguk kenikmatan bersamaku.

 

Aku juga mengungkapkan bahwa aku sebenarnya segan bertindak agak kurang ajar pada Imah, karena Imah dibawa oleh Pak Sudin, ” Pak Sudin mah kayaknya udah maklum,” kata Imah.

 

“Bapak dulu masih mudanya pasti ganteng ya Pak,” kata Imah sambil dengan nada manja.

“Kenapa begitu,” tanyaku.

“Masih kelihatan tuh bekas-bekasnya.” kata dia.

 

Dalam keadaan sudah mencapai orgasme dengan kesadaran yang baik aku tanyakan ke Imah, apa yang dia harapkan dengan intim bersamaku. ” Imah mah demen aja ama Bapak,” katanya.

 

Aku menegaskan bahwa aku tidak mungkin mengawininya, karena aku sudah mempunyai istri dan anak yang juga sudah besar-besar. Ku katakan jika hanya untuk mendapatkan kepuasan sex, aku tidak keberatan selanjutnya akrab dengan Imah, tetapi kalau mengharapkan lebih dari itu aku tidak bisa memenuhi.

 

Imah ternyata setuju bahwa hubunganku dengannya hanya “just for fun”.

 

Aku juga mengetahui bahwa di daerah sekitar perkebunanku ini masih kuat dengan ilmu-ilmu hitam yang mampu membuat orang mabuk kepayang. Hal ini juga aku tekankan pada Imah agar jangan sekali-kali bermain ilmu untuk mendapatkanku, karena aku juga akan membalasnya.

 

“Ih Bapak, pikirannya jelek aja,” katanya.

 

Sekitar sejam kami ngobrol sambil pelukan dan tangannya terus memainkan kontolku. Perlahan-lahan kontolku mulai bangun dan berisi. Mengetahui usahanya berhasil. Imah bangkit langsung menghisap penisku dan menjilati nya.

 

Penisku makin mengeras sampai cukup keras untuk menerobos celah memek, meski pun belum mencapai keras 100%. Imah lalu bangkit mungkin kerena bosan mengoral terus. Dia duduk mengangkang di atas ku sambil memegang penisku dia mengarahkannya memasuki lubang kenikmatannya. Perlahan-lahan penisku ambles seluruhnya ke dalam lubang kenikmatannya.

 

Uniknya sambil pantatnya melakukan gerakan memutar, tangannya memijat dada dan bahuku bagian depan. Pijatannya nikmat ulegannya juga sedap. Kadang-kadang dia melakukan gerakan naik turun, tetapi kadang-kadang melakukan gerakan maju mundur atau gerakan seperti mengayak. Penisku mendapat perlakukan itu jadi makin mengeras. Namun aku bisa mengontrol rasa nikmat sehingga bisa menunda datangnya puncak kenikmatan.

 

Baru pertama kali aku merasakan nikmat dientot sambil dipijat. Bukan hanya dada, tetapi dia juga memijat kepalaku dengan meremas-remas rambutku. Aku salut padanya karena dia bisa melakukan multi tasking. Permainan adu kelaminnya terjaga, juga pijatannya tidak kacau..

 

Susu Imah yang cukup besar terlihat bergoyang dan mengayun mengikuti gerakan badannya. Meskipun cahaya remang-remang tetapi aku cukup jelas menyaksikan gontaian sepasang buah dada yang masih lumayan sekal dan puting kecil serta lingkarannya yang juga masih kecil. Aku merasa lubang memek Imah meskipun basah oleh cairan birahinya tetapi tetap masih terasa menggigit.

Imah makin semangat mengayun dan suara desahannya juga makin keras. Aku khawatir sebenarnya suara itu terdengar keluar dan terdengar oleh kedua penjaga malam di bawah. Bukan apa-apa, aku merasa malu aja. Tiba-tiba Imah ambruk menindih tubuhku dengan nafas terengah-engah. Rupanya dia sudah mencapai orgasme. memeknya terasa menjepit-jepit dengan irama gelombang puncak kepuasan.

 

Sementara itu aku merasa masih jauh dari garis finish. Segera kubalikkan posisi sehingga aku berada di atas. Aku menggenjot dengan gerakan cepat. Namun aku tidak terlalu jauh menarik keluar penisku, tetapi hanya sedikit saja dan menghempas serta menekan dimana terdapat clitorisnya. Gerakan ini selain menghemat tenaga aku juga bisa memberi kenikmatan kepada Imah karena clitorisnya tergerus terus menerus dan di dalam G spotnya juga terus tergesek. Aku memang tidak terlalu mendapat kenikmatan dengan gaya seperti itu, tetapi Imah sudah mengigau dengan erangan yang menandakan setiap gerakanku memberi rasa nikmat padanya. Memang tidak lama kemudian dia mendapat O nya yang kedua. Kedua kakinya mencekam badanku sehingga tidak bisa bergerak. Penisku serasa dipijat dan disiram oleh cairan hangat. Imah terengah-engah seperti orang kecapaian habis lari marathon. Ternyata dia mengatakan baru kali ini merasakan kenikmatan ngentot yang katanya belum pernah dirasakan. badannya merasa lelah dan seluruh persediannya terasa lemas. Sementara aku belum mencapai finish. Aku kembali menggenjot setelah memberi kesempatan jeda Imah menikmati orgasmenya.

 

Aku mengubah cara bermainku dengan melakukan tarik-sorong yang panjang sehingga penisku juga merasa nikmat bergesekan dengan lubang kenikmatan Imah. Jika ini tidak kulakukan, bisa-bisa penisku layu di tengah jalan. Nikmat terasa di sekujur batang penisku, tetapi aku masih bisa menguasainya agar tidak merangsang sepenuhnya menuju ke ejakulasi.

 

Imah kembali berolah vokal khas orang ngentot. Mungkin suaranya itu sebagai representasi dari rasa nikmat di memeknya. Buktinya jika aku mengubah posisi yang tidak memberi kenikmatan Imah tidak bersuara. Tetapi ketika aku kembali pada posisi yang memberi kenikmatan penuh dia kembali ke nyanyiannya dengan nada berulang-ulang dan iramanya sesuai dengan gerakan di kedua kemaluan kami.

 

Imah tidak mampu membendung gelombang orgasmenya yang menerpanya lagi dia lalu memelukku erat sekali sehingga tubuhku tidak mampu bergerak. Aku hanya merasakan denyutan memeknya dan siraman hangat di sekitar batangku.

 

“Aduh ampun deh bapak kenapa kok kuat banget, saya nyerah deh udah gak kuat lagi,” katanya setelah dia siuman dari orgasmenya.

 

Karena sudah setengah jalan aku tidak perduli dengan ketidak-mampuan Imah, Dia terus kugenjot sampai dia dapat lagi orgasme mungkin kalau aku tidak lupa dia dapat dua kali lagi baru kemudian yang terakhir dia menyamaiku ketika semprotan spermaku kulepas dalam-dalam di dasar memeknya.

 

Aku tidak ragu mengumbar air mani ke dalam memeknya karena menurut Imah dia susah punya anak, sehingga karena itu pula dia dicerai oleh suaminya.

 

Badanku lemas sekali. Bukan hanya lemas karena ejakulasi, tetapi juga lemas karena bergerak

terus hampir satu jam. Untung aku cukup bugar berkat setiap hari berkeliling kebun jalan kaki.

 

Aku tidak perduli dengan mani yang meleleh dan bekas keringat yang membasahi badan kami. Rasa lemas, kantuk yang luar biasa membuat aku dan Imah langsung tertidur.

 

Dia manja sekali tidur memelukku dalam selimut tebal untuk menahan hawa dingin. Sejak saat itu, jika aku menginap di kebun dia selalu memuaskanku. Aku pun jadi makin sering keladang. Jika dulu aku hanya sabtu-minggu berada di kebun, sekarang jadi lebih panjang yakni sejak jumat sampai

senin, bahkan kadang-kadang Selasa baru balik ke Jakarta.

 

Selain untuk mereguk kenikmatan dengan Imah, urusan di kebun juga banyak yang membutuhkan keputusan dan perhatianku.

 

Aku sering kewalahan menghadapi nafsu Imah, karena dia selalu menggebu-gebu keinginan sexnya. Tidak ada rasa malu lagi, jika dia sedang ingin dia malah yang mengajakku. Meskipun aku kadang kurang bergairah, tetapi olahan Imah selalu berhasil membangkitkan nafsuku.

 

Mungkin karena kadar gairah yang tidak full, jadinya aku malah bisa main lama sekali. Apalagi sehari semalam minimal aku main dua ronde. Jadi lama-lama penisku jadi agak imum dengan gesekan-gesekan liang vagina.

 

 

*****

 

Nikmatnya Investasi Perkebunan 2

 

 

Hampir setahun aku menjalani hidup free sex dengan Imah sampai suatu hari dia dengan berlinangan air mata menyampaikan bahwa dia akan menikah dengan duda di kampungnya. Menurut Imah sudah sebulan dia pendam ingin menyampaikan kepadaku, tetapi dia merasa tidak kuat, sampai akhirnya mendekati waktu dead-line.

 

Calon suaminya cukup baik dan lumayan bagus serta punya kehidupan yang mapan. Umurnya selisih 10 tahun lebih tua. Aku tentu saja tidak bisa menahan atau melarangnya menikah, karena itu adalah masa depannya.

 

“Pak saya sudah berusaha mencari gantinya, saya pilih yang paling cocok untuk bekerja di rumah Bapak ini, kalau bapak bersedia anaknya akan saya bawa besok.” ujarnya sambil sesekali menghapus air mata.

 

“Maaf pak, sebetulnya sih tidak terlalu cocok dengan Bapak, tetapi saya kasihan dengan kehidupannya. Dia yatim piatu, selama ini tinggal sama neneknya yang kehidupannya juga sangat pas-pasan. Dengan bantuan tetangga dan saudara-saudaranya dia bisa lulus SMA. Pak kalau boleh dia selain ngurus rumah, juga bisa Bapak kerjakan di kantor, entah untuk buat kopi atau urusan administrasi.” katanya.

 

“Lha jadi masih muda banget ya, kalau baru lulus sma, umurnya baru sekitar 17 dong,” ujarku.

Imah membenarkan, “Itulah pak makanya sebenarnya tidak terlalu cocok dengan bapak, karena dia masih sangat muda, tapi bagaimana ya. Oh ya dia sebenarnya sudah mau dilamar orang Jakarta untuk kawin kontrak, tapi orangnya jelek Pak, mana perutnya buncit banget, jadi anak ini ogah,” kata Imah.

 

“ Dia udah pernah kok melihat Bapak, bahkan sudah sering, cuma mungkin bapak tidak memperhatikan,” kata Imah.

 

Imah nyrocos terus sementara otakku berputar-putar antara bayangan ngeloni ABG dengan berbagai macam risiko yang mungkin timbul. Aku memang gemar bermain dengan ABG, tetapi yang ditawarkan ini bukan “sate” tapi “kambingnya”. Maksudnya jika aku bermain dengan ABG selama ini ya ibarat beli sate, tapi kali ini ABG ini kan akan aku urus, ibarat piara kambing.

 

Pikiran positif dan negatif berperang dalam otakku, sehingga aku jadi termenung saja mendengar uraian si Imah. Ada juga rasa iba melihat nasib anak itu, disamping itu juga ada rasa pengin. Aku tidak munafiklah.

 

“Ya sudah besok anaknya bawa kemari, saya mau liat dulu,” kataku.

Imah menyambut germbira dan memeluk dan menciumku. Mungkin dia merasa usulannya aku terima. Benar sih sebetulnya 80 persen aku sudah setuju. Tetapi kalau tampangnya jelek, bodynya tidak menarik, biar pun abg aku tidak akan tergoda.

 

Keesokan harinya seusai aku keliling kebun dengan kendaraan ATV sekitar jam 11 siang aku kembali ke markas, yang juga merupakan kantor dan rumahku sementara berada di kebun. Sebetulnya aku tidak ingat bahwa hari itu, Imah akan menunjukkan calon penggantinya.

 

Ketika aku naik ke atas rumah, yang merupakan tempat tinggalku. Imah dan seorang gadis menyambutku. Imah menyalamiku dengan mencium tanganku gadis yang bersama imah itu juga bertindak begitu.

 

Dia memperkenalkan namanya Maya. Aku terkesan, karena sosok anak ini tidak seperti yang kubayangkan. Tingginya lumayan mungkin sekitar 165, kulit putih bersih, wajah ayu, hidung agak mancung, rambut lurus sebahu dan bibirnya tipis. Meski dia mengenakan kaus yang dibalut dengan sweater, tetapi tidak bisa menyembunyikan payudaranya yang kelihatan besarnya diatas rata-rata. Aku membatin, anak secantik ini tidak pantas, miskin. Ada pertanyaan yang tidak aku lontarkan. Sebab tidak mungkin ada gadis desa yang secakep, bahkan wajahnya cenderung ada campuran bule.

 

Si Imah menceritakan bahwa Ibunya dulu bekerja sebagai TKW di Singapore. Konon dia bekerja di keluarga bule. Akibat keintimannya dengan majikan, akhirnya hamil. Istri si bule tahu sehingga akhirnya diusir pulang. Di kampung Ibu Maya bertahan sampai melahirkan. Mereka dulu termasuk orang berada, karena ibu Maya mendapat bantuan dari si Bule. Setelah Maya berumur 2 tahun, ibunya kembali menjadi TKW, bukan ke Singapura, tetapi ke Taiwan. Di Taiwan kecelakaan terjadi lagi, sehingga ibu Maya kembali membawa oleh-oleh di perutnya. Dari hasil menjadi TKW mereka di kampung sempat mempunyai warung. Namun karena ibunya terkena kanker, perlahan-lahan harta yang dikumpulkan habis bahkan warungnya pun tutup. Penyakit itu kemudian merengut nyawa ibu Maya. Pada saat itu hartanya sudah habis-habis.

 

Tragis juga cerita keluarga Maya. Saya baru mengerti sehingga pantaslah anak ini cantik tidak seperti anak desa pada umumnya. Tentunya berat untuk menolaknya. Setelah aku bertanya beberapa hal, Maya lalu diajak Imah melihat sekeliling rumahku dan beberapa fasilitas yang ada. Imah dengan pedenya merasa bahwa aku sudah setuju menerima penggantinya. Tapi emang sih, aku tidak bisa nolak. Kalau di Jakarta, anak secakep ini pasti aku buru meski pun minta bayaran mahal. Lha ini di tengah perkebunan yang sepi, aku malah disodori barang kelas”Senayan City”

 

Maya terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras, ketika bersama neneknya. Bahkan dia terbiasa membawa cucian piring atau baju ke kali di dekat rumahnya. Semua urusan rumah tangga sudah biasa ditangani. Untuk masalah mengurus rumah tangga aku tidak ragu kemampuannya, tetapi untuk aku keloni apakah dia ikhlas.

 

Ketika kami makan bertiga di meja makan, si Imah mulai nyerocos lagi. “May” sebutan Imah kepada Maya, “Kalau kamu kerja disini kamu harus bisa melayani makan bapak, masak membersihkan rumah dan kalau bapak cape kamu harus mijitin, ya” kata Imah.

Maya yang lebih banyak menunduk hanya mengangguk menjawab arahan Imah.

 

“Iyalah mending kerja sama Bapak di sini. Bapak orangnya baik, gajinya lumayan, bisa belajar kerja kantoran lagi. Dari pada kawin kontrak sama si buncit itu, mana jelek. Kalau Bapak kan cakep, Iya enggak May, “ kata Imah. Si Maya hanya diam saja.

 

Imah memang aku gaji lumayan juga, karena sedikit di atas upah rata-rata kabupaten. Selain itu sering aku kasih uang jajan yang kalau di jumlah bisa melebihi gajinya.

 

Otak ku terus berproses mengenai apa yang bisa aku berikan kepadanya. Selain kerja rumah tangga, dia akan aku pekerjakan di kantor untuk mencatat pembukuan membantu bagian akunting. Pastinya kerja di kantor akan ada gaji juga nantinya.

 

Setelah mendapat kepastian Maya aku terima bekerja di rumah ku di kebun, Imah lalu minta izin mengantar Maya ke kampung untuk mengambil baju ganti. Jarak kampung dengan rumahku sekitar 5 km. Kebun yang aku garap sampai ke pinggir kampung itu. Kedua mereka mengunakan sepeda motor milik Imah.

 

Aku sudah berpesan kepada Imah agar dia mendampingi Maya selama sebulan agar dia terbiasa dengan pekerjaan yang tadinya dipegang Imah.

 

Sejak kehadiran Maya, pergumulanku dengan Imah jadi terganggu. Masalahnya bukan karena Imah segan bergumul dengan ku , tetapi kalau malam, Maya tidak berani tidur sendiri. Sementara itu belum waktunya mengajak Maya bersatu dalam kamarku bersama Imah. Dia masih terlalu hijau.

 

Jadi kami sering melakukannya pada siang hari, ketika Maya sedang asyik belajar akunting di kantor di lantai bawah.

 

Semula aku tidak tahu bahwa Maya penakut. Karena memang Imah tidak menceritakan. Jika pada awal-awal dia tidak berani ditinggal sendiri di kamar, aku pikir suatu ketakutan yang wajar. Rumah kebun ku ini memang jauh dari tetangga dan kalau malam sepi sekali. Meskipun begitu rumahku kalau malam dijaga 2 penjaga malam pensiunan tentara.

Setelah sebulan, Maya jadi terbiasa hidup bersamaku dan bekerja dikantor jika siang hari. Saatnya Imah berhenti dan mempersiapkan perkawinannya. Hari pertama, Maya ditinggal sendiri, dia kelihatan gelisah, terutama setelah jam kantor selesai.

 

Aku tidak memahami apa yang menyebabkan dia gelisah. Untuk bertanya aku menahan diri. Seperti biasa dia menyiapkan makan malamku. Kami sama-sama menikmati makan malam di meja. Aku lalu minta dibuatkan wedang jahe, yang diseduh dari saset yang memang sudah aku siapkan, jadi gak perlu susah cari jahe segala.

 

Aku merasa nikmat menyeruput air jahe sambil menonton TV. Maya ikut nimbrung. Sambil kami nonton aku ngobrol mengenai berbagai macam, untuk mencairkan kekakuan. Maya memang cepat akrab dan memanggilku ayah. Dia kusuruh memilih saluran TV yang dia senangi, tapi dia menolak, karena dia katakan mau ikut saja sama apa yang saya sukai.

 

Aku selalu memilih saluran berita atau film action, tapi kadang-kadang tertarik juga menikmati film dokumentasi yang ditayangkan Discovery atau National Geography. Sementara aku asyik menyimak tayangan dokumentasi ilmu pengetahuan, ternyata si Maya sudah terkantuk-kantuk.

 

Dia kusuruh tidur di kamarnya, bekas kamar si Imah. Dengan langkah berat dia menuju kamarnya yang letaknya agak kebelakang, yang hanya berselang satu kamar dengan kamarku. Kira-kira setengah jam kemudian aku pun diserang kantuk pula, lalu segera masuk kamar dan meredupkan lampu kamar.

 

Entah berapa lama aku kemudian sudah mulai agak tertidur, terbangun karena kamarku di ketuk. Antara sadar dan tidak aku bangun untuk melihat siapa sih yang ngetuk-ngetuk kamarku. Kukuak pintu, ternyata si Maya sambil memeluk bantalnya berdiri di depan pintu kamarku. “Ayah saya takut,” katanya sambil nunduk.

 

“Takut sama apa, “ tanyaku agak menyelidik.

“Takut tidur sendiri di kamar belakang,” katanya.

 

Tidak ada jalan lain untuk mengatasi rasa takutnya maka aku ajak dia tidur dalam kamarku. Dikamarku hanya ada satu kasur, meski cukup lebar. Mungkin rasa takutnya mengalahkan rasa segannya untuk tidur satu kasur denganku. Jadi dia langsung mengambil posisi tidur di bagian yang spreinya kelihatan masih rapi.

 

Dia tidak membawa selimut, hanya sarung. Padahal pada malam hari udara sangat dingin. Aku saja harus berselimut tebal. Dia tidur membelakangiku. “dingin?” tanyaku.

 

“Iya yah,” jawabnya.

 

Lalu dia kutawari masuk kedalam selimutku. Aku memang hanya punya satu selimut. Itu pun sebenarnya bukan selimut, tetapi bed cover.

 

Kantukku jadi hilang karena tidur berada dalam satu selimut dengan ABG yang cantik. Sampai pagi tidak terjadi insiden apa-apa. Padahal sejataku sudah standby terus. Tapi nafsuku kukalahkan dengan akal sehatku sendiri.

 

Begitulah ceritanya untuk seterusnya dia tidur bareng aku dan sudah tidak ada lagi rasa canggung. Malah lucunya dia sering mengajak aku tidur (kayak istri aja) masalahnya jika dia masuk kamar duluan, sedang aku masih nonton TV, dia juga takut dikamar. Parah banget penakutnya.

 

Mulanya dia selalu tidur miring membelakangiku, setelah sekitar seminggu dia mulai tidur telentang. Nah kemarin malam dia kok tidur miring menghadapku. Aku masih tidak memberi reaksi. Pikiranku berkecamuk karena Maya ini lebih muda dari anak bungsuku. Jadi ya agak gimana lah gitu.

 

Malam ini kami masuk kamar sekitar jam 9 malam. Maya langsung mengatur posisi tidur miring menghadapku. Setengah jam kami diam karena tadi sudah puas ngobrol sambil nonton TV.

 

Aku pikir dia sudah tidur rupanya belum karena dia nyeletuk, “Yah malam ini dingin banget, boleh enggak Maya dipeluk ayah.”

 

Aku memang belum tidur jadi sulit juga menolak permintaannya. Maka aku peluklah dia. Aku pikir anak perempuan ini sedang merindukan sosok ayahnya. Maklum dia tidak sempat mengenal ayahnya. Bagaimana ya, seorang laki-laki normal memeluk perempuan cantik masih muda dalam satu selimut. Ya otaknya langsung singit. Tapi aku tetap masih berusaha menjaga agar tidak singit. Aku hanya mencium keningnya dan menarik ke dalam pelukanku. Namun aku mendeteksi nafas Maya hembusannya keras dan terdengar seperti agak mendengus. Sebagai pemain kawakan aku paham perempuan ini sedang dalam keadaan terangsang. Dia tidur menghimpitku di sisi kiriku. Lenganku terhimpit oleh susunya. Lenganku merasa bahwa dia tidak mengenakan bra, sehingga tetek lembutnya terasa menekan lenganku.

 

Pikiranku berkecamuk, antara Maya menginginkan keintiman yang lebih, atau hanya ingin dipeluk untuk memberi rasa perlindungan. Sejauh ini aku belum berani berbuat tidak senonoh, jadi setelah mencium keningnya yang ternyata menimbulkan reaksi pada dirinya dengan makin rapat memelukku dan sepertinya dia memberikan wajahnya untuk aku cium lagi. Maka pipinya aku cium. Hembusan nafasnya makin deras. Aku mencium mulutnya yang masih tertutup. Aroma pasta gigi terasa dari hembusan dari mulutnya. Mulanya dia terdiam dan bibirnya terkatup tetapi terasa agak bergetar. Tidak ada penolakan, mungkin karena dia belum pernah dicium laki-laki jadi masih bingung. Melalui mulutku aku mencoba membuka mulutnya dan melakukan ciuman french kiss. Saat itu baru dia bereaksi dan membalas ciumanku dan lidahnya ikut bermain. Lama sekali kami saling berpagutan sampai dia terengah-engah seperti kehabisan nafas.

 

“Ayah, Maya sayang ayah, “ katanya sambil tenggelam dipelukanku

 

Aku membalas pelukannya dan membelai rambutnya. Untuk malam ini aku membatasi cumbuan sampai hanya pada ciuman.

 

Bukan malam itu saja sampai 2-3 malam berikutnya aku juga tidak bergerak lebih jauh dari hanya berciuman saja. Tetapi akhir-akhirnya dia tidak lagi mencium dan berciuman denganku di tempat tidur, tetapi dia sofa dia minta pangku duduk menghadapku dan menciumiku. Penisku yang mengeras didudukinya dan rasanya berada tepat dibelahan selangkangannya. Tidak kuketahui pasti apakah penisku menekan memeknya atau belahan pantatnya. Tapi pasti dia merasa menduduki penisku yang mengeras.

 

Cumbuan kami teruskan di kamar, karena memang sudah malam. Kami berangkulan di dalam selimut. Udara memang cukup dingin. Aku tidak mampu bertahan terus menerus tidak menjamah tubuh montok Maya, apalagi dia sepertinya memang menginginkan aku bertindak lebih jauh menjamah tubuhnya.

 

Aku menciumi telinga, lalu turun kelehernya. Sementara itu tanganku mulai menggerayang ke dadanya. Terasa dibalik dasternya Maya tidak mengenakan BH, karena di balik kain itu aku merasa kekenyalan susunya. Aku remas-remas dan mencari putingnya. Terasa agak keras di ujung payudaranya. Sementara itu Maya mendesis menikmati remasan lembut tanganku di teteknya.

 

Setelah tidak ada penolakan susunya aku remas, aku makin menggila dan berani memasukkan tanganku ke balik dasternya . Dasternya aku tarik keatas sampai tanganku menjamah gundukan payudaranya. Gundukan daging itu lebih besar dari lebarnya tanganku. Dagingnya terasa mengkal. Aku tidak meremas terlalu keras, tetapi meremas perlahan-lahan dan memlintir putingnya yang masih kecil. Rasanya putingnya sudah menegang.

 

Mulutku berpindah menyusu ke pentilnya dan menjilatinya. Maya menggeliat-geliat sambil terus mendesis. Kedua susunya aku kenyot bergantian dan aku jilati. Gerakan tubuhnya seperti menyodorkan teteknya untuk terus aku jilati dan kenyot.

 

Diantara kesibukan mengenyot, tanganku bergerak ke bawah mencari gundukan di selangkangan. Terjamah gundukan yang masih terbungkus celana. Aku menjejaki celah belahan kemaluannya. Terasa belahan itu di jari tengahku. Terasa celananya seperti basah. Maya sudah sangat terangsang sehingga cairan vaginanya meleleh keluar membasahi celananya.

 

Celah celana dalamnya tidak terlalu ketat, sehingga bisa aku pinggirkan untuk memberi ruang jariku menemukan celah vagina. Celah vaginanya terasa berlendir. Tidak ada penolakan Maya. Dia pasrah tubuhnya aku jelajahi. Maya malah mengangkat bokongnya ketika aku melepas celana dalamnya. Memeknya cembung dengan jembut yang masih sangat sedikit. Maya menggelinjang ketika jariku menyapu celah memeknya yang sudah banjir. Jariku segera menemukan letak clitorisnya lalu aku sapu dengan gerakan halus. Pusat birahinya terbelai oleh jariku membuat Maya tanpa sadar mengerang nikmat. Dia sudah tidak ingat apa-apa karena tingginya rangsangan.

 

Aku merangsang itilnya dengan gerakan halus memutar sambil sedikit menekan. Cairan dari celah vaginanya aku gunakan untuk melicinkan agar gerakan di itilnya jadi lancar. Sekitar 10 menit aku mainkan itilnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Dia mengerang sambil menjepit tanganku dan terasa memeknya makin banjir dan berkedut-kedut.

 

“Ayah enak banget ayah, Maya makin sayang ama ayah,” katanya sambil memelukku. Aku menjawab dengan mengucup mulutnya. Selimut sudah terbuka sehingga kedua tubuh kami terpapar dengan udara dingin. Tapi anehnya aku dan mungkin juga Maya tidak merasa dingin. Badan kami malah berkeringat.

 

Aku bangkit, lalu pindah ke posisi diantara kedua kakinya aku mengoral memek Maya. Mulanya Maya bertanya apa yang akan aku lakukan. Pertanyaannya tidak aku jawab tetapi langsung membekapkan mulutku ke memeknya yang banjir dengan lendir. Tidak tercium bau yang mengganggu.

 

Dengan lidahku aku menjilati belahan memeknya dan lidahku langsung menemukan titik clitorisnya. Maya merintih, “ aduuuhh ayaahhh, maya dia apain, enak banget. Aduh memek maya rasanya enak banget, aduuuuuuh ayaaaah.”

 

Mulutnya tidak henti-hentinya merintih sampai akhirnya dia kembali mencapai orgasme, yang katanya luar biasa enaknya. Setelah orgasme itu aku merasa sudah cukuplah, karena kalau dilanjutkan bisa jebol segelnya. Aku mengambil celananya dan berusaha memakaikan dari kaki. Tapi Maya malah menolak. Ayah Maya ingin tidur gak pakai baju biar meluk ayah bisa langsung kena kulit. Maya bangkit sambil duduk dia melepas dasternya. Setelah dia bugil dia lalu memintaku untuk juga membuka kaus oblong, sarung dan celana dalamku. Dia yang membuka. Akut turuti saja apa yang dia maui nanti. Setelah kami berdua bugil dia menarik selimut dan kami berpelukan di dalam selimut. Kulit kami memang saling menempel. Tapi cilakanya penisku tidak bisa ditidurkan. Posisinya mengeras sehingga menarik perhatian Maya.

 

Tangannya meremas-remas penisku yang mengeras sempurna. Sambil tidur dia terus memainkan penisku. Aku tidak mengajarkan apa-apa, kecuali membiarkan nalurinya menuntun tindakan apa yang dilakukannya.

 

Mungkin karena lelah setelah dua kali orgasme, Maya tertidur dalam pelukanku. Perlahan-lahan aku lepas pelukannya dan aku bangkit menuju kamar mandi sambil telanjang. Dikamar mandi aku kocok penisku dengan bantuan pelicin sabun. Tidak terlalu lama muncratlah spermaku sehingga lega rasanya. Setelah aku bersihkan aku kembali masuk selimut bersama Maya.

 

Pagi-pagi sekitar jam 6 kami bangun dalam keadaan masih bugil. Udara masih sangat dingin. Namun karena jam 7 pegawai sudah mulai berdatangan, maka sepagi ini aku memutuskan mandi dulu. Dengan hanya menggunakan sarung aku masuk kamar mandi yang ada dikamarku. Tak lama kemudian masuk Maya yang katanya mau ikut mandi bersamaku. Aku sudah telanjang, dia pun membuka dasternya. Dibalik daster itu memang tidak ada celana dan bra lagi, sehingga dia langsung telanjang.

 

Tubuhnya mendekati sempurna, tetek yang cukup besar mancung kedepan, dan belum terlihat kendor. Puting yang kecil masih agak kemerah-merahan. Perut rata, pinggang mengecil. Memeknya cembung dengan sedikit bulu jembut di puncak belahan memek dan sedikit saja di sisi kiri dan kanan belahan memek. Pantatnya bahenol dan pahanya yang berisi tegap, tetapi betisnya langsing dan tumitnya kecil kulit putih. Maya memang benar-benar memiliki tubuh yang sempurna .

 

Aku mandi dengan pancuran air hangat dan kami saling menyabuni, dia sempat memainkan penisku sehingga pagi itu aku muncrat lagi karena dia berhasil aku ajari ngocok. Meski umurnya masih remaja, tetapi tindakannya sama sekali tidak canggung. Bahkan dia tidak merasa malu memperlihatkan semua bagian tubuhnya.

 

Seharian setelah malam itu saya tidak tenang berkerja, pikiran tidak fokus. Saya berpikir dan membayangkan, apa yang akan terjadi nanti malam, apakah saya akan bertahan sampai batas yang dicapai tadi malam, atau maju lagi.

 

Entah dapat kekuatan dari mana setelah siang itu saya ketemu lagi dengan maya dalam kesempatan makan siang, saya memutuskan untuk berhenti atau tidak melebih batas yang telah saya capai. Saya tidak mau timbul risiko macam-macam kelak di kemudian hari.

 

Malamnya seperti biasa dia bermanja-manja dengan saya. Maya mungkin menemukan sosok ayah yang sekaligus pacar. Jadi dia menemukan pelindung dan penyayang. Saya merasa begitu, sehingga saya sadar peran.

 

Malam itu kami tidur dengan damai, dia hanya minta tidur dipeluk saja. Itu adalah wajar pikir saja. Saya kali itu lebih cepat tertidur, mungkin karena tadi siang kerja melelahkan. Paginya seperti biasa mandi bersama tetapi tidak terjadi insiden.

 

Aku hari itu harus kembali ke Jakarta. Jika aku kembali ke Jakarta, maka Maya juga pulang kerumah neneknya. Pastilah dia tidak berani tinggal sendiri di rumah, meski dibawah ada penjaga. Orang tidur di kamar sendiri aja takut.

 

“Ayah jangan lama-lama dong di Jakarta,” katanya.

 

Aku berkata dalam hati, inginku juga begitu, tetapi aku juga harus membagi peran untuk menjadi ayah yang baik di keluarga. Selama di Jakarta pikiranku melayang-layang memikirkan Maya. Oleh karena itu menunggu sejak selasa ke Jumat rasanya seperti lama sekali.

 

Hari Jumat pagi-pagi sekali aku sudah bertolak ke kebun. Lepas makan siang aku baru sampai. Perjalanan dari Jakarta cukup melelahkan karena perlu waktu sekitar 8 jam. Maya sudah terlihat aktif di kantor. Di depan pegawai-pegawai ku, Maya bisa akting, dengan menempatkan diri sebagai pegawai. Kedekatan hanya biasa , jika kami hanya berdua. Itu memang sudah komitmen kami.

 

Aku masih berpegang pada batasan yang beberapa hari lalu aku tetapkan sendiri. Aku harus menang melawan hawa nafsu di tubuhku sendiri. Selesai makan malam, ritual kami adalah menggosok gigi baru masuk ke peraduan. Maya sudah menggelendot terus dari tadi. Mungkin dia rindu karena berpisah beberapa hari.

 

Pada saat kami berbaring, dia langsung menyerangku dengan ciuman dan kali ini tangannya aktif pula meremas selakanganku. Aku biarkan saja. Bisa saja dia baru dapat ilmu baru, atau memang dia punya rencana. Aku tidak membalas, kecuali pasif. Benar juga, tangannya tidak hanya meremas dari luar celana dalamku, tetapi menelusup ke dalam dan berusaha memelorotkan celana dalam ku.

 

Setelah dia menciumiku, lalu dia menelusuri leher turun terus ke bawah, lalu menjilati dua putingku. Rasanya geli, tetapi aku berusaha menahan. Sementara itu tangannya masih terus meremas dan sesekali mengocok penisku.

 

Aku makin suprise karena ciumannya terus turun ke bawah sampai mendekati penisku yang sudah menegak. Luar biasa dia menciumi kantong zakarku menjilati batang penisku, juga kantong zakarku. Nikmat menjalari seluruh tubuhku sehingga aku tak kuasa jika tidak menggeliat nikmat.

 

Perlahan-lahan dimasukkannya ujung penisku ke dalam mulutnya lalu dia mulai menghisap. Aku merasa sedotannya bagaikan memaksa spermaku keluar dari tempatnya diproduksi. Tapi aku masih bisa bertahan dan membiarkan aksinya .

 

Rasa nikmat tidak bisa ditahan dan tidak bisa diabaikan, sehingga perlahan-lahan gelombang birahiku mulai muncul dan makin lama makin besar sampai pada titik no return. Dengan agak memaksa kujauhkan wajahnya dari penisku dan ujungnya langsung kubekap, karena sudah akan memuntahkan sperma. Aku belum tega membiarkan ejakulasiku meletus di dalam mulutnya.

 

Nikmat sekali rasanya setelah sperma dilepas. Setelah rileks aku bertanya dari mana pengetahuan ini dia dapat. Katanya dari film yang dia lihat di HP. Aku mahfum. Apalagi katanya dia penasaran ingin melakukan itu setelah melihat adegan oral .Dia berbaring disampingku. Tanganku langsung meraba kemaluannya. Ternyata di sana sudah tidak ada celana dalam. Aku merasa harus membalas budinya sehingga dia aku telanjangi dan aku memuaskan dia juga dengan mengoralnya sampai dia mencapai orgasmenya.

 

Setelah siuman dia bertanya kepadaku, kenapa aku tidak berusaha memasukkan penisku ke dalam memeknya. Dia mengatakan sudah siap dan rela melepas keperawanannya untukku. Aku katakan bahwa untuk itu aku belum berani, karena dia masih terlalu muda. Yang membuat aku goyah, dia mengatakan ingin merasakan.

 

Untuk sementara ini aku berusaha menaklukkan nafsuku dengan mengatakan, nanti sajalah, kalau dia sudah benar-benar siap. Dia menanyakan kapan itu yang menurutku dia sudah siap. Tentu itu tidak bisa kujawab. “ pokoknya nanti sajalah”.

 

Dia agak kecewa tapi aku abaikan saja, karena aku masih kurang yakin, sebab bisa saja nanti aku terjebak dengan berbagai konsekwensi, jika segelnya aku jebol.

 

Pergelutan di dalam batinku kurang menarik jika aku uraikan dalam cerita ini. Tetapi kesimpulannya adalah aku berusaha sekuat mungkin menahan diri. Padahal Maya sudah pasrah

bahkan meminta untuk disetubuhi.

 

Aku pikir inilah akibat aku terlalu intim sampai melakukan cumbuan berat, sehingga saling mengoral sampai masing-masing kami mencapai orgasme. Tidak ada halangan atau rasa malu diantara kami untuk melindungi genital kami.

 

Seperti halnya kepada Imah aku memberi pengertian bahwa meskipun aku menyayangi Maya dan sebaliknya juga begitu, tapi aku tidak mungkin memperistri Maya, karena aku sudah berkeluarga. Selama keadaan memungkinkan aku akan membantu Maya untuk masa depannya.

 

Dibalik kekhawatiran ku menahan diri tidak menjebol Maya, tetapi ada juga kekhawatiran mengenai kemungkinan Maya bermain dengan laki-laki lain dan dengan mudahnya menyerahkan mahkotanya. Aku tidak mau seperti itu.

 

Seminggu ini aku tidak perlu mengekang diri, karena Maya sedang haid. Kami tidur berdampingan dalam keadaan damai, maksudnya tidak ada pergelutan. Dia tetap manja menggelendot. Bedanya selama dia haid dia tidak minta dimandikan. Mungkin dia malu oleh darah yang keluar dari vaginanya.

 

Tanpa terasa sudah 3 bulan Maya tinggal bersamaku dan tidur di sebelahku. Aku mempunyai persiapan jika sewaktu nanti aku tidak mampu lagi menahan nafsu dan harus menyetubuhi Maya, aku sudah menyimpan K-jel, untuk melicinkan jalan masuk.

 

Setelah selesai masa haidnya, Maya kembali merengek minta disetubuhi. Dia katanya penasaran sekali karena melihat di video, kelihatannya hubungan sex itu nikmat katanya, selain itu rasa penasarannya juga ikut mendorong. Sudah aku jelaskan bahwa penetrasi penis ke vagina itu pada awalnya akan perih, karena robeknya selaput perawan. Dia sudah tahu, katanya, tetapi tetap ingin mencoba.

 

Akhirnya aku setujui malam itu akan memberi pengalaman baru. Untuk awalnya aku minta di oral sampai aku mencapai orgasme. Dia mengoralku dengan penuh nafsu . Bajunya telah dia buka semua. Untuk mempercepat aku mencapai orgasme dia berada di atasku dengan posisi terbalik. Kali ini lampu kamar dalam keadaan terang benderang, sehingga aku bisa melihat dengan jelas celah memeknya yang merekah. Pemandangan itu menaikkan birahiku. Aku mencoba melakukan juga oral terhadapnya, tetapi posisi aku dibawah agak sulit melakukan oral yang sempurna, sehingga ketika aku mencapai orgasme dia belum nyampe.

 

Kami jeda sejenak. Setelah itu aku melakukan oral. Pada ronde pertama aku mengoralnya di tempat tidur sampai dia menyampai orgasme, Aku masih meneruskan oral untuk orgasmenya yang kedua. Orgasme keduanya datang lebih cepat.

 

Lubang memeknya sudah banjir oleh cairan, baik cairan yang keluar dari vaginanya sendiri maupun ludahku yang sudah bercampur. Ritual memperawani dimulai dengan menempatkan bantal yang sudah dilapisi handuk kecil putih di bawah pantatnya.

 

Penisku aku lumuri K jel. Meski belum 100 persen mengeras, tetapi sudah cukup keras untuk menerjang masuk ke dalam celah vagina. Apalagi rangsangan diotak yang membayangkan memerawani cewek cakep.

 

Selain ujung penisku, di sekitar lubang vaginanya sudah aku lumuri pelumas. Kepala penisku setelah tepat berada di gerbang vaginanya lalu aku tekan perlahan-lahan. Maya meringis menahan sakit. Tapi tangannya yang memegang pinggangku terus menarik tubuhku untuk maju lebih jauh. Aku melancarkan jalan masuk dengan bergerak maju mundur sampai dia tidak merasa terlalu perih. Maju mundur sambil makin maju sehingga seluruh kepala penisku bisa tenggelam. Sampai batas itu, ada halangan, yang aku perkirakan disitulah letaknya selaput dara.

 

Penisku seperti menemukan jalan buntu, karena meskipun sudah kulakukan pelancaran jalan dengan menggerakkan maju mundur, tetapi tetap berhenti di batas itu. Aku berhenti menggenjot dan merapatkan posisi kepala penisku pada selaput penghalang. Gerakan yang aku lakukan adalah gerakan bagaikan senam kegel, atau kontraksi. Dengan irama konstan penisku aku keras dan kendurkan sambil sedikit-sedikit menekan ke dalam. Terasa perlahan-lahan tambah masuk. Sementara Maya mengernyitkan matanya dan tangannya menggenggam sprei. Dia kelihatan sekali menahan sakit. Aku bertanya padanya, apakah diteruskan atau berhenti. Dia hanya mengangguk. Jawaban itu tentu tidak aku pahami. “Teruskan ?” tanyaku. Dia mengangguk.

 

Pada kesempatan dia lengah karena kosentrasi gerakan angguk itu aku menekan dengan lebih bertenaga sambil mengeraskan penisku. Terasa seperti bunyi kres lantas penisku maju menjulur masuk sampai ambles seluruhnya. Memeknya terasa sangat sempit, sehingga sejujurnya aku juga merasa sakit, karena seperti terjepit penisku.

 

Untuk sementara waktu aku jeda tidak melakukan gerakan apapun kecuali gerakan kontraksi. Setiap gerakan Maya mengikuti dengan kernyitan matanya. Berarti dia merasa sakit. Sekitar 2 menit jeda, perlahan-lahan aku tarik sedikit lalu aku benamkan lagi dengan gerakan perlahan-lahan. Ketat sekali vagina yang baru dibuka segelnya sehingga gerakan maju mundur jadi tidak lancar. Aku terus melakukan gerakan maju mundur dan makin lama rasanya makin lancar. Jika aku tidak melepas spermaku dengan oral tadi, maka aku tidak bisa bertahan selama ini. Memek sempit meski agak sakit di penis, tetapi memberi kenikmatan yang top.

 

Makin lama gerakan makin lancar dan lubang vaginanya makin licin. Aku coba keluarkan penisku, terlihat lendir bercampur darah, tapi cuma sedikit. Dengan handuk aku bersihkan lendir di penisku lalu aku coba memasukkan ke vagina. Jalan masuknya lebih mudah di terobos, tanpa halangan penisku terbenam di lahap memeknya. Maya masih merasakan sakit, tapi katanya dia bisa tahan. Aku terus mengocok maju mundur yang kurasa sekitar 10 menit baru terasa aku akan memuncratkan sperma. Buru-buru aku cabut dan ku tumpahkan di atas perut si cantik.

 

Lelah dan puas rasanya. 2 kali ejakulasi membuatku sangat lelah. Apalagi proses membukaan segel tadi sangat menguras energi dan konsentrasi. “Gimana rasanya enak, atau sakit,” tanya ku.

 

“Sakit, perih ayah,” kata Maya.

 

Aku jelaskan bahwa di dalam vagina nya sekarang ada luka, mungkin sampai 3 hari masih terasa perihnya. Maya kemudian mengaku memeknya perih ketika kencing. Dibawa jalanpun agak sakit. Malam itu aku tidur berpelukan telanjang dengan maya sampai pagi tidak ada insiden.

 

Selama 3 hari kemudian kami istirahat tidak melakukan cumbuan yang berarti. Setelah merasa memeknya tidak perih lagi, mungkin sekitar seminggu setelah penjebolan perawan, Maya menggodaku dan mengatakan ingin mencoba lagi. Permintaannya aku layani, tetapi aku tetap membutuhkan olesan pelumas untuk memperlancar.

 

Pada saat awal penetrasi, dia merasakan perih, tetapi setelah masuk seluruhnya perihnya mulai hilang dan seterusnya ketika aku genjot dia mulai mendesis nikmat. “ Masih sakit ?” tanyaku.

 

Maya menggeleng, “ enak” katanya. Aku terus menggenjot. Memeknya sempit banget sehingga aku tidak mampu bertahan lama. Maya belum mencapai puncak kepuasan aku sudah keburu keluar. Kutarik penisku dan kutumpahkan di perutnya. Takut bunting man.

 

Sejak saat itu setiap malam Maya selalu minta disetubuhi. Meski kadang aku kurang bergairah, tetapi dia pandai mengolah sehingga penisku berdiri dan dia yang aktif melakukannnya dengan mengambil posisi diatas. Kalau pada awalnya aku kurang bergairah. Pertahananku bisa lama sekali. Bahkan sering, Maya sudah mencapai 2 kali orgasme, aku masih sulit mencapainya. Akhirnya permainan selesai tanpa aku mendapat orgasme.

 

Memang kurang memuaskan rasanya, tapi aku berpikir, dengan begitu aku bisa menyimpan energi.

 

Mungkin sudah 6 bulan aku terbiasa berhubungan dengan Maya. Sampai dia kini mahir bermain dengan berbagai posisi dan melakukan bermacam-macam gerakan. Selain melayaniku makin komplit ternyata kerja di kantorpun dia makin banyak diberi tanggung jawab.

 

Kendala yang masih tersisa adalah penakut. Kami lama berdiskusi soal perlunya dia ditemani, sehingga bisa tetap tinggal di rumah ini, meski aku balik ke Jakarta. Namun Maya merasa sayang, jika ada yang menemaninya dia tidak bisa bobo lagi denganku. Sehingga cukup lama pertimbangan itu terbengkalai.

 

*******

Nikmatnya Investasi Perkebunan 3

 

Malam itu Maya membuka pembicaraan soal siapa yang akan menemaninya jika aku ke Jakarta. Dia memutuskan memilih adiknya sendiri. “Lho kalau adikmu, kenapa gak dari dulu-dulu.” tanya ku.

Menurut Maya sejak awal dia sudah ingin mengajak adiknya, tetapi neneknya melarang, karena khawatir adiknya mengganggu pekerjaan Maya. Pertimbangan neneknya bener juga sih. Selain itu neneknya ternyata tidak tahu kelemahan Maya yang penakut itu.

Setelah hampir setahun bekerja di tempatku baru neneknya mengizinkan adiknya ikut menemani Maya. Mengenai kemungkinan mengganggu keintiman, Maya sudah punya siasat. Menurut dia bisa dilakukan setelah adiknya tertidur. Pikirku masuk akal juga siasatnya.

Dia minta izin membawa adiknya yang ternyata juga perempuan. Jadi mereka itu dua bersaudara perempuan. Adiknya baru berumur 11 tahun, kelas 5 SD. Dia bisa berangkat dari rumah ku di kebun diantar Maya. Aku baru memberi Maya sebuah sepeda motor matic.

Jadilah kehidupan kami bertiga di atas. Adik Maya juga cantik tapi tidak seperti kakaknya.

Wajah orientalnya menonjol, mungkin karena bibit Taiwan. Rambutnya lurus hitam. Tubuhnya agak jangkung untuk anak seumur 11tahun, badannya berisi.

Benar kata Maya, aktifitas hubungan kami tidak terganggu, karena pergumulan selalu dilakukan menjelang tengah malam. Setelah mencapai kepuasan, Maya kembali ke kamarnya. Aku tidak memberi kamar pembantu untuknya, tetapi kamar di sebelahku yang kuberi dua buah kasur.

Mudah-mudahan adiknya tidak terganggu tidurnya ketika ada erangan kakaknya di kamarku. Sampai sekitar 3 bulan semuanya berjalan aman-aman saja. Adik Maya yang bernama nama Deasy juga makin manja kepadaku. Dia ikut-ikutan memanggil ku Ayah.

Namanya menyimpan bangkai, akhirnya tersua juga. Tengah malam itu kami lagi asyik bermain, Posisi Maya diatas sedang aku dibawah. Maya membelakangi pintu, tetapi aku bisa melihat pintu. Tanpa suara pintu yang lupa aku kunci terbuka perlahan-lahan. Aku terkejut karena Deasy melihat situasi di kamarku. Dia pasti melihat jelas di keremangan cahaya tubuh kami berdua bugil. Aku tidak memberi tahu Maya yang sedang asyik. Jariku memberi kode agar Deasy masuk. Dia paham dan masuk perlahan-lahan lalu duduk disamping kami. Maya terkejut, tetapi dia tidak bisa berlindung dan menyembunyikan ketelanjangan dan adegan kami.

“Ngapain lu,” tanya Maya.

“Kakak ngapain,” dijawab Deasy dengan pertanyaan juga.

Maya yang berhenti sebentar bergerak lalu melanjutkan gerakannya, karena tadi aku merasa dia sudah hampir mencapai finish. Namun akibat gangguan tadi mungkin dia harus mengulang dari awal lagi untuk menaikkan tingkat kenikmatannya sampai mencapai puncak.

Deasy ternyata tanpa rasa malu atau rikuh duduk saja menonton permainan kakaknya dengan aku. Aku tidak tahu, anak seumur dia apakah terpengaruh nafsunya atau tidak. Kalau dia memahami soal persetubuhan, tentunya dia malu melihat adegan ini. “ kakak ngapain sih,” tanyanya.

Pertanyaan itu menjelaskan bahwa memang dia belum tahu soal ngentot. Kakaknya ditanya begitu tidak menghiraukan dia terus bergerak mengejar puncak kenikmatannya. Celakanya rintihan Maya tidak dia simpan malah dilepas begitu saja seolah-olah tidak ada adik di sampingnya. Ketika mencapai orgasme malah Maya berteriak histeris yang membuat adiknya makin melotot.

Kehadiran Deasy menggangu aku mencapai kenikmatan, sehingga aku tidak mencapai orgasme. Setelah orgame tuntas, Maya bangkit dan masuk ke kamar mandi, Dengan mengenakan kemben dia tarik adiknya masuk ke kamarnya. Aku mendengar mereka berbicara, tetapi tidak terlalu jelas benar.

Keesokan harinya situasi berjalan normal, seperti tidak terjadi apa pun. Maya berbisik kepadaku bahwa Deasy berjanji simpan rahasia. Dia tidak ingin kakaknya tidak bekerja lagi. Mungkin setelah Deasy bekerja, membawa kemakmuran bagi keluarga mereka, selain HP yang juga untuk Deasy, mungkin uang belanja untuk rumah neneknya, juga motor matic yang sekarang dijadikan kendaraan kebanggaan. Sebelum Maya bekerja ditempatku, jangankan sepeda motor, televisi pun tidak ada di rumah, makan pun kata Deasy sering hanya sekali.

Aku tidak bisa membayangkan malamnya bagaimana. Ternyata malam itu tidak ada kejadian apa-apa. Maya dan Deasy masuk kamar setelah menonton TV. Sementara aku masih mengikuti siaran National Geography. Sejam sudah berlalu akhirnya aku pun masuk peraduan lalu tidur berselimut tebal.

Malam kedua, Maya masuk ke kamarku sekitar jam 1 malam dia langsung memelukku dan meremas senjata kebanggaanku. Aku belum terlalu sadar, karena sedang tidur nyenyak. Kami saling memuaskan diri dan Maya tidak mau pindah tidur ke kamarnya. Pagi sekali Deasy duluan bangun dia langsung menyusul ikut tidur. Tapi dia memilih posisi di tengah diantara aku dan Maya.

Tidak lama kemudian mereka bangun karena Deasy harus ke sekolah. Mereka masuk kamar mandi di luar aku juga mandi di dalam kamar mandi kamarku.

Rasanya hanya malam itu saja yang kami bisa leluasa. Malam berikutnya Deasy menuntut ingin tidur bersama dengan aku. Bahkan kata Maya, si Deasy tetap ingin tidur bersama ayah, meski kakaknya tidak mau. Aku jadi geli tapi aku pendam dalam hati. Mana mungkin Maya mau tidur sendiri di kamar, orang penakut begitu.

Aku tidak tahu apa maksud Deasy sebenarnya ikut tidur di kamarku. Apakah dia ingin mencegah perbuatan kakaknya dengan aku atau maksud lain yang aku belum tahu. Yang jelas Deasy ingin tidur ditengah. Permintaan itu aku pikir pasti Deasy ingin mencegah kakaknya akrab dengan ku. Tapi kalau itu niatnya mestinya semua gerak-gerik Maya yang dekat denganku akan dia halangi, tapi ini tidak. Dia hanya menghalangi aku tidur di sebelah Maya.

Ah dasar anak kecil. Tapi apakah zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini, anak seusia Deasy bisa dianggap anak kecil yang belum banyak tahu. Dalam obrolan selama berbaring, Deasy tidak menyinggung sedikitpun soal sex. Dia tampaknya rindu dengan sosok ayah. Dia memang memposisikan aku sebagai ayahnya. Bermanja-manja adalah kelakuannya dia setiap hari.

Dengan kehadiran Deasy tiap malam diantara aku dan Maya, akibatnya kami tidak bisa bertempur. Aku bisa menahan diri, tapi Maya tampaknya tidak. Beberapa kali dia mengatur strategi mengajak aku keluar masuk kekamarnya dan kami bertempur disana. Rupanya anak seusia Maya sudah mempunyai ketergantungan sex. Apakah karena dia memiliki gen Bapaknya yang bule, atau pengaruh makanan yang sekarang gizinya lebih baik daripada zamanku dulu.

Suatu malam ketika kami tidur bertiga, sementara aku tidak bisa tidur, mungkin karena siangnya aku sempat tidur agak lama ketika jam istirahat siang. Aku ingin tahu Deasy yang umurnya 11 tahun ini bagaimana bodynya. Aku yakin dia sudah nyenyak, ketika aku raba dadanya dari balik baju. Terasa ada tonjolan kecil payudaranya. Jika sehari-hari tonjolan teteknya yang baru tumbuh itu tidak terlihat. Tampaknya dadanya masih rata. Aku tekan-tekan pelan, teteknya kenyal banget. Tidak puas meraba dari luar lalu tanganku masuk ke balik kausnya dan meraba teteknya. Tonjolan kecil teteknya masih belum ada pentilnya, atau mungkin tidak teraba.

Ngaceng akibatnya, dan mana ada puasnya. Setelah mengetahui dan meremas tetek kecil, ingin pula menjamah memeknya. Perlahan-lahan tanganku menyusup masuk kebalik celana pendeknya dan terus menyusup ke dalam celana dalamnya. Memeknya teraba cembung dan terasa ada bulu halus di ujung atasnya. Meski bulu itu terasa halus tetapi cukup banyak juga di bawahnya masih terasa bulu yang baru tumbuh.. Belahan memeknya aku raba juga. Belahan masih rapat membuat aku penasaran sehingga jariku aku usahakan masuk sedikit ke belahan memeknya. Agak basah dan licin di dalamnya.

Aku berpikir apakah memek memang selalu dalam keadaan lembab. Selama ini aku ketahui memek jika berlendir begini, pemiliknya dalam keadaan terangsang. Tapi aku tahu dia kan tidur nyenyak, jadi mana mungkin terangsang. Setelah puas menjamah aku tarik tanganku dan mencium sisa cairan di jariku. Tidak tercium aroma apa-apa.

Aku tenang, karena merasa aksiku tidak diketahui pemiliknya. Tapi aku galau karena birahiku melonjak. Karena situasi tidak terlalu kondusif, aku terpaksa redam. Tiba tiba Deasy memelukku . Aku anggap ini hal normal, karena mungkin dia menganggap aku seperti gulingnya. Namun suara nafasnya kok agak memburu. Kalau dia tidur mestinya nafasnya tidak begini. Wah apa aku ketahuan ya ? Selain soal nafas aku merasa pahaku seperti sengaja ditempeli gundukan memeknya malah terasa seperti ditekan oleh pemiliknya. Aku lalu berpikir bahwa analisaku dipengaruhi oleh nafsu, sehingga hasil analisanya bisa ngawur. Aku mencoba tidur dan akhirnya memang tertidur juga.

Sampai bangun tidur tidak ada insiden apa-apa. Hanya yang aneh pagi ini Deasy minta mandi bersama-sama di kamar mandiku. Aku tidak perlu keberatan karena toh dia sudah pernah menonton kami lagi bersetubuh. Mungkin pengaruh udara dingin, penisku agak membengkak, meski tidak sampai tegak. Ini mungkin birahi semalam yang tidak tersalurkan. Bertiga sudah bugil dan kami mandi dengan shower air hangat. Aku perhatikan memang benar payudara Deasy baru tumbuh, Daging teteknya terlihat kencang, karena mungkin masih kecil. Di selangkangannya terlihat ada sekompok bulu halus di ujung atas lipatan kemaluannya.Semula aku duga dia masih gundul, di memeknya, tetapi ternyata sudah ada bulu-bulu di sana. Mungkin ras oriental lebih cepat punya bulu, di bandingkan orang melayu. Di bawah sekumpulan bulu terlihat daging cembung yang dibelah oleh lipatan yang rapat

Saling bersabun dan bercanda sedikit menjadi suasana keakraban dan keterbukaan. Dengan demikan tidak ada yang kami tutupi lagi diantara kami. Sampai siang tidak ada kejadian apa-apa dan kebetulan hari itu Maya tidak minta jatah. Dia tampaknya sibuk dengan urusan akuntingnya.

Maya konsentrasi dengan pekerjaannya. Menurut pegawaiku yang menangani akunting, Maya cepat paham dengan bidang kerjanya. Kemauan dia memang keras untuk mengusai pekerjaan. Menurutku pengamatanku intelektualnya cukup tinggi.

Hari itu hujan sehingga aku tidak bisa keliling kebun. Aku istirahat saja di atas sambil menikmati singkong rebus dan kopi hangat . Deasy seperti biasanya duduk merapat denganku.

“Yah Tadi malam adik ngrasa enak deh dipegang-pegang ama ayah,” kata Deasy yang menyentak ku. Ternyata anak ini tidak tidur, atau dia terbangun lalu pura-pura tidur membiarkan aksiku menggerayanginya. Pantas saja nafasnya memburu dan celah memeknya basah.

Dia tanya ke aku kenapa tidak bermain lagi dengan kakaknya seperti ketika dia lihat pertama kali. Aku katakan, kami malu kalau dilihat anak kecil. “Ye ayah kenapa malu, biasa ajalah, kakak aja gak malu,” katanya.

“Nanti malam ya Yah, main sama kakak, adik ingin liat. Bosen kalau liat film di HP, “ katanya.

Memang benar, serbuan teknologi tidak bisa dibendung, sehingga anak 11 tahun sudah puas melihat film porno melalui layar HP. Jadi meski pun umur 11 tahun dan teteknya baru tumbuh, dia sudah tidak bisa dianggap anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Dia ngerti soal hubungan sex, dan ketika aku tanya apa reaksinya setelah nonton film bokep. “Ah biasa aja, cuma penasaran aja,” katanya.

“Penasaran apa maksudnya” tanyaku.

“Ya, penasaran pengen tahu aja,” katanya singkat.

“Kalau sudah tahu terus mau apa,” tanyaku.

“Ya gak tau lah, emang kenapa sih Yah kok nanya terus,” ujarnya.

Di kepalaku terbayang aku melakukan adegan hubungan sex dengan penonton anak 11 tahun, yang duduk disamping tempat pertempuran.

“Kakak sih sebenarnya gak masalah main sama ayah diliat saya, tapi dia takut nanti ayah yang marah, “ kata Deasy.

Aku merasa bakalmemasuki babak baru, bahkan terbayang kemungkinan aku ngentotin si Deasy. Ah tapi kutepis, karena tidak mungkin anak 10 tahun di ewek. Mungkin lubang vaginanya belum bisa ditikam. Dan yang lebih mengerikan kalau sampai ketahuan aku bisa masuk penjara untuk waktu yang lama sekali. Mending masuk penjara karena korupsi, tapi kalau ngentotin anak di bawah umur rasanya tak terbayangkan malunya.

Sebetulnya Maya pun masih tergolong di bawah umur, karena dia masih sekitar 17 tahun. Tapi aku dan dia sudah seperti suami istri bermain sesuka kami. Kutepis juga bahwa tidak mungkin Maya mengizinkan adiknya aku “sikat”.

Suatu kesempatan di sore hari ketika aku sedang jalan, Maya mendekatiku. Kami duduk-duduk berdua di kursi di kebun belakang. “Adik tadi ngomong apa yah,” tanya Maya.

“Katanya kamu tidak keberatan main ditonton adik,” ujarku.

“Terus,” selidiknya.

“Ya itu aja, apa emang bener,” tanyaku.

“Bener sih, tapi gimana ya, apa ayah bisa,” tanyanya.

“Yah gak tau, emang rada risih sih tapi, kita kan belum coba. Cuma aku khawatir nanti adikmu terpengaruh, gimana,” tanyaku.

“Terpengaruh gimana, maksud ayah, pengen juga ?” tanya Maya.

“ Iya mungkin saja begitu kan.” kataku.

“Gimana kalau dia pengen juga,” tanyaku.

“Gak tau ya,” ujarnya.

“Apa ayah mau juga ama adik,” ujar Maya.

“Ah masih terlalu kecil, mana bisa masuk, lubangnya aja masih kecil gitu,” kataku.

“Iya sih,” ujar Maya.

Malam itu Maya mencoba bermain di depan adiknya. Aku pun mencoba melayaninya dengan normal tanpa menghiraukan kehadiran adiknya. Kami memulai dengan saling bercumbu diakhiri dengan saling mengoral sampai mencapai orgasme. Aku di oral tidak bisa mencapai orgasme, beda dengan Maya yang rasanya malah lebih cepat mencapai kepuasan. Aku mengarahkan penisku memasuki lubang kenikmatan Maya. Seperti biasa mengawali permainan dengan posisi MOT lalu berganti WOT, dan Doggy. Entah mengapa aku susah mencapai orgasme, sebaliknya Maya malah lebih cepat.

Deasy melihat dari dekat gerakan penisku maju mundur di memek kakaknya. Kadang-kadang dia malah meraba-raba kantong zakarku ketika sedang bekerja menghunjam memek. Rasa ingin tahunya ternyata besar.

Kami bertempur sekitar 30 menit, Deasy sudah dapat 2x orgasme sedang aku hanya lelah saja tanpa mencapai orgasme. Badanku lelah. Sehingga keringat membasahi tubuhku demikian juga si Maya. Aku dan Maya berbaring berdua denganku berdampingan.

Penisku masih bengkak. Dengan lancangnya Deasy menjamah penisku. Ditekan-tekan, lalu digenggam-genggam. Dia melihat dari dekat diangkat- diputar, lalu kantong zakarku juga di pegang-pegang.

Aku biarkan dia memuaskan memperhatikan genitalku. Setelah dia puas, dia minta aku menjamahi tubuhnya. Tanpa aku minta dia membuka bajunya semua setelah bugil dia memelukku yang juga masih bugil. Kakaknya diam saja melihat kelakuan adiknya. Deasy mengambil posisi berbaring diantara aku dan Maya. Kami beselimut karena hawa dingin mulai terasa.

Menanggapi keinginan Deasy aku meremas tetek kecilnya pelan-pelan, dan memainkan pentilnya yang masih sangat kecil. Nafasnya mulai memburu. Badannya menegang. Mungkin inilah bedanya wanita dewasa dengan anak dibawah umur menanggapi kenikmatan sex. Aku mempermainkan tetek kecilnya, sampai nafas Deasy benar-benar memburu.

Puas mempermainkan benjolan kecil, tanganku beralih ke apem kecil di selangkangan. Pertama-tama aku belai gundukan dengan garis ditengahnya. Deasy kembali kaku tubuhnya seperti orang kejang. Dia diam tidak bersuara, seperti mengerang, mendesis atau merintih. Kakinya merapat dan tegang sekali. Aku pikir dia tegang bukan karena takut, karena cumbuan ini juga atas permintaan dia sendiri.

Maya sudah tertidur dengan dengkuran halus. Aku memainkan belahan memek Deasy dan berusaha mencari clitorisnya. Tidak mudah menemukan tonjolan clitoris. Ada terasa tonjolan, tapi rasanya bukan clitoris, tetapi lipatan bibir dalam (labia minora). Aku menggosok lipatan tonjolan itu. Deasy bergerak-gerak pinggulnya mengikuti irama kilikanku di lipatan tonjolan. Kadang-kadang dia berhenti, tapi badannya kaku, tegang banget. Cukup lama aku mengilik kemaluan Deasy, aku menanti kapan dia mencapai orgasme. Aku tidak menangkap tanda-tanda dia orgasme, seperti wanita dewasa. Lama-lama jariku pegal dan lelah juga, karena seperti tidak ada ujungnya. Akhirnya ku hentikan kilikan itu, karena bosan juga.

Aku sudahi merangsang Deasy. Aku lalu mengatur posisi untuk lanjut tidur, meskipun penisku masih menegang. Deasy merangkulku sambil tidur miring. Celakanya tangannya menggapai penisku dan meremas-remasnya. Tentunya penisku jadi makin keras. Dibukanya selimut dibagianku dan dia menaikiku. Memeknya di arahkan ke penisku dia pegangi penisku dan berusaha memasukkan ke lubang vaginanya. Aku biarkan saja, karena aku tahu pasti dia tidak bisa memasukkan. Biar saja dia tahu sendiri bahwa lubangnya memang belum waktunya dimasuki penis dewasa. Toh dia akan berhenti berusaha nanti kalau merasa perih.

Ujung penisku dipaksanya memasuki lubang memeknya. Meski belahan memeknya banyak lendir yang licin, tetapi karena lubangnya masih kecil, jadi Deasy sulit memaksakan masuk. Namun aku kagum dia berusaha menahan rasa sakit dan perih, karena tetap berusaha menekan memeknya turun agar kepala penisku memasuki, Kepala penisku terasa agak masuk juga, paling tidak seluruh kepala penis ternyata bisa menguak masuk. Setelah itu terasa terhalang karena meski dia paksa juga tapi tidak bisa masuk lebih dalam. Deasy diam sejenak. Aku diam saja tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Secara tiba-tiba dia paksa menekan dengan melepaskan seluruh berat tubuhnya. Penisku otomatis melesak masuk semua. Sakit rasanya karena seperti kejepit sesuatu yang sangat ketat. Aku waktu itu khawatir tidak bisa dilepas. Aku segera membalik posisi dengan menindih dia lalu aku menarik pelahan-lahan. Rasanya penisku bisa kutarik, lalu aku coba menekan lagi, ternyata bisa dan tidak tercekat. Memang rasa nya agak sakit. Kutarik sampai lepas, khawatir gesekanku menimbulkan luka di dinding vaginanya. Anehnya Deasy masih menarik badanku untuk menindihnya. Aku minta dia sabar sebentar. Aku melumasi penisku dengan jelly.

Setelah itu aku coba mencoblos vaginanya. Perlahan-lahan sekali . Walau sambil meringis yang pastinya dia merasa sakit, tetapi tangannya menarik badanku bukan menahannya. Aku kagum juga memek anak sekecil ini bisa dimasuki penis dewasa. Penisku masuk sepenuhnya. Relatif lebih mudah dari yang tadi. Aku coba tarik sedikit, dan tekan lagi. Penisku tidak terlalu tercekat, meskipun rasa sempit masih menjepit. Maju-mundurnya penisku relatif lancar.

Aku terus mencoba melakukan gerakan naik turun. Rasa nikmatnya tidak bisa kuingkari, sehingga aku tidak mampu menahan perasan memeknya untuk menarik spermaku sampai akhirnya kulepas saja di dalam emeknya.

Darah yang membasahi batang penisku ketika tadi kucabut cukup memerah. Aku sempat membersihkan dengan sapu tangan handuk. Maniku yang meleleh juga berwarna merah muda.

“Kenapa dipaksa sampai kamu kesakitan gitu,” tanyaku.

“Aku penasaran yah. Kak Maya sudah kasi tahu kalau diperawani itu perih dan sakit. Jadi aku udah tahu dan udah membayangkan. Aku pikir sekarng atau nanti, tetap aja sakit. Jadi karena ada ayah dan aku sayang ama ayah jadi aku paksa aja anunya ayah masuk ke memekku,” kata Deasy polos.

Kebutulan itu malam sabtu, sehingga dia besok tidak sekolah dan bisa bangun siang. Aku rasa kalau dia berjalan, pasti selangkangannya terasa perih dan jalannya jadi agak aneh. Bisa-bisa karena itu orang jadi tahu. Oleh karena itu Deasy aku minta dia tetap diatas seharian dan aku beri pengertian, kalau dia turun, orang bisa tahu kalau dia habis diperawani. Ini bahaya dan bisa merusak semua. Untung Deasy mengerti.

Maya akhirnya tahu karena Deasy sendiri yang menceritakan proses penjebolan segelnya. Dia tidak memprotes ke aku dan juga tidak tampak kecewa karena adiknya sudah tidak perawan lagi gara-gara aku.

Setelah peristiwa itu aku lebih bebas melakukan hubungan dengan Maya. Sampai seminggu Deasy hanya menonton saja. Mungkin sakit di belahan selangkangannya masih membuatnya gentar untuk mencoba lagi. Aku sama sekali tidak membujuk atau mengajaknya bersetubuh. Kalau dia ingin biar saja dia sendiri yang mengambil inisiatif.

Deasy pada usia itu tubuh dan kewanitaannya mulai berkembang. Pinggulnya mulai berisi, pinggangnya mulai terbentuk, pantatnya makin membulat dan pahanya agak membesar. Sementara itu susunya juga tumbuh terus. Hanya jembutnya belum tumbuh sehelai pun.

Setelah mungkin 10 hari, Deasy mengajakku “bermain”. Aku berusaha menolaknya dan kembali aku beri pengertian bahwa dia belum pantas untuk kusetubuhi. Namun dia terus merengek dan matanya berair. Dia menuduh aku lebih sayang kepada kakaknya daripada dia.

Akhirnya kuturuti kemauannya disaksikan kakaknya Deasy kubiarkan bermain dengan penisku. Sebelumnya aku sengaja melumur penisku dengan jelly untuk melicinkan. Deasy mengambil posisi di atas ku dan mengarahkan penisku memasukkan ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan tanpa halangan penisku tenggelam. Dia mencoba bergerak. Tapi karena belum ada pengalaman, maka gerakannya tidak beraturan bahkan sering kali penisku lepas.

Aku terpaksa mengambil kendali dan mengubah posisi menjadi MOT dan mulai memompa pelan-pelan. Deasy diam saja seperti patung. Sulit aku menerka posisi yang memberi kenikmatan baginya. Aku jadi asyik sendiri memompa sampai akhirnya aku muncrat.

Kelihatannya Deasy agak sulit mendapatkan orgasme melalui hubungan. Yah memang karena usianya belum waktunya melakukan hubungan sex.

Deasy sulit mendapatkan orgasmenya meski aku pernah bermain cukup lama Namun yang mengherankan dia selalu menagih minta disetubuhi. Selalu saja dia yang meminta. Sekalipun, aku tidak pernah memulai.

Aku agak penasaran soal orgasme, sehingga setiap kali dia minta di setubuhi aku selalu mengawali dengan mengoralnya. Pada awalnya cukup lama dia mencapai orgasme, sampai aku bosan dan leherku pegal. Jika dia mencapai orgasme badannya menegang kaku dan memeknya berkedut.

Sampai saat aku bisa lancar memainkan memeknya, dia belum mendapat mensturasi. Aku kadang-kadang menyalahkan diriku sebagai orang yang paling kurang ajar di dunia. Mungkin anda kalau berada di posisi saya bisa lebih bijak.

Aku sering termenung membayangkan diriku yang menggauli wanita jauh lebih muda dariku. Kadang-kadang sulit membayangkan situasi itu bisa terjadi, tetapi nyatanya itu sudah menjadi bagian hidupku.

 

******

Nikmatnya Investasi Perkebunan 4

 

 

Mungkin ada sekitar 2 tahun hidup seperti itu, sampai payudara Deasy berkembang cukup besar dan tubuhnya juga mekar sebagai gadis yang sangat cantik. Sulit dipercaya melihat keadaan kedua anak itu jika disebutkan bahwa mereka adalah asli kelahiran desa terpencil yang jauh dari Jakarta.

Maya sudah makin piawai di pekerjaannya, Setelah menguasai akunting, dia kutugaskan ke bagian marketing. Pada awalnya dia mendampingiku melakukan tugas pemasaran, tetapi sudah 6 bulan terakhir dia sudah bekerja sendiri. Hasilnya lumayan. Anak ini sangat berbakat di bidang marketing, wawasannya luas sehingga selalu menemukan pasar-pasar baru.

Meski kerjanya sudah bagus, aku ingin membekali dirinya dengan ilmu formal, sehingga aku membujuknya untuk kuliah. Pada awalnya dia keberatan, karena selain sudah menikmati pekerjaan dia juga mendapat penghasilan yang lumayan besar. Namun aku menjelaskan kepadanya bahwa pengetahuannya jika dibekali dengan pengetahuan dari pendidikan formal, maka dia tidak hanya bisa bekerja di perusahaanku, tetapi di manapun dia ingin bekerja akan dihargai. Aku sudah merencanakan dia menuntut ilmu di Singapura, Semua biaya akan aku tanggung, termasuk apa yang selama ini dia peroleh tetap akan dia dapatkan. Si Deasy juga ikut sekolah di Singapura, agar kakaknya tidak takut sendiri.

Setelah keberangkatan kedua anak asuhku yang puas aku kentotin, aku kini sendiri lagi, dan rumahku tidak ada yang mengurus kembali. Pak Sudin memahami keadaanku, dia menawarkan agar istrinya yang membantu aku membereskan rumahnya.

Mulanya aku pesimis, soal tawaran Pak Sudin, Namun setelah dia memperkenalkan istrinya aku agak terkesima. Istrinya ternyata jauh lebih muda dari Pak Sudin. Bukan hanya lebih muda tetapi juga penampilannya menggairahkan. Kembali aku menangkap pandangan nakal dari sorot matanya. Aku tidak enak menanggapinya, karena dia adalah istri pegawaiku.

Pak Sudin yang tadinya bekerja di lapangan mengawasi tanaman, kini dia mohon kepadaku untuk bekerja di kantor. Dia mengaku tubuhnya sudah kurang kuat. Aku tidak keberatan, tetapi aku bingung akan kutempatkan dimana, sementara latar belakangnya memang petani. Dia malah menawarkan diturunkan saja gajinya, yang penting tidak bekerja berat di lapangan.

Umur Pak Sudin baru sekitar 43, tetapi karena kerasnya kehidupan di desa membuat tampilannya jauh lebih tua. Badannya juga kelihatan makin lama makin kurus. Aku menduga dia mengidap suatu penyakit, tetapi dia belum mau berterus terang.

Mengingat istrinya bekerja mengurus rumahku, dan dia belum punya anak meski sudah 5 tahun membina rumah tangga, maka kutawarkan menempati kamar pembantu. Kamar itu aku modifikasi menjadi agak lebih besar. Aku memberi tugas Pak Sudin sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga. Selain memberesi tempat tinggalku dia juga mengurus segala macam keperluan kantor. Aku memberi arahan kerja apa yang harus dilakukan, maklum jabatan itu tidak pernah dia pahami apa yang harus dikerjakan dan apa tanggung jawabnya, orang petani disuruh ngurus rumah tangga ya maklum saja kalau dia blank.

Istri Sudin selain cantik juga pintar masak. Sudah 3 bulan dia mengurusi rumahku bersama suaminya, mungkin timbangan badanku naik, karena selalu berselera dengan masakan istri si Sudin, terutama buatannya yang istimewa adalah sambal dan sayur asem.

Ada yang hilang setelah tidak ada dua anak ABG dan Imah. Tidak ada yang aku keloni lagi malam-malam. Jadi aku tidak terlalu betah berlama-lama di kebun, kadang-kadang hanya malam minggu saja. Sebetulnya usahaku makin besar dan makin luas tanamannya. Berkat sistem yang aku terapkan berjalan, maka meski tidak aku awasi setiap hari bahkan dibiarkan saja sebulan tanpa kehadiranku perusahaan tetap jalan. Istilah sekarang yang lagi populer usahaku sudah bisa auto pilot. Jadi kalau aku ke kebun, sebenarnya hanya refreshing saja.

Sementara itu hampir setiap bulan aku pasti ke Singapura mengunjungi anak asuhku sekaligus memuaskan nafsu sex ku. Mereka tinggal di apartement yang sudah kubeli. Istri dan anak-anakku tidak mengetahui apartemen baru ini. Aku mempunyai apartemen lain yang biasa dijadikan tempat singgah istri atau anak-anakku kalau ke Singapura.

Suatu malam ketika aku sedang ada di kebun, Pak Sudin katanya minta waktu ingin bicara denganku. Dia sudah mengatakan tadi siang. Kayaknya dia serius sekali ingin bicara khusus denganku. Aku sulit menduga apa yang ingin disampaikan, aku jadi agak berdebar juga, jangan-jangan dia tahu aku telah menyetubuhi si Maya dan Deasy, dan mungkin juga orang di desa tahu. Aku jadi tidak tenang setelah Pak Sudin mengatakan ingin ngomong khusus denganku secara pribadi. Pak Sudin kali ini jadi sangat mendebarkan bagiku.

Malam itu selepas makan malam, Pak Sudin duduk berdua denganku di teras depan. Dua cangkir kopi menemani obrolan kami. “Pak maaf ya pak jika yang akan saya kemukakan ini nanti tidak berkenan, bapak lupakan saja, dan anggap saja tidak pernah ada pembicaraan ini,” katanya.

Pernyataan awal pembukaan pertemuan 4 mata ini menambah kebingunganku, karena aku jadi sulit menebak kemana arah yang akan dia bicarakan.

“Begini Pak, saya mau berterus terang kepada Bapak, Saya sekarang ini sedang mengalami penyakit yang kayanya tidak bisa sembuh. Makanya saya minta ke Bapak, untuk pindah kerja dari lapangan ke Kantor, “ katanya.

“Sakit apa, “ tanyaku sambil menyeruput kopi yang takut keburu dingin.

“Saya terkena diabetes, dan gula darah saya tinggi sekali Pak, “ ujar Pak Sudin sambil menunduk sedih. Kayaknya mata dia basah oleh air mata.

“ Ya diabetes memang jarang ada yang bisa disembuhkan, malah kalau tidak di jaga dia akan merusak organ lain, “ ujarku setelah agak tenang soalnya topik yang dibahas ini ternyata tidak seperti dugaanku.

“Saya paham Pak, tapi ada yang membuat saya terbebani lebih berat. Bukan soal biaya pak, saya berterima kasih bapak sedikit banyak membantu saya sehingga saya tidak kewalahan untuk membiayai pengobatan.” katanya.

“Soal apa Pak,” tanyaku.

“Keluarga besar saya, juga istri saya selalu bertanya kapan saya dapat anak, Kami sudah berusaha dalam 8 tahun perkawinan ini, tapi memang tidak diberi rezeki itu kayaknya Pak.” katanya.

Saya menyarankan dia adopsi anak saja, sebab beberapa kasus, setelah satu keluarga yang sulit mendapat keturunan, setelah mengadopsi anak, dia lantas mendapat keturunan.

“Saya paham pak soal itu, tapi bagaimana mau bisa punya keturunan sendiri pak, orang untuk menggauli istri saya saja saya sudah tidak mampu. Praktis sudah 3 tahun terakhir ini pak saya tidak mampu melakukan tugas sebagai suami,” katanya blak-blakan dan bernada sedih.

“Saya memang salah pak, karena kawin telat, jadi belum lama nikah saya sudah loyo,” katanya dengan nada agak menggelikan.

“Saya menawarkan istri saya untuk bercerai agar dia bisa kawin lagi dan dapat keturunan, tapi dia tidak mau pak. Tapi Pak dia sering uring-uringan kalau mencoba merangsang saya tapi tidak pernah berhasil,” katanya.

Saya jadi kurang enak hati, karena Sudin sudah bicara masuk ke wilayah pribadi, tetapi saya diam saja menunggu dia melanjutkan ke arah mana.

“Maaf pak saya benar-benar mohon maaf kalau permintaan saya ini kelewatan,” katanya . Dia terlihat sulit sekali mengutarakan maksudnya.

“Ya sudahlah saya maklumi apa pun yang akan kamu sampaikan, kalau saya bisa tolong, pasti saya tolong, tapi kalau gak bisa Bapak pun, jangan sakit hati pula,” jawabku tenang, sambil penasaran.

“Begini Pak, saya mohon hmmmm, iya pak saya mohon bapak mau membenihi istri saya,” katanya agak tercekat.

Saya seperti mendengar bom mendengar pernyataannya itu. Tapi saya kemudian berpikiran bahwa dia akan melakukan metode bayi tabung dengan mengambil benih saya lalu disemaikan ke indung telurnya. “ Kenapa tidak benih bapak saja yang disemaikan melalui sestem bayi tabung,” tanya saya penuh keheranan.

“Pak saya sudah cek kualitas sperma saya, ternyata sperma saya lemah,” katanya sedih.

“Jadi kamu mau pakai sperma saya untuk dijadikan bibit dengan bayi tabung,” tanya saya dengan antusias.

“Hmmm kalau bapak bersedia, kami inginnya tidak pakai bayi tabung pak,” katanya polos.

Bom kedua meledak lagi mengejutkan saya. Untuk mengatasi grogi saya sruput lagi kopi yang sudah tinggal sedikit.

“Maksud kamu gimana, Sudin,” kataku.

“Saya sudah diskusi dengan istri berhari-hari soal ini pak dan sudah memikirkan berbagai alternatif, tetapi akhirnya kesimpulannya seperti yang saya sampaikan ini. Saya akui ini awalnya memang ide saya. Istri saya mulanya diam saja. Saya bingung pak dia tidak menjawab tidak atau menjawab setuju. Jadi pak saya sudah ikhlas lahir batin pak, dan akhirnya istri saya juga menerima,” kata Sudin.

Wah aku harus jawab apa ya, terus terang bingung.

“Begini, Din, seandainya saya terima, tetapi kalau istrimu tidak berhasil hamil, bagaimana,?” tanyaku.

“Ya itu juga sudah saya perhitungkan pak, sebetulnya masalahnya bukan hanya ingin punya anak saja Pak, tetapi saya kasian istri saya tidak mendapatkan kebutuhan biologisnya, jadi makanya saya tidak memilih soal bayi tabung,” kata Sudin.

Aku diam-diam memuji pemikiran pegawaiku ini, ternyata dia sudah berpikir jauh.

“Begini din saya tidak bisa menjawab permitaan kamu, saya ingin kamu bicara ini bersama istrimu juga,” jawabku.

Dia kemudian bersamaku masuk kedalam, karena di luar udara juga makin dingin. Sudin memanggil istrinya yang berada di kamar. Mungkin istrinya stress menunggu hasil pembicaraan suaminya denganku.

Istrinya tidak langsung keruang tengah. Dia menyiapkan 2 cangkir teh jahe, untuk aku dan Sudin. Setelah kami duduk bertiga, aku langsung tanyakan ke istrinya Sudin. “Teh (sebutan kakak, bahasa sunda) Pak Sudin sudah bercerita, Teteh ada yang mau disampaikan,” tanya saya.

Istri Sudin masih terlalu muda, karena katanya belum tamat SMA, sudah dilamar langsung nikah. Umurnya ketika itu mungkin sekitar 16 tahun. Jadi sekarang baru sekitar 23 -24 tahun.

“Ya pak saya mah ikut kata Pak Sudin aja,” katanya singkat sambil tertunduk malu.

“Begini ya, saya usianya jauh lebih tua dari Pak Sudin, meskipun sejauh ini kondisi saya sehat-sehat saja, tapi siapa tahu nantinya saya tidak bisa memenuhi harapan yang dibebankan kepada saya. Satu hal lagi yang ingin saya tahu, kenapa saya yang dipilih, kenapa bukan orang yang lebih muda, dan lebih ganteng,” tanya saya.

“Pak ini pilihan yang paling sulit, saya menilai Bapak orangnya baik, sopan penuh tanggung jawab. Usia mungkin menjadi tidak penting pak yang penting Bapak sehat. Sudah seumur segitu saja masih kuat keliling kebun, kerja dari pagi sampai malam, dan kelihatannya tidak pernah ada capeknya. Pak saya tidak menemukan orang lain, apalagi yang lebih muda, tanggung jawabnya saya ragu pak, nanti malah dia macam-macam, saya yang repot,” kata Sudin.

“Teh apa teteh merasa dipaksa ama mang Sudin, apa benar teteh ikhlas dan benar bisa dengan saya,” tanya saya.

“Saya mah demen ama Bapak,” katanya.

Dasar orang desa bahasanya tidak ada basa-basinya. Saya jadi malu hati.

“Apa Teteh gak kasian, Kang sudin tidur sendirian, sementara Teteh tidur ama saya,”

“Saya mah sudah ikhlas lahir batin, kalau istri saya sama bapak, malah saya bersyukur Pak, kalau bapak mau menerimanya, saya bener-bener tidak ngiri pak, Bapak adalah dewa penolong keluarga saya,” jawab Sudin.

“Karena tujuan saya menolong, dan ingin keluarga kamu tetap utuh dan bahagia, permintaan itu bisa saya penuhi, tapi jangan berharap banyak. Tapi saya minta apa pun kejadiannya jangan sampai ada yang tahu soal ini. Cukup kita bertiga saja. Andai pun nanti ada anak, saya juga rela anak itu manjadi anak mang sudin dan istri. Untuk selanjutnya akan saya bantu biayanya selama saya bisa bantu,” kataku menanggapi pertanyaan mereka.

Sudin langsung menyalamiku dan mencium tanganku, Istrinya ikut-ikutan menyalamiku sambil duduk bersimpuh di depanku seperti posisi sungkem.

“Pak maaf mulai malam ini istri saya akan mengurus bapak, Bapak jangan segan-segan nyuruh dia, anggap saja itu istri Bapak selama bapak di kebun,” kata Sudin.

Malam itu aku jadi canggung mau tidur. Apa mulai malam ini istri si Sudin yang diperkenalkan bernama Salma akan tidur bersama ku atau kapan ya. Ah aku masuk saja lah, meskipun belum ngantuk. Padahal sudah jam 11 malam dan dingin diluar karena dari sore hujan rintik-rintik.

Tidak lama aku berbaring sambil berselimut, pintuku diketuk. “Punten” suara si Salma. “Mangga” jawabku.

Muncul sosok Salma dengan mengenakan sarung dan baju atasannya sweater. “Maaf pak saya disuruh Kang Sudin untuk mijet Bapak,” kata Salma dengan suara yang nadanya rada ragu.

“Mangga, mangga, “kata saya sok berbahasa Sunda mempersilakan istrinya masuk. Aku duduk di kasur sambil bersila. Salma duduk bersimpuh di depanku dan bertanya, bagian mana yang ingin dipijat. Tangan saya memegang bahu menunjukkan bagian ingin di pijat. Aku dimintanya duduk membelakangi dia, tapi aku bukan berbalik malah meminta dia naik ke kasur sehingga berada di belakangku. Tangannya mulai meremas bahuku. Lumayan juga, untuk nglemesin otot. Setelah puas dipijat bahu, dia menawarkan memijat kepalaku.

Setelah dia meminta maaf karena memegang kepalaku, dia menyenderkan kepalaku ke dadanya. Terasa gundukan empuk menyentuh sisi kanan kiri kepalaku. Nikmat rasanya. Pijatan kepala menjadi tidak penting, karena konsentrasiku justru mengendus apakah dia memakai BH atau tidak. Masalahnya dia pakai sweater cukup tebal, jadi agak sukar juga mendeteksi. Namun rasanya dia tidak pakai BH.

Tanpa tedeng aling-aling aku langsung aja tanyakan, “ Teh udah berapa lama gak kumpul sama Kang Sudin.”

“Kumpul mah tiap malam Pak” kata Salma memanfaatkan kelemahan kata-kataku.

“Ah maksud saya gak dapat nafkah biologis,” tanya saya.

“Biologis itu, naon teh Pak, saya sudah lama gak sekolah jadi lupa,” katanya.

“Ah, susah nih di ajak ngomong alus kagak ngerti, ngewek,” kataku langsung.

“ Ih bapak, saru atuh,” katanya protes.

“Udah lama ya,” tanyaku.

“Iya, punyanya akang kagak bisa bangun sampai saya capek dia lemes terus, katanya karena diabet ya Pak,” tanyanya.

“Iya, lha dulu waktu baru kawin, gimana,” tanya ku.

“Ah saya malu ngomongnya, tapi ya gitu mainnya baru sebentar udah keluar, jadi kadang-kadang saya malas kalau diajak, karena ngotor-ngotori aja Pak.” katanya.

“Jadi kamu belum pernah orgasme,eh maksudnya nyampai puas,’ tanya saya.

“Puas gimana sih pak, ya biasa aja,” katanya polos.

Mungkin si Salma ini belum pernah merasakan orgasme, karena ketidak-mampuan suaminya sejak awal.

“Teh malam ini mau gak ngewek ama saya,” tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

“Ih Bapak, saya malu ah Pak kalau ditanya-tanya,” katanya,

“Ya udah kalau gitu pijet aja dulu ya, badan saya di urut pake hand body lotion, tolong bukain kaus saya.”

Salma membuka kaus oblongku dengan menarik ke atas, setelah itu aku tidur telungkup. Dia mulai beraksi mengurut punggungku. Ah lumayan juga, tapi masih perlu diajari dan dilatih biar tekanannya sesuai dengan keinginan ku serta penekanan-penekanan di bagian yang aku sukai.

Setelah punggung, kelihatannya dia mulai berkeringat. Kusarankan dia membuka saja sweaternya. Saranku dituruti, Dia membukanya, sehingga tinggal kaus oblong.

Sementara itu aku berbalik posisi menjadi telentang. Salma kuminta memijat bagian dada, perut lalu ke paha. Aku bisa melihat dia sambil dia memijat. Kelihatan guncangan teteknya, yang ternyata cukup gempal.

Dia bingung bagaimana memijat dada, jadi dia hanya menyibak-nyibak dadaku. Setelah itu dia turun ke perut, dan juga tidak tahu cara memijat perut, jadi dia tanya perutnya diapakan. Aku minta dia turun saja ke bagian paha dan dia kusuruh membuka sarungku. Tanpa ragu diplorotkan sarungku sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam. Penisku sudah bangun sehingga kelihatan menonjol di balik celana dalamku. Karena cahaya di kamar remang-remang jadi mungkin tidak begitu terlihat. Atau mungkin aku yang tidak bisa melihat kemana sorot matanya.

Pijatan paha berdampak meningkatkan rangsangan sehingga penisku mendekati sempurna mengeras siap untuk dilaga. “Teh bisa mijet anunya saya,” tanyaku.

“Gimana pak mijetnya saya gak pernah, kalau bapak ajari nanti saya pijet,” katanya.

“ Ya udah, coba buka celananya,” perintahku.

Celanaku ditarik kebawah, sehingga penisku langsung mencuat. Salma kutuntun tangannya memegang sekitar paha bagian dalam dan mengurutnya , lalu di sekitar batang penis. Rasanya nikmat sekali. Dia lalu kutuntun untuk menggengam penisku. “ Ih keras banget pak,” katanya.

Dia memainkan penisku dengan mengocok. Mungkin sudah lama dia tidak pernah ketemu mainan yang menggairahkan ini. Aku memintanya dia berhenti karena lama-lama penisku ngilu.

Salma kusuruh minum air putih dulu sekaligus pipis, lalu balik lagi. Dia turuti kemauanku. Sebenarnya aku bersiasat karena dia akan aku oral. Jadi dia membersihkan genitalnya dulu sebelum aku jilati.

Tak lama kemudian dia kembali. Dia kuminta berbaring disampingku yang masih bugil. Dia masuk selimut disampingku Aku memeluknya dan menciumi pipi, telinga dan menjilati lehernya. Bau wangi sabun masih terasa. Tanganku meremas teteknya dari luar baju. Terasa kenyal dan lumayan besar. Nafas Salma mulai memburu, menandakan dia mulai terangsang. Kubuka kausnya dengan menarik ke atas. Dia membantu keinginanku. Bagian atasnya terbuka. Dua gunung kenyal dengan ujung pentil yang sudah kaku menjadi sasaran jilatan dan hisapanku. Salma mulai melenguh nikmat merasakan jilatan di kedua putingnya.

Tanganku mengelus-elus perutnya yang lembut dan belum terlalu gendut, lalu simpul sarungnya aku buka. Tanganku langsung menelusup ke dalam celana dalamnya. Dia sama sekali tidak mencegah, Tanganku menemukan gundukan dengan bulu halus, parit di tengahnya sudah basah sampai membasahi bagian celananya.

Itilnya mudah kutemui dan langsung menstimulasi nya dengan mengusik-usik. Salma bergelinjang tidak karuan. Dia sudah aku telanjangi dan aku terus menelusuri ciuman sampai ke perut. Terus turun sampai lidahku mencapai celah memeknya. Salma berusaha menarik kepalaku ke atas. “ Aduh pak jijik atuh Pak, ulah disitu,” tidak kuturuti kemauannya kecuali malah makin kebawah sehingga lidahku berhasil menemukan itilnya.

Setelah itilnya terkena lidahku dia tidak lagi berusaha menarik kepalaku.Salma mulai merintih seperti orang menangis dan badannya mengelinjang mengikuti irama jilatanku di itilnya. Tadinya kepalaku ditolak, sekarang malah ditarik mendekat ke memeknya. “ Aduh pak enak banget pak,” rintihnya berkali-kali.

Sekitar 10 menitan saja aku oral dia bisa mencapai orgasme. Di puncak orgasmenya dia menjerit tertahan. Badannya ikut berkedut-kedut mengikuti gelombang orgasmenya. Aku duduk disampingya yang terbaring pasrah. Memeknya sudah banjir dengan cairan pelumas. Kucoba menusuk jari tengahku masuk ke dalam lubang vaginanya, perlahan-lahan masuk . Kutarik keluar lalu kucoba memasukkan jari tengah dan jari manis. Agak susah masuknya, tapi perlahan-lahan bisa masuk meski terasa sempit.

Setelah kedua jari terbenam aku mulai melakukan gerakan merangsang titik G spotnya. Mulanya dia tidak bereaksi, tetapi tidak lama kemudian dia mulai merasakan rangsangan di Gspotnya, Tangannya meremas-remas sprei. Kepalanya digerakkan seperti orang menggeleng, desisan mulai terdengar. Tiba-tiba dia berteriak lirih, “Pak awas pak saya kebelet pipis Pak aduh pak saya gak tahan pak, awas pak,” aku tau dia tidak benar-benar pipis, tetapi dia akan segera mencapai orgasmenya yang paling nikmat. Tak lama kemudian dia menjerit dan dari celah memeknya muncrat cairan kental sampai mengenai hidungku. Pancaran itu melesat berkali-kali dan makin lama makin lemah sehingga hanya meleleh saja.

Setelah usai orgasmenya dia memelukku erat sekali. “Aduh saya mah gak nyangka bapa jago banget nyenengi cewek, sampai saya lemes banget, sumpah pak saya belum pernah ngrasai kayak gini,” katanya.

Aku tidak menunggu lama, untuk mengambil kesempatan memasukkan penisku ke dalam memeknya. Aku arahkan pelan-pelan ke celah vaginanya. Terasa ada otot yang menjepit di dalam. Seperti kebanyakan perempuan, jika usai orgasme memeknya makin terasa enak dan menjepit.

Aku melakukan gerakan dengan menggesek kembali titik G nya sampai dia mulai bereaksi menangkap gerakanku sambil merintih. Terasa jepitannya makin kencang sehingga memberi rasa nikmat. Meski sudah banjir tetapi memeknya masih tetap menggengam penisku. Mungkin hanya 10 menitan aku sudah mulai measa akan muncrat. Gerakan aku percepat dan konstan di posisi yang sama. Salma juga ikut menggila dan dia kembali berteriak mau pipis. Aku genjot terus sampai akhirnya aku mencapai titik tertinggi dan hanya selang hitungan detik dia pun mencapai orgasmenya kembali dengan siraman cairan hangat. Spermaku kumntahkan seluruhnya ke dalam cekungan vaginanya dan aku tancap lama sampai penisku mengkerut dan keluar sendiri dari sarangnya.

“Ah saya mah gak nyangka Bapak udah usia tapi mainnya masih jago banget, pak kalau saya ketagihan jangan salahin saya ya Pak, abis kenapa bapak mainnya enak banget,” kata si Salma.

Salma tidak mau kembali ke kamarnya tidur bersama suaminya. Dia pilih tidur telanjang bersamaku dalam satu selimut.”Pak biar aja jangan dicuci biar cepet jadi, lagian saya ngantuk banget, badan saya lemes rasanya gak kuat berdiri,” katanya.

Menjelang bangun pagi dia masih menggodaku dan dia minta main satu ronde lagi. Untung senjataku bisa bangun. Aku minta dia main diatas, karena aku menghemat energi. Salma memuaskan dahaganya sampai dia mencapai orgasmenya,sedangkan aku tidak sampai puncak. Salma merasa bersalah, tapi kuberi pengertian bahwa itu tidak jadi masalah dan dengan aku tidak mencapai ejakulasi badanku sepanjang hari nanti tidak akan lelah.

Jika aku menginap di kebun, setiap malam Salma selalu meminta disetubuhi. Alasannya biar cepat benihnya tumbuh. Padahal di sebalik itu aku tahu dia memang doyan. Mungkin si Salma agak exhibitionist, karena kalau dia meladeniku makan siang dimana suaminya belum naik ke atas, S alma hanya mengenakan sarung, sedang teteknya yang menggantung cukup besar dibiarkan gondal-gandul.

Rumahku di atas memang cukup esklusif , karena tidak ada yang berani naik kecuali Salma dan suaminya. Kadang-kadang suaminya mendapati istrinya melayaniku makan sambil hanya sarungan dengan dada terbuka, Sudin hanya senyum-senyum saja. Yang parah kadang-kadang dia mondar-mandir hanya pakai celana dalam. Malah kalau mandi, dia tenang saja jalan dari kamar mandiku sambil telanjang menuju ke kamarnya. Kalau aku sedang diatas malah dengan manjanya dia minta pangku sambil tetap telanjang. Anehnya dia kok tidak merasa dingin. Suaminya memang sering memergoki, tapi dia maklum saja.

Setelah 3 bulan kelihatannya mulai ada tanda-tanda benih yang tertanam di rahim Salma mulai tumbuh Dia mulai tidak haid dan ketika dites dengan alat pendetekesi kehamilan, hasilnya memang positif.

Salma melahirkan anak laki-laki, Sudin dan Salma merasa sangat berbahagia. Mereka tidak habis-habisnya berterima kasih. Aku pikir setelah seorang anak lahir, kewajibanku selesai. Memang benar 40 hari setelah kelahiran. Salma istirahat untuk “bertempur”.

Mungkin dia “cuti “ sekitar 2 bulan. Bukan hanya untuk memulihkan luka bekas melahirkan, tetapi dia repot dan asyik dengan bayinya. Oleh karena itu tidak terpikirkan untuk melakukan sex.

Setelah dia menguasai ritme sebagai ibu seorang bayi, baru dia mengatakan kepada ku bahwa dia kangen tidur dipelukanku. Kalau malam, bayinya diserahkan oleh Sudin untuk diurus, kecuali pada jam-jam tertentu dia datang ke kamar suaminya untuk menyusui anaknya. Selepas itu dia kembali ke kamarku, meski pun kadang-kadang tidak melakukan hubungan. Tampaknya dia lebih nyaman tidur dalam pelukanku dari pada di sisi suaminya.

Meskipu aku menrasakan kenikmatan istri si Sudin, tetapi lama-lama aku merasa kasihan. Secara diam-diam aku mencari tempat berobat diabetes yang sekaligus memulihkan vitalitas lelaki. Dari sekian banyak yang aku selidiki ada dua atau tiga tempat yang aku temukan reputasinya cukup baik. Sebab keberhasilan pasiennya sembuh cukup tinggi.

Pengobatan itu semuanya sifatnya alternatif. Pak Sudin setuju setelah aku berunding dengannya untuk berobat. Aku bawa Pak Sudin ke 3 tempat pengobatan alternatif. Sebab ketiga tempat itu metode pengobatannya berbeda-beda, jadi aku pikir bisa saling mendukung.

Semua biaya pengobatannya aku yang tanggung. Sebulan setelah menjali pengobatan, gula darahnya mulai turun mendekati normal. Bulan ketiga kata Pak Sudin “senjatanya “ kalau pagi sudah mulai mengeras, meskipun tidak cukup keras untuk penetrasi. Salma akuj minta membantu Sudin untuk memulihkan rasa percaya dirinya sehingga kesembuhan untuk vitalitasnya lebih cepat.

Bulan ke empat, Pak Sudin melaporkan bahwa dia sudah bisa penetrasi ke vagina istrinya, tetapi belum bisa bertahan lama. Hanya sekitar 1 menit, sudah meletus. Aku terus memberinya semangat. Bulan ke enam Sudin sudah mampu bertahan main selama 5 menit. Aku kira durasi itu sudah cukup bagus, apalagi kata Salma, penis suaminya cukup keras.

Meski pun suaminya sudah mulai bisa memberi nafkah batin, tetapi Salma tetap masih minta jatah dariku. Menurut dia main dengan suaminya kurang berkualitas, sehingga dia tidak bisa orgasme. Salma kunasihati agar jangan mau enaknya sendiri, cepat atau lambat dia harus kembali ke suaminya.

Mulanya Salma berlinangan air mata ketika kunasihati, dia katanya sudah terlanjur menyenangiku, sehingga ketika bersama suaminya terasa hambar. Setelah setahun berobat, Sudin sudah mulai normal, Dia mampu menyambangi istrinya seminggu sekali dengan durasi yang lebih baik. Sudin aku ajari teknik-teknik menghadapi istrinya. Untungnya dia cukup terbuka menerima anjuranku, sehingga satu persatu dia praktekkan. Istrinya kemudian berbisik kepadaku bahwa suaminya sekarang sudah mahir sehingga setiap kali bertempur bisa memberinya orgasme.

Walau pun begitu Salma tidak mau lepas dariku. Dia melayani dua pria dalam rumah tangganya, satu suami de jure dan satu lagi suami di facto. Bahkan akhirnya kami bisa ber 3some aku dan Sudin mengeroyok Salma. Bukannya kewalahan, Salma malah menggila nafsunya kalau dikeroyok berdua. ***

Anak Mempromosikan Ibunya

By Jakongsu
Suatu hari aku diajak temanku Adi untuk melihat villanya yang baru selesai dibangun. Dia membeli sebidang tanah yang letaknya kira-kira di belakang wilayah Tapos, milik bekas Presiden Soeharto. Dia membeli lahan sekiltar 500 m. Villa yang dibangunnya biasa saja, tidak mewah, tapi mempunyai cukup banyak kamar. Ada 4 kamar yang semuanya memiliki kamar mandi di dalam.
Udaranya sejuk, dia menawarkan aku membeli juga sebidang tanah di situ luasnya malah 700 m dan posisinya bagus. Kami berdua ngobrol di teras depan. Jalan didepan tidak terlalu ramai, hanya sesekali saja dilalui sepeda motor. Tidak lama kemudian muncul sepeda motor cewek berboncengan. Mereka tidak mengenakan helm. Si pengemudi menegur temenku, “ oom,” katanya.
Adi lalu melambai memanggil mereka. Motor itu putar arah dan kembali mendekati pagar rumah Adi. Aku dan Adi berdiri di balik pintu pagar. Setelah basa-basi sebentar, Adi langsung melontarkan pertanyaan “ Ada ?”.
“Banyak oom, tinggal oom maunya yang gimana,” jawab gadis itu.
Aku awalnya tidak paham topik pembicaraan mereka, sampai akhirnya mengerti setelah Adi melihat foto-foto dalam HP anak itu. Foto-foto ala kadarnya itu cukup banyak sekitar 20 mungkin lebih. Adi bertanya apakah aku berminat. Aku pun jadi penasaran ingin meneliti satu persatu foto-foto itu. Semuanya kisaran usia ABG. Tidak terlalu jeleklah, Rata-rata wajahnya lumayan manis-manis juga.
“Oom nanti saya tunggu ya di tempat biasa,” kata si cewek itu . Tak lama kemudian dia berlalu. Adi baru bercerita bahwa foto-foto itu adalah anak-anak di kampung dekat situ. Mereka semua bisa diajak tidur, tapi gak bisa dibawa menginap. Mereka bukan pemain profesional, tetapi anak-anak yang iseng cari duit untuk beli pulsa.
Adi mengajakku berboncengan motor matic turun ke kampung. Kami berhenti dan duduk di warung bakso di bangku yang menghadap keluar. Adi lalu mengirim SMS memberi tahu bahwa kami ada di warung bakso. Sekitar setengah jam kemudian di seberang jalan berdiri berjajar 5 cewek, usianya masih sangat remaja. Kami berdua meneliti ke lima cewek di seberang jalan. Mereka masih tergolong remaja tanggung. Kelimanya sih boleh juga, satu sama lain nilainya hampir sama lah. Aku melirik yang mengenakan baju kuning, kelihatannya teteknya paling besar.
Menurut Adi, anak-anak itu tidak perlu dikasi duit banyak-banyak. Adi lalu menyebut suatu jumlah yang menurutku sama dengan kalau aku pijat di Jakarta kota plus uang tipsnya. Adi mengirim sms ke cewe yang naik motor tadi mengenai pilihanku dan pilihan Adi. Entah dimana tempatnya untuk bertemu lagi, tapi Adi sudah paham betul nanti ketemu lagi di satu tempat. Kami kembali dengan motor ke villa Adi.
Dengan mobilku kami cabut dari villa, titik temunya ternyata di parkiran minimarket. Dua cewek pilihan kami sudah standby di sana, aku langsung mendekat dan Adi keluar. Dia pindah ke tempat duduk belakang dan cewek baju kuning pilihanku tadi di suruh duduk di depan.
Adi menunjukkan tujuan kami membantai cewek-cewek ini. Letaknya tidak jauh sekitar 15 menit jalan ke arah Sukabumi, lalu ada jalan raya ke kiri. Tidak jauh ada tempat penginapan yang berbentuk bungalow-bungalow kecil. Aku dan Adi turun ke resepsionis dan langsung bayar dapat kunci kamar.
Bell boy menunjukkan kamar yang kami pesan, dua bangunan berdekatan. Mobil aku surukkan ke dalam garasi. Bell boy sudah membuka pintu. Aku paham dia mengharap uang tips. Begitu pintu tertutup, cewek baju kuning yang menyebut namanya Hani langsung memelukku dan menggelendot. Aku lalu memeluknya sebentar. Dia kuajak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku membuka pakaianku satu persatu, Hani mengikuti, membuka pakaiannya. Tanpa rasa malu dia sudah telanjang di depanku, padahal aku masih mengenakan celana dalam. Teteknya mungkin baru tumbuh tetapi sudah membubung dan lumayan besar juga untuk anak seumuran dia yang mengaku berumur 15 tahun.
Pentil teteknya belum berkembang dan aerolanya juga masih kecil. Namun teteknya sudah cukup tegap, terasa kenyal ketika aku remas. Aku membuka celana, langsung terlihat senjataku berdiri tegak. Memeknya masih polos belum ada bulu yang tumbuh. Aku sempat bertanya, apakah jembutnya dia cukur. Hani mengatakan memang belum ada bulunya. Pengalamanku bergaul dengan cewek-cewek Sunda mereka umumnya tidak memiliki bulu lebat. Beberapa kali aku bertemu dengan cewek Sunda yang sudah berumur hampir 25 tahun. Tetapi bulunya masih jarang. Jadi wajar saja kalau anak ini masih gundul, pada usia 15 tahun.
Bungalow ini lumayan bersih, ada air hangatnya. Kami berdua akhirnya mandi agar segar. Setelah mengeringkan badan, dengan berbalut handuk, kami langsung berbaring di tempat tidur. Aku mulai melakukan operasi meremas-remas nenennya. Daging payudaranya terasa sangat mengkal dan cenderung keras. Enak sekali meremasnya perlahan-lahan. Aku memainkan pentilnya yang masih kecil dengan memelintir-melintir. Setelah itu aku bangkit menciumi kedua putting yang masih kecil tetapi terasa mengeras.
Sambil menjilati pentil kecil tanganku merayap ke bawah mencari belahan memek. Gundukan memeknya terasa cembung dan belahannya masih rapat. Jari tengahku masuk ke sela-sela belahan itu lalu mencari cliorisnya. Jari tengahku belum merasa ada tonjolan itil. Aku menguyel-uyel daging di atas lipatan bibir dalamnya. Hani bereaksi dengan gerakan pinggulnya . Aku merasa menemukan itilnya dan terus aku mainkan. Sebetulnya aku ingin mengoral, tapi kali ini aku tahan saja keinginanku. Aku duduk di antara kedua kakinya sambil “membelah duren”. Terlihat warna merah muda di dalam belahan memeknya.
Aku tak ingin berlama-lama maka kondom aku pasangkan dan penis kuarahkan masuk ke lubang memek yang masih rapat. Perlahan tapi pasti, penisku terbenam tanpa halangan berarti. Cengkeramannya lumayan menjepit. Aku memompa sekitar 10 menit. Akibat pakai kondom, rasanya jadi kurang nikmat. Aku membalikkan posisi agar Hani diatas dan dia yang memacu. Pengetahuan dia lumayan juga karena gerakannya cukup bagus. Aku tidak tahu apakah dia lelah atau dia mencapai orgasme, karena setelah 10 menit dia ambruk di atas tubuhku dengan nafas memburu.
Kembali ke posisi semula aku mengenjot dia habis-habisan sampai akhirnya aku sanggup juga mencapai puncak. Aku benamkan dalam-dalam ketika berejakulasi dengan pengaman kondom. Setelah usai aku melepas kondom dan membuang ke tempat sampah yang berada di kamar mandi.
Hani kusuruh memijatku, tapi dia mengatakan tidak bisa mijat. Dia malah menawarkan ibunya, karena ibunya pintar memijat dan tahu urat. Hani mengaku ibunya janda umurnya sekitar 32 tahun. Aku jadi penasaran lalu menanyakan apakah Hani punya fotonya. Dia lalu mengeluarkan HP nya, HP buatan Cina dengan layar lebar. Dia lalu menunjukkan foto ibunya. Lumayan juga tidak terlalu gemuk. Di foto itu terlihat susunya besar sekali. Hani membenarkan, susu ibunya memang besar sekali.
Wah boleh juga di try sekali waktu batinku. “ Kapan oom mau pijat ama ibu,” kata Hani. Aku jawab belum tahu. “Ntar sore aja oom, nanti antar saya balik dan oom tunggu kabar di rumah Oom Adi. Nanti saya kabari kalau ibu bisa,” kata Hani.
Aku jadi tergugah . Main dengan Hani hanya aku lakukan satu ronde saja. Kami ngobrol sambil tidur telanjang berdua sampai Adi menelponku bahwa dia sudah selesai. Tidak sampai 3 jam kami habiskan waktu bermain dengan ABG. Setelah anak-anak itu turun, dalam perjalan ke villa Adi aku beritahu bahwa aku setelah ini berencana pijat. Dia sempat heran aku mau pijat sama siapa, setelah kuterangkan baru dia mengerti. ‘
Aku sempat menghabiskan secangkir kopi tubruk dan dua batang rokok sebelum telponku bergetar. Kulihat di layar muncul nama Hani. Dia menanyakan apakah aku jadi dipijat, kebetulan Ibunya bisa. Aku langsung bilang jadi. Jam berapa bisa dijemput, tanyaku. Terserah Oom bisanya jam berapa. Jam lima deh kataku, yang berarti sejam lagi dari saat itu.
Aku berjanji menjemput ibunya Hani di minimarket tadi. Adi tidak ikut, karena istrinya mau datang. Di minimarket itu dari kejauhan sudah kulihat seorang wanita paruh baya, dengan baju merah, rambut pendek. Aku tidak perlu parkir, tetapi berhenti sejenak dan membuka kaca. Wanita itu melihat ke dalam mobil lalu aku menganggukkan kepala. Dia langsung mendekat dan membuka pintu.
Setelah duduk disalaminya aku dan memperkenalkan diri dengan nama Euis. Aku lalu memanggilnya dengan panggilan khas Sunda, Teh Euis, dalam bahasa Indonesia berarti Kak Euis. Wajahnya lumayanlah, tidak terlihat terlalu tua, masih kelihatan segar, badannya tidak terlalu gemuk. Malah terlihat bahenol. Orangnya terlihat sopan, tapi banyak omongnya.
Aku kembali ke penginapan tadi tapi mendapat kamar yang berbeda. Aku langsung tidur telungkup. “Oom mau dipijat pakai baju aja, dibuka atuh,” kata Teh Euis.
Aku bangun dan melepas semua pakaianku tinggal hanya celana dalam, lalu kembali tidur telungkup. Pijatan dimulai dari telapak kaki terus menyusur sampai paha. Beberapa titik di telapak kaki ditekannya aku merasa sakit. Sambil menekan-nekan titik syaraf dia mengatakan penyakit-penyakit yang mungkin ada pada diriku. Pijatannya kadang-kadang sakit, tapi selebihnya memang nikmat dan membuat rilex. Sampai di bagian pantat, diremas-remasnya pantatku lalu di beberapa tempat ditekan-tekan. Tekanan itu serasa nyetrum ke kemaluanku, sehingga jadi mengeras.
Terus terang aku jadi terangsang. Oleh karena itu aku beralasan, jika celanaku mengganggu aku minta dia tarik saja ke bawah. Teh Euis lalu menarik celanaku dan meletakkan di atas meja. Dia kembali meremas pantatku. Rasanya memang sangat nikmat. Dia lalu mengurut paha bagian dalam. Entah dia sengaja atau tidak, tetapi kantong zakarku berkali-kali tersentuh tangannya. Aku makin high sehingga kakiku ku kangkangkan lebih lebar untuk memberi peluang tangannya lebih jauh menyentuh zakarku. Selangkangan diurutnya bahkan daerah sekitar dubur di tekan-tekan.
Aku sebetulnya ingin langsung berbalik badan saja, tetapi kutahan niat itu, karena Teh Euis pindah mengurut punggung dan bahuku. Dia menduduki pantatku. Aku mengingat-ingat, tadi Teh Euis memakai celana jeans. Tidak mungkin pakai jeans bisa leluasa duduk ngangkangi pantatku. Aku mengosentrasikan rasa di kulit pantat untuk merasakan gesekan di situ. Rasanya pantatku bergesekan dengan kulit bukan celana jeans. Tapi masih terasa ada kain yang melindungi selangkangannya.
Aku makin terangsang tetapi juga terbuai oleh pijatan dipunggungku. Ketika dia memijat tanganku aku baru bisa melihat, ternyata Teh Euis hanya mengenakan celana dalam saja sementara kausnya masih tetap.
Selesai bagian belakang aku dimintanya berbalik posisi jadi telentang. Aku buang rasa malu dan membiarkan penisku terlihat tegak. Jika dipanti pijat di Jakarta, biasanya senjataku yang tegak itu ditutup handuk, tetapi ini dibiarkan terbuka. Teh Euis mengomentari, “ Wah sudah siaga satu,” katanya.
“Ya ada musuh utama mau menyerang,” jawabku. Teh Euis tersenyum dan menyubit pelan. Aku jadi kurang merasakan pijatan lain di kaki maupun di bagian lain. Rasa penasaran, kira-kira bagaimana dia akan memperlakukan senjataku yang sudah siaga penuh.
“Oom mau diterapi kejantanan juga ,” tanyanya.
Aku langsung mengiyakan, karena sentuhan di senjataku sudah kuharapkan dari tadi. Digenggamnya penisku . Dia menurut pangkal penisku, lalu mengurut otot-otot dekat lubang duburku. Ditekan-tekan lalu diurut. Penisku rasanya jadi makin keras dan tegak. Terlihat kepalanya penisnya merah mengkilat.
Dia menekan-nekan di bagian kantong zakar, sambil berkata, “ ini biar tahan lama, pokoknya jakarta bandung PP,” katanya mengistilahkan lamanya bertahan ibarat perjalanan Jakarta Bandung pulang pergi.
“Oom ngrasa enggak barangnya makin panjang dan makin besar.” tanyanya. Aku yang dari tadi merasa barangku makin garang lalu bertanya, apakah ini karena di pijat. Teh Euis hanya tersenyum. Oom tahan ya jangan sampai keluar, sebentar lagi sudah selesai kok. Menurut Teh Euis, barangku harus diistirahatkan dulu sekitar 1 jam menahan jangan sampai air maninya keluar. Jika berhasil barangku akan permanen besarnya dan kemampuan bertahannya juga lebih baik.
Setelah selesai memijat, dia permisi ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan di dalam, aku merasa ngantuk. Aku terbangun kemudian karena merasa dia sudah berbaring di sebelahku. Nafsuku yang tadi sudah diubun-ubun, muncul lagi aku memiringkan badanku dan memeluk dia. Tanpa minta izin tanganku kuselipkan di bawah bajunya dan langsung merogoh teteknya. Ternyata dia sudah melepas BHnya. Tanganku meremas-remas teteknya, terasa cakupan telapak tanganku tidak cukup menutup seluruh teteknya.
Aku menarik kausnya keatas. Dia membantu dan terpaparlah sepasang daging besar dengan puting hitam yang mengeras. Aku memelintir gantian putting kiri dan dan kanan lalu bangkit dan menghisapnya . Teh Euis mendesis dan mengelus-elus punggungku.
Tanganku sudah merayap ke dalam celana dalamnya, jembutnya tidak begitu lebat dan belahan memeknya terasa sudah basah. Itilnya dengan mudah kutemui. Dia menggelinjang-gelinjang menahan rasa nikmat karena itilnya aku goda. Aku menelanjanginya. Keinginan untuk menjilati memeknya begitu kuat. Aku langsung turun ke bawah. Aroma memeknya tidak menyengat. Abu khas memek terasa samar-samar, tapi itu malah menambah gairah.
Aku melomot itilnya dan memainkan lidahku di ujung itilnya. Teh Euis merintih dan bergerak lasak pinggulnya. Sambil merintih dia mengatakan, enak banget oom, begitu berulang-ulang sampai akhirnya dia mengejang karena tiba orgasmenya. Setelah tuntas gelombang orgasmenya, dua jariku ku jebloskan ke dalam memeknya perlahan-lahan, terasa sempit, tetapi masuk juga Aku memainkan kocokan dengan kedua jariku yang masuk ke celah memeknya. Semenara itu tangan yang satunya memainkan itilnya. Dia seperti lupa daratan mengerang-erang keras sekali karena tidak tahan dengan kenikmatannya. Di puncaknya dia malah berteriak awas oom saya nggak bisa nahan lagi, lalu mancur cairan yang agak kental dari celah memeknya. Aku memang sudah mengetahui situasi itu sehingga sebelum pancuran itu bibir memeknya aku buka selebar-lebarnya. Pancrutan pertama cukup kencang , lalu berangsur-angsur melemah sampai akhirnya hanya meleleh saja. Tapi setiap denyutan orgasmenya dia sertai dengan erangan keras.
Setelah situasi normal, Teh Euis berkomentar. “ Saya seumur-umur belum pernah dikerjai sampai saya muncrat begitu, adeuh rasanya nikmat banget dan lemes, Si Oom rupanya pintar ngilik juga.”
Aku lalu bertanya apakah masa tenggang satu jam tadi sudah terlewati. Dia hanya mengangguk. “ Oom mau test hasil pijatan saya ya,” kata Teh Euis.
Aku ditarik untuk menindihnya. Penisku digenggamnya lalu diarahkan masuk ke dalam memeknya. Aku perlahan-lahan menenggelamkan senjataku ke sarungnya. Setelah full aku mencoba merasakan kehangatan lubang nikmat si Teh Euis. Dia mengedut-ngedutkan otot vaginanya penisku serasa dipijat, rasanya nikmat sekali.
Aku mengatur posisi dan mulai menggenjotnya dengan irama 4/4 dan mengusahakan gerakannya stabil sambil mencari posisi yang memberi kenikmatan lawan mainku. Memek Teh Euis cukup mencengkeram juga, meskipun sudah punya anak dan umurnya setengah baya. Aku menengarai, memek yang habis orgasme, rasanya lebih nikmat dan lebih menncengkeram. Itulah yang aku rasakan.
Gerakanku mulai direspon oleh Teh Euis. Aku menemukan posisi yang tepat. Pada posisi itu aku terus bertahan. Tidak sampai 5 menit di sudah mengerang panjang menandakan dapat orgasme. Penisku terasa disiram cairan hangat dan sekujur lubang vaginanya memijat-mijat penisku.
“Aduh nikmat banget dan lemes, rasanya. Oom punya rasanya ngganjel banget di dalam, gimana Oom masih kuat,” tanyanya. Aku mengangguk dan meneruskan pompaanku .
Mungkin baru dua menit dia sudah mengerang lagi mencapai kemuncaknya. “Oom mainnya pinter banget sih, aku cepet banget dapet lagi. Rasanya juga nggak kayak biasa ini berasa kuat banget, kalau aku pas dapet, bikin lemes oom,” katanya.
Aku tau bahwa orgasme sejak aku oral sampai penetrasi ini dia terus-terusan mendapat big Orgasme, atau orgasme G spot. Orgasme jenis ini jauh lebih nikmat dari pada orgasme clitoris. Kebanyakan perempuan akan merasa lemas dan ngantuk. Tenaganya seperti terkuras saat mendapat orgasme.
Aku terus menggenjot, Teh Euis munkin sudah 5 kali orgasme. Dia minta waktu untuk istirahat dulu karena rasanya lemes banget dan memeknya ngilu. Mata dia juga rasa ngantuk. Aku yang masih dalam posisi tanggung mengabaikan permintaannya dan terus menggenjot sampai akhirnya aku sampai di garis finish bersamaan dengan puncak Teh Euis yang mungkin sudah ke sepuluh kalinya.
“Aduh mampus deh gue kali ini dikerjai sama hasil pijatan gua sendiri,” katanya dengan badan seolah tidak bertulang. Air maniku meleleh di celah-celah memeknya membasahi sprei. Sebenarnya spreinya sudah basah dan melebar dari tadi akibat cairan ejakulasi Teh Euis yang berhali-kali.
Aku juga merasa lelah, sehingga aku pun akhirnya tertidur disampingnya. Kami tidur dalam keadaan bugil. Aku menarik selimut dan langsung terlelap. Cukup lama kami tertidur, karena ketika terbangun di luar sudah gelap. Jam tangan yang kuletakkan di meja menunjukkan jam 9 lewat. Berarti tadi tidur sekitar 3 jam.
Perut terasa lapar, badan masih lelah sekali. Malas sekali jika memikirkan aku harus pulang ke Jakarta. Aku putuskan besok saja aku pulang. Malam ini aku ingin isirahat di hotel ini. Teh Euis setuju menemani ku malam ini, karena dia juga merasa malas pulang kerumah. Aku menelepon ke rumah dengan alasan harus ke Bandung mendadak. Selepas itu Teh Euis menelpon kerumah juga. Dia berbicara dalam bahasa sunda. Aku sedikit-sedikit mengerti.
“Ngomong sama Hani ya, Teh,” tanyaku.
“Iya, si oom tadi jalan sama Hani Ya” tanya Teh Euis.
“Kok teteh tau sih,” tanyaku.
“Ya iya lah, kan dia sendiri yang ngomong sama saya, tadi pun dia nanya, bobo sama si oom ya,” kata Si Teteh.
Aku heran menemukan fenomena keterbukaan masalah sex pada keluarga tradisonal yang tidak tinggal di kota. Mereka satu sama lain begitu terbuka, anak ngesek sama orang, ibunya tau sebaliknya juga gitu.
Aku keluar mencari orang hotel dan menanyakan kemungkinan membeli makanan dari luar, karena di hotel tidak menjula makanan. Aku minta dibelikan nasi ayam goreng sekaligus air minumnya untuk dua orang.
Kami makan dengan lahap karena memang sudah lapar berat. Sehabis makan istirahat sejenak lalu mandi. Berdua kami mandi dan saling membersihkan diri. Aku baru bisa jelas melihat sosok Teh Euis. Teteknya memang benar-benar besar, tingginya sekitar 155 cm. Bulu memeknya tidak terlalu lebat.
Akibat mandi berdua aku jadi kembali terangsang. Sehabis mandi aku kembali “main” sampai habis-habisan. Teh Euis benar-benar kewalahan menghadapi keperkasaanku. Itu pun berkat terapi kejantanan yang diberikan. Aku benar-benar puas dengan permainan Teh Euis yang sangat mengasyikan. Wanita setengah umur memiliki kelebihan kemampuan menservice pasangannya, sehingga sangat memuaskan. Sikap dan responsnya meningkatkan gairah lawan main. Berbeda jika bermain dengan ABG, mereka umumnya belum mampu mengimbangi permainan, sehingga cenderung pasif dan dingin.
Aku hobby fotografi terutama mengoleksi foto-foto telanjang. Teh Euis dengan suka hati mau menjadi model untuk aku foto. Dia tidak memperdulikan untuk apa aku membuat foto telanjang. Dia hanya mengikuti arahanku. Waktunya cukup panjang, sehingga aku bisa membuat foto Teh Euis dengan berbagai gaya, serta close up dari alat-alat vitalnya.
Kami ngobrol berbagai macam topik. Sambil diriku dipijat. Berdua dalam keadaan bugil. Penisku sudah loyo karena sudah banyak bertempur hari ini. Sambil tidur telentang aku minikmati pijatan di bagian alat vitalku. Bagian dalam pahaku di terapi. Rasanya bukan main pedih. Aku sebenarnya sudah menyerah karena tidak tahan rasa sakitnya, tetapi Teh Euis dengan sabar terus melakukan pijatan. Dia mengurangi tekanan. Sehingga aku mampu menahan rasa sakit. Namun lama-lama rasa sakit itu hilang bahkan pijatannya menurut Teh Euis sudah sangat kuat. Bagian itu kata dia adalah untuk melipatgandakan kemampuan bertahan. Artinya kepekaan sekujur penis berkurang sehingga aku kelak mampu mengendalikan kapan akan mencapai orgasme dan bisa pula menundanya.
Akibat rasa sakit pijatan tadi penis ku tetap loyo. Teh Euis berpindah melakukan pijatan di bawah kantong zakarku, dia mengurut-urut. Perlahan-lahan penisku mengeras. Aku merasa seolah-olah batang penisku di dorong untuk bertambah panjang. Meski otakku tidak merasa rangsangan, tetapi penisku sangat mengeras dan kelihatannya juga makin besar dan panjang. Aku tidak tahu apakah pengelihatanku itu hanya sugesti saja, apa secara fisik memang menjadi lebih berkembang.
Oom sekarang barangnya gak kalah sama anak umur 20 tahunan. Dia bahkan menyebutkan bahwa barangku akan lebih mudah berdiri, lalu jika setelah ejakulasi tidak langsung loyo, bahkan bisa nyambung keras lagi tanpa harus loyo. Mungkin kekerasannya hanya berkurang sekitar 30 persen. Untuk kekerasan 70 persen umumnya penis masih mampu menerobos.
Teh Euis tidak berani mencoba karena dia merasa sudah tidak mampu menghadapi kekuatanku. Aku pun sebenarnya tidak begitu berminat “main” lagi. Namun Teh Euis membuka peluang untuk aku mentest hasil pijatannya itu, dengan menyodorkan seorang perempuan. Dia menyebut namanya Nini. Umurnya sekitar 24 tahun. Kata Teh Euis orangnya baik dan cantik, dia masih ada hubungan famili. Lalu dia mengatakan kalau aku berminat dia bisa suruh datang ke hotel. Aku tentu tidak terlalu percaya begitu saja dengan trik marketingnya Teh Euis, tetapi setelah melihat foto yang ada di HP Teh Euis, aku jadi penasaran.
Dia lalu mengirim sms dan lalu meneleponnya. Dari pembicaraan yang aku dengar kelihatannya si Nini bisa datang. Dia akan datang dengan menggunakan ojek. Ya maklum saja waktu sudah hampir jam 11 malam. Sekitar 30 menit kemudian pintu kamarku diketuk. Teh Euis keluar memberi ongkos ke tukang ojek.
Nini memang betul-betul cantik dan segar. Kulitnya putih, suaranya renyah, bibirnya tipis, tetaknya tidak terlalu besar, tetapi pinggulnya terlihat lebar. Kami bertiga ngobrol sambil duduk bersila di tempat tidur. Nini mudah akrab, sehingga dia tidak terlihat canggung bertemu denganku meskipun masih baru kenal.
“Pasti si oom abis di pijat sama si teteh ya,” ujar Nini.
Si Nini ternyata juga salah satu pasien Teh Euis. Dia sering dipijat untuk memperbaiki kelenturan memeknya. “Oom gak rugi kenal ama Teh Euis, dia jago banget mijetnya, belum ada tandingan deh,” kata Nini.
Teh Euis jengah kelihatannya dipuji-puji terus sama Nini. Dia lalu memerintah Nini untuk bersih-bersih di kamar mandi. Aku dimintanya berbaring dan langsung telanjang. Aku ikuti saja dan menunggu apa skenarionya. Lampu digelapkan sehingga suasana kamar jadi remang-remang dan cenderung gelap.
Nini keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan kemben handuk. Aku mengikuti gerak-geriknya. Dia agak meraba-raba di kegelapan untuk menemukan tempat tidur. Aku yang berbaring berselimut teraba oleh nya. Dia lalu membuka selimutku dan ikut masuk ke dalam selimutku dengan sebelumnya membuka handuknya. Dia sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.
Nini langsung menindih tubuhku dan menciumi tubuhku. Dijilati leherku, lalu kedua putting susuku di hisap-hisap. Tangannya menggenggam penisku yang sudah tgegak sejak tadi . Dia sempat berkomentar, bahwa penisku kaya kayu kerasnya. Nini lalu turun dan melahap penisku. Aku akui oralnya lumayan jago. Aku sampai menggeliat-geliat merasakan nikmatnya di oral. Cukup lama dia mengoralku, tetapi aku tidak terpancing sampai muncrat. Aku memang bisa menahan diri dengan begitu kuat.
Setelah puas mengoral dia lalu merayap naik dan memasukkan penisku ke dalam lubang memeknya perlahan-lahan. Jepitan memeknya luar biasa ketat. Aku rasa anak di bawah umur pun tidak seketat ini jepitannya. Rasanya seluruh permukaan penisku digeenggam kuat oleh daging di dalam vagina Nini. Dia melakukan gerakan perlahan naik turun. Penisku serasa diurut-urut. Wah luar biasa nikmatnya. Mungkin jika aku tidak diurut Teh Euis, pertahananku bakal jebol dalam sepuluh kali goyangan.
Namun Nini ternyata merasakan nikmat juga karena kekerasan batangku yang demikian maksimal katanya seperti mengganjal vaginanya. Nini bergerak sendiri sambil merintih-rintih. Aduh aku gak kuat oom, gak tahan oom, katanya lalu menggelinjang-gelinjang hebat di atas tubuhku ketika mencapai orgasmenya.
Nini ambruk dan terengah-engah di atas tubuhku. Sementara itu aku belum merasa ingin orgasme. Dia beristirahat sejenak sampai nafasnya normal kembali. Nini mencoba menggenjot kembali dia bergerak makin lama makin hot. Dia memainkan gerakan yang aku rasakan di penisku seperti diperas-peras. Gila banget nikmatnya, aku memang sangat menikmati permainan dengan Nini luar biasa. Promosi Teh Euis yang menonton pertandingan kami sambil duduk di sofa, bukan promosi kosong.
Sekitar 5 menit kemudian Nini sudah ambruk lagi terengah-engah dengan orgasmenya yang hebat. Aku katakan hebat karena ketika orgasmenya tiba dia menjerit, seperti orang disiksa. Aku jadi khawatir, nanti dikira aku memperkosa, sehingga kutarik kepalanya lalu aku cium mulutnya. Begitupun dia masih teriak di dalam mulutku.
“Aduh oom aku udah gak kuat rasanya enak banget sampai aku lemes, tapi si Oom nya masih belum apa-apa, gantian dong oom aku yang dibawah, “katanya.
Tanpa melepas penisku dari vaginanya, aku mengubah posisi menjadi Man On the Top (MOT). Aku hajar habis-habisan, Si Nini mengerang seperti orang menangis. Mukanya kututup bantal agar suaranya tidak terdengar sampai keluar. Di balik bantal itu malah dia makin keras mengerang-erang lalu menjerit jika mencapai orgasmenya. Aku betul-betul perkasa dan bisa menikmati permainan tanpa harus kehilangan kesempatan karena terputus ejakulasi.
Nini entah sudah berapa kali dia tersiksa dengan deraan nikmat orgasme yang makin melemas kan badannya. Dia akhirnya minta aku menyudahi permainan karena tidak kuat lagi dengan tekanan orgasme yang sangat melelahkan. Aku pun sudah lelah melakukan gerakan push up. Aku hentikan kegiatan ini meski penisku masih keras menegang.
Rupanya Teh Euis memperhatikan permainan kami yang makin lama terlihat tidak seimbang . Entah kapan dia membugilkan diri, tetapi dia sudah menindihku dan mulai menggenjot diriku. Aku pasrah saja di genjot Teh Euis. Dia pun akhirnya menyerah, tidak mampu meneruskan permainan sampai membuat aku finish. Dia sudah 5 kali orgasme, tetapi pertahananku masih kokoh. Teh Euis tergeletak seperti orang pingsan di sisi kiriku. Di sisi kanan si Nini sudah ngorok dari tadi.
Aku juga merasa ngantuk lalu, ikut tertidur. Ketiga dari kami memang benar-benar kelelahan, sehingga baru terbangun jam 9 pagi. Di luar sudah terang benderang sementara kami bertiga masih bugil di dalam selimut. Pagi itu aku bangun dengan penis yang keras, padahal aku jauh dari keinginan untuk melakukan hubungan, meski di kiri kananku bugil dan menggairahkan. Ketiga kami sepakat mandi bersama.
Tidak ada insiden berarti, karena aku khawatir badanku akan lelah jika memaksa main satu ronde pagi ini . Kedua wanita itu juga gentar menggodaku bergelut. Kami berkemas untuk chek out. Perut sudah menuntut untuk diisi. Aku menyempatkan mampir di satu restoran yang terkenal dengan pepes ayam. Entah masakannya yang nikmat atau karena aku lapar sekali, sehingga rasa pepes ayam plus sambal dan lalap rasanya luar biasa enak. Kami berpisah dan berjanji akan bertemu lagi. Tukar menukar nomor telepon sudah pasti. ***

Tetangga – Tetangga Menggairahkan

By Jakongsu
Suasana remang-remang dan dentuman musik tidak terlalu memekakkan telinga. Ruangan di dominasi oleh suara penampilan home band. Tempat ini disenangi oleh orang-orang setengah umur seperti aku, karena memang tidak suka suara musik yang terlalu bising Aku datang ke sini karena sedang suntuk dan ingin minum sedikit untuk menurunkan tingkat kewarasanku.
Baru jam 11 malam, tamu masih belum banyak. Aku duduk di tempat yang strategis, artinya aku bisa melihat siapa-siapa dan model seperti apa saja yang datang ke club ini. Pesanan pertama seperti biasa adalah bir yang dikucurkan dari gentongnya (draft beer). Dingin dan sodanya menggigit sedikit di sekujur mulut. Bir dingin tanpa es adalah yang paling aku suka.
Tengah asyik menikmati musik-musik, yang malam ini khusus untuk irama latin, muncul 3 perempuan yang sosoknya seperti aku kenal. Club ini memang banyak didatangi oleh wanita-wanita, yang tidak melulu mencari mangsa, tetapi mereka yang ingin bersantai. Ada juga sih wanita-wanita yang ingin mencari pasangan. Aku hampir tiap minggu nongkrong di club ini, sehingga hafal betul. Beberapa kali pula aku menenteng wanita yang tidak dapat dikatakan muda, yah seumuran dengan akulah di penghujung 30 tahun.
Ketiga wanita yang kuamati tadi ternyata adalah tetanggaku. Salah satu yang paling cantik adalah tetangga yang hampir berhadapan rumah denganku. Dia biasa menegurku dengan predikat “Pak”. Mereka punya grup, atau gerombolan yakni wanita-wanita keturunan Arab dan kebetulan semuanya janda. Rumah para anggota gerombolan itu masih dalam satu kompleks dan semuanya aku kenal. Mereka bukan istri orang keturunan Arab, tetapi leluhur mereka yang berdarah Arab.
Tetangga depan rumahku adalah yang paling cantik dan seksi di antara gerombolannya. Anaknya baru 11 tahun laki-laki. Dua teman lainnya umurnya lebih tua. Mereka hidup dari santunan bekas suaminya yang kelihatannya sangat berduit. Ah jangan terlalu panjanglah mengenali mereka, nanti melelahkan.
Sambil duduk aku menimbang-nimbang, aku hampiri atau aku sembunyi dari mereka. Jika aku sembunyi dari mereka, jika mereka yang menegurku lebih dahulu, posisiku jadi lemah. Aku putuskan untuk menegur mereka lebih dahulu. Aku colek lengan tetanggaku yang bernama Leli, “eh ……….” macam-macam jenis kelamin dan binatang nyrocos dari mulutnya. Dia memang sangat latah dan mereka bertiga adalah wanita-wanita yang parah latahnya.
“Eh Pak Yamin,” kata Leli.
“Sama sapa , sama ibu ya,” kata Leli.
“Ah enggak sendiri, masak ke mari bawa rantang,” ujarku.
“Ih jahat ya istri di bilang rantang,” katanya.
“Ya kalau makan di restoran, kan gak perlu bawa makanan dari rumah,” kata ku.
Otak kami semua masih waras, dan mereka mengajakku bergabung satu meja.
Mereka ternyata kaum peminum juga, karena pesanannya semua mengandung alkohol.
Suasana makin cair, ketika kandungan alkohol makin banyak mengendap. Aku agak membatasi diri menenggak alkohol. Aku justru ingin menuba mereka agar mabuk berat. Biarlah bill ku jadi bengkak, yang penting aku bisa memanfaatkan situasi ini, siapa tahu aku bisa menindih Leli.
Sudah 3 jam kami di club, dan mereka bertiga kelihatannya sudah agak berat juga mabuknya. Mereka memang sudah berniat besar ingin mabuk sehingga datang naik taksi. Meski jalan sudah sempoyongan, tetapi mereka masih bisa jalan. Menjelang masuk ke mobilku, ketiganya muntah-muntah.
Aku sudah merencanakan membawa mereka ke apartement ku yang jaraknya tidak jauh dari Club. Apartemen ini sering aku gunakan untuk membantai tentengan atau untuk beristirahat, jika malas pulang ke rumah. Rumahku memang agak jauh dari pusat kota Jakarta.
Rumah siapa ini pak, tanya Leli yang agak setengah sadar. Kedua temannya sudah mabuk berat.
Mereka aku baringkan di kamar kedua sedang Leli kubaringkan di kamar utama.
Leli setuju mengganti pakaiannya dengan kaus oblongku dan celana boxer. Aku buka baju atasnya dan celana jeans. Leli pasrah saja. Dia juga diam saja ketika Bhnya aku lepas dan aku kenakan kaus oblongku. Buah dadanya tidak terlalu besar tetapi masih mengkal dan warnanya putih. Aku sempat meremas sekejap dan memelintir putingnya.
Kedua temannya yang telentang pasrah aku telanjangi juga satu persatu dan tinggal hanya celana dalamnya lalu aku pakaikan piyama ku. Aku sempat membimbing ketiganya ke kamar mandi dan aku dudukkan di toilet untuk melepas hajat kecil mereka. Setelah selesai aku juga menceboki memek mereka yang rata-rata jembutnya sangat lebat.
Setelah rapi giliran aku berganti dengan celana boxer dan kaus oblong lalu bergabung tidur dengan Leli. Aku tidur di satu selimut dengan Leli. Dia mengetahui aku di sebelahnya langsung dia peluk tubuhku dan menciumi wajahku lalu menguncup mulutku. Aroma nafasnya yang berbau alkohol, terasa wangi.
Dalam keadaan setengah sadar dia masih bisa juga horny. Aku menanggapi cumbuannya sampai akhirnya Leli telanjang. Nafasnya sudah memburu. Aku menciumi kedua putingnya yang sudah tegang. Setelah itu adalah memeknya yang menjadi sasaran. Aku harus menyibak bulu jembut yang lebat untuk mendapatkan celah dan menemukan clitorisnya. Aku jilati sampai Leli mencapai orgasmenya.
Setelah puas dengan orgasmenya dia menarik badanku untuk menindihnya. Tangannya lalu mencengkal penisku yang ukurannya tidak sebesar penis orang Arab. Ukuranku hanya 15 cm lebih sedikit, bentuknya tegap dan kepalanya besar. Perlahan-lahan aku tekan penisku memasuki lubang nikmat. Leli mengernyit, entah karena rasa sakit atau nikmat. Seluruh penisku sudah tenggelam.
Batangku lancar maju mundur di dalam liang kenikmatan. Lubang memeknya sudah licin karena cairan birahi yang cukup banyak keluar dari vaginanya. Akibatnya cengkeraman terhadap penisku kurang ketat. Main di lubang licin begini aku bisa bertahan cukup lama. Aku berfikir ingin “”menewaskan” Leli dengan berkali-kali orgasmenya, bukan orgasme clitoris, tetapiaku berusaha membuatnya orgasme gspot. Aku sudah mengetahui gaya seperti apa yang bisa mengusik titik g spotnya. Setelah sekitar 2 menit aku menemukan posisi yang bisa menggerus g spotnya. Mulanya tidak terlihat adanya reaksi, tetapi semenit kemudian dia sudah mulai merintih nikmat, suaranya makin keras bahkan seperti orang melolong-lolong. Di titik orgasmenya dia memeluk tubuhku erat sekali sampai aku tidak bisa bergerak. Penisku merasakan denyutan orgasmenya sekitar 12 denyutan dan kira-kira semenit aku berhenti menggenjotnya.
Setelah pelukannya, terasa longgar aku kembali menggenjot, Leli mulai lagi merintih dan berdesis diselingi teriakan kecil, baru dua menit dipompa dia dapat orgasem lagi dan aku kembali dibelitnya sampai badanku tidak bisa bergerak. Aku kembali merasakan kemutan kontraksi vaginanya.
Begitulah berkali-kali sampai dia mengaku merasa lelah sekali dan tidak sanggup menghadapi orgasme berikutnya. Dia sudah menyatakan ampun-ampun disela-sela rintihannya.
Suara Gaduh Leli membangunkan Rida temannya yang aku tidurkan di kamar sebelah. Dia berdiri menyaksikan pertempuran kami. “Gila kalian berdua makan sendiri, gak bagi-bagi,” katanya.
Aku sempat terkejut sebentar, tetapi selanjutnya aku tidak pedulikan. Tanpa kuketahui dia sudah membuka semua bajunya lalu berbaring di sebelah Leli. “ Sudah kasihan dia sudah kecapekan dan minta ampun, sini pindah gih,” pintanya.
Leli hanya menoleh sebentar lalu dia meminta aku pindah lubang, Rida yang berbaring segera aku naiki, dengan bertiarap diatas tubuhnya. Dia dengan sigap menggenggam penisku lalu diarahkan ke arah lubang nikmatnya. Celah vaginanya sudah berlendir, menandakan dia sudah siap ditikam. Perlahan-lahan aku dorong masuk, penisku sampai tenggelam 100%. Memeknya terasa lebih hangat, tetapi setelah berkali-kali naik-turun rasanya gigitan memeknya kurang ketat. Anaknya sudah besar-besar 2 orang, yang pertama perempuan sudah lulus SMA dan yang kedua laki-laki baru kelas 1 SMA. Muka Rida kalah cantik dari Leli, tetapi teteknya lebih gede. Teteknya agak melorot sedikit, mungkin karena tipe pepaya, jadi kelihatan memanjang, tetapi volumenya besar.
Dua perempuan yang aku tujah ini kurang menggigit, sehingga aku masih bisa bertahan. Aku berusaha membuatnya “ampun-ampun” seperti Leli tadi. Lima menit aku genjot dia sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda mencapai puncaknya. Eh-eh-eh aku kebelet pipis , aduh gak bisa di tahan dan dia kemudian menjerit keras seperti perutnya kena tikam, padahal memeknya yang tertikam. Dia memelukku erat sekali dan hanya memeknya yang bergerak berkedut-kedut. Meski agak longgar, tetapi kedutannya lumayan nikmat juga. Cairan membanjir dan hangat menyiram penisku. “Aduh aku kencing ya,“ katanya.
“Seumur-umur aku belum pernah ngentot sampai terkencing-kencing gini ,” kata Rida. Dia mengaku nikmat banget meski merasa malu karena tidak mampu menahan kencing. Aku menduga dia mencapai squirting ketika orgasme tadi, sehingga cairannya muncrat dari lubang pipisnya.
Setelah dia reda orgasmenya aku kembali menggenjot, dia kembali terengah-engah dan baru mungkin 2 menit dia sudah squirt lagi dan banjir lagi. “ Aduh aku kenapa ya ngentot kok ngompol terus,” kata Rida. Dia mengaku badannya sudah lelah dan lemas. Dia tidak sanggup ketika kuminta membalik posisi. Ah sekaligus aja kusiksa sampai aku mencapai orgasmeku. Aku kugenjot kembali dan dia berkali-kali orgasme lagi sampai akhirnya minta-minta ampun untuk berhenti. Aku pun lama-lama lelah juga main dengan terus menggenjot. Tapi sialnya aku belum juga mendapat orgasme.
Aku rasa kalau kulanjutkan bisa-bisa barangku mati ditengah jalan karena bosan. Aku menyudahi bermain dengan kedua wanita keturunan Arab ini. Aku ingat masih ada seorang lagi yang terdampar di kamar sebelah. Sambil telanjang aku datangi kamarnya. Dia kelihatannya masih mabuk berat. Tanpa perlawanan, semua pakaiannya aku lucuti sampai bugil. Teteknya tidak begitu besar, badannya juga terbilang langsing, Meski anaknya sudah 3 dan juga sudah besar-besar, tetapi penampilannya masih seperti gadis 20 tahunan. Mukanya cantik khas Arab, hidung mancung. Tapi masih kalah cantik dari Leli. Dia kukenal dengan nama Ina, mungkin namanya Inayah. Setelah bugil, aku kangkangkan kedua pahanya dan perlahan-lahan aku tunjamkan penisku ke dalam memeknya. Memeknya tidak terlalu kering, sehingga perlahan-lahan penisku bisa menerobos masuk ke dalam.
Memek Ina terasa lebih menggigit, aku tidak tahu apakah memang pembawaan dia begitu atau karena dia belum sadar akan aku tujah. Aku memainkan pompa dengan gerakan perlahan-lahan. Dia kemudian membuka matanya yang kelihatannya sangat berat. “Aduh enaknya, “ katanya lalu menutup matanya kembali.
Meski kelihatannya tidur, tetapi dia mendesis-desis. Aku berharap main dengan dia aku bisa mencapai orgasme. Aku terus menggenjot dan dia pun bereaksi, gelombang nikmat mulai menjalari tubuhku dan aku makin cepat memompa dan dia pun makin mendesis dan merintih. Seperti sudah janji dia tiba-tiba memelukku erat sekali dan terasa memeknya berdenyut, tidak sampai sedetik aku pun menyemburkan sari patiku. “Aduh pak aku baru sekali ini main keluar sekali tapi badanku lemes banget,” katanya langsung jatuh tertidur dan mengorok lirih pula.
Badanku terasa lengket karena keringat dan cairan ketiga wanita itu di kelaminku. Aku pagi-pagi buta mandi air panas dan rasanya segar sekali. Setelah itu mataku rasanya berat sekali. Aku memilih tidur di bed di kamar Ina.
Keesok paginya matahari sudah sangat terang menerobos masuk ke kamar. Aku terbangun dan masih terbungkus selimut. Di dalamnya aku masih telanjang. Kulihat Ina di sebelah sudah tidak ada. Aku duduk untuk menetralkan kesadaran.
Ina masuk disusul Leli dan Rida. Mereka semua bugil lalu menyeret diriku bangun dan menuju ke meja makan. disana sudah tersedia mi goreng, kopi panas dan jus . Semua bahan makanan itu memang sudah aku stok di kulkas dan lemari. Kami seperti kaum nudist di barat sana menikmati sarapan sambil bugil. Mereka merasa tidak malu meski bodynya tidak lagi sebagus model yang masih muda.
Di dalam obrolan mereka bertiga memujiku sebagai pemain yang ulung, karena mereka sampai kewalahan menghadapi permainanku. Mereka menduga aku mengkonsumsi obat kuat mengahdapi mereka bertiga. Padahal aku sama sekali tidak meminum obat yang mereka duga itu. Yang benar adalah memek mereka yang longgar sehingga aku tahan dan aku bisa menemukan G spot mereka. Tapi itu tidak aku ceritakan. Mereka lalu menagihku untuk next time bermain lagi denganku. Kesempatan berikutnya mereka memperkenalkan member lain yang belum aku kenal. Lucunya tidak semua janda, ada yang bini orang ada pula yang belum menikah. Aku dijadikan mereka seperti gigolo.
Aku pun jika nongkrong di kafe semua biayanya mereka yang tanggung. Mereka menuntut balasannya adalah kenikmatan. Aku hanya bertahan main dan bergaul seperti itu sekitar 5 tahun saja. Sebab, akhirnya bosan juga . Apalagi mereka nafsunya kuat-kuat seperti gak ada puasnya, padahal kalau sudah aku genjot mereka minta-minta ampun. Tapi besoknya masih nagih lagi. Capee deehh. ***

Photobox

By Jakongsu
Kuliah sudah tidak banyak lagi. Tidak setiap hari ada kuliah. Di semester 6 aku memiliki banyak waktu. Saat itu aku mencoba mewujudkan keinginan yang lama terpendam. Keinginan itu adalah memiliki usaha kecil-kecilan.
Joint berdua dengan temanku, kami membuka usaha photobox dan jualan pulsa di mall yang cukup ramai. Kami bergantian jaga. Pada awalnya pendapatan masih kurang memadai, maklumlah usaha baru. Namun semua temanku di kampus sudah tahu aku punya usaha photobox. Jadi banyak juga mereka yang datang untuk membuat pasfoto.
Namun yang aku suka dari usaha ini meski hasilnya tidak terlalu besar adalah banyak abg-abg yang minta difoto dengan berbagai gaya. Saya dan temanku memang cukup menguasai soal mengedit foto, jadi photobox ku makin disukai para abg.
Selain itu aku juga hobby fotografi, sehingga usaha ini seolah menyalurkan hobbyku. Sebetulnya aku bercita-cita punya studio foto sendiri. Namun usaha seperti itu memerlukan modal yang sangat besar. Selain itu aku belum mempunyai pasarnya.
Banyak cewek-cewek di tataran usia SMP atau kelas 5 atau 6 SD menjadi langganan. Mereka sering berfoto untuk mengubah statusnya di baik di FB, maupun di berbagai media sosial lainnya. Kalau pun tidak berfoto mereka membeli pulsa ke counter ku. Anak-anak ini suka jalan-jalan ke mall, meski hanya untuk ngisi pulsa 10 ribu. Aku memang menyediakan beberapa kursi untuk mereka duduk beristirahat jika lelah berkeliling mall.
Suatu hari ketika aku baru membuka counter kira-kira jam 10, muncul langganan kecilku. Dia adalah Anita. Kutanya kenapa tidak sekolah. Dia bilang “bete”. Aku jadi bingung anak sekecil kelas 6 SD sudah bisa merasa “bete”. Ternyata itu disebabkan pacarnya yang kelas 2 SMP jalan sama cewek lain.
Alamak kelas 6 SD sudah pacaran. Ngapain aja kalau pacaran, ini membuat aku jadi penasaran, sehingga aku usahakan dia duduk berlama-lama di counterku. Dengan teknik yang sebagian kudapat dari pelajaran dikampus soal trik menggali informasi. Terungkap juga bahwa Anita jika pacaran sudah melakukan ciuman di mulut dan pacarnya juga meremas-remas teteknya. Aku jadi penasaran pula. Jadi ingin tahu sebesar apa sih tetek Anita yang baru kelas 6 SD. Dari balik bajunya yang berlapis jaket, tidak begitu terlihat tonjolan di dadanya. Namun setelah lama aku berusaha mengamati, ternyata memang ada juga sedikit tonjolan di dadanya.
Pikiran gilaku kumat, aku jadi ingin memiliki foto Anita telanjang dada. Otakku langsung berproses menyusun strategi membujuk anak kecil ini agar mau aku foto dengan telanjang dada. Penasaran juga ingin liat tetek nya.
“Nit pulsa kamu ada berapa,” tanyaku.
“ Ah tinggal 2 ribu kak, kenapa,” tanyanya polos.
“Mau gak kakak kasi gratis pulsa 50 ribu,” kataku.
“Ih mau dong, kakak kok baik banget mau ngasi pulsa banyak gitu,” katanya bertanya.
“Ya tapi ada syaratnya,” kataku
“Apa syaratnya, “ tanyanya ingin tahu dengan mimik yang genit.
Anita meski masih kanak-kanak tetapi sudah berpenampilan genit.
“ Kakak mau foto kamu di photo box,” kataku.
“Ah gak masalah, kalau cuma itu,” tantangnya.
“Tapi bukan foto biasa,” kataku.
“Foto yang gimana sih,” ujarnya dengan wajah polos.
Aku lalu berbicara setengah berbisik bahwa aku ingin membuat foto dia bertelanjang dada. Dia tidak perlu membuka bajunya hanya mengangkat saja. Kalau dia keberatan aku tidak menyertakan wajahnya . Jadi hanya bagian dadanya saja.
“Ih malu dong,” katanya.
“Pacarmu sudah ngliat juga kan,” kataku.
“Udah sih,” katanya.
“lha itu kamu gak malu,” sanggahku.
“Iya itu kan pacar kak,” katanya membela diri.
“Tapi dia sekarang kan sudah jadi pacar orang lain, bukan pacarmu lagi,” ujar ku.
“Iya sih, ih gimana ya….” ujarnya agak bingung.
“Ya kalau gak mau ya nggak apa-apa,” kataku.
“Iya sih tapi aku pengen isi pulsa untuk paket Bbku.” katanya.
“Ya terserah deh,” kataku.
“ Gimana yaa, tapi kan foto dada doang ya kak,” katanya.
“Iya lah, mang kamu mau yang gimana,” tanya ku.
“Untuk apa sih kak fotonya, nanti disebarin, “ katanya.
“Untuk koleksi aja, gak lah untuk apa disebarin. Kalau pun disebarin kan gak ada tampangnya,” kataku.
“Ok deh, tapi bener ya pulsa gocap,” katanya.
Aku lalu mengarahkan dia masuk ke dalam photobox. Aku lalu duduk di depan komputer yang terhubung dengan kamera di dalam box. Aku beri instruksi untuk memulai. Di layar computer terlihatlah teteknya yang baru tumbuh dengan puting berwarna coklat muda dan masih kecil. Aku segera mengambil beberapa shoot. Dia sudah buru-buru mau menutup lagi tetapi aku cegah dengan menginstruksikan memiringkan badannya ke kiri dan kanan. Ada sekitar 15 shoot aku ambil tanpa sepengetahuan dia. Lalu aku buru buru mengedit sehingga tidak terlihat wajahnya itu pun hanya 3 foto dengan posisi yang berbeda.
Setelah keluar dari box dia melihat hasil fotonya yang memang tidak ada wajahnya. Padahal aku mengambilnya tadi komplit dengan wajahnya. Dia akhirnya tidak merasa khawatir dan aku pun mengisi pulsa seperti yang aku janjikan.
Tanpa diduga aku punya kesempatan memainkan Hpnya, karena ketika itu dia ingin mengganti profil picturenya, Hpnya hang. Dia tinggalkan sebentar Hpnya ditanganku untuk diperbaiki dan dia ke wc karena kebelet pipis. Kesempatan itu aku melihat foto dan film yang tersimpan. Aku terkesiap juga karena ada 2 bokep di dalam filenya.
Setelah kembali dari WC, Hpnya sudah bisa aku normalkan kembali. Menjelang jam pulang sekolah dia minta izin mau pulang kerumah. Aku termenung menemukan fakta anak kelas 6 SD yang mungkin belum genap 12 tahun usianya sudah berpacaran dan pegang-pegang tetek dan di hpnya ada bokep pula.
Sebulan kemudian dia datang lagi dan menawarkan lagi di foto dan imbalan pulsa 50 ribu. Aku bilang kalau foto tetek lagi aku sudah gak perlu, lalu kutawarkan kalau mau foto memeknya, tentunya aku menjanjikan tidak terlihat wajah. Dia mau demi pulsa 50 ribu. Sebelum shoot aku seting kameranya agar zoom out, sehingga aku bisa mengambil full body.
Dari layar komputerku terlihat memek yang masih gundul dan membusung. Belahannnya masih rapat. Aku mengambil beberapa shoot dengan posisi dia berdiri. Kontolku tegang jadinya melihat tampilan memek anak kecil ini. Aku segera mengedit dan menampilkan foto memek saja. Anita puas dan senang mendapat pulsa 50 ribu.
Kemudian dia jadi langganan, karena belum sebulan dia sudah datang lagi mengharap pulsa 50rb lagi. Aku agak jugal mahal, karena kukatakan kalau posenya seperti yang lalu, aku gak mau, dia kuminta untuk berpose mengangkangkan kakinya, membuka belahan memeknya, nungging dan beberapa pose lainnya. Dia tidak lama berpikir lalu setuju.
Kamera di dalam photobox kembali beraksi dan arahan gaya aku sebutkan dari luar. Aku kali ini mendapat banyak frame. Mungkin ada sekitar 30 frame dengan berbagai gaya yang semua berfokus pada memek gundulnya.
Akhirnya aku puas juga dengan modal tidak seberapa aku mendapatkan foto bugil anak di bawah umur.
Seminggu kemudian Anita datang lagi. Dia membawa teman sebayanya. Anita lalu bercerita bahwa temannya itu mau difoto seperti dirinya dengan imbalan pulsa 50 ribu. Aku berpikir sejenak lalu mengajukan syarat. Aku mau memberinya pulsa 50 ribu tapi yang terbuka sekaligus adalah tetek dan memeknya. Temennya yang bertampang imuts dan lebih cantik dari Anita kemudian mengangguk.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam box. Anita kuminta mengajari bagaimana berpose didepan kamera. Beberapa shoot aku ambil sekitar 20 shoot dengan berbagai gaya. Temannya yang bernama Chintya adalah keturunan Cina, sehingga kulitnya putih. Teteknya besarnya sama dengan Anita, dan pepeknya juga belum berjembut, alias masih gundul. Dari dalam box Anita mengatakan bahwa dia mau juga pulsa 50 ribu. Aku kemudian menyuruh mereka berdua bugil dan bergaya bermacam gaya. Ada sekitar satu jam mereka berada di dalam box sehingga aku puas mengambil pose-pose mereka.
Aku kemudian mendapat 10 cewek sebaya Anita, dan ada juga yang sudah SMP tapi jembutnya masih sedikit. Mereka sering nongkrong di counterku sehingga, omzetku kini lumayan besar. Tapi ya itu pengeluaran juga ikut besar membiayai hobby ku.
Teman ku yang joint usaha denganku tidak mengetahui tingkahku. Ini tetap menjadi rahasia. Bahaya juga kalau dia sampai tahu, nanti bisa bocor.
Foto Anita sudah kumiliki dari berbagai sudut dan gaya. Tapi dia masih juga menginginkan pulsa gratis. Aku tentu saja sudah tidak memerlukan lagi fotonya, tapi dia terus merengek-rengek. Tanduk di kepalaku muncul. Aku menawarkan mencumbuinya tanpa melakukan penetrasi. Jadi keperawanannya dijamin tetap utuh. Mulanya takut, tapi desakan iming-iming pulsa yang kunaikkan menjadi 100 ribu menggoda.
Dia kemudian setuju. Persoalan selanjutnya tidaklah mudah, karena aku bingung mau dibawa kemana, anak sekecil 6 SD ini . Kalau masuk hotel, tentunya sangat berbahaya, bisa-bisa polisi menggerebek dan menangkap ku dengan tuduhan mencabuli anak di bawah umur.
Ide kemudian muncul dengan membawa ke tempat semacam water boom yang memiliki kamar bilas dan ganti keluarga. Di tempat itu akhirnya Anita aku gandeng.
Di kamar bilas memang tidak ada bed. Yang ada hanya kursi panjang. Di situlah aku telanjangi Anita. Selama ini aku hanya puas memandanginya, sekarang aku menjamah. Teteknya yang baru tumbuh dengan puting yang masih kecil. Tanganku meremas-remas terasa sangat mengkal. Putingnya masih terlalu kecil sehingga agak sulit memelintirnya. Puas bermain dan menciumi teteknya, tanganku beralih ke belahan memeknya. Memek yang masih polos, seperti memek anak bayi, ketika kuraba belahannya, agak berlendir. Anita ternyata naik juga nafsu birahinya. Sambil membelai memeknya aku menguncup bibirnya. Dia sudah cukup lihai berciuman bibir, bahkan lidahnya dia julurkan masuk kedalam mulutku. Terasa Anita ganas juga menciumi bibirku. Sementara itu jari tengahku aktif mencari clitorisnya. Saat kutemukan dia menggelinjang, geli katanya.
Aku penasaran dengan bentuk dan model memek anak di bawah umur, aku turun ke bawah dan mengangkangkan kakinya. Awalnya Anita menutup memeknya dengan tangan, malu katanya, Tapi setelah aku bujuk akhirnya dia mau mengalihkan tangannya dari memek. Kuciumi sekitar memeknya. Anita merasa kegelian, aku minta dia menahan rasa geli itu. Dia menggelinjang-gelinjang menahan rasa geli, tetapi pahanya aku tahan sehingga akhirnya mulutku bisa menguncup belahan memeknya. Lidahku bermain di belahan memeknya dan terasa cairan vaginanya makin banyak dan Anita sudah mulai anteng. Aku mendengar dia mendesis nikmat. Ujung lidahku menemukan tonjolan penutup clitorisnya. Bagian itulah kemudian menjadi konsetrasi jilatanku. Dia makin mendesis-desis. Cukup lama aku mainkan itilnya, kepalaku sampai terasa pegal. Mungkin ada sekitar 15 menit barulah dia mencapai orgasme. Terasa sekali sekujur memeknya yang masih gundul itu berkedut-kedut dan dari belahannya keluar cairan agak kental makin banyak.
Anita baru mengalami orgasme pertama kali seumur hidupnya, sehingga dia merasa heran, adanya kenikmatan yang belum pernah dia ketahui. Anita mengaku badannya agak lemas. Sementara itu penisku sudah menegang 100%. Inginnya sih dimasukkan ke dalam memek, tetapi kali ini tidak mungkin, karena di hadapanku adalah anak dibawah umur yang masih perawan, dan janjiku adalah tidak merusak perawannya. Dia kusuruh mengocok penisku dengan cairan sabun cair. Rasanya nikmat sekali meski pada awalnya pegangannya kurang mantap, setelah aku ajari dia kemudian memberi kocokan yang nikmat sekali sampai spermaku muncrat.
Lega rasanya meski aku tidak sampai menyetubuhinya. Kami mengenakan pakaian renang dan keluar untuk bermain, Sekitar 2 jam kami kembali ke kamar ganti, kontolku sudah ngaceng lagi. Aku kembali menelanjangi Anita sambil kami mandi di air pancuran. Aku kembali mengoral dia. Kali itu dia lebih cepat mendapatkan orgasme. Dia kemudian mengatakan,” Kak aku ingin nyobain ngisep punya kakak, gimana sih rasanya kayak di film-film bokep.”
Aku semula memang ingin meminta dia mengoral kontolku, eh sekarang dia sudah mendahului. Aku langsung berbaring dan menyilakan dia melakukan oral. Pada awalnya dia agak ragu. Aku mengajari nya sampai dia mampu mengoral tanpa terkena gigi. Mulutnya yang kecil kewalahan menghisap batang penis dewasa. Rasanya lumayan sedap juga. Bukan hisapannya yang nikmat, tetapi sensasinya yang luar biasa melihat anak-anak menghisap penisku. Lama-lama dia bosan dan ingin menyudahi, tetapi aku cegah karena aku hampir mencapai ejakulasi. Kutarik kepalanya menjauh dari penisku, lalu kukocok sendiri sampai akhirnya muncrat.
Sebelum kami berpakaian aku menyempatkan foto-foto Anita dalam keadaan telanjang. Aku juga mengambil foto memeknya dan membukanya untuk melihat selaput daranya. Terlihat selaput dara yang berwarnya putih agak bening di dalam lubang memeknya yang masih kecil. Aku tidak bisa berlama-lama membelek lubang memeknya karena dia mengeluh sakit dan perih. Tapi lumayanlah aku mendapat banyak foto setengah makro di lubang memeknya.
Acara kamar bilas itu berulang sekitar 3 kali. Aku jadi berpikir, kalau begitu terus-terusan aku bisa bangkrut karena biayanya agak berat bagi kantong mahasiswa. Sementara itu aku menunda dan menolak keinginannya. Aku kembali fokus ke usahaku. Aku mengembangkan booth sehingga sekarang ada es teh manis yang dijual digelas plastik, lalu buble tea. Aku kemudian juga memiliki gerai baso dengan cara waralaba. Aku dapat pinjaman dari saudaraku yang mengetahui aku cukup gigih melakukan usaha. Dengan berbagai usaha itu pendapatanku sudah cukup lumayan juga.
Aku pun sekarang tinggal di apartemen, meski ukuran studio. Yah cukuplah untuk ukuran mahasiswa. Aku tentu memilih apartemen yang bebas, karena aku berencana akan membawa cewe-cewe untuk bercumbu.
Meski sudah ada beberapa usaha, aku tetap nongkrong di photobox. Peminat pulsa gratis 50 ribu sudah berkembang, tidak hanya anak-anak sebaya Anita tetapi sampai ABG SMA. Paling tidak aku sudah punya koleksi sekitar 20 orang.
Aku tidak menyangka akan berkembang sebanyak itu, karena penyebaran hanya dari mulut ke mulut. Kecuali Anita, teman-teman lainnya hanya terbatas aku foto di photobox saja. Dengan Anita aku sudah bebas bercumbu meski pun masih terbatas. Dia pun tidak lagi menuntut pulsa 100 rb. Dia kalau bolos sekolah sering mendatangiku di apartemenku. Seperti biasa aku akan bercumbu habis-habisan dengan dia. Pernah suatu kali aku hampir saja menjebol keperawanannya. Tapi ketika kepala penisku sudah masuk dia mengeluh memeknya perih dan aku pun sudah memuncak sehingga urung meneruskan masuk menjebol keperawanannya.

****

Dalam seminggu ada sekitar 2 atau 3 orang datang ke counterku jika aku sedang bertugas di sana. Meskipun tidak membujukku untuk memberi pulsa gratis, tetapi mereka senang nongkrong, bahkan membantuku melayani konsumen. Jika Sabtu-Minggu mereka biasanya nongkrong sampai 5 orang. Akhirnya mereka jadi saling mengenal satu sama lain. Mereka pun sudah saling pengertian bahwa setiap orang sudah kufoto telanjang.
Suatu hari kerja, muncul Riana, dia sudah cukup besar karena memang sudah kelas 1 SMA. Dia setengah berbisik mengatakan dia ingin pulsa gratis 50 ribu, dengan imbalan foto telanjang lagi di photobox. Aku sudah pernah mengambil foto Riana bahkan sudah cukup komplit, karena dia sempat dua kali aku foto. Jadi sebetulnya aku tidak membutuhkan dia lagi. Secara iseng aku tawarkan pulsa 100 ribu tapi dia harus datang ke apartemenku pada waktu yang aku janjikan. Aku katakan imbalan dari pulsa 100 ribu itu adalah bercumbu di apartemenku.
Tanpa pikir terlalu panjang dia lalu menyetujui, dan kami pun menyepakati dia akan datang ke apartemenku pada hari sabtu jam 10 pagi. Apartemenku memang apartemen yang hampir seluruhnya didiami oleh mahasiswa. Peraturannya tidak terlalu ketat. Aku sering melihat para mahasiswa itu membawa cewek atau cowoknya masuk ke unitnya. Satpam yang menjaga di lobby sudah paham dengan ulah para mahasiswa.
Pada hari yang dijanjikan kamarku diketuk dan Riana sudah muncul. Di depan pintu. Dia langsung duduk di sofa bed. Unit apartemenku tidak punya kamar, jadi kamar tamu, kamar tidur dan ruang makan semua menjadi satu.
Riana tingginya sekitar 160, bodynya lumayan montok, rambutnya lurus digerai sebahu. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi juga tidak hitam. Wajahnya ayu. Dia memilih sekaleng coke dingin ketika menerima tawaranku minum.
Aku langsung duduk berdampingan dengan dia dan langsung memeluk pundaknya. Tidak ada penolakan, karena mungkin dia sudah menyadari bahwa kedatangannya adalah untuk bercumbu denganku. Aku hanya mengenakan celana pendek, tanpa celana dalam dan kaus oblong. Aku meremas-remas bahunya, Riana diam saja sambil memegang remote TV dan mencari acara yang dia suka. Aku mulai menciumi lehernya, rambutnya, kupingnya dan terakhir kutarik badannya dan aku mencium bibirnya. Ciumanku itu dibalas dengan lumatan bibirnya serta uluran lidahnya masuk ke dalam mulutku. Sambil melumat bibirnya aku meremas bongkahan dadanya dari luar bajunya. Terasa padat. Tidak puas meremas dari luar tanganku masuk ke dalam kausnya dari bawah, melepas pengkait BH di bagian belakang lalu meremas bongkahan teteknya. Tidak ada perlawanan, malah ketika kausnya aku buka dia membantu dengan mengangkat tangannya ke atas.
Sepasang buah dada sudah terhidang di depanku. Bongkahannya cukup besar dengan pentil yang masih kecil. Aku berpindah menguncup kedua pentil payudaranya. Riana seperti terengah-engah dengan nafas yang memburu. Tangannya mencari batangku dan meremasnya dari luar celana. Lalu tangannya masuk ke dalam celana dan langsung menemukan batangku yang sudah mengeras sempurna.
Dia melepas celanaku sehingga aku telanjang dibagian bawah. Aku lalu mengikutinya dengan membuka kancing dan resleting blue jean. Aku sekaligus menarik celana jeans dan celana dalamnya.
Segitiga di selangkangannya hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Riana baru berusia 15 tahun, mungkin jembutnya belum tumbuh sempurna. Jari tengahku membelai belahan memeknya, Terasa agak basah . Aku mencari itilnya dan menguitnya sampai dia berjungkit-jungkit badannya. Tanpa sepengtahuannya tanganku yang menguit memeknya aku cium. Baunya agak pesing, dan bercampur bau memek yang khas. Aku membisikkan agar dia mencuci dulu, biar bersih. Riana hanya mengangguk lalu bangkit menuju kamar mandi. Aku pun mengikutinya dari belakang. Dia duduk di toilet dan melepaskan air kencingnya dengan suara berdesir. Sementara itu aku yang juga sudah bugil, mengambil shower lalu menyabuni penisku. Riana juga menyabuni memeknya dan membilasnya dengan semburan air shower.
Aku memberikan handuk untuk mengeringkan selangkangannya dan juga selangkanganku. Aki berjalan berpelukan ke arah tempat tidurku yang cukup lebar. Riana mendorongku sehingga aku telentang. Sambil duduk dia memainkan penisku lalu mengoralnya. Dari gerakan dan caranya mengulum, terlihat dia sudah pernah melakukannya dan kelihatannya bukan baru sekali, tetapi sudah berkali-kali. Sedotan, kuluman dan jilatannya sudah cukup ligat. Aku mengerang-erang menahan rasa nikmat di sekujur tubuhku. Dia cukup lama dan bisa bertahan begitu lama mengoral p[enisku sampai akhirnya aku tidak mampu bertahan. Aku memberi aba-aba bahwa aku akan keluar. Namun dia TERUS peringatanku itu seperti tidak diindahkan malah dia mengulum lebih kuat penisku. Tanpa pikir panjang lagi aku semportkan sperma di mulutnya. Dia tetap bertahan dan nampaknya spermaku malah ditelannya. Setelah tembakan terakhir Aku masih terus dioral. Aku tidak tahan rasa geli di kepala penisku sehingga aku memaksa dia melepas lumatan mulutnya dari penisku. Dia tidak menyisakan spermaku, mulutnya sudah kosong.
Kemampuan ini tidak mungkin dimiliki cewe yang baru mengenal sex, aku yakin dia sudah sering melakukannya sehingga dapat menelan seluruh spermaku tanpa rasa jijik. Aku tanyakan soal keperawanannya. Dia menggeleng. Dan kutanya yang memerawaninya dia apakah cowoknya, dia kembali menggeleng. Tapi dia tidak mau mengungkapkan siapa yang memerawaninya.
Kami istrihat sebentar. Penisku menyusut dan lemas setelah memuntahkan peluru cair yang cukup banyak. Di sela-sela istirahat itu aku membujuk Riana untuk kembali aku foto. Dia tidak keberatan malah melakukan akting dengan berbagai gaya. Hampir 100 frame aku habiskan sampai aku kehabisan gaya yang bagaimana lagi. Rasanya darah mulai mengalir memenuhi penisku. Aku pun sudah kehabisan gagasan memfoto. Kami kembali berbaraing dan aku mencumbu dia lagi dengan meramas teteknya dan mengobel memeknya.
Setelah bosan menghisap pentilnya aku beralih menjilat pepeknya. Riana pasrah saja dan memberiku ruang lebih lega untukku menjilatinya. Memek Riana tidak bisa dikatakan imut, meski usianya baru 15 tahun. Bibir dalamnya lebih panjang sehingga keluar dari jepitan bibir luar. Aku bisa menjewernya dan menarik ke kiri dan kekanan, sehingga terlihatlah lubang vaginanya yang basah berwarna merah jambu. Itilnya menonjol berwarna merah muda. Aku langsung menjilatinya. Riana menjambaki rambutku dan merintih. Akhirnya dia mencapai orgasme dengan mengerang panjang sambil menarik kepalaku merapat ke memeknya. Aku agak kesulitan bernafas.Memeknya berdenyut-denyut dan terasa makin basah.
Setelah usai orgasmenya dia menarikku keatas sehingga posisiku menindih tubuhnya. Kakinya dikangkangkannya dan dia meraih penisku lalu diarahkan menuju permukaan lubang vaginanya. Aku perlahan-lahan menekan penisku menikam memeknya sampai tenggelam sekuruhnya. Lumayan mencekam juga meskipun memeknya banjir. Gerakan maju mundur dengan cepat aku lakukan dan Riana kembali merintih. Kakinya dikaitkan ke pinggangku . Gerakanku diikuti oleh irama gerakan kakinya merangkul tubuhku.
Sebagai cewek yang masih sangat muda, tetapi Riana sudah mampu bekerjasama seperti cewek-cewek yang berpengalaman. Air mukanya terlihat bahwa dia sangat menikmati hunjaman penisku ke dalam memeknya. Dia mungkin berkonsentrasi menikmati hujaman penisku di memeknya sambil terus merintih-rinth seirama dengan gerakan maju mundur penisku. Kemudian dia diam tidak bersuara lalu mengerang panjang dan tubuhku ditariknya merapat. Penisku merasa gerakan di dalam vaginanya seperti denyutan jika aku mencapai ejakulasi.
Kakinya mengendur dari lilitan ke badanku. Aku mulai bergerak lagi dan kini gerakanku lebih cepat dan lebih kasar. Aku ingin menikmati nikmatnya hubungan sex menurut versiku sendiri. Namun tergangggu oleh lilitan yang kuat kaki Riana ketika dia mencapai orgasme kembali. Dalam keadaan masih berdenyut aku memaksa memompanya. Dia menggelinjang tidak karuan karena katanya pepeknya ngilu. Aku tidak peduli dan terus melakukan gerakan kasar sampai akhirnya aku mencapai orgasme dengan sebelumnya menarik keluar senjataku dari memeknya. Ketika Senjataku keluar Riana sebenarnya mempertahankan agar penisku tetap di dalam, tetapi karena aku takut dia hamil maka aku paksa tarik. Meletus maniku di perutnya, sementara itu Riana menekan permukaan memeknya dengan kedua tangannya sambil mengerang. Rupanya dia mencapai finish beberapa saat dibelakangku. Pantas saja dia ingin penisku tetap menghunjam ke memeknya.
Stelah permainan itu kami berdua berbaring sambil ngobrol. Aku berhasil membongkar rahasia nya. Dia akhirnya bercerita bahwa keperawanannya diambil oleh pamannya yang tinggal serumah. Pamannya sudah bekerja, tetapi belum menikah. Umurnya sekitar 30 tahun. Dia diperawani sekitar setahun yang lalu. Berarti ketika dia masih berusia 14 tahun. Sampai sekarang dia masih melakukan hubungan rutin dengan pamannya. Riana meski masih sangat muda, tetapi sudah paham mengkonsumsi pil anti hamil, menurut dia, pamannya yang memberikan. Pantas saja dia tadi menarikku ketika aku akan mencapai orgasme.
“Kak gua mungkin hipersex ya, kalau gak main 3 hari aja kepala gua pusing, “ katanya. Jadi hubungan dengan pamannya tidak selalu karena kemauan pamannya, tetapi sering juga karena keinginan si Riana.
Sebelum dia pulang kami sempat main sekali lagi, aku pada ronde itu bersikap pasif, sehingga Riana yang mengambil peran. Dia bermain diatasku, oleh karena itu dia berkali-kali pula mencapai orgasme, sempai akhirnya dia menyerah tidak mampu lagi. Aku membalikkan tubuhnya dan aku ganti mengambil perannya. Sampai aku orgasme dan aku lepaskan di dalam. Memang nikmat sekali melampiaskan tembakan sperma kental ke dalam memeknya, apalagi kami mencapai puncak bersamaan. ***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.